Duta, Landak | Ketika kita berbicara tentang kelapa sawit, Indonesia di hadapi di antara narasi besar yaitu pahlawan ekonomi atau penjahat lingkungan.
Dua dua nya antara benar dan salah terjadi di lapangan. Minyak sawit adalah salah satu minyak nabati yang sangat penting di seluruh dunia namun ada satu masalah yang selalu beriringan dengan nya yaitu kerusakan lingkungan akibat pohon penghasil minyak ini.
Dan saya melihat sendiri bagaimana kelapa sawit memberi makan keluarga dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat masyarakat di desa. Tetapi saya juga melihat bagaimana hutan mulai pelan pelan terbabat, warna sungai mulai berubah, dan lahan gambut mengering tahun demi tahun.
Sawit sebagai penyokong ekonomi fakta yang tak bisa dibantah.
Jika kita bicara angka, sawit memang luar biasa dampak nya bagi perekonomian masyarakat. Jutaan pekerja menggantungkan hidup pada sektor ini baik sebagai petani mandiri, tukang panen, sopir TBS, sampai pekerja pabrik seperti mandor lapangan dan karyawan penggolahan.
Di banyak desa seperti di Amboyo Inti, sawit bukan sekadar komoditas, tetapi fondasi ekonomi masyarakat lokal. Ketika harga sawit naik, roda ekonomi desa otomatis ikut bergerak warung hidup, pembelian pupuk meningkat, bahkan biaya kuliah bagi anak anak petani pun tercukupi.
Bagi pemerintah daerah, sawit bahkan menjadi sumber PAD dari pajak dan retribusi. Infrastruktur seperti jalan dan jembatan sering dibangun karena tuntutan mobilitas perusahaan sawit. Ada desa yang dulunya terisolasi, kini bisa terhubung dengan kota karena akses dibuka oleh perusahaan dan ada juga desa yang hingga saat ini belum bisa terhubung dengan kota dikarenakan perusahaan yang ada di desa tersebut hanya mencari keuntungan pribadi.
Dari statement saya di atas sawit memang mengangkat ekonomi masyarakat. Itu fakta.
Namun realitas lapangan tidak sesederhana itu.
Di sisi lain, kerusakan lingkungan akibat ekspansi sawit juga tidak bisa dipungkiri. Pembukaan lahan besar-besaran di masa lalu baik oleh perusahaan besar maupun oleh petani swadaya meninggalkan jejak kerusakan yang masih terlihat hingga sekarang.
Hutan primer di beberapa wilayah habis, diganti barisan sawit yang seragam, habitat satwa liar, terutama di Kalimantan semakin terancam punah dan populasi nya kini sulit di dapatkan, lahan gambut yang seharusnya dijaga malah dikeringkan demi penanaman sawit, menyebabkan risiko kebakaran hebat dan kurang nya resapan air yang menyebabkan kebanjiran.
Ini bukan prasangka dan dugaan kita, tetapi realita yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra. Bahkan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sawit pun menyadari situasi ini. Mereka menikmati hasil ekonominya, tetapi juga merasakan dampak ekologisnya misalnya, banjir yang terjadi di Ngabang pada 23 Janusri 2025 lalu.
Jadi, Penyokong Ekonomi atau Perusak Lingkungan?
Menurut saya, masalahnya bukan pada sawit sebagai tanaman. Sawit itu efisien jauh lebih tinggi produktivitasnya dibanding minyak nabati lain seperti kedelai atau bunga matahari. Jika Indonesia tidak menanam sawit, komoditas minyak nabati lain akan membutuhkan lahan yang jauh lebih besar untuk menghasilkan minyak yang sama. yang salah bukan tanamannya, tetapi cara pengelolaannya.
Sebagai mahasiswa Agribisnis, saya merasa memiliki tanggung jawab moral. Saya tidak boleh hanya melihat sawit dari sisi keuntungan ekonomi semata.
Saya juga harus kritis terhadap dampak lingkungannya, karena masa depan pertanian tidak hanya soal keuntungan, tetapi soal keberlanjutan generasi berikutnya.
Kita tidak memihak perusahaan, tetapi kita juga tidak akan menyalahkan petani. Realitanya sawit adalah penyelamat ekonomi bagi sebagian besar masyarakat, tetapi juga penyebab kerusakan lingkungan yang nyata.
Kita harus berani mengakui dua-duanya. Solusi yang dibutuhkan bukanlah menolak sawit, tetapi memperbaiki cara kita mengelola sawit. Kalau kita terus mengulang kesalahan yang sama, suatu saat kita akan kehilangan hutan, satwa liar bahkan flora dan fauna endemik.
Sawit tidak harus menjadi musuh. Tapi ia juga tidak boleh terus dibiarkan menjadi raja tanpa aturan. Yang kita perlukan adalah sawit yang kuat secara ekonomi dan bersih secara lingkungan bukan hanya di dokumen, tetapi di lapangan.
*Penulis adalah Pianus Tutuk mahasiswa aktif Agribisnis semester 5 di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 3 Plasma 2, Fakultas Sains Dan Teknologi (Ngabang, Kabupaten Landak).


