MajalahDUTA.Com, Pontianak- Paroki Sambas berdiri pada tahun 1913 yang kala itu Pastor paroki pertama yakni Pastor Fidelis A. Tonus, OFMCap. Beliau merupakan seorang misionaris Kapusin dari Negeri Belanda.
Bersama dengan itu, Pastoran dibangun tahun 1913 dan kemudian direnovasi pada tahun 1933. Bangunan gereja pertama didirikan pada tahun 1918.
Sejak pembakaran tahun 1952, maka pada persis tahun 1954 Gereja Katolik Paroki Sambas dibangun kembali. Gereja saat ini adalah hasil renovasi dengan pelebaran sayap kiri dan kanan, 2009.
Sebagai penunjang pelayanan dalam karya misi, maka dibangunlah sebuah Pastoran pertama (1913); akibat satu dan lain hal terjadi perombakan dan pembaharuan dan pastoran yang sekarang dibangun tahun 1933.
Gereja pertama didirikan tahun 1918, gereja tersebut terbakar tahun 1952. Tahun 1954 gereja dibangun kembali. Gereja yang ada sekarang merupakan hasil renovasi dengan pelebaran sayap kiri dan kanan, 2009. Dimana kala itu biaya renovasi sepenuhnya disponsori oleh Aloysius Lunardi Liu dari Jakarta.
Baca Juga:
- Mgr. Agustinus Agus Tegaskan: Jadilah Imam Pembawa Perubahan
- Menilik Jejak Gereja Kristus Raja Paroki Sambas
- Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal
Dibantu Suster dari Etten Belanda
Persis pada 11 Juni 1924, ada enam orang Suster Etten dari negeri Belanda tiba di Sambas. Suster dari Etten Belanda yang kini kerap dipanggil dengan Suster Kongregasi Fransiskanes Sambas alias KFS membantu karya misi Gereja Katolik Kristus Raja Paroki Sambas.
Adapun keenam Suster pertama yang datang antara lain Sr Sophia Franken, Sr Leontina van der Loo, Sr Elisabeth Wagemakers, Sr Aquina Oonicx, Sr Rosa van Eyk dan Sr Eudoxia Verdurmen.
Karya pelayanan mereka lebih fokus melayani dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Misi Pendidikan di Sambas
Dengan kedatangan ke enam suster itu, maka pada 1924 para Suster mendirikan rumah sebagai Susteran. Tidak lama setelah itu, Suster juga mulai mendirikan SD Amkur dan membangun asrama SD dan TKK tahun 1924.
Tak sampai disitu, mereka juga mendirikan SMP Amkur dan asrama SMP pada 1956; SKP beserta asramanya tahun 1952.
Antara tahun 1952-1958 ada pula SMP berbahasa Tionghoa yang diurus oleh Pastor-pastor CDD dan OFMCap. Semua asrama yang diurus Suster dikhususkan hanya untuk anak-anak perempuan.
Sedangkan asrama untuk menampung anak laki-laki yang diurus oleh Pastor dan Bruder pernah ada dan asrama tersebut dibangun tahun 1952-1956. Kemudian 1961 dibangun Rumah Novisiat untuk mendidik calon-calon yang ingin bergabung hidup dengan para Suster.
Sedangkan sekolah Misi di luar kota Sambas: pernah ada sekolah- sekolah kecil di Sawah, Keranji, Aruk, Subah, Elok Asam. Sekolah-sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak Suku Dayak setempat. Sekolah tersebut merupakan sekolah swasta-misi boleh jadi akhirnya dinegerikan atau ditutup karena kekurangan jumlah murid.
Kemungkinan lain karena masyarakat sendiri melihat bahwa belum merasa pentingnya pendidikan atau bersekolah. Sekarang ada satu SD swasta di Sekura yang dibangun 1970, sejak 1996 sekolah tersebut dikelola Suster Fransiskanes Sambas (KFS) dengan nama SD Budi Mulia Amkur Sekura. (Sz).




