MajalahDUTA.Com | Ketika kampus-kampus berlomba meningkatkan daya saing lulusan, mengejar indikator kinerja, dan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri, sebuah pertanyaan mendasar sering kali luput dari perhatian: untuk apa sebenarnya perguruan tinggi ada?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang akan diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Jumat (26/6/2026), di Aula Lantai 4 Kampus II San Agustin.
Bagi sebagian orang, filsafat mungkin dianggap sebagai bidang yang jauh dari dunia kerja dan perkembangan teknologi. Namun justru di tengah era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi digital, dan kompetisi global yang semakin ketat, filsafat kembali menemukan urgensinya.
Moderator kegiatan, Trio Kurniawan, S.S., M.Fil, mengatakan bahwa seminar ini lahir dari refleksi kritis terhadap arah pendidikan tinggi yang semakin didominasi oleh logika pasar dan kebutuhan industri.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini menghadapi kecenderungan untuk mengukur keberhasilan pendidikan berdasarkan indikator-indikator ekonomi semata. Akibatnya, ilmu-ilmu yang tidak secara langsung menghasilkan keuntungan material sering dipandang kurang penting.
“Di tengah semakin kuatnya orientasi kampus pada kebutuhan industri dan kompetisi global, kita perlu bertanya kembali: apakah filsafat dan ilmu-ilmu humaniora benar-benar kehilangan relevansinya, atau justru sedang disingkirkan karena dianggap tidak sesuai dengan paradigma pendidikan yang semakin pragmatis dan teknokratis?” ujarnya, (25/06).
Pertanyaan tersebut, kata Trio, bukan sekadar persoalan akademik, melainkan menyangkut masa depan pendidikan tinggi Indonesia.

Sebab ketika perguruan tinggi hanya berfokus pada penciptaan tenaga kerja yang siap pakai, ada risiko hilangnya fungsi universitas sebagai ruang pencarian kebenaran, pembentukan karakter, dan pengembangan kebijaksanaan.
“Universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang kompeten. Perguruan tinggi juga harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan secara etis, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama,” katanya.
Kegelisahan itu akan menjadi salah satu pokok pembahasan dalam workshop yang menghadirkan dua tokoh filsafat Indonesia, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen STF Driyarkara Jakarta.
Bagi Trio, kehadiran kedua tokoh tersebut memberikan nilai penting tersendiri. Dia mengenal keduanya bukan hanya melalui karya dan reputasi akademik, tetapi juga melalui pengalaman belajar secara langsung.
Mgr. Valentinus Saeng, katanya, pernah menjadi dosen sekaligus penguji tesisnya saat menempuh pendidikan di STFT Widya Sasana Malang.
Sementara pemikiran Romo Setyo Wibowo terus diikutinya melalui berbagai buku, tulisan, dan kuliah yang tersedia secara daring.
“Saya melihat ini sebagai kesempatan langka untuk mendengarkan langsung pemikiran dua akademisi yang selama puluhan tahun mendedikasikan diri pada pengembangan filsafat di Indonesia. Yang menarik, gagasan mereka nantinya akan diperkaya melalui tanggapan para panelis dari berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.
Workshop ini juga menghadirkan Dr. Monika Widyastuti Surtikanti, M.Pd., Stanislaus, SE., M.Pd., dan Bd. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T., M.Kes. sebagai panelis. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperluas diskusi mengenai relevansi filsafat dalam konteks pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kehidupan sosial.
Trio menegaskan bahwa penyelenggaraan seminar ini merupakan bagian dari komitmen intelektual Unika San Agustin untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan kompetensi profesional dan pembentukan kemanusiaan.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan dimensi reflektif, etis, dan humanistis yang menjadi fondasi lahirnya peradaban. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memang penting, tetapi harus selalu disertai kemampuan untuk mempertanyakan tujuan, dampak, dan nilai-nilai yang melandasinya.
“Seminar ini merupakan cara San Agustin menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat memproduksi keterampilan, tetapi juga ruang untuk membentuk kesadaran. Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukan hanya teknologi yang kita ciptakan, melainkan kebijaksanaan dalam menggunakannya,” tegas Trio.
Trio Kurniawan melihat bahwa Unika San Agustin telah mengajak sivitas akademika dan masyarakat luas untuk kembali menempatkan filsafat sebagai mitra dialog dalam pendidikan tinggi.
Sebuah upaya untuk memastikan bahwa di tengah percepatan zaman, universitas tetap menjadi tempat manusia belajar bukan hanya bagaimana bekerja, tetapi juga bagaimana berpikir, memahami, dan hidup secara bermakna.*Sam (Sumber: Trio Kurniawan).




