Saturday, May 25, 2024
More

    Jean-Paul Sartre: Eksistensi Mendahului Esensi dan Kebebasan Mutlak Manusia

    Di dalam sejarah humanisme Barat, tidak ada pemikir yang begitu radikal menekankan kebebasan manusia seperti ilsuf Prancis ini. Darinya kita dapat melihat bagaimana humanisme tidak sekadar merupakan suatu antroposentrisme yang sudah dimulai sejak Descartes, melainkan juga sesuatu yang hanya mungkin bila tuhan disingkirkan. seperti para humanis ateistis pendahulunya, alasan penying kiran tuhan itu jelas: Dia dianggap menghalangi ke bebasan dan realisasi bakat­bakat besar manusia.

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED- Dalam era kemajuan ilmiah dan pemikiran kritis, humanisme modern telah mengambil langkah-langkah radikal untuk menjauhkan pemikiran manusia dari konsep Tuhan.

    Humanisme ini memandang Tuhan sebagai konstruksi pikiran manusia, dan upaya untuk “membunuh” Tuhan adalah cara untuk mengubah pola pikir dan mentalitas masyarakat.

    Seiring dengan perkembangan sains dan pemikiran kritis, humanisme modern telah memimpin perjalanan menuju masyarakat yang tidak lagi bergantung pada konsep Tuhan atau otoritas agama.

    Salah satu pemikir humanisme yang berpengaruh, Friedrich Nietzsche, adalah musuh utama kekristenan.

    Nietzsche mengkritik kekristenan karena dianggapnya membuat manusia tidak otentik dengan mengajarkan penolakan terhadap dunia ini dan penundukkan diri di bawah roh.

    Baginya, agar manusia hidup secara otentik, ia harus menerima kehidupan di dunia ini dengan segala naik turunnya, tanpa takut pada dunia di balik kubur.

    Dengan pernyataan “Tuhan sudah mati” (Gott ist tot), Nietzsche menggarisbawahi bahwa masyarakat modern harus bergerak maju tanpa mengandalkan Tuhan atau agama.

    Namun, penghapusan Tuhan dari kesadaran manusia tidak selalu berjalan mulus.

    Agama tidak hanya merupakan pola pikir, tetapi juga bagian dari pola hidup dan pengalaman eksistensial manusia.

    Beberapa humanis “pembunuh Tuhan” berusaha untuk mengubah penghayatan eksistensial manusia agar mereka dapat tampil apa adanya tanpa bergantung pada agama atau Tuhan.

    Seorang filsuf Prancis abad ke-20, Jean-Paul Sartre, memperkenalkan konsep “eksistensi mendahului esensi.” Menurutnya, manusia ada di dunia ini terlebih dahulu sebelum esensinya bisa didefinisikan.

    Ini berarti bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak tanpa campur tangan Tuhan atau takdir yang telah ditentukan sebelumnya.

    Dalam pandangan Sartre, tidak ada tujuan yang ditetapkan oleh Tuhan yang dapat membatasi kebebasan manusia.

    Sebaliknya, kebebasan manusia adalah satu-satunya tujuan yang ada.

    Dalam peradaban humanis, manusia dihargai bukan karena sesuai dengan standar kemanusiaan yang telah ditetapkan, tetapi karena manusia adalah manifestasi dari kebebasan itu sendiri.

    Oleh karena itu, humanisme modern memandang Tuhan sebagai penghalang bagi kebebasan dan realisasi potensi manusia yang sejati.

    Dengan pemikiran ini, humanisme modern telah membawa perubahan besar dalam pandangan masyarakat terhadap agama dan Tuhan.

    Ini adalah perjalanan menuju masyarakat yang lebih bergantung pada akal sehat dan kebebasan individu daripada pada otoritas agama.

    Meskipun pemikiran ini belum sepenuhnya diterima oleh semua kalangan, humanisme modern tetap menjadi kekuatan penting dalam pemikiran kontemporer.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles