Wednesday, July 29, 2026
More

    Mengapa Kita Membeli yang Tidak Kita Butuhkan?

    MajalahDUTA.Com | “Ngapa sih, kita kadang beli yang enggak kita perlu?” Anggap saja ini ejaan dialek Pontianak, hehe.

    Naskah ini, penulis mulai dari kajian perilaku konsumen dimana keputusan membeli sering kali dipahami sebagai hasil dari proses yang rasional, tetapi kenyataannya keputusan konsumen tidak hanya dibentuk oleh logika, tetapi juga oleh persepsi, emosi, pengalaman, lingkungan sosial, serta nilai-nilai yang diyakini.

    Memang sekarang arus informasi digital, promosi yang agresif, dan pengaruh media sosial menjadi ‘serampai’ jalur dari pesan-pesan Konfusius menurut penulis justru semakin dekat dengan kita (manusia) terutama untuk direnungkan.

    Kebetulan relevansi ajaran Konfusius yang tampaknya sudah ‘tua’ itu  justru mengajarkan bahwa manusia harus membuka mata lebar-lebar agar mampu melihat dengan benar.

    Pandangan perilaku konsumen, pesan ini berkaitan erat dengan proses persepsi.

    Apa yang dilihat seseorang belum tentu sama dengan kenyataan. Misalnya, Iklan, influencer, testimoni, hingga strategi visual dalam pemasaran sering kali membentuk persepsi yang belum tentu mencerminkan kualitas produk yang sesungguhnya.

    “Istilah agak canggihnya sih, ilusi (maya, fantasi atau proses penciptaan imajinasi ‘liar’).”

    “Kita semua pernah kena tipu,” ujar mantan dosen penulis saat bertemu dalam sebuah seminar mahasiswa di Pontianak.

    Sinonim atau persamaan kata dari ilusi mulai dari khayalan, delusi, dan fantasi.

    Kalau menurut KBBI, kata ini merujuk pada hal yang hanya ada dalam angan-angan atau kesalahan dalam mengartikan penginderaan.

    Pertanyaannya, mengapa kadang kita (konsumen) atau siapapun tanpa sadar justru menikmati ilusi itu?

    Konsumen yang tidak mampu mengembangkan persepsi yang kritis akan mudah terjebak dalam ilusi pemasaran, membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan citra, tren, atau tekanan sosial.

    Menurut Samuel (2024), melalui bukunya, Administrasi dan Manajemen, menuliskan bahwa persepsi itu ibarat seseorang hanya pernah mendengar, pernah ‘sekilas’ melihat, tetapi tidak tahu maksud, tidak tahu tujuan termasuk tidak tahu juga untuk apa itu ada atau ‘dilakukan’.

    Sejalan dengan itu, apa yang disampaikan oleh C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins (2000), dalam bukunya, Simple Confusianism bahwa keberanian untuk mem-‘buka’ mata berarti melatih diri untuk melakukan evaluasi sebelum mengambil keputusan.

    Konsumen perlu mem(banding)kan informasi, memahami manfaat produk (informasi), serta mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari setiap aktivitas.

    Foto: Mahasiswa Peserta Journalistik di UWDP. Sumber: BEM UWDP. Kegiatan Jurnalistik oleh Penulis.

    Sama halnya bahwa pemasar-an melihat bahwa proses ini merupakan bagian dari pengambilan keputusan konsumen yang sehat, yaitu mengenali kebutuhan, mencari informasi, mengevaluasi alternatif, mengambil keputusan, dan mengevaluasi hasil pembelian.

    Membuka Telinga

    Tidak hanya mata, Konfusius juga menekankan pentingnya membuka telinga untuk mendengarkan.

    Dalam perilaku konsumen, kemampuan mendengar bukan sekadar mendengar suara penjual, tetapi juga mendengarkan pengalaman pengguna lain, kritik masyarakat, bahkan suara hati sendiri mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan.

    Konsumen yang mampu mendengarkan secara ‘santuy’ (bijaksana) akan lebih tahan terhadap tekanan promosi yang bersifat manipulatif.

    Demikian juga ajaran tentang belajar sepanjang hayat memberikan pelajaran penting mengenai literasi konsumen.

    Perubahan teknologi telah melahirkan berbagai model bisnis baru, transaksi digital, kecerdasan buatan, hingga pemasaran berbasis algoritma.

    Kondisi ini menuntut konsumen untuk terus belajar agar tidak menjadi korban penipuan, manipulasi data, maupun perilaku konsumtif yang berlebihan. Konsumen modern tidak cukup hanya memiliki daya beli, tetapi juga harus memiliki daya pikir.

    Mengapa Membeli yang Tidak Kita Butuhkan?

    Penulis memandang bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada teori pemasar-an semata, tetapi mahasiswa perlu dibentuk menjadi individu yang mampu memahami bagaimana keputusan konsumsi terbentuk, bagaimana emosi memengaruhi pilihan, serta bagaimana etika harus hadir dalam setiap aktivitas ekonomi.

    Sama halnya bahwa seorang pemasar yang ‘OK’ bukanlah mereka yang hanya mampu menjual sebanyak mungkin, tetapi mereka yang memahami kebutuhan konsumen secara jujur dan membangun hubungan yang berkelanjutan berdasarkan kepercayaan.

    Kalimat penutup dari C. Alexander Simpkins, “Kita bertindak, dan buah-buah dari tindakan kita masak, menghasilkan angin-angin takdir,” menjadi pengingat bahwa setiap keputusan konsumsi membawa konsekuensi.

    Pilihan membeli produk lokal dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Memilih produk ramah lingkungan dapat membantu menjaga keberlanjutan bumi.

    Sebaliknya, konsumsi yang impulsif, berlebihan, atau tanpa pertimbangan dapat menimbulkan masalah finansial, sosial, bahkan lingkungan.

    Ini sebetulnya bukanlah persoalan membeli atau tidak membeli, tetapi jika bicara perilaku konsumen maka itu merupakan ‘corong’ dari cerminan karakter manusia. Mari kita lihat kembali…

    Ilustrasi Konfusius era Digital, AI, dan Sebagai Pemasar – Olahan Penulis. (2026)

    Ketika mata dibuka untuk melihat dengan jernih, telinga dibuka untuk mendengar dengan bijaksana, dan hati dibentuk melalui pembelajaran yang terus-menerus, maka lahirlah konsumen yang tidak hanya cerdas secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara moral.

    Di situlah pemasar-an menemukan makna terdalamnya, ini tak terbatas karena menciptakan transaksi semata, yang paling pokok yakni membangun kehidupan lebih bermartabat bagi produsen, konsumen, dan masyarakat.

    Ajaran Konfusius dalam bahasa Hakka, “Jitka Oei Khoi Mukcu- ka Shim”  artinya- kita harus membuka mata lebar-lebar, melihat dan memperhatikan. Jika tidak, sinar kebijaksanaan hanya akan memberikan bayangannya dan tidak menyinari kecerdasan kita dengan cahayanya melalui jendela persepsi  kita.

    Dari kegelapan dan banyangan ketidaktahuan, muncullah kesalahan dan kesalahpahaman yang menimbulkan masalah dan kejahatan dalam kehidupan kita. Semoga!!! *Samuel – AKUB GAK.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles