MajalahDUTA.Com, Pontianak- Untuk melakukan perkembangan cepat dalam doa, kamu harus meneladani mereka yang sungguh-sungguh terlibat dalam studi ilmu pengetahuan, atau studi tentang seni rupa; kamu akan mendapati bahwa orang-orang tersebut mengesampingkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan obyek studi mereka.
Terhadap obyek inilah mereka mengerahkan semua pemikiran dan upayanya, di waktu siang dan malam. Sekarang apabila kamu ingin memperoleh semangat doa dalam waktu singkat, maka kamu juga harus mengesampingkan segala sesuatu yang dapat menghalangimu dalam memperoleh semangat ini.
Tinggalkanlah kunjungan-kunjungan yang tidak berguna, sia-sia, dan berbahaya. Kamu harus berpisah dari ruang dansa dan teater; kamu harus membuang semua novel-novel sentimental dan kisah cinta yang bodoh.
Apabila kamu ingin berkembang cepat dalam semangat doa, kamu harus menyangkal diri; kamu harus menekan kecenderunganmu yang berlebihan; kamu harus membebaskan hatimu dari kenyamanan dan kenikmatan hidup ini; kamu tidak seharusnya mencari pujian manusia, tidak pula keinginan untuk melakukan kehendakmu dalam segala sesuatu.
Kamu harus menyangkal keingintahuanmu yang sia-sia itu, yang mendorong kamu melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu.
Baca Juga:
Selama kamu tidak berusaha sungguh-sungguh untuk membebaskan hatimu dari segala sesuatu dalam dunia ini, kamu akan selalu mengeluh tentang dinginnya doa, dan bahkan mengalami keengganan besar dalam melakukan devosi. Kamu tidak bisa mengumpulkan buah anggur dari duri-duri, atau buah ara dari onak. Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai.
Apabila biji gandum yang kamu taruh dalam penggilingan adalah biji yang tidak layak, demikian pula tepung yang berasal darinya juga tidak layak.
Tuhan kita berkata dalam Injil, di mana hatimu berada, di sanalah hartamu berada. Iblis sadar akan kebenaran ini. Untuk mencegahmu berdoa, ia akan menempatkan dalam pikiranmu, ketika kamu berdoa, obyek-obyek yang mana kamu sangat melekat kepadanya.
Kita memiliki teladan yang luhur akan sikap lepas bebas dalam diri Count Rougemont, yang tentangnya St. Vincentius a Paulo menceritakan hal berikut: Ia berkata,
“Aku tahu bahwa di Provinsi Bresse, ksatria Rougemont, yang dalam duelnya, telah melukai dan membunuh orang dalam jumlah yang luar biasa. Setelah pertobatannya menuju kehidupan yang sangat berakhlak, aku bahagia karena dapat mengunjunginya di kediamannya; ia mulai berbicara kepadaku tentang latihan-latihan salehnya dan praktik-praktik keutamaan, dan di antara yang lain, tentang usaha memperoleh sikap lepas bebas yang total dari ciptaan.
Katanya kepadaku, “aku merasa yakin bahwa apabila aku lepas-bebas dengan sempurna dari ciptaan-ciptaan, aku akan disatukan dengan sempurna kepada Tuhanku dan Allahku; untuk alasan inilah aku kerap memeriksa batinku untuk melihat apakah aku menyimpan dalam hatiku suatu kelekatan kepada diriku, kerabatku, sahabatku atau sesamaku; atau kepada kekayaan dan kenyamanan hidup, atau kepada hasrat dan keinginan tidak teratur apapun yang dapat menghalangiku dari persatuan sempurna dengan Allah, dan dari peristirahatan sempurna di dalam-Nya saja. Aku mulai berdoa kepada Allah untuk memampukan aku mencabut dengan seketika apapun yang aku sadari sebagai hambatan bagi persatuanku yang sempurna dengan Dia.”
