MajalahDUTA.Com | Kenaikan harga pokok barang dan bahan baku dalam beberapa bulan terakhir memberikan dampak nyata terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Dampak ini tidak hanya terlihat pada struktur biaya produksi, tetapi juga pada penetapan harga jual serta keberlanjutan usaha pelaku UMKM di tingkat lokal.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya biaya distribusi, naiknya harga bahan pokok, serta tekanan biaya lain seperti BBM dan biaya hidup.
Situasi ini menuntut pelaku UMKM melakukan penyesuaian strategi agar tetap mampu bertahan.
Kenaikan Harga Pokok dan Struktur Biaya UMKM
Dalam analisa biaya, harga pokok produksi merupakan akumulasi semua biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang atau jasa. Komponen utamanya meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead seperti listrik, air, serta biaya transportasi.
Kenaikan pada salah satu komponen ini akan meningkatkan total biaya produksi.
UMKM di Ngabang mayoritas bergerak di sektor perdagangan dan kuliner yang bergantung pada bahan seperti beras, minyak goreng, gula, tepung, serta kemasan.
Data harga beras premium di wilayah Kalimantan Barat menunjukkan bahwa harga beras di Kabupaten Landak berkisar sekitar Rp16.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding beberapa wilayah lainnya di provinsi ini. (Databoks).
Selain itu, biaya hidup dan biaya operasional di Landak juga tidak rendah. Menurut survei biaya hidup, biaya hidup per kapita diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.15 juta per bulan, sedangkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2024 ditetapkan sekitar Rp2,868 juta. (Sumber: karirfair.com).
Kondisi ini mencerminkan dinamika biaya yang perlu dipertimbangkan pelaku UMKM dalam merencanakan harga dan volume produksi.
Dalam konteks biaya variabel yaitu biaya yang berubah seiring jumlah produksi kenaikan biaya bahan baku dan transportasi menyebabkan harga pokok per unit ikut meningkat meskipun jumlah produksi tidak berubah.
Ini merupakan salah satu tekanan utama terhadap UMKM dalam menjaga margin keuntungan.
Dampak terhadap Harga Jual dan Permintaan Pasar
Kenaikan harga pokok sering kali memaksa pelaku UMKM melakukan penyesuaian harga jual produk. Dalam situasi daya beli masyarakat yang masih terbatas, UMKM menghadapi tantangan untuk seimbang antara menutupi biaya dan mempertahankan permintaan konsumen.
Sebagian pelaku UMKM menaikkan harga jual secara bertahap untuk menutupi biaya produksi yang meningkat.
Namun, kenaikan ini berpotensi menurunkan jumlah pembelian karena konsumen cenderung mengatur kembali pengeluaran mereka ketika harga barang meningkat.
Ketidakseimbangan antara biaya dan harga jual akan berdampak pada perolehan laba usaha, dan dalam beberapa kasus bisa mendorong UMKM berada pada break even point kondisi di mana pendapatan hanya cukup menutup biaya tanpa menghasilkan keuntungan.
Beberapa pelaku UMKM juga menekan keuntungan dengan tidak menaikkan harga secara penuh dan justru mengurangi ukuran produk atau mengganti komponen bahan dengan kualitas yang lebih rendah sebagai strategi untuk mempertahankan volume penjualan.
Tekanan terhadap Keberlangsungan Usaha UMKM
UMKM di Ngabang masih banyak yang berskala mikro dan memiliki keterbatasan modal serta sistem pencatatan keuangan yang sederhana.
Kenaikan harga pokok yang terus berlangsung tanpa langkah efisiensi bisa mengancam keberlangsungan usaha.
Biaya tetap seperti sewa tempat usaha, listrik, dan kebutuhan operasional lain tetap harus dikeluarkan meskipun penjualan stagnan atau menurun. Ketika margin keuntungan menjadi tipis atau bahkan negatif, pelaku UMKM sering kali harus menutup kekurangannya dari modal cadangan atau pinjaman pribadi.
Jumlah UMKM di Kabupaten Landak memang relatif kecil jika dibandingkan kabupaten lain di Kalimantan Barat, dengan sekitar 4.571 unit UMKM yang tercatat dalam data Dinas Koperasi dan UKM (data per triwulan 1 tahun berjalan). (Sumber: diskopukm.kalbarprov.go.id).
Kondisi ini menunjukkan bahwa basis usaha kecil di Landak masih perlu diperkuat untuk menghadapi guncangan biaya seperti kenaikan harga pokok.
Analisa Biaya sebagai Strategi Bertahan
Dalam menghadapi tekanan biaya, analisa biaya menjadi alat penting bagi UMKM untuk memahami struktur dan perilaku biaya usahanya. Dengan pencatatan biaya yang rinci dan
sistematis, pelaku UMKM dapat mengetahui komponen biaya mana yang paling besar dan mencari langkah penghematan yang efektif.
Beberapa strategi efisiensi yang dapat diterapkan antara lain:
- Mencari pemasok bahan baku lokal untuk mengurangi biaya transportasi.
- Melakukan pembelian bahan baku dalam jumlah tertentu (bulk purchasing) untuk memperoleh harga yang lebih stabil.
- Mengoptimalkan penggunaan bahan produksi agar tidak terjadi pemborosan.
- Mencatat biaya secara sistematis sebagai dasar perhitungan harga jual yang realistis.
Pemahaman terhadap titik impas (break even point) juga penting agar pelaku UMKM mengetahui batas minimal penjualan yang harus dicapai untuk menutup seluruh biaya operasional.
Strategi-strategi ini bukan hanya membantu UMKM bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi dasar bagi pengambilan keputusan usaha dalam jangka panjang.*Teosius Michael & Veronika Linda | Mahasiswa Teknik Logistik | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.
Sumber Berita & Data Pendukung
- Data harga beras premium di Kalimantan Barat (Landak) sekitar Rp16.000/kg. (Databoks)
- Biaya hidup per kapita dan Upah Minimum Kabupaten Landak 2024. (karirfair.com)
- Jumlah UMKM di Kabupaten Landak sekitar 4.571 unit. (diskopukm.kalbarprov.go.id)
- Data penduduk dan karakteristik Kabupaten Landak. (pontianak.ut.ac.id)





