Duta, Pontianak | Pengadian Kepada Masyarakat (PKM), Penelitian Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris hari ini telah usai terlaksana di salah satu SD terpencil Kabupaten Landak.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah dosen dan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin), Kampus I, di salah satu SD terpencil di Kabupaten Landak, pada Kamis, 13 November 2025.
Sekolah Dasar (SD) Negeri Toho Raba yang awalnya kekurangan tenaga guru dan berkat kerja sama antara SD Toho Raba dan FKIP San Agustin bersama dua alumni FKIP dari prodi PBI dan PJKR menjadi jalan untuk membantu (menjadi tenaga pengajar) di SD tersebut.
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Tuminah, M.Pd, didampingi dua mahasiswa PBI Alberta Ranisa Sala dan Is Sandra Rio – telah melakukan PKM sekaligus penelitian dengan tajuk ‘Pengembangan Games’ untuk meningkatkan motivasi siswa Sekolah Dasar Negeri 19 yang berada di daerah terpencil di Kabupaten Landak.

Sekolah yang tadinya hanya diajar oleh tiga guru, kini menjadi 7 guru ditambah alumni FKIP dari prodi PJKR dan PBI.
Tuminah menekankan bahwa semangat kepedulian untuk mengajar di SD terpencil merupakan kebahagian.
Anak SD pada dasarnya memiliki gaya dan cara belajar yang berbeda, ini tentunya sangat menyenangkan bagi siswa. Menurut pengamatan Tumiah, siswa-siswi SD di sekolah terpencil itu terlihat lebih semangat Ketika Dosen dan Mahasiswa PBI mengajar dengan menggunakan permainan permainan yang diramu dengan unik.
“Yang kami bagikan ke anak-anak dan guru guru SD terpencil itu adalah media pembelajaran bahasa Inggris yang menarik,” kata Tuminah, (13/11).

Dia juga menggarisbawahi bahwa kepedulian akan pendidikan di daerah (terpencil) mesti menjadi keutamaan. Maksudnya, semangat kepedulian akan pendidikan yang sejati justru mesti dimulai dari pinggiran, tujuannya jelas yakni memajukan pendidikan dan kesetaraan.
“Harapan saya sebagai pendidik, mari kita peduli dengan anak anak kita yang berada di daerah terpencil, karena kalau bukan kita sebagai pendidik, siapa lagi yang peduli dengan anak anak kita di daerah terpencil ini,” tulisnya dalam via WA pada redaksi Duta, (Kamis, 13/11/2025).
Baginya, untuk meng-ekstrak kepedulian akan pendidikan dengan terjun ke pedalaman merupakan sebuah jejak – jalan yang mesti ditempuh (dirasakan) oleh seorang pendidik.
“Melihat semangat mereka untuk lebih ber-semangat dalam belajar bahasa Inggris dan mata pelajaran yang lain menoreh kesan yang memuaskan. Anak-anak yang ikut kegiatan itu selain menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris – tentunya diharapkan juga menyukai semua mata pelajaran,” maksud Tuminah, (13/11/2025). Semoga!!! *Sam.



