MajalahDUTA.Com | Menjadi Fransiskan bukan sekadar mengenakan identitas sebagai anggota Ordo Fransiskan Sekular (OFS), melainkan menghadirkan Kristus melalui cara hidup sehari-hari. Kesederhanaan, kerendahan hati, kasih, pertobatan, dan persaudaraan menjadi nilai-nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, Gereja, dan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Suster Kristina SMFA selaku pendamping rohani dalam Pertemuan Lokal Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Persaudaraan Kontradus, Minggu (8/11/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung di rumah salah seorang anggota OFS tersebut saudari Sophia T, OFS beralamat di Jl.Natuna no.117, para saudara-saudari diajak memperdalam spiritualitas, karisma, serta cara hidup dan misi Fransiskan Sekular di tengah dunia.
Mengawali pembinaan, Suster Kristina SMFA mengingatkan pentingnya memahami Anggaran Dasar dan Konstitusi OFS sebagai pedoman hidup setiap anggota.

Menurut dia, masa pembinaan sekurang-kurangnya berlangsung satu tahun. Namun, waktu tersebut bukan batas mutlak karena perkembangan calon perlu dilihat melalui berbagai aspek kehidupan.
“Penilaian bukan hanya melihat apakah seseorang aktif mengikuti pertemuan, tetapi juga bagaimana situasi kehidupannya secara keseluruhan sebagai seorang Fransiskan Sekular,” jelasnya.
Dia menambahkan, tantangan yang dihadapi anggota OFS cukup besar karena mereka menjalani panggilan di tengah masyarakat, berbeda dengan para religius yang hidup dalam komunitas. Karena itu, penghayatan spiritualitas Fransiskan harus terlihat dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
Suster Kristina SMFA juga mendorong setiap anggota memiliki dan membaca Anggaran Dasar serta Konstitusi secara mandiri.
Kedua dokumen tersebut bukan sekadar kelengkapan organisasi, melainkan pedoman yang membantu anggota memahami identitas dan arah panggilannya.
“Dari sinilah semacam pedoman arah hidup kita. Hukumnya ada di sini, di Konstitusi dan Anggaran Dasar ini,” ungkapnya.

Allah Adalah Kasih
Memasuki pembahasan spiritualitas Fransiskan, Suster Kristina SMFA menggarisbawahi satu pemahaman mendasar, yakni Allah adalah kasih. Manusia merupakan ciptaan dan buah kasih Allah sehingga setiap pribadi memiliki martabat yang harus dihormati.
Dia menghubungkan pemahaman tersebut dengan kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi yang menaruh perhatian besar terhadap seluruh ciptaan. Menghormati sesama berarti menghargai karya Allah sendiri.
Dalam konteks ini, karisma Fransiskan menjadi ciri khas yang mempersatukan seluruh keluarga Fransiskan, baik Ordo Pertama, Ordo Kedua, Ordo Ketiga Reguler, maupun Ordo Ketiga Sekular. Meskipun memiliki bentuk kehidupan berbeda, semuanya dipersatukan oleh semangat mengikuti Kristus seturut teladan Santo Fransiskus.
Salah satu dasar penghayatan tersebut adalah Injil Matius 5:16: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga,” kutipan Injil ini mengajak para pengikut Kristus agar terang mereka bercahaya di hadapan orang lain melalui perbuatan baik sehingga Allah dimuliakan.
Menurut Suster Kristina SMFA, terang tidak perlu berbicara atau memegahkan dirinya sendiri. Terang cukup hadir dan menerangi lingkungan sekitarnya.
Demikian pula seorang Fransiskan yang dipanggil memberikan kesaksian melalui tindakan nyata, bukan melalui keinginan untuk memperoleh pujian.
“Terang tidak berbunyi apa-apa, tidak berbicara apa pun, tidak memegahkan dirinya. Tetapi menerangi kita. Itulah yang diharapkan oleh Bapa kita Santo Fransiskus,” tuturnya.
Dia menegaskan, seorang Fransiskan tidak perlu memaksakan orang lain mengikuti cara hidupnya. Sebaliknya, kesaksian hidup yang sederhana, rendah hati, sopan, dan penuh kasih diharapkan mampu membuat orang lain tertarik untuk mengenal Allah.
Baginya keberhasilan penghayatan spiritualitas bukan diukur dari banyaknya pujian yang diterima, melainkan dari bagaimana kehidupan seseorang membantu sesama semakin memuliakan Allah.

Mengandung dan Melahirkan Kristus
Dalam menjalankan misi Fransiskan, Bunda Maria juga menjadi teladan penting dalam kesetiaan dan ketaatan kepada kehendak Allah. Suster Kristina SMFA menjelaskan bahwa ajaran Santo Fransiskus mengajak setiap orang untuk membangun hubungan yang erat dengan Kristus.
Dia menguraikan bahwa seseorang menjadi mempelai Kristus ketika jiwanya dipersatukan dengan Kristus dalam kesetiaan. Seseorang menjadi saudara Kristus apabila melaksanakan kehendak Bapa di surga. Sementara itu, seseorang menjadi ibu Kristus ketika Kristus senantiasa hadir dan tinggal di dalam hatinya.
“Kita mengandung Kristus bila di dalam hati kita selalu tersimpan adanya Kristus. Kita melahirkan Kristus lewat sikap, tingkah laku, tutur kata, dan pekerjaan-pekerjaan kita,” jelasnya.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada kehidupan doa atau kegiatan keagamaan. Kehadiran Kristus harus nyata dalam cara seseorang memperlakukan keluarga, rekan kerja, dan masyarakat.
Karena anggota OFS hidup di tengah dunia dengan berbagai tantangan, mereka perlu menjaga hati dan perilaku agar tidak mudah terseret oleh situasi yang bertentangan dengan nilai-nilai Injil.

