MajalahDUTA.Com, Landak | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menyelenggarakan kegiatan Sinkronisasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Fakultas Sains dan Teknologi pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung di Kampus Utama San Agustin, Jalan Ilong, Dusun Gasing Pal 4, RT 01 RW 04, Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya universitas untuk memastikan kurikulum setiap program studi tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, tuntutan dunia kerja, serta perubahan kompetensi yang dibutuhkan lulusan pada masa mendatang.

Melalui pendekatan Outcome-Based Education, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga menitikberatkan pada capaian pembelajaran yang dapat ditunjukkan mahasiswa setelah menyelesaikan proses pendidikan.
Acara diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Rektor Bidang Umum, Brigjen. Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si.
Dalam pembukaan tersebut, kegiatan sinkronisasi kurikulum ditempatkan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas akademik universitas melalui keterlibatan berbagai pihak.
Kehadiran stakeholder memberikan perspektif yang lebih luas tentang kompetensi yang perlu dimiliki lulusan, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, sikap profesional, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan lingkungan kerja.
Sinkronisasi kurikulum menjadi semakin penting karena perguruan tinggi menghadapi perubahan yang cepat di sektor pendidikan, teknologi, industri, bisnis, dan pelayanan publik.
Program studi tidak dapat menyusun kurikulum hanya berdasarkan kebutuhan internal institusi. Kurikulum perlu mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi lulusan setelah memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai penyelarasan visi dan orientasi Kurikulum OBE oleh Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Rudy Hartono, M.Kom. Pemaparan tersebut menjadi landasan bagi peserta untuk menyamakan pemahaman mengenai arah pengembangan kurikulum berbasis capaian.
Dalam pendekatan OBE, perencanaan pembelajaran dimulai dengan menetapkan profil lulusan dan capaian pembelajaran yang ingin dicapai. Setelah itu, mata kuliah, metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, serta sistem asesmen disusun secara terarah untuk mendukung pencapaian kompetensi tersebut.
Dengan pola ini, kualitas kurikulum tidak hanya dinilai berdasarkan banyaknya mata kuliah atau materi yang diajarkan, tetapi juga berdasarkan kemampuan lulusan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan secara nyata.
Salah satu bagian utama kegiatan adalah Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di masing-masing program studi.
FGD melibatkan enam program studi, yaitu Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Sistem Informasi, Teknik Logistik, dan Agribisnis.
Setiap program studi berdiskusi dengan stakeholder dari berbagai unsur. Mereka mencakup pihak dinas, perusahaan, sekolah, alumni, dan mahasiswa.
Model diskusi seperti ini memberi ruang bagi program studi untuk mendapatkan masukan langsung dari pengguna lulusan sekaligus pihak yang memahami kebutuhan kompetensi di lapangan.
Keterlibatan pihak dinas memberikan perspektif mengenai kebutuhan sumber daya manusia di sektor pemerintahan dan pelayanan publik.

Sementara itu, perusahaan dapat memberikan gambaran mengenai keterampilan teknis, profesionalisme, kemampuan digital, komunikasi, pemecahan masalah, serta kompetensi kerja yang dibutuhkan oleh industri.
Pihak sekolah memiliki posisi strategis, khususnya dalam memberikan masukan kepada program studi kependidikan.
Sekolah dapat menggambarkan kondisi pembelajaran, karakteristik peserta didik, perkembangan teknologi pendidikan, serta kompetensi yang dibutuhkan seorang pendidik saat ini.
Alumni juga menjadi sumber informasi penting karena telah mengalami secara langsung proses transisi dari dunia perguruan tinggi ke dunia kerja.
Pengalaman alumni dapat membantu program studi melihat keterkaitan antara materi yang dipelajari selama perkuliahan dan tuntutan pekerjaan yang dihadapi.
Sementara itu, mahasiswa mewakili pihak yang menjalani kurikulum secara langsung.
Pandangan mahasiswa diperlukan untuk mengevaluasi pengalaman belajar, beban pembelajaran, efektivitas metode pengajaran, serta berbagai aspek akademik yang memengaruhi pencapaian kompetensi.

Melalui FGD, setiap program studi memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kurikulum yang sedang berjalan dan kebutuhan aktual para pemangku kepentingan.
Masukan yang diperoleh dapat digunakan untuk meninjau profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, struktur mata kuliah, bahan kajian, metode pembelajaran, bentuk asesmen, hingga kegiatan pembelajaran berbasis praktik.
Bagi Program Studi Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, sinkronisasi dapat menjadi dasar untuk memperkuat kompetensi calon pendidik yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan pembelajaran modern.
Kompetensi pedagogik tetap menjadi unsur utama, tetapi perlu diperkuat dengan literasi digital, kemampuan komunikasi, kreativitas pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta kemampuan merancang pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik.
Pada Program Studi Sistem Informasi, perkembangan transformasi digital menuntut kurikulum yang responsif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan organisasi. Lulusan membutuhkan kombinasi kemampuan teknis dan kemampuan memahami proses bisnis agar dapat mengembangkan solusi sistem informasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna.
Program Studi Teknik Logistik menghadapi tantangan yang tidak kalah dinamis. Perkembangan rantai pasok, distribusi, pengelolaan persediaan, teknologi logistik, dan analisis data menuntut lulusan yang memiliki kemampuan teknis sekaligus mampu mengambil keputusan secara efektif.
Sementara itu, Program Studi Agribisnis memiliki ruang strategis dalam mendukung pengembangan sektor pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pengelolaan usaha, pemasaran, kewirausahaan, teknologi, serta pengembangan nilai tambah komoditas.
Pelaksanaan sinkronisasi Kurikulum OBE ini menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan.
Perguruan tinggi perlu mendengarkan kebutuhan lulusan tanpa kehilangan landasan akademik dan karakter institusi. Sebaliknya, stakeholder juga berperan dalam memberikan masukan yang objektif agar kompetensi lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan nyata.
Hasil diskusi dari masing-masing program studi diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan dokumen kurikulum.
Proses ini bukan sekadar perubahan administratif, tetapi juga menjadi upaya sistematis untuk memastikan setiap mata kuliah memberikan kontribusi yang jelas dalam pembentukan kompetensi lulusan.

Melalui penerapan OBE yang konsisten, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terus memperkuat kualitas proses pendidikan.
Sinkronisasi kurikulum dengan stakeholder menjadi salah satu langkah untuk membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dunia usaha, alumni, dan mahasiswa.
Kegiatan pada 7 Agustus 2026 tersebut sekaligus menegaskan arah pengembangan pendidikan tinggi yang lebih adaptif, terukur, dan relevan. Kurikulum tidak berhenti menjadi sekadar dokumen akademik.
Kurikulum menjadi instrumen utama untuk membentuk lulusan yang memiliki kompetensi sesuai bidang keilmuan, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, serta siap menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang.*Erwin|S.




