Duta, Landak | Kehadiran Kongregasi Pasionis (CP) di pulau Borneo khususnya di Kalimatan Barat adalah sebuah kisah misi yang kaya akan semangat Rohani, tantangan historis, dan dampak sosial kultural yang signifikan. Sejak pertama kali Misionaris tiba pada tahun 1946, Pasionis tidak hanya hadir sebagai pemuka iman katolik, tetapi juga sebagai agen Pembangunan manusia: mendirikan sekolah, membina komunitas lokal, dan menerapkan metode pewartaan yang kontekstual.
Menurut Gema Pasionis, misi Pasionis di Kalimatan barat secara yuridis dimulai pada tahun 1939, Ketika Provinsi Mater Sanctae Spei dari Belanda menerima mandat untuk menjangkau wilayah misi di Ketapang. Namun karena Perang Dunia II, kehadiran fisik baru nyata saat Tiga orang misionaris: P. Canisius Pijnapples, P. Plechelmus Dullaert, dan P. Bernardinus Knippenberg berangkat pada 18 juni 1946, dan tiba di Pontianak pada 26 juli 1946. P. Bernardinus Knippenberg, Superior Misi, kemudian tiba di Ketapang pada 1 Oktober 1946.
Sejak saat itu Pasionis terus menerus mengembangkan misi mereka dengan membuka daerah-daerah baru: misalnya pada 1948 di Randau, awal 1949 di Tanjung, dan pada 1953 di Sepotong (Sungai Laur). Pada 14 januari 1955, wilayah misi Ketapang diangkat menjadi prefektur Apostolik dengan Prefek pertama, Mgr. Gabriel Wilhelmus Sillekens, CP. Uskup pertama keuskupan Ketapang adalah Mgr. Sillekens sendiri, ditahbiskan 17 juni 1962.
Salah satu kontribusi terbesar Pasionis adalah dalam Pembangunan sumber daya manusia lokal. Menurut Fransiskus Emanuel dan Pius Pandor dalam studi mereka, misionaris Pasionis tidak hanya menginjili, tetapi juga membangun sekolah dan program beasiswa untuk anak-anak Dayak Ketapang dan Sekadau. Dalam pandagan (Emanuel & Pandor, 2022), hal ini menunjukan bahwa misi Pasionis berperan signifikan dalam Pendidikan dan kemajuan sosial Masyarakat lokal.
Lebih jauh, (Kwirinus et al., 2023).menegaskan bahwa strategi “Misi Umat” Pasionis Adalah model katekese kontekstual yang sangat relevan di Kalimatan Barat. Dalam pendekatan ini, pasionis mendorong partisipasi umat, terutama mereka hidup dalam situasi ekonomi terbelakang, ketidakadilan, dan penderitaan. Ini menunjukan bahwa misi Pasionis tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial mereka menyentuh kehidupan nyata umat yang menderita.
Dalam konteks organisasi, integrasi antara Pasionis Belanda (Mater Sanctae Spei) dan Pasionis Italia (Provinsi Pieta) sangat penting. Menurut tulisan Gema Pasionis, Provinsi “Maria Ratu Damai” Indonesia lahir dari persilangan kedua aliran ini. Pada 17-20 Agustus 1987, diselenggarakan Kongres I Vikariat Regional Jenderal di Sekadau untuk meresmikan penyatuan dua vikariat menjadi satu. Ini Adalah Langkah strategis untuk memperkuat struktur misi Pasionis di Indonesia.
Namun, misi Pasionis juga menghadapi tantangan serius, menurut (Paul & Lynch, 2015), pada masa dekolonisasi Indonesia, pemerintah melarang masuknya misionaris berkebangsaan asing dan mengancam eksklusi misionaris Belanda. Konflik politik ini memperlihatkan bahwa misi Rohani tidak pernah terlepas dari dinamika politik dan kekuasaan.
Di era modern, Pasionis tetap relevan. Sebagai contoh, pada tahun 2024, dilaporkan bahwa Misi Umat Pasionis di Riam Panjang (Sekadau) dihadiri oleh Bupati Aron dan Ketua PKK Kabupaten Sekadau, Bersama 14 Pastor Pasionis dari berbagai wilayah. Ini menunjukan bahwa Pasionis masih menjadi aktor peting dalam kehidupan Gereja lokal, membangun relasi dengan pemimpin pemerintah sekaligus menguatkan iman umat.
Sebuah kisah inspiratif adalah figur Mgr. Giulio Mencuccini, uskup Pasionis asal Italia yang berkarya di kalimatan selama puluhan tahun. Dikenal sebagai “bishop motorcyclist”, ia menempuh ribuan kilometer di jalan jelek perjalanan sulit di perdalaman kalimatan demi melayani komunitas terpencil. Dedikasi semacam ini menegaskan bahwa misi Pasionis bukan sekadar misi gereja, tetapi juga misi kemanusian.
Menelaah Kembali perjalanan Panjang Pasionis di bumi Borneo sejak 1939 hingga hari ini, kita melihat bahwa kehadiran mereka bukan sekadar catatan Sejarah misi, tetapi ibarat pohon kehidupan yang terus berakar dalam, bertumbuh kuat, dan menghasilkan buah bagi Masyarakat Kalimatan Barat.
Seperti di tulis dalam Gema Pasionis, “Misi Pasionis adalah benih yang ditanam dengan pengorbanan, tetapi tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak kehidupan”
Sejak kedatangan para misionaris pertama pada 18 juni 1946 dan kedatangan mereka di Pontianak pada 26 Juli 1946, pelayanan mereka telah membuka jalan bagi Pendidikan, pendampingan iman, serta pemberdayaan sosial Masyarakat Dayak. Dalam pandangan (Emanuel & Pandor, 2022), mencatat bahwa para Pasionis “tidak hanya berkotbah, tetapi membangun manusia melalui Pendidikan dan pembinaan karakter”.
Kekuatan Rohani Pasionis tidak pernah terlepas dari pusat panggilan mereka: Salib Yesus di puncak Golgota. Salib ini menjadi sumber inspirasi bagi keberanian para misionaris yang melintas Sungai, hutan, dan pedalaman demi menjangkau umat. Dalam dokumen Misi Umat, disebutkan bahwa “spiritualitas sengsara Kristus menjadi tenaga yang mendorong pelayanan yang tidak kenal Lelah” (Kwirinus et al., 2023).
Karya Pasionis benar-benar menyerupai Pohon Kehidupan:
- Akar mereka tertanam kuat dalam Spiritualitas Golgota
- Batang berdiri kokoh melalui dedikasi para Misionaris Belanda dan Italia
- Dahan menjulur melalui Sekolah misi, pembinaan umat, rumah ibadat, dan pendampingan sosial.
- Buah mereka hadir dalam bentuk kemajuan Pendidikan, pertumbuhan Gereja, kedewasaan iman umat, Serta lahirnya Iman dan Bruder Pasionis putra daerah.
Kehadiran mereka hingga saat ini tetap nyata. Misi Umat tahun 2024 di Riam Panjang, yang juga dihadiri pemerintah daerah, menegaskan bahwa pelayanan Pasionis tidak pernah berhenti memberi hidup. Pemerintah mencatat, “Misi Pasionis menompang persaudaraan, pemulihan iman, dan semangat kebersamaan Masyarakat”.
Bagi, saya perjalanan Pasionis di Borneo khususnya di Kalimatan Barat adalah kesaksian nyata bahwa Salib di Golgota bukan hanya Simbol Penderitaan, tetapi sumber kekuatan. Dari Salib itu lahir keberanian, ketekunan, dan cinta yang membuat Pohon Kehidupan itu terus hidup di Tanah Kalimatan.
Maka, dapat disimpulkan bahwa Kehadiran Pasionis di Borneo warisan iman yang terus bertumbuh sebuah karya yang menyalurkan kehidupan, harapan, dan terang bagi generasi masa kini serta yang akan datang.
*Penulis: Fernando Diansi dan Bruder Marsianus Suparmo CP – Kampus I Landak, San Agustin.