Pertobatan sebagai Proses Setiap Hari
Hal lain yang menjadi perhatian dalam pembinaan tersebut adalah komitmen untuk hidup dalam semangat pertobatan. Suster Kristina SMFA membagikan pengalamannya mengikuti retret di La Verna, Sanggau, yang dibimbing Pastor Yosef Sinaga OFMCap, Minister Provinsial Kapusin Provinsi Sibolga.
Dalam retret tersebut, dia memperoleh penegasan bahwa pertobatan tidak hanya berkaitan dengan pengakuan dosa, tetapi juga menyangkut kesediaan untuk terus-menerus mengevaluasi kehidupan.
“Pertobatan bukan berarti hanya pengakuan dosa, tetapi bagaimana setiap saat kita berefleksi,” katanya.
Refleksi itu dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana mengenai tindakan dan perkataan yang telah dilakukan terhadap orang-orang terdekat. Misalnya, bagaimana seseorang memperlakukan saudara, anak, cucu, suami, atau istrinya.
Menurut dia, refleksi tidak harus menunggu sampai malam hari. Setiap orang dapat mengambil waktu sejenak di tengah kesibukan untuk melihat kembali tindakan dan keputusan yang telah dibuat.
Dia menggarisbawahi bahwa melalui kebiasaan tersebut, anggota OFS diharapkan semakin mampu mengenali kelemahan diri, memperbaiki sikap, dan menjaga kesetiaan pada jalan Tuhan.

Persaudaraan sebagai Tempat Bertumbuh
Suster Kristina SMFA juga mengingatkan bahwa panggilan Fransiskan tidak hanya dihayati secara pribadi, tetapi juga dalam kehidupan bersama. Seseorang yang mengakui dirinya sebagai Fransiskan perlu menjadi bagian dari persaudaraan.
Dia menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa setiap anggota merupakan bagian dari saudara-saudarinya. Sebaliknya, saudara-saudari dalam persaudaraan juga merupakan bagian dari kehidupan setiap anggota.
“Saya adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dari saya. Itu penting sekali untuk dirasakan. Jangan sampai kita merasa bahwa ini hanya tentang saya dan hak saya sendiri,” tegasnya.
Karena itu, pertemuan persaudaraan bukan sekadar agenda rutin, melainkan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, perasaan, cerita, dan pergumulan hidup. Kehadiran setiap anggota menjadi bentuk perhatian sekaligus tanggung jawab terhadap komunitas.
Dia berharap para saudara-saudari OFS tidak merasa asing satu sama lain, tetapi sungguh-sungguh mengalami persaudaraan sebagai satu keluarga Fransiskan.
Selain pertemuan rutin, anggota juga didorong mengikuti retret dan rekoleksi bersama. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menyegarkan kembali semangat panggilan, memperdalam iman, dan memperbarui kehidupan rohani.

Doa dan Ekaristi Memelihara Semangat Fransiskan
Dalam kesempatan itu, Suster Kristina SMFA turut mengingatkan kekhasan doa dalam tradisi Fransiskan, khususnya doa di hadapan salib yang diawali dengan ungkapan, “Kami menyembah Engkau.”
Menurut dia, ungkapan tersebut menjadi pembuka doa yang khas dalam tradisi Fransiskan, sedangkan doa Allah Yang Mahatinggi ditempatkan sebagai penutup. Kebiasaan ini dapat dihidupi dalam doa bersama maupun doa pribadi, termasuk Ibadat Pagi dan Ibadat Siang.
Dia juga mengingatkan pentingnya mengikuti Perayaan Ekaristi sebagai bagian dari kehidupan iman. Bagi anggota OFS, kesetiaan dalam kehidupan doa dan Ekaristi merupakan salah satu cara memelihara hubungan dengan Kristus.
Menutup pembinaan, Suster Kristina SMFA mengajak seluruh anggota untuk terus memelihara dan mempertajam panggilan Fransiskan, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam persaudaraan.
Melalui doa, refleksi, pertobatan, dan kebersamaan, setiap anggota diharapkan semakin mampu menghadirkan terang Kristus di tengah masyarakat.
Dia menggarisbawahi bahwa menjadi Fransiskan Sekular bukan hanya tentang mengakui diri sebagai pengikut Santo Fransiskus, melainkan kesediaan untuk menghidupi Injil dalam seluruh dimensi kehidupan.
Kutipan Injil tentang “Terang” itu tidak perlu dipamerkan, tetapi harus sungguh-sungguh dirasakan oleh orang-orang di sekitar melalui kasih dan perbuatan nyata. (Samuel)