St. Vincentius a Paulo melanjutkan, “Aku mengingat tentang perbuatan luar biasa dari Count ini, yang ia sendiri ceritakan padaku, dan yang memperlihatkan betapa seriusnya dia dalam bekerja guna memperoleh sikap lepas bebas yang total dari segala sesuatu; sebuah perbuatan yang tidak pernah bisa aku pikirkan tanpa mengaguminya.
Ia berkata kepadaku, ‘Suatu hari, aku sedang mengendarai kuda; lalu aku berhenti untuk mempersembahkan diriku kepada Allah; sesudah ini aku merenung untuk menemukan apakah masih ada yang tersisa dari kelekatanku terhadap hal-hal sepele. Setelah memeriksa dengan cermat semua pekerjaan, rekreasi, kehormatan, dan bahkan afeksi-afeksi terkecil dan kecenderungan-kecenderungan hatiku, aku mendapati bahwa aku masih menyimpan afeksi terhadap pedang yang aku kenakan di sisiku.”
“Mengapa kamu mengenakan pedang ini? Aku bertanya pada diriku. Tapi kejahatan apakah yang telah dilakukannya padamu? Tinggalkanlah pedangmu itu di tempatnya berada. Ia telah memberikan kamu pelayanan besar; ia telah memampukan kamu menyelamatkan dirimu dari ribuan bahaya. Apabila kamu diserang tanpanya, pastinya kamu akan mati; tapi apabila kamu bertengkar dengan sesama, akankah dirimu cukup untuk membiarkannya di sisimu dan tidak menghina Allah lagi? Ya Allahku! Apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku masih mencintai sarana kekacauanku, dan sarana dari begitu banyak dosaku? Celaka! Aku melihat bahwa hatiku masih melekat pada pedang ini! Kini aku tidak akan menjadi begitu jahat karena aku tidak lagi melekat pada sarana yang menyedihkan ini! Setelah ini, aku turun dari kudaku, mengambil sebuah batu, dan menghancurkan pedangku hingga berkeping-keping.
Setelah kemenangan terhadap diriku ini, aku merasa terbebas dari segala sesuatu, tidak lagi peduli akan apapun di dunia ini, dan merasa tertarik sangat kuat untuk mengasihi Allah melebihi segala sesuatu.”
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja Harus Berjalan Bersama Pemerintah
St. Vincentius berkata, “Lihatlah, tuan dan nyonya, betapa berbahagianya kita, dan seperti apakah perkembangan yang harus kita lakukan dalam keutamaan, apabila, seperti bangsawan ini, kita memurnikan hati kita dari semua afeksi duniawi.
Apabila hati kita sungguh terbebas dari semua ciptaan, betapa cepat jiwa kita akan disatukan kepada Allah!” Kemudahanmu dalam doa, dan ketertarikanmu terhadapnya akan meningkat selaras dengan usahamu dalam melepaskan dirimu dari semua hal duniawi, khususnya dari dirimu.
Suatu hari Christopher Gonzalve SJ, seorang murid dari Balthazar Alvarez yang terberkati, ditanya oleh salah satu muridnya melalui cara apakah ia telah memperoleh karunia doa yang luar biasa. Ia menjawab: “Hal ini tidak terlalu mahal bagiku; aku hanya perlu mengikuti ilham Allah, untuk menyangkal diri dan meninggalkan seutuhnya keinginanku akan kesia-siaan dalam perkara ilmiah.
Aku memulai studi filsafatku dengan kemudahan yang tidak biasa. Aku memperoleh keunggulan besar atas semua teman-temanku. Superioritas talenta ini merupakan pengungkit yang kuat bagi ambisi, dan sumber godaan tiada henti bagiku. Guna terbebas dari jebakan-jebakan berbahaya ini dengan lebih aman, aku merasa terilhami untuk menggunakan sarana berikut tanpa mengabaikan studiku: agar teman-temanku kehilangan pendapat mereka yang tinggi atas bakatku yang unggul, aku sering meminta mereka menjelaskan hal-hal tertentu yang barangkali aku pahami lebih baik daripada mereka.
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam
Dalam kontroversi, aku semata memberikan pendapatku, tapi terlihat bingung bagaimana cara menguatkannya; ketika terdapat sebuah keberatan, pertama aku menjawabnya, lalu untuk kedua kalinya aku berpura-pura tidak memiliki jawabannya. Konsekuensinya ialah profesorku dan sesama murid kehilangan pendapat baik yang mereka miliki atas talentaku, dan bahwa profesorku memberikan tesis yang paling sulit dan terhormat kepada orang lain, dan kepadaku hanya diberikan yang mudah dan tidak menghasilkan kehormatan apapun.
Sekarang, inilah persisnya apa yang aku inginkan dan maksudkan; karena aku telah memperoleh kemenangan total atas cinta-diriku dan ambisiku, sebagai balasannya Allah memberikan aku karunia kontemplasi mendalam yang tak ternilai, dan keakraban besar bersama-Nya dalam doa.”
Maka benarlah yang dikatakan Tuhan melalui nabi Yesaya: “Apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya” (Yes 58:13-14).
Kini janji Tuhan ini akan menjadi kenyataan bagimu, asalkan kamu memenuhi syarat-syaratnya, misalnya: memurnikan hatimu dari semua kelekatan terhadap kenikmatan duniawi, ambisi, dan hasrat, tapi khususnya dari semua kelekatan terhadap kehendakmu dan penilaianmu.
Baca Juga: Kedua Kalinya Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Dapatkan Anugrah Award untuk Leadership
St. Fransikus de Sales berkata, “Ya, Allah siap memberikanmu karunia doa, segera setelah ia melihatmu mengosongkan diri dari kehendakmu sendiri. Apabila kamu sangat rendah hati, Ia tidak akan gagal dalam mencurahkannya kepada jiwamu.
Allah akan memenuhi cawanmu dengan urapan-Nya, segera setelah cawan itu kosong dari urapan dunia ini, yaitu segera setelah setiap keinginanmu akan obyek-obyek duniawi telah menyediakan ruang bagi kasih dan pelayanan kepada-Nya semata.”
Menggunakan doa singkat yang teratur dan sungguh-sungguh, serta sikap lepas bebas secara total dari hatimu kepada semua ciptaan, merupakan sarana yang sangat efektif untuk memperoleh semangat doa; tapi guna memperoleh karunia ini dengan amat cepat, kamu harus sering memohonnya dari Allah; sebab rahmat doa ini, sebagaimana St. Fransiskus de Sales meyakinkan kita, bukanlah air dari bumi, melainkan dari Surga; karenanya kamu tidak bisa memperolehnya melalui usahamu semata, sekalipun benar bahwa kamu harus dengan cermat mempersiapkan dirimu bagi penerimaan rahmat ini.
Baca Juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik
Perhatian terhadap hal ini haruslah besar, namun rendah hati dan tenang. Kamu harus tetap membuka hatimu, menunggu kejatuhan embun surgawi ini; ia akan jatuh dengan cepat apabila kamu semakin sungguh-sungguh dan tekun dalam doa dan merindukannya setiap hari, khususnya ketika kamu berpartisipasi dalam Kurban Misa Ilahi, atau menerima Komuni Suci, dan mengunjungi Tuhan kita yang amat pengasih dalam Sakramen yang patut dipuja.
Lalu kamu harus berkata kepada-Nya: “Tuhan, ajarkanlah aku cara berdoa; berikan aku semangat doa, dan kasih yang besar bagi latihan yang suci ini; buatlah aku agar sering memikirkan Engkau, dan menemukan kenikmatan serta kebahagiaan terbesar dalam bercakap-cakap dengan-Mu; biarlah segala sesuatu dari dunia ini menjadi menjijikan bagiku.”
Semakin sering dan sungguh-sungguh kamu melakukan hal ini atau permohonan serupa untuk memperoleh semangat doa, semakin kamu akan menerima karunia ini dari Tuhan, seturut janji Yesus Kristus: “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Mat 21:22).
Teruslah meminta sampai Tuhan akan mencapai dalam dirimu apa yang telah Ia janjikan melalui nabi Zakaria: “Aku akan mencurahkan rahmat dan semangat doa atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem” (Zak 12:10).
