MajalahDUTA.Com | Di tengah maraknya budaya konsumtif yang semakin mudah dijangkau melalui media sosial dan platform digital, membangun kebiasaan mengelola keuangan menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda.
Di satu sisi, berbagai kebutuhan hidup terus meningkat. Di sisi lain, godaan untuk mengikuti tren, gaya hidup, dan simbol status semakin kuat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Literasi Keuangan bertajuk “Mengelola Keuangan Masa Depan” yang digelar oleh BCA KCU Kubu Raya bersama Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II – Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB) Pontianak.
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran finansial di lingkungan kampus.
Bagi sebagian orang, literasi keuangan sering dipahami sekadar kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran.
Namun lebih dari itu, literasi keuangan sesungguhnya berkaitan dengan budaya hidup, cara pandang terhadap uang, serta kemampuan menempatkan kebutuhan dan keinginan secara proporsional.
Dalam paparannya, Kepala Bagian Prioritas BCA Kubu Raya, Devy Junita, mengajak peserta untuk kembali memahami hal paling mendasar dalam kehidupan finansial, yakni membedakan kebutuhan dan keinginan.
“Kalau tidak makan seminggu tentu tidak bisa, tetapi kalau tidak minum kopi seminggu masih bisa. Artinya kopi bukan kebutuhan utama, melainkan keinginan,” ujarnya.
Pernyataan sederhana itu memancing tawa peserta. Namun di balik candaan tersebut tersimpan refleksi penting mengenai budaya konsumsi masyarakat saat ini.
Banyak kebutuhan sekunder bahkan tersier yang perlahan dianggap sebagai kebutuhan primer karena pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi informasi.
Dalam kehidupan kampus misalnya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa perlu mengikuti tren tertentu agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Mulai dari gawai terbaru, produk fesyen, hingga kebiasaan nongkrong di berbagai tempat yang sedang populer. Padahal, tidak semua kebutuhan tersebut benar-benar mendesak.
Budaya konsumsi yang berlebihan dapat menggeser prioritas dan membuat seseorang kehilangan kemampuan merencanakan masa depan. Karena itu, Devy memperkenalkan prinsip yang menurutnya sederhana tetapi sering diabaikan, yaitu “sisihkan, bukan sisakan.”
“Untuk membangun kondisi keuangan yang sehat, kita harus membiasakan diri menyisihkan uang terlebih dahulu, bukan menunggu ada sisa,” katanya.
Prinsip tersebut sejatinya bukan hanya soal menabung. Di dalamnya terkandung nilai disiplin, pengendalian diri, dan kemampuan menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar. Nilai-nilai semacam ini juga menjadi bagian dari budaya hidup yang perlu dibangun sejak usia muda.
Dalam banyak tradisi masyarakat Indonesia, kebiasaan menyimpan sebagian hasil kerja sebenarnya bukan hal baru. Orang tua di desa-desa menyimpan hasil panen untuk musim berikutnya.
Nelayan menyisihkan sebagian hasil tangkapan untuk kebutuhan mendatang. Nilai kehati-hatian dan persiapan menghadapi masa depan telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat.
Namun dalam era digital saat ini, nilai tersebut menghadapi tantangan baru. Kemudahan transaksi elektronik, layanan pembayaran instan, serta promosi yang terus-menerus hadir melalui media sosial sering kali mendorong perilaku konsumtif tanpa disadari.
Karena itu, literasi keuangan tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan budaya. Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun hubungan yang sehat dengan uang dan memahami bahwa kesejahteraan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya barang yang dimiliki.
“Kita harus bijaksana dalam mengelola keuangan. Setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan manfaat dan fungsinya, bukan sekadar untuk memenuhi gengsi atau keinginan sesaat,” ujar Devy.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat visual dan kompetitif.
Budaya pamer pencapaian, gaya hidup, dan konsumsi sering kali menciptakan tekanan sosial yang mendorong seseorang untuk membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, melainkan karena ingin diakui.
Di sisi lain, perubahan sosial juga menuntut generasi muda untuk lebih siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Harga kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan semakin tinggi, dan berbagai tantangan ekonomi global dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itu, membangun budaya finansial yang sehat menjadi bagian penting dari pembentukan karakter. Menabung, berinvestasi, mengelola risiko, dan merencanakan masa depan bukan hanya keterampilan teknis, melainkan kebiasaan hidup yang perlu dipupuk secara konsisten.
Menariknya, kegiatan literasi keuangan di AKUB tidak hanya diikuti mahasiswa, tetapi juga dosen dan tenaga kependidikan.
Kehadiran berbagai unsur sivitas akademika menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai keuangan bukan hanya kebutuhan generasi muda, melainkan kebutuhan bersama.
Kampus sebagai ruang pembelajaran memiliki peran penting dalam membangun budaya tersebut. Jika selama ini kampus dikenal sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, maka literasi keuangan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter yang membantu mahasiswa mempersiapkan kehidupan setelah lulus.
Pada akhirnya, tujuan literasi keuangan bukan semata-mata menjadikan seseorang kaya. Tujuan yang lebih mendasar adalah membantu individu menjalani hidup dengan lebih terencana, lebih mandiri, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, kemampuan mengelola keuangan mungkin menjadi salah satu bentuk kearifan baru yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab masa depan yang sejahtera tidak hanya dibangun oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh budaya hidup yang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. *Samuel – AKUB.




