Wednesday, July 29, 2026
More

    Ketika Doa Mengalir di Jalan Kampung Menyumbung

    MajalahDUTA.Com | “Salam Maria, penuh rahmat…”

    Doa itu bergema pelan di antara rumah-rumah sederhana Kampung Menyumbung. Di bawah langit pagi yang cerah, Sabtu (25/7/2026), hampir dua ratus umat berjalan perlahan sambil menggenggam rosario.

    Di barisan depan tampak Gambar Kerahiman Ilahi, disusul Patung Bunda Maria, Santo Agustinus, dan Santa Monika yang diarak dengan penuh hormat. Sesekali terdengar lantunan lagu pujian berpadu dengan suara langkah kaki umat yang berjalan dalam keheningan.

    Bagi masyarakat Menyumbung, pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang biasa. Kampung yang terletak sekitar 198 kilometer dari Kota Ketapang itu jarang menjadi saksi sebuah prosesi iman yang melibatkan hampir seluruh unsur umat.

    Anak-anak, Orang Muda Katolik, keluarga-keluarga, para pengurus lingkungan, tokoh adat, hingga para lansia berjalan bersama dalam satu irama doa.

    Dokumentasi Momen 01: Prosesi Iman Menyongsong 50 Tahun Kehadiran Suster Santo Augustinus di Paroki Salib Suci Menyumbung. Sumber: Suster Felisitas OSA.

    Tidak sedikit warga berdiri di depan rumah mereka, membuat tanda salib ketika rombongan prosesi melintas.

    Hari itu, jalan-jalan kampung yang biasanya dipenuhi aktivitas warga berubah menjadi lorong doa.

    Prosesi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan menyongsong Perayaan Emas 50 Tahun kehadiran dan pelayanan para Suster Santo Augustinus (OSA) dari Kerahiman Allah  di Paroki Salib Suci Menyumbung, Keuskupan Ketapang.

    Lima puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan jejak kasih dan pelayanan yang telah menjadi bagian dari sejarah hidup umat di pedalaman Kalimantan Barat.

    Sekilas Perjalanan Karya OSA di Menyumbung

    Para Suster Santo Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) pertama kali hadir di Menyumbung pada 27 Juli 1976.

    Karya mereka dimulai dari sebuah balai pengobatan sederhana, kemudian berkembang dengan didirikannya Sekolah Dasar, serta keterlibatan dalam mendukung karya pastoral paroki.

    Seiring waktu, perubahan regulasi pemerintah di bidang kesehatan serta keterbatasan sumber daya dan tenaga membuat balai pengobatan tidak lagi beroperasi.

    Namun karya pendidikan tetap berlanjut hingga kini melalui Sekolah Dasar yang didirikan para suster. Saat ini, tiga suster OSA bertugas melayani umat di Menyumbung.

    Dokumentasi Momen 02: Prosesi Iman Menyongsong 50 Tahun Kehadiran Suster Santo Augustinus di Paroki Salib Suci Menyumbung. Sumber: Suster Felisitas OSA.

    Berjalan Bersama Allah

    Dalam tradisi Gereja Katolik, prosesi bukanlah sekadar iring-iringan membawa patung atau gambar kudus.

    Prosesi adalah lambang Gereja yang sedang berziarah — mengajak umat menyadari bahwa hidup beriman tidak pernah berhenti pada satu titik, melainkan terus bergerak menuju Allah dalam iman, harapan, dan kasih.

    Prosesi dimulai dari Gua Maria di kompleks biara, menyusuri jalan-jalan kampung, melewati Gereja Paroki Salib Suci Menyumbung, sebelum akhirnya kembali ke Gua Maria sebagai penutup ibadat.

    Sepanjang perjalanan, umat mendaraskan doa Rosario dan Koronka Kerahiman Ilahi secara bergantian, diselingi lagu-lagu pujian.

    Tidak terdengar hiruk-pikuk atau percakapan yang memecah suasana; yang mengalun hanyalah doa-doa yang lahir dari hati umat.

    Bagi banyak peserta, perjalanan itu bukan sekadar berjalan kaki, melainkan sebuah peziarahan batin.

    Setiap langkah menjadi doa, setiap butir rosario menjadi ungkapan syukur, dan setiap lagu menjadi pujian kepada Tuhan yang setia menyertai umat-Nya.

    Menghidupkan Kembali Devosi Umat

    Bagi Sr. Mauritia, OSA, prosesi ini memiliki makna yang jauh melampaui sebuah kegiatan seremonial dalam rangka pesta emas komunitas.

    “Prosesi ini kembali mengingatkan umat akan peran Bunda Maria dalam kehidupan orang beriman. Kami juga ingin memperkenalkan serta menghidupkan kembali devosi kepada Kerahiman Ilahi agar semakin dikenal dan dihayati oleh umat. Harapannya, umat Paroki Menyumbung semakin giat mempraktikkan iman, semakin tekun berdoa, dan menjadikan devosi sebagai kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujarnya.

    Menurutnya, devosi bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Justru melalui devosi, umat belajar mempercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan, sebagaimana Bunda Maria yang selalu taat pada kehendak Allah, dan Yesus yang melalui Kerahiman-Nya senantiasa membuka pintu pengampunan bagi setiap orang.

    Karena itu, dipilihnya Patung Bunda Maria dan Gambar Kerahiman Ilahi dalam prosesi bukan tanpa makna. Keduanya menjadi simbol bahwa Gereja selalu berjalan bersama kasih seorang ibu dan belas kasih Allah yang tidak pernah berkesudahan.

    “Para Suster Tidak Pernah Meninggalkan Kami”

    Ada keharuan lain yang menyelimuti prosesi tersebut. Bagi umat Menyumbung, perayaan lima puluh tahun ini menjadi lebih istimewa karena mengingatkan mereka pada perjalanan panjang komunitas para Suster Santo Augustinus.

    Setelah melayani selama puluhan tahun, komunitas ini sempat mengalami masa vakum pada 2021–2024. Selama beberapa tahun itu, para suster tidak lagi menetap dan berkarya secara aktif di Menyumbung — namun kerinduan umat tidak pernah padam.

    Ketika para Suster kembali hadir dan melanjutkan pelayanan pastoral pada tahun-tahun berikutnya, umat menyambutnya sebagai tanda kasih Tuhan yang kembali nyata di tengah mereka. Perayaan emas ini pun menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali ikatan yang telah terjalin selama setengah abad.

    Banyak umat mengungkapkan rasa syukur karena kehadiran para suster kembali memberi semangat baru bagi kehidupan menggereja di Paroki Salib Suci Menyumbung.

    Mereka merasakan bahwa pelayanan para suster bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan menjadi sahabat perjalanan iman yang setia mendampingi umat dalam suka maupun duka.

    Bagi sebagian umat, prosesi ini menjadi simbol bahwa para Suster sesungguhnya tidak pernah meninggalkan mereka.

    Walaupun pernah ada masa tanpa kehadiran komunitas secara fisik, hubungan batin yang telah dibangun selama puluhan tahun tetap hidup dalam hati umat, dan kehadiran kembali para suster kini menjadi tanda harapan baru bahwa pelayanan Gereja akan terus bertumbuh bersama umat.

    Sr. Mauritia, OSA, mengatakan bahwa seluruh rangkaian perayaan lima puluh tahun ini hendak menyampaikan satu pesan sederhana namun mendalam kepada umat.

    “Kami ingin umat merasakan bahwa para Suster Santo Agustinus tidak pernah meninggalkan mereka. Walaupun pernah ada masa kami tidak hadir secara fisik di Menyumbung, kasih, doa, dan perhatian kami tetap menyertai umat. Kini kami kembali hadir untuk berjalan bersama mereka,” ujarnya.

    Kehangatan yang Mengobati Kerinduan

    Kehadiran kembali para Suster Santo Agustinus di Menyumbung tidak hanya membangkitkan semangat pelayanan, tetapi juga membangkitkan kenangan dan kerinduan umat yang selama beberapa tahun tidak lagi merasakan pendampingan secara langsung dari komunitas para suster.

    Salah seorang anggota panitia, Pak Dama, mengaku sangat terharu mengikuti prosesi tersebut. Baginya, kegiatan itu menghadirkan suasana yang hangat dan membahagiakan.

    “Hari ini saya merasa sangat bahagia. Rasanya hangat sekali melihat seluruh umat berjalan bersama mengiringi Patung Bunda Maria mengelilingi kampung di pusat Paroki Salib Suci Menyumbung. Prosesi ini menjadi pembuka yang sangat indah dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya Biara Santa Monika Menyumbung,” katanya.

    Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, Menyumbung sejak dahulu bertumbuh dalam pendampingan para pastor dan Suster Santo Agustinus.

    Dokumentasi Momen 03: Prosesi Iman Menyongsong 50 Tahun Kehadiran Suster Santo Augustinus di Paroki Salib Suci Menyumbung. Sumber: Suster Felisitas OSA.

    Karena itu, melihat kembali para suster berjalan bersama umat dalam sebuah prosesi iman menghadirkan pengalaman batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Pak Dama mengaku bahwa sepanjang perjalanan ia tidak hanya mengikuti prosesi, tetapi juga menyaksikan antusiasme umat yang mengharukan. “Melihat antusiasme umat mengikuti prosesi ini rasanya sangat mengharukan. Saya melihat anak-anak, orang muda, orang tua, semuanya berjalan sambil berdoa. Ada kerinduan yang sangat mendalam kepada Bunda Maria. Setelah sekian lama, baru kali ini saya kembali mengikuti kegiatan seperti ini. Rasanya seperti pulang ke rumah,” ujarnya.

    Baginya, prosesi tersebut bukan sekadar tradisi Gereja, melainkan sebuah pengalaman iman yang menghidupkan kembali harapan umat.

    Di tengah perjalanan, ia menyadari bahwa doa yang dipanjatkan bersama-sama menghadirkan kekuatan yang menyatukan seluruh komunitas.

    “Pesan yang saya rasakan hari ini adalah bahwa doa, harapan, dan sikap saling berbelaskasih akan menumbuhkan kebahagiaan. Ketika kita berjalan bersama dalam doa, kita belajar saling menguatkan dan merasakan bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita,” tambahnya.

    Kesaksian serupa datang dari Alberti, Guru SD St. Agustinus. Menurutnya, mengikuti perarakan Patung Bunda Maria merupakan pengalaman rohani yang sangat berkesan.

    “Suasana doa dan nyanyian di setiap peristiwa, serta kebersamaan umat yang hadir, memberikan rasa bahagia dan damai. Dalam setiap langkah perarakan, saya merasakan ajakan Bunda Maria untuk semakin dekat dengan Yesus — apalagi ketika menghayati lagu Yesus Engkau Andalanku yang sangat menyentuh, saya merasa Yesus sungguh hadir dalam hati saya,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa prosesi ini juga mengingatkannya bahwa perjalanan hidup sebagai orang beriman tidak selalu mudah.

    “Dengan meneladani Bunda Maria, saya diajak untuk tetap percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Semoga pengalaman mengikuti prosesi ini tidak berhenti sebagai tradisi, tetapi menjadi motivasi bagi saya untuk semakin tekun berdoa, setia melayani, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

    Sementara itu, Tika, salah satu umat yang mengikuti prosesi, merasakan kebersamaan dan antusiasme umat yang begitu hangat saat berjalan bersama mengelilingi kampung Menyumbung, diiringi nyanyian dan renungan Peristiwa Gembira yang mengingatkan kisah Tuhan Yesus Kristus.

    “Sungguh haru dan penuh sukacita. Patung Bunda Maria yang diarak dengan indah terasa seperti mengingatkan kita, ‘Aku menyertai kalian.’ Di tengah perjalanan 50 tahun biara ini, kehadiran Bunda Maria menjadi tanda bahwa karya pelayanan, pendidikan, dan doa para suster OSA di Menyumbung tidak berjalan sendiri, melainkan Bunda Marialah yang selalu menuntun. Semua berjalan bersama sebagai satu keluarga. Lima puluh tahun bukan waktu yang singkat — itu bukti kesetiaan, pengorbanan, dan penyertaan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria,” ungkapnya. “Kami akan terus berjalan bersama Bunda Maria, tangguh dalam kesetiaan, doa, dan pelayanan kasih.”

    Kesetiaan yang Terus Berjalan

    Perayaan emas ini menjadi peneguhan bahwa kehadiran para Suster Santo Augustinus bukan sekadar mengenang karya lima puluh tahun silam, melainkan memperbarui komitmen untuk terus berjalan bersama umat.

    Masa vakum pelayanan pada 2021–2024 tidak memutuskan ikatan kasih yang telah terjalin selama puluhan tahun. Sebaliknya, kembalinya para suster justru memperlihatkan bahwa benih-benih pelayanan yang dahulu ditaburkan tetap hidup di hati umat, dan kini kembali bertumbuh dalam sukacita.

    Di penghujung prosesi, ketika rombongan memasuki kembali halaman Gua Maria, wajah-wajah lelah berubah menjadi senyum penuh syukur.

    Hari itu, umat Menyumbung tidak hanya merayakan lima puluh tahun sebuah komunitas religius — mereka merayakan kesetiaan Allah yang terus bekerja melalui para Suster: setia hadir, setia melayani, dan setia berjalan bersama umat-Nya dari generasi ke generasi.

    Prosesi memang telah berakhir. Namun doa yang mengalun di sepanjang jalan kampung kiranya akan terus tinggal dalam hati setiap peserta.

    Lima puluh tahun kehadiran para Suster Santo Augustinus di Menyumbung pada akhirnya bukan hanya dikenang sebagai perjalanan sejarah sebuah komunitas religius, melainkan sebagai kisah tentang kesetiaan Allah yang terus bekerja melalui tangan-tangan para pelayan-Nya.

    Sebab selama masih ada umat yang berjalan bersama dalam doa, dan selama masih ada hati yang terbuka untuk berbelaskasih, Gereja akan selalu menemukan jalannya untuk menghadirkan terang Kristus di tengah dunia.*Sr. Felisitas N.Saptari, OSA – Biarawati Santo Augustinus. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles