Sunday, November 8, 2026
More

    Mewariskan Jejak Kekudusan di Tengah Dunia, Jalan Panggilan Dominikan Awam

    MajalahDUTA.Com | Apa yang akan dikenang generasi mendatang dari kehidupan seorang Dominikan Awam? Pertanyaan ini menjadi refleksi penting dalam memperingati Hari Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah (Dominikan), 7 November.

    Jika para pendahulu telah meninggalkan kesaksian iman melalui kehidupan dan pelayanan mereka, generasi sekarang pun memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan tersebut melalui cara hidup yang relevan dengan tantangan zamannya.

    President Chapter St. Dominikus, Fransiskus Edy, OP mengungkapkan bahwa Dominikan Awam memiliki panggilan tersendiri dalam mewariskan nilai-nilai spiritualitas Santo Dominikus.

    Hal itu disampaikannya dalam wawancara pada 7 November 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah.

    Menurut Fransiskus Edy OP, sejarah Ordo Dominikan telah memperlihatkan bagaimana para kudus terdahulu meninggalkan warisan melalui karya teologis yang agung dan pembangunan kehidupan komunitas religius.

    Namun, warisan yang perlu dihadirkan oleh Dominikan Awam tidak harus berbentuk sesuatu yang monumental. Kesaksian hidup justru menjadi hal mendasar yang dapat diwariskan kepada keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.

    “Jika para kudus Dominikan terdahulu meninggalkan warisan berupa karya teologis agung dan biara-biara yang megah, maka Dominikan Awam dipanggil untuk meninggalkan warisan berupa jejak kasih yang nyata, integritas moral di tempat kerja, keluarga yang berpusat pada Kristus, serta obor kebenaran (Veritas) yang menyinari kegelapan dunia modern,” jelasnya.

    Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa panggilan kekudusan bagi kaum awam tidak terpisah dari realitas kehidupan sehari-hari. Kehidupan profesional, tanggung jawab keluarga, dan keterlibatan sosial merupakan ruang tempat iman diuji sekaligus diwujudkan.

    DOKUMENTASI – Kegiatan 16-18 Oktober 2026 dengan agenda Retreat serta pembaharuan janji anggota, dalam foto ada juga Romo Samuel Sony Gunawan, OP.

    Kekudusan bukan sekadar warisan sejarah

    Setiap 7 November, Keluarga Dominikan mengenang para kudus Ordo Pengkhotbah, baik mereka yang telah diakui secara resmi oleh Gereja maupun mereka yang tidak dikenal namanya.

    Perayaan ini menjadi pengingat bahwa kekudusan tidak hanya milik tokoh-tokoh besar dalam sejarah Gereja, tetapi juga tumbuh melalui kesetiaan orang-orang yang menjalani panggilannya dengan tulus.

    Dalam pesan Hari Keluarga Dominikan tertanggal 2 November 2012, Magister Ordo saat itu, Fr. Bruno Cadoré, OP, mengingatkan bahwa membaktikan diri bagi pewartaan merupakan jalan khas anggota Dominikan menuju kekudusan.

    Dia juga menegaskan bahwa misi bersama seluruh anggota Keluarga Dominikan, dengan segala keberagaman panggilannya, adalah mewartakan Injil sebagai sukacita bagi dunia.

    Pemahaman tersebut memberikan konteks bagi refleksi Fransiskus tentang warisan Dominikan Awam.

    Jika para kudus terdahulu memberikan kesaksian melalui karya dan pengabdian mereka, kaum awam masa kini dipanggil menghadirkan nilai Injil dalam lingkungan yang mereka hidupi. Kesetiaan dalam pekerjaan, kejujuran dalam mengambil keputusan, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab membangun keluarga merupakan bagian dari kesaksian tersebut.

    Baginya menjadi Dominikan Awam bukan hanya berarti memiliki identitas sebagai anggota sebuah keluarga spiritual, melainkan juga menerima tanggung jawab untuk menghadirkan spiritualitas Dominikan dalam kehidupan konkret.

    Veritas sebagai obor kehidupan

    Hal menarik dari refleksi Fransiskus adalah penggunaan istilah Veritas, yang berarti kebenaran. Istilah ini memiliki tempat penting dalam tradisi Ordo Pengkhotbah. Kebenaran bukan hanya sesuatu yang dipelajari, melainkan dicari, direnungkan, dihidupi, dan dibagikan kepada orang lain.

    Fransiskus Edy OP menggambarkan kebenaran sebagai obor yang harus terus dinyalakan untuk menyinari kegelapan dunia modern.

    Gambaran tersebut mengandung pesan bahwa Dominikan Awam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menjunjung nilai kebenaran di tengah berbagai tantangan kehidupan.

    Dalam dunia pekerjaan, kebenaran dapat diwujudkan melalui integritas dan tanggung jawab. Dalam kehidupan keluarga, kebenaran menjadi dasar untuk membangun relasi yang dilandasi kasih dan kesetiaan. Sementara dalam kehidupan sosial, kebenaran menuntut keberanian untuk bersikap jujur, adil, dan menghormati martabat manusia.

    Semangat ini juga mengingatkan bahwa pencarian kebenaran membutuhkan kesediaan untuk terus belajar dan membuka diri terhadap dialog.

    Tradisi Dominikan menempatkan studi dan kontemplasi sebagai bagian penting dari perjalanan iman. Pengetahuan yang diperoleh perlu membawa seseorang semakin dekat kepada Allah sekaligus semakin peduli terhadap kehidupan sesama.

    DOKUMENTASI – Kegiatan 16-18 Oktober 2026 dengan agenda Retreat serta pembaharuan janji anggota, dalam foto ada juga Romo Samuel Sony Gunawan, OP.

    Mewariskan iman melalui keluarga

    Selain integritas dan kebenaran, Fransiskus Edy OP memberikan perhatian khusus pada keluarga yang berpusat pada Kristus. Bagi Dominikan Awam, keluarga merupakan salah satu ruang utama untuk meneruskan nilai-nilai iman kepada generasi berikutnya.

    Warisan iman tidak selalu diberikan melalui nasihat atau pengajaran formal. Anak-anak dan generasi muda juga belajar dari teladan hidup orang tua, cara keluarga menyelesaikan persoalan, bagaimana menghormati orang lain, serta bagaimana kasih diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

    Karena itu, keluarga yang berpusat pada Kristus bukan sekadar keluarga yang menjalankan kegiatan keagamaan, melainkan keluarga yang berusaha menjadikan nilai-nilai Injil sebagai dasar dalam membangun kehidupan bersama.

    Dalam perspektif ini, kekudusan menjadi pengalaman yang dekat dengan kehidupan manusia. Ia tidak hanya ditemukan dalam ruang-ruang ibadah atau biara, tetapi juga dalam kesediaan mengampuni, melayani, bekerja dengan jujur, dan memperjuangkan kebaikan bersama.

    Dari para kudus terdahulu kepada generasi mendatang

    Peringatan Hari Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah akhirnya membawa setiap anggota Keluarga Dominikan pada pertanyaan tentang warisan apa yang sedang dipersiapkan bagi generasi berikutnya.

    Para kudus terdahulu telah meninggalkan jejak melalui kehidupan kontemplatif, pemikiran teologis, pendidikan, pelayanan, dan kesetiaan terhadap iman. Sementara Dominikan Awam memiliki kesempatan untuk meneruskan warisan tersebut melalui kehidupan di tengah masyarakat.

    Dalam tulisannya yang diterbitkan pada 7 November 2024, Br. Simon Ferrer Vettikunnel, seorang novis Dominikan, menjelaskan bahwa Pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah juga menjadi pengingat bagi para frater, biarawati, suster, dan kaum awam tentang panggilan menuju kekudusan serta pentingnya mengikuti teladan para pendahulu.

    Mengenang para kudus tidak cukup hanya melalui perayaan liturgi dan penghormatan terhadap sejarah mereka. Kesaksian hidup para pendahulu perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata oleh generasi sekarang.

    Refleksi Fransiskus Edy OP memberikan penegasan bahwa warisan Dominikan Awam tidak harus menunggu seseorang menjadi tokoh besar atau menghasilkan karya yang monumental.

    Setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang bernilai melalui cara hidupnya.

    Pada akhirnya, mungkin bukan seberapa besar karya yang dibangun atau seberapa terkenal nama seseorang yang paling menentukan warisannya.

    Yang lebih penting adalah apakah kehadirannya pernah membawa kasih, apakah pekerjaannya dijalankan dengan integritas, apakah keluarganya bertumbuh dalam iman, dan apakah keberadaannya membantu orang lain menemukan kebenaran.

    Itulah jejak kekudusan yang diharapkan terus hidup dalam diri Dominikan Awam yakni bukan hanya dikenang oleh generasi berikutnya, tetapi juga menjadi terang yang menuntun mereka untuk meneruskan perjalanan iman. (Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles