Duta, Pontianak | Dalam perkembangan sejarah manajemen pemasaran dan ekonomi, digitalisasi menjadi tantangan besar bagi demokrasi, termasuk di Indonesia.
Pilkada serentak pada 27 November 2024, misalnya, menunjukkan bagaimana teknologi dan media digital dapat memengaruhi dinamika sosial dan politik masyarakat.
Pada era sekarang, teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi cara manusia berinteraksi. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang penyebaran informasi yang sangat cepat dan luas. Namun, media sosial sering kali memicu konflik serta perselisihan karena konten yang tersebar tidak selalu mencerminkan kebenaran.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa sebagai bagian dari generasi berpendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Hal pertama yang harus disadari adalah bahwa tidak semua informasi di media sosial akurat atau sesuai dengan fakta.
Dibutuhkan kecerdasan digital untuk memahami dan memilah mana informasi yang layak dipercaya. Selain itu, interaksi digital juga harus tetap berlandaskan simpati dan empati, sebab pengguna media sosial tetaplah manusia yang memiliki hak untuk dihargai.
Perilaku negatif seperti trolling dan flaming dapat merusak etika komunikasi serta mengancam kualitas demokrasi digital. Mahasiswa sebagai kelompok yang terdidik diharapkan mampu memanusiakan manusia lain dalam ruang digital, baik yang dikenal maupun tidak.
Dalam konteks bisnis dan manajemen pemasaran, teknologi informasi juga memegang peranan signifikan. Arus informasi yang cepat dan mudah diakses menjadikan teknologi sebagai kebutuhan utama perusahaan dalam meningkatkan efektivitas kerja.
Manusia kini bekerja berdampingan dengan mesin dalam sistem yang saling terhubung untuk menghasilkan keputusan yang optimal. Teknologi informasi menjadi dasar penting dalam perluasan peluang pasar, tidak hanya secara lokal tetapi juga global.
Perbandingan antara pemasaran tradisional dan pemasaran digital pun semakin jelas terasa. Media tradisional seperti koran, televisi, dan radio masih relevan bagi masyarakat yang tidak aktif di internet.
Namun, generasi muda lebih banyak terpapar pada konten digital seperti Instagram dan TikTok. Pemasaran digital menawarkan jangkauan luas, biaya lebih efisien, dan interaksi dua arah yang memungkinkan konsumen menyampaikan pendapat secara langsung. Penyajian informasi yang transparan ini menjadi nilai tambah dalam membangun kepercayaan konsumen.
Selain itu, pemasaran digital memungkinkan analisis data secara mudah dan akurat, sehingga membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan strategis. Meskipun demikian, pemasaran tradisional tetap belum sepenuhnya bisa ditinggalkan. Ada kelompok masyarakat yang masih membutuhkan pendekatan pemasaran konvensional karena kesenjangan akses teknologi.
Sebagai mahasiswa yang hidup di era digital, sudah sepatutnya kita mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak, etis, dan kritis.
Teknologi seharusnya menjadi sarana pemberdayaan, bukan pemicu konflik maupun penyebar kebohongan. Dengan literasi digital yang baik, mahasiswa dapat berkontribusi pada perkembangan demokrasi digital serta mendukung kemajuan bisnis di masa depan.
Daftar Pustaka
Kotler, Philip, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.
Librina, Triana P., Adi S., Dwika Lodia P., dan Muhammad S. Marketing Management. Bandung: CV Eureka Media Aksara, 2023.
“Pilkada Serentak Digelar 27 November 2024.” Tribun Jakarta. Diakses 20 November 2025.
Samuel. “Produktivitas Nilai dan Analisis Konsumen.” Materi kuliah, Pertemuan ke-11, 26 November 2025.
*Rendi – Mahasiswa AKUB – San Agustin (3 B), Sam.


