MajalahDUTA.Com | Sebagai mahasiswa D3 Keuangan dan Perbankan yang sebentar lagi menyelesaikan studi, saya mulai melihat kembali berbagai mata kuliah yang selama ini saya pelajari. Salah satunya adalah Akuntansi Biaya.
Dulu, saya menganggap mata kuliah ini lebih banyak berbicara tentang angka, penggolongan biaya, harga pokok produksi, dan berbagai perhitungan yang harus dilakukan dengan teliti. Namun, pandangan tersebut berubah ketika saya mulai melihatnya dari pengalaman sebagai pelaku UMKM di Kota Pontianak.
Di ruang kelas, saya belajar bahwa biaya bukan sekadar angka yang dicatat dalam laporan. Dalam dunia usaha, biaya menentukan apakah sebuah produk benar-benar memberikan keuntungan atau hanya terlihat laris di mata pelanggan.
Pengalaman menjalankan UMKM membuat saya menyadari bahwa persoalan biaya ternyata jauh lebih kompleks. Saat ini, pelaku usaha tidak hanya mengeluarkan biaya untuk bahan baku, tenaga kerja, dan kemasan.
Ada pula biaya promosi melalui media sosial, biaya administrasi marketplace, biaya layanan pembayaran digital, ongkos pengiriman, penggunaan aplikasi, hingga berbagai pengeluaran kecil yang sering kali tidak terasa tetapi jika dikumpulkan dapat mengurangi keuntungan.
Di sinilah saya mulai memahami mengapa Akuntansi Biaya tetap penting di tengah perkembangan teknologi dan otomatisasi.
Digitalisasi memang membuat pencatatan menjadi lebih mudah. Banyak aplikasi dapat membantu mencatat transaksi, menghitung penjualan, bahkan menghasilkan laporan secara otomatis.
Teknologi kecerdasan buatan juga semakin mampu mengolah data dalam jumlah besar. Namun, satu hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan, bahwa teknologi dapat membantu menghitung, tetapi keputusan tetap membutuhkan manusia yang memahami angka.
Sebagai contoh, sebuah produk mungkin memiliki penjualan paling tinggi dibandingkan produk lainnya. Secara sederhana, kita mungkin menganggap produk tersebut sebagai produk terbaik. Tetapi setelah seluruh biaya dihitung, ternyata keuntungan yang diperoleh sangat kecil karena biaya promosi, diskon, komisi platform, dan biaya lainnya cukup besar.
Sebaliknya, produk yang penjualannya tidak terlalu tinggi mungkin justru memberikan margin keuntungan yang lebih baik.
Tanpa pemahaman mengenai biaya, pelaku UMKM dapat mengambil keputusan hanya berdasarkan jumlah penjualan. Padahal, omzet yang besar tidak selalu berarti keuntungan yang besar.
Pengalaman tersebut membuat saya melihat Akuntansi Biaya bukan hanya sebagai ilmu untuk menghitung harga pokok.
Akuntansi Biaya juga dapat menjadi alat untuk menjawab pertanyaan penting dalam bisnis, seperti produk mana yang menguntungkan, biaya mana yang perlu dikendalikan, apakah harga jual sudah tepat, dan strategi apa yang perlu diperbaiki.
Di era digital, menurut saya, peran Akuntansi Biaya justru harus berkembang. Akuntansi tidak cukup hanya mencatat apa yang sudah terjadi. Informasi biaya seharusnya membantu pemilik usaha melihat kondisi bisnis dan mengambil keputusan untuk masa depan.
Hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi saya sebagai mahasiswa yang sebentar lagi lulus. Selama kuliah, saya sering melihat teori sebagai sesuatu yang harus dipahami untuk menghadapi ujian.
Namun, ketika teori tersebut bertemu dengan kenyataan di dunia UMKM, saya baru memahami bahwa angka-angka yang dipelajari memiliki konsekuensi nyata. Kesalahan menghitung biaya dapat menyebabkan kesalahan menentukan harga. Kesalahan menentukan harga dapat mengurangi keuntungan. Jika berlangsung terus-menerus, masalah tersebut bahkan dapat mengancam keberlangsungan usaha.
Karena itu, menurut saya, mahasiswa akuntansi dan keuangan tidak cukup hanya menguasai perhitungan manual. Kami juga perlu memiliki kemampuan membaca data, menggunakan teknologi, memahami perilaku konsumen, dan melihat persoalan bisnis secara lebih luas.
Bagi pelaku UMKM, kemampuan tersebut tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Pencatatan sederhana menggunakan spreadsheet pun dapat menjadi awal. Yang terpenting adalah konsisten mencatat pemasukan, pengeluaran, persediaan, biaya promosi, serta menghitung keuntungan setiap produk.
Menjelang kelulusan, saya semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah tidak berhenti ketika ujian selesai atau ketika Ijazah diterima. Justru setelah memasuki dunia usaha, saya mulai memahami maknanya.
Bagi saya sebagai mahasiswa D3 Keuangan dan Perbankan tingkat akhir sekaligus pelaku UMKM di Pontianak, Akuntansi Biaya bukan lagi sekadar mata kuliah yang harus diselesaikan.
Ia menjadi bekal untuk memahami apakah sebuah usaha benar-benar sehat, apakah keputusan yang diambil sudah tepat, dan apakah sebuah bisnis mampu bertahan dalam perubahan zaman.
Pada akhirnya, teknologi mungkin dapat membuat proses pencatatan menjadi semakin cepat dan otomatis. Namun, kemampuan memahami biaya dan menggunakannya untuk mengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Sebab dalam bisnis, mengetahui berapa banyak uang yang masuk memang penting. Tetapi mengetahui ke mana uang itu pergi dan berapa yang benar-benar tersisa, jauh lebih penting.*Adril Farizi, Lusia Sedati – AKUB San Agustin.