Kamu memahami dengan jelas, dari perkataan Sang Nabi, bahwa karunia doa ini adalah semangat dan karunia Tuhan; lalu kamu harus berupaya memperolehnya terlebih dengan memintanya dari Tuhan dengan kerendahan hati, kesungguhan, kepercayaan dan ketekunan yang besar, daripada dengan upaya pikiran dan jiwa yang tidak bijaksana.
Tunggulah waktunya dengan sabar, tapi serentak janganlah lalai dalam melakukan apa yang telah dikatakan dalam bab ini, dan yakinlah bahwa waktunya akan tiba ketika percakapan dengan Allah akan menjadi lebih mudah bagimu daripada percakapan dengan sahabat terdekatmu, dan kamu akan berseru dengan St. Agustinus: “Apa yang lebih unggul, menguntungkan, luhur dan manis bagi jiwa adalah doa.” Bersama dengan Romo Sanchez dan Suarez dari Serikat Yesus, kamu akan lebih memilih kehilangan semua harta duniawi demi satu jam doa, sebab akan diwujudkan dalam dirimu apa yang dikatakan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma:
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26).
Lalu Roh Kudus sendiri akan berdoa di dalam kamu dan bersamamu, mengilhami permohonan-permohonan dan keluhan-keluhanmu sebagai hal yang berkenan bagi Allah dan akan didengarkan oleh-Nya. Dan ketika Tuhan, dalam kerahiman-Nya yang besar, telah memberikan kamu karunia yang mengagumkan ini, setiap hari kembalilah pada-Nya untuk bersyukur atasnya, dan memetik keuntungan darinya, bagi kesejahteraan jasmani dan rohanimu, dan juga bagi kesejahteraan orang lain.
Seringlah berkata bersama Pemazmur: “Janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku” (Mzm 51:13). Tuhan, jangan pernah menarik dariku semangat rahmat dan doa ini; kirimkan aku hukuman lain bagi dosa-dosaku daripada hal ini. Aku mengulangi lagi, jangan pernah lupa untuk bersyukur atas karunia ini, selalu ingatlah bahwa kamu tidak pernah memahami sepenuhnya atau menghargainya secara memadai sampai mati.
Dalam karunia ini tercakup semua karunia dan rahmat Tuhan. Karenanya milikilah keinginan untuk memperolehnya, dan gunakanlah setiap sarana yang mungkin untuk mendapatkannya. Kamu seharusnya tidak mengurangi rasa sakit, perhatian dan kesusahanmu, atau membuat upaya lebih kecil untuk memperoleh karunia agung ini dari Allah, daripada yang dilakukan seorang murid dalam mempelajari bahasa, seorang arsitek yang mendirikan bangunan mahal dan indah, atau seorang jenderal yang berupaya memperoleh kemenangan dalam pertempuran penting.
Seandainya kamu memahami rahmat yang tak ternilai dan agung ini sesempurna dan sejelas iblis! Aku pikir kamu akan bersusah payah memperolehnya, dan melindunginya ketika ia diperoleh, sebagaimana ia menghalangimu untuk menerimanya, dan membuatmu kehilangannya ketika kamu memilikinya.
Musuh bebuyutan utama dari kebahagiaan abadi kita akan membiarkanmu dalam melakukan setiap jenis perbuatan baik, seperti berpuasa, mendera diri, mengenakan kain bulu, dst, daripada melihatmu berupaya untuk berkembang dalam doa; sedikit waktu yang kamu habiskan dalam doa, baginya merupakan siksaan yang tak tertanggungkan.
Berbagai wejangan
Sekalipun ia membiarkanmu tenang di sepanjang waktu, yakinlah bahwa dalam waktu doa ia akan menggunakan segenap kekuatannya untuk mengalihkan dan mengganggumu dalam suatu cara atau cara lain.
Guna menghalangimu berdoa dengan baik, ia akan memenuhi pikiranmu dengan pikiran dan imajinasi yang teraneh dan ganjil; sedemikian rupa sehingga apa yang tidak pernah kamu pikirkan pada waktu lain akan datang kepada pikiranmu di waktu doa, dengan cara yang sedemikian sehingga tampak bagimu bahwa kamu berdoa hanya dengan tujuan untuk dialihkan dan diserang oleh seluruh pasukan godaan yang sangat menakutkan; atau ia akan membuatmu merasa kesal dan berusaha membujukmu bahwa doa adalah urusan wanita tua yang tidak memiliki hal lain untuk dilakukan, tapi bagimu, doa hanyalah membuang waktu, yang dapat dihabiskan dengan lebih bermanfaat dalam cara lainnya.
Baca Juga: Bagaimana Memperoleh Semangat Doa ? Bagian Pertama…
Apabila kamu adalah seorang imam, biarawan, atau siswa teologi, ia akan dengan licik menawarkan kepadamu betapa perlu dan menguntungkannya untuk memiliki banyak pengetahuan demi keselamatan jiwa-jiwa dan kehormatan serta kemuliaan Allah yang lebih besar, agar penerapan studimu dapat menjadi pekerjaan utamamu, dan agar kamu menganggap doa sebagai tambahan belaka. Apabila seorang superior dalam sebuah konferensi, bapa pengakuan dalam ruang pengakuan, atau seorang imam dalam khotbahnya, seturut teladan Tuhan Kita Yesus Kristus, Para Rasul-Nya, dan semua orang kudus, dan selaras dengan semangat Gereja, berulang kali menekankan perlunya doa, iblis akan cepat menyarankan:
“Superior itu, imam itu, hanya mengetahui satu aturan, satu kewajiban; ia tidak peduli akan ilmu pengetahuan, atau mempertimbangkan tempat dan waktu yang kita hidupi; apabila kamu melakukan apa yang ia katakan, kamu hanya akan menjadi seorang munafik dan pemuja yang sesungguhnya.”
Apabila musuh jahat ini tidak berhasil melalui kelicikan ini dan yang serupa untuk menghalangi jiwa-jiwa dari doa, ia akan mencoba cara lain. Kepada St. Antonius si Pertapa, ketika ia berdoa, iblis tampil dalam rupa yang amat memuakkan, untuk menakutinya. Ia terkadang mengambil St. Frances dari Roma, mengguncangkannya, dan melemparnya ke tanah.
Ketika St. Rosa dari Lima sedang berdoa, iblis akan datang dan membuat keributan besar, seperti mengambil keranjang dan melompat-lompat dengannya. Ia sering melemparkan batu es yang besar kepada dua saudara suci Simplican dan Roman, ketika mereka berlutut untuk berdoa, agar membuat mereka meninggalkan doa, sebagaimana dikisahkan St. Gregorius dari Tours.
Kebencian kuat ini dan perang tiada henti yang dilakukan Setan terhadap doa harusnya cukup membuat orang yakin akan perlunya, pentingnya, kegunaan dan keluhuran dari latihan suci ini; dan serentak mendesak kamu untuk menerapkannya dengan segenap ketekunan, sehingga kamu segera memperoleh semangat doa.
Bacalah kisah hidup St. Teresa, ibu doa yang agung, dan kamu akan mendapati betapa ia berjuang selama delapan belas tahun untuk memperoleh semangat doa ini. Kita membaca tentang St. Katarina dari Bologna, ketika ia merupakan seorang abdi, salah satu putrinya, yang melihat seluruh waktunya tersita oleh bisnis atau percakapan yang wajib dilakukannya dengan para pelayan dan orang asing, bertanya kepadanya bagaimana dengan kesehatannya yang lemah itu ia dapat menanggung banyak kelelahan dan kesusahan.
Ibu yang suci itu menjawab, “Ketahuilah putriku, dan percayalah bahwa pikiranku tersita dengan perkara yang bukan dari dunia ini, sehingga di jam apapun yang aku kehendaki, aku segera disatukan dengan Allah dan dipisahkan dari segala hal yang jasmani dan fana. Aku mengakui bahwa hal ini menimbulkan penderitaan yang tak terbilang, sebab jalan keutamaan itu sempit dan susah; tapi, melalui ketekunan, doa telah menjadi hidupku, pengasuhku, ibuku, penghiburanku, penyegaranku, istirahatku, keberuntunganku, segenap kekayaanku.
Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus: Jadilah Imam yang Inovatif dan Memiliki Kemampuan Membaca Tanda Zaman
Doalah yang telah melidungi aku dari dosa-dosa berat dan menyelamatkan aku dari kematian; tapi ia telah berbuat lebih dari itu: ia telah merawat aku seperti ibu yang lembut yang memberi makan bayinya dengan susu. Aku juga harus menambahkan bahwa doa menyingkirkan semua distraksi dan godaan, memberikan ktia keinginan untuk melakukan silih, mengobarkan kasih ilahi dalam diri kita, dan terakhir, tidak ada jalan menuju kesempurnaan yang lebih pasti selain berdoa.”
Apabila semua orang kudus turun dari Surga, mereka akan membuat pengakuan yang sama dengan St. Katarina dari Bologna. Kerajaan Surga mengalami kekerasan, dan mereka yang menggunakan kekerasan suci ini akan menanggungnya.
Marilah kita menggunakan paksaan yang menyelamatkan ini kepada diri kita seperti orang kudus; ia akan terbukti menjadi sumber sukacita untuk selamanya. Dengan meneladani orang kudus, marilah kita sering membaca sebuab bab tentang perlunya, pentingnya, keuntungan-keuntungan dan kemanjuran doa, dan karenanya terus mendorong diri kita untuk bertekun dan meningkatkan kasih yang sungguh-sungguh bagi pekerjaan suci ini.
Cobalah Secara Adil
Marilah kita dengan teguh percaya bahwa pembacaan tersebut akan lebih menguntungkan bagi kita daripada yang lain, apapun itu. Marilah kita juga sering memeriksa batin kita tentang pokok ini, dan marilah kita percaya dengan teguh sebagai hal yang benar, apa yang suatu hari aku dengar dari seorang imam yang sangat suci, yang sangat memberikan diri dalam doa sehingga ia sering terangkat di udara ketika ia melaksanakan devosi ini. Ia berkata, “Siapa saja yang dengan cermat melakukan pemeriksaan batinnya selama setengah tahun, maka ia tidak akan gagal dalam mencapai kontemplasi.”
Anggaplah Tuhan tidak berbaik hati kepadamu dalam doa sebagaimana Ia berbaik hati kepada orang kudus tertentu, namun yakinlah kamu akan selalu menerima lebih dari yang pantas kamu dapatkan; lakukan apa yang kamu bisa, dan serahkan kepada-Nya untuk melakukan kepadamu seturut kehendak-Nya.
“Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar” kata Perawan Maria. Tuhan tidak hanya memberi, tapi melimpahkan dengan karunia-karunia-Nya kepada mereka yang memiliki keinginan nyata untuknya.
Satukanlah perbuatan dengan keinginanmu untuknya dengan menggunakan sarana yang sudah dijelaskan untuk memperolehnya, dan yakinlah bahwa Allah akan menghadapimu dengan cara yang amat pemurah, seturut kesiapan hati kebapakan-Nya. Kamu akan mengalami apa yang telah dialami salah satu muridku, yang suatu hari berkata kepadaku: “Karena aku sudah memberikan diriku kepada doa yang suci, aku agaknya menjadi ciptaan yang berbeda.”
Baca Juga: Menjadi Wartawan di Media Gereja
Seandainya kamu sungguh menikmati semua yang telah dikatakan! Apabila kamu mengetahui karunia Allah, kamu akan segera melihat betapa manisnya Tuhan kepada mereka yang memberikan diri dalam doa. Kamu pasti akan menemukan-Nya dalam latihan suci ini, sebab Ia membuka pintu kepada mereka yang mengetuk, dan memberi kepada mereka yang meminta.
Cobalah secara adil. Katakanlah bersama Daud, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini” (Mzm 27:4) yaitu karunia doa ini, dan aku akan memintanya sampai ia diberikan kepadaku.
Oleh: (L) Referensi: pustakakatolik16.wordpress[.]com




