MajalahDUTA.Com, Pontianak- Sekitar tahun 1950, baru ada enam buah stasi baru yang terletak di luar kota Sambas. Keenam stasi tersebut adalah: Segarau, Sekura, Paloh, Aruk, Sawah, dan Subah.
Kebanyakan stasi-stasi dibuka dengan tidak resmi karean pelayanan dan kunjungan Pastor terjadi secara berkala dan atas permintaan dan undangan dari kampung-kampung bersangkutan.
Umumnya stasi-stasi berikutnya yang terbentuk sekitar tahun 1970.
Kemudian kunjungan Pastor ke kampung ditujukan kepada mereka yang pernah tinggal di asrama dan sudah dipermandikan. Kunjungan kala itu pun ditujukan untuk beberapa orang saja, karena salah satu cara bentuk pemeliharaan rohani umat yang dikunjungi.
Sejalan dengan itu, secara perlahan-lahan banyak orang di kampung mulai membuka pintu bagi agama Katolik karena menurut mereka agama nenek moyang (Animisme) dianggap ketinggalan zaman.
“Masuk agama berarti sudah mengikuti perkembangan zaman, sudah maju,” pikir mereka.
Tepat pula kisaran tahun tersebut pemerintah dan aparat mendorong agar orang pedalaman (Dayak) memeluk salah satu agama resmi negara. Mulai saat itu pula, banyak orang datang dan mengundang Pastor untuk memberikan Sakramen Baptis.
Bertambahnya Ladang Pelayanan
Dengan bertambahnya jumlah umat, menuntut setiap stasi di kampung untuk mengangkat seorang pemimpin agama, yang oleh Pastor mereka sebagai wakilnya di antara umat di kampung itu. Sejak tahun 1970 umat Katolik di pedalaman khususnya di daerah Bantanan bertambah secara kuantitatif.
Awalnya Pastor Fridolinus van Veghel mengunjungi stasi di kampung-kampung hanya sekali setahun menjadi 2-3 kali setahun karena melihat perkembangan umat Katolik yang kian pesat meskipun hubungan transportasi masih sulit, namun perjuangan pemeliharaan rohani tetap dijalankan oleh Pastor Silvinus Notor (1976).
Pastor Silvinus Notor merupakan Pastor pribumi pertama yang bertugas di Paroki Sambas.
Ia mulai secara intensif dengan memberikan pendampingan kepada stasi-stasi di kampung melalui kegiatan retret dan pendalaman iman umat di daerah Bantanan dan Subah.
Dengan demikian, stasi-stasi yang awalnya kecil terbentuk menjadi stasi yang besar.
Baca Juga:
- Menilik Jejak Gereja Kristus Raja Paroki Sambas
- Kedatangan Suster dari Etten (KFS)
- Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik
- Kedua Kalinya Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Dapatkan Anugrah Award untuk Leadership
Sentuhan Kemanusiaan – Umat Bersama Gereja
Pantas diakui bahwa paroki Sambas tidak sekali jadi, hal itu harus melalui proses yang panjang, perkembangan situasi dan tentunya kemajuan paroki melibatkan banyak pihak.
Jauh sebelum Paroki ini terbentuk secara resmi (1913) sudah ada beberapa Pastor datang, melihat dan melayani orang Katolik. Meskipun jumlahnya tidak seberapa tetapi mereka telah berusaha menjajaki dan memberikan pelayanan rohani kepada mereka.
Sentuhan kasih kemanusiaan yang imam berikan berdampak pada penyegaran, kekuatan dan semangat sebagai orang Katolik.
Di samping Pastor, ada pula Katekis. Sedari awal Paroki Sambas, saat itu sudah ada Katekis yang membantu untuk urusan Paroki bahkan di daerah pedalaman. Katekis itu ada beberapa orang yang praktis berlaku sebagai Katekis alias seorang guru yang menjadi pelopor perkembangan iman Katolik di wilayah paroki Sambas.
Perkembangan Paroki ini tak terlepas dari peran para Suster meskipun awalnya sebatas di dalam kota namun tak bisa dipungkiri karya mereka juga berlaku Universal.
Karya karitatif yang para suster geluti melalui sekolah-sekolah, poliklinik, kunjungan ke rumah-rumah dan katekese memberi andil besar dalam perkembangan serta kemajuan Paroki Sambas.
Meskipun di daerah pedalaman saat itu belum ada peranan Suster, tetapi kaum Biarawan KFS berjubah putih itu memberikan pendidikan dan pendampingan bagi sebagian kecil anak-anak perempuan di asrama.
Mulai tahun 1977 itu, para Suster terlibat dalam kegiatan tourne bersama Pastor dan Katekis ke kampung. Di sana mereka membantu dalam pengobatan bagi yang sakit dan katekese untuk umat Katolik.
Sebagian besar umat Katolik khususnya yang sudah menganut kepercayaan Katolik sudah menyumbang andil besar bagi kemajuan Gereja Katolik Kristus Raja Paroki Sambas.
Perkembangan itu tampak dalam kesiapan dan kerelaan umat menjadi pelopor dan katekis sukarela di tempat di mana umat itu berada. Misalnya dari guru sekolah Minggu, menjadi kader umat, dan memimpin umat beribadat. (Sz).
Sumber Utama: P. Markus Use OFMCap. Buku Kenangan Perayaan Satu Abad Paroki Sambas: November , 1913-2013. Paroki Sambas, Sambas, 2013.- Disusun sebagian besar oleh (F.Cahyo W.).




