MajalahDUTA.Com, Pontianak | “Bagaimana Pak Suardi? Apakah jadi kita garap buku ini?” tanya Samuel saat diskusi siang pada bulan Mei 2026 (lalu).
“Boleh Sam, nanti kita buat bersama Bu Yuliana juga untuk melengkapi tulisan kita,” tambah Suardi.
Beberapa saat kemudian, buku itupun terbit dalam bulan Agustus 2026. Mari kita simak kilas isi dari buku ini.
Jelas bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah perdagangan secara fundamental.
Transaksi yang dahulu mengharuskan seseorang datang langsung ke pasar atau pusat perbelanjaan, kini dapat dilakukan melalui layar ponsel dalam hitungan detik.
Fenomena itulah yang menjadi salah satu perhatian utama dalam buku terbaru berjudul E-Commerce: Manusia, Teknologi, dan Peradaban dalam Pasar Digital, yang diterbitkan oleh Penerbit KBM Indonesia.
Buku ini ditulis oleh Samuel, S.E., M.M., Drs. Suardi, M.Pd., dan Yuliana, S.E., M.M. dengan menghadirkan pembahasan mengenai perkembangan e-commerce tidak hanya dari sisi teknologi dan bisnis, tetapi juga dari perspektif manusia dan perubahan peradaban.
Buku setebal 179 halaman dengan ukuran 14,8 x 21 cm ini memiliki ISBN 978-634-278-647-5.
Kehadiran buku tersebut tentu sangat diharapkan oleh penulis dapat menjadi kontribusi bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana perdagangan elektronik berkembang dan memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat di tengah percepatan transformasi digital.
Dari Transaksi Menuju Kepercayaan
Salah satu gagasan utama buku ini dirangkum dalam kalimat yakni “Perdagangan bukan hanya tentang barang yang berpindah tangan, tetapi tentang kepercayaan yang berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya.”
Memang salah satu dasar utama dari itu adalah kalimat diatas, hal itu menjadi titik tolak para penulis dalam melihat e-commerce.
Perdagangan digital tidak semata-mata berkaitan dengan marketplace, aplikasi, sistem pembayaran, atau kecerdasan buatan.
Di balik seluruh teknologi tersebut tetap terdapat manusia yang membangun ‘kepercayaan’, ‘mengambil keputusan’, ‘melakukan transaksi’, serta membentuk hubungan ekonomi.
Kita semua tahu bahwa transformasi digital telah mengubah perilaku masyarakat dalam berbelanja dan berinteraksi.
Misalnya marketplaceyang memungkinkan pelaku usaha, termasuk UMKM, memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Sistem pembayaran digital membuat transaksi semakin cepat dan praktis, sementara berbagai teknologi analitik memungkinkan perusahaan memahami perilaku konsumennya secara lebih mendalam.
Celakanya, biasanya jika ada kemudahan maka kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, paradoks ya? Hehe.
Buku ini mengajak pembaca melihat sejumlah persoalan yang muncul bersamaan dengan perkembangan e-commerce, mulai dari perlindungan data pribadi, manipulasi informasi, persaingan usaha yang semakin ketat, hingga ketergantungan masyarakat terhadap platform digital.
Sejalan dengan itu bahwa perkembangan e-commerce tidak dapat hanya diukur berdasarkan seberapa cepat seseorang melakukan transaksi.
Ada persoalan etika, keamanan, kepercayaan, dan relasi manusia yang ikut menentukan keberlanjutan ekosistem perdagangan digital.
Bagaimana Jika AI Mulai Mengambil Keputusan?
Salah satu pembahasan menarik dalam buku ini adalah mengenai semakin kuatnya peran artificial intelligence (AI) dalam dunia perdagangan elektronik.
Para penulis mengaitkan perkembangan tersebut dengan pemikiran Marco Iansiti dan Karim R. Lakhani dalam buku Competing in the Age of AI.
Kecerdasan buatan dipandang memiliki kemampuan untuk mengubah cara organisasi mengambil keputusan sekaligus menciptakan nilai.
Dalam konteks inilah bahwa e-commerce bersama perubahan tersebut sudah semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi produk yang muncul di layar konsumen, sistem penentuan harga, personalisasi iklan, hingga teknologi pendeteksi transaksi mencurigakan merupakan contoh bagaimana AI mulai menjadi bagian dari mekanisme perdagangan digital.
Dalam tingkat tertentu, teknologi mulai ikut menentukan apa yang dilihat konsumen, apa yang direkomendasikan, bahkan bagaimana sebuah keputusan bisnis dibuat oleh karenanya dilihat lagi bahwa teknologi tampaknya tidak lagi menjadi alat bantu manusia.
Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai e-commerce menjadi semakin penting.
Masyarakat bukan hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami bagaimana teknologi bekerja dan bagaimana teknologi memengaruhi perilaku manusia.
Perubahan Peradaban
Sesuai dengan judulnya, buku ini tidak berhenti pada pembahasan mengenai perdagangan elektronik sebagai fenomena bisnis.
Perspektif manusia, teknologi, dan peradaban menjadi tiga elemen penting yang saling berhubungan.
E-commerce pada akhirnya bukan sekadar persoalan membeli dan menjual barang secara daring, tetapi merupakan bagian dari perubahan cara manusia membangun hubungan ekonomi.
Bagi pelaku UMKM, mahasiswa, akademisi, praktisi bisnis, maupun masyarakat umum, buku ini dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami perubahan tersebut.
Di tengah ekonomi digital yang terus berkembang, kemampuan beradaptasi menjadi penting, tetapi kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai manusia juga tidak kalah penting.
Melalui buku ini, penulis ingin menunjukkan bahwa masa depan perdagangan digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, namun sesungguhnya yang men-dasar-i itu diantaranya ada kepercayaan, etika, literasi digital, dan kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi secara bijaksana tetap menjadi fondasi penting.
Buku E-Commerce: Manusia, Teknologi, dan Peradaban dalam Pasar Digital, pembaca diajak tidak hanya bertanya seberapa cepat teknologi “mengubah” perdagangan, tetapi juga “ke mana” perubahan tersebut membawa manusia dan peradaban.
Identitas Buku
- Judul: E-Commerce: Manusia, Teknologi, dan Peradaban dalam Pasar Digital
- Penulis: Samuel, S.E., M.M.; Drs. Suardi, M.Pd.; Yuliana, S.E., M.M.
- Penerbit: KBM Indonesia
- ISBN: 978-634-278-647-5
- Jumlah halaman: 179 halaman
- Ukuran: 14,8 × 21 cm
By. Samuel | AKUB GAK – Unika San Agustin Kampus II Pontianak.




