Sunday, January 11, 2026
More

    Permenungan Katekese Kemalasan oleh St. Yohanes Maria Vianney

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Kemalasan lebih merupakan kekecutan hati dan keengganan yang membuat kita melalaikan dan mengabaikan kewajiban kita, daripada melakukan kejahatan terhadap diri sendiri.

    Sungguh menyedihkan, anak-anakku, betapa banyak orang-orang yang malas di dunia ini: betapa banyak yang kecut hati, betapa banyak yang enggan melayani Allah yang baik! Kita melalaikan, kita mengabaikan kewajiban kesalehan kita, semudah kita mengambil segelas anggur.

    Kita tidak akan mencelakai diri sendiri; kita tidak akan membuat diri kita tidak nyaman.

    Semuanya membosankan, semuanya menjemukan bagi seorang yang malas.

    Baca Juga: Peresmian Paroki dan Pelantikan Dewan Pastoral Paroki St Paulus dari Salib Mandor

    Doa, Kurban Kudus Misa, yang mendatangkan begitu banyak manfaat bagi jiwa-jiwa saleh, merupakan suatu siksaan baginya. Ia bosan dan tidak senang di gereja, di kaki altar, di hadapan Allah yang baik. Pada mulanya ia merasa hanya tidak suka dan acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang diperintahkan oleh agama.

    Segera kemudian, engkau tidak akan dapat lagi berbicara kepadanya entah mengenai Pengakuan ataupun Komuni; tak ada waktu baginya untuk memikirkan hal-hal demikian.

    Wahai anak-anakku! betapa malangnya kita kehilangan, dengan cara ini, waktu yang seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya demi memperoleh surga, demi mempersiapkan diri bagi kekekalan! Betapa banyak waktu yang terbuang percuma dengan tidak melakukan apa-apa, atau dengan melakukan yang salah, dengan mendengarkan bisikan-bisikan setan, dengan taat kepadanya! Tidakkah hal itu membuat kita gemetar?

    Mendamaikan diri dengan Allah

    Andai salah seorang dari mereka yang sesat itu mempunyai hanya satu hari atau satu jam saja demi mendapatkan keselamatan, bagaimanakah ia akan mempergunakannya? Betapa ia akan bergegas untuk menyelamatkan jiwanya, memperdamaikan dirinya dengan Allah yang baik!

    Dan kita, anak-anakku, yang mempunyai banyak hari-hari dan tahun-tahun untuk memikirkan keselamatan kita, untuk menyelamatkan jiwa kita – kita tinggal diam di sana dengan berpangku tangan, bagaikan orang yang dikisahkan dalam Injil. Kita lalai dan kita kehilangan jiwa kita.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam

    Apabila maut datang menjemput, apakah yang akan kita haturkan kepada Tuhan kita? Ah! anak-anakku, dengarkanlah bagaimana Allah yang baik mengancam mereka yang malas: “Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”

    “Campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

    Kemalasan adalah ibu segala kebiasaan buruk lainnya

    Lihatlah mereka yang malas; mereka tidak memikirkan apapun selain dari makan, minum dan tidur. Mereka bukan lagi manusia, melainkan binatang yang dungu, yang takluk pada segala hawa nafsu mereka; mereka menyeret diri mereka melintasi lumpur bagaikan babi-babi. Mereka kotor, baik luar maupun dalam.

    Mereka memberi makan jiwa mereka hanya dengan pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat yang tidak murni. Mereka tidak pernah membuka mulut mereka selain untuk memfitnah sesama, atau untuk mengucapkan kata-kata yang tidak sopan.

    Baca Juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Mata mereka, telinga mereka, terbuka hanya bagi obyek-obyek kejahatan….

    Wahai anak-anakku! Sebab itu marilah kita menolak kemalasan, marilah kita meneladan para kudus. Marilah kita terus-menerus siaga; seperti para kudus, marilah kita penuh semangat dalam melaksanakan segala kewajiban; biarlah iblis tidak pernah mendapati kita berpangku tangan, kecuali jika kita menyerah pada pencobaan.

    Marilah kita mempersiapkan diri bagi kematian yang baik, bagi kekekalan. Janganlah kita kehilangan waktu kita dalam suam-suam kuku, dalam keacuhan, dalam ketidaksetiaan. Maut semakin dekat: esok kita harus, mungkin, berpisah dari para kerabat dan sahabat.

    Marilah kita bergegas mengejar ganjaran yang dijanjikan di Firdaus bagi hamba yang setia dalam Injil!

    Disusun: (L)- Penulis: St. Yohanes Maria Vianney- Sumber : “Catechism on Sloth by Saint John Vianney”; www.catholic-forum[.]com

     

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles