Tuesday, May 12, 2026
More

    Dinamika Pemasaran dalam Kuliner di Kota Pontianak

    Duta, Pontianak | Berbicara tentang kuliner di Indonesia,  bahwa di Kota Pontianak ini mempunyai tempatnya tersendiri. Kota yang dijuluki Kota khatulistiwa ini, yang dimana  julukan ini paling terkenal karena kota ini memang dilalui garis lintang nol derajat, yang ditandai dengan keberadaan Tugu Khatulistiwa.

    Kota ini bukan hanya sekedar latar budayanya aja yang kaya, tapi juga karena keberagaman kulinernya yang dimana perpaduan antara MeDaTi (Melayu, Dayak, dan Tionghoa).

    Setiap jalan di kota Pontianak ini seolah-olah menawarkan ciri khas aroma tersendiri, cita rasanya, serta sejarah yang berbeda.

    Namun, dibalik kelezatannya itu, ada sebuah dinamika pemasaran, strategi bisnis, dan kekuatan produk lokal yang membuat kuliner Pontianak ini terus hidup dan berkembang. Pandangan ini lah sejalan dengan konsep-konsep yang telah dipaparkan dalam beberapa literatur, terutama dari tiga buku rujukan yang saya gunakan.

    Jika dilihat dari pemikirannya Muhammad Rizki bahwa dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pemasaran Kuliner, keberhasilan sebuah kuliner bukan hanya ditentukan oleh rasa, melainkan juga bagaimana pemilik usaha mampu membangun pengalamannya dan nilai yang dapat dirasakan konsumen.

    Saya pernah nongki di cafe yang tepatnya berada di jalan Gajah Mada, yang dimana jalan ini juga bisa dibilang kawasan perekonomian.

    Di sepanjang jalan terdapat pertokoan, swalayan, perhotelan, perbankan, perkantoran, rumah makan, dan yang paling membuat kawasan tersebut adalah ratusan warung kopi yang berada di sana. Karena itu pula, kawasan Gajahmada Pontianak dikenal dengan Coffee Street.

    Saya menyadari bahwa hampir setiap kedai di sana tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga menjual suasana. Ada juga kedai yang mempertahankan menggunakan interior kayu klasik, dan ada juga rumah makan yang menonjolkan ornamen rumah khas Tionghoa, semuanya memberikan “cerita” yang membuat orang ingin kembali.

    Saya ambil contoh makanan ikoniknya Tionghoa seperti chai kue. Banyak pelaku usaha memanfaatkan identitas budaya yang melekat pada makanan itu sebagai strategi pemasaran. Mereka menegaskan bahwa kuliner Pontianak bukan hanya sekadar santapan, melainkan bagian dari warisan turun menurun.

    Konsep branding ini berbasis identitas lokal ini sangat selaras dengan pandangan Rizki bahwa nilai emosional merupakan salah satu aspek terkuat dalam pemasaran kuliner modern.

    Sementara itu, Komariah dan Mahfud dalam bukunya yang berjudul Manajemen Bisnis Kuliner yang dimana mereka menekankan bahwa pentingnya ketahanan usaha dan adaptasi terhadap tren konsumen di era yang selalu berubah.

    Di Pontianak, hal ini terlihat sangat jelas bahwa dari cara para pelaku kuliner membuat perubahan dalam gaya hidup masyarakat atau tren di era sekarang, terutama generasi muda yang lebih suka tempat estetik, minimalis dan praktis.

    Misalnya, banyak cafe berjejer di Pontianak, dimana pelaku usaha menambahkan makanan tradisional sebagai menu pelengkap dengan konsep penyajian yang lebih modern. Chai kue yang dulu hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, kini bisa ditemukan di cafe bergaya minimalis dengan tampilan lebih cantik untuk kebutuhan media sosial genereasi muda.

    Adaptasi ini bukan hanya soal mengikuti tren era sekarang, tapi menunjukkan bagaimana pelaku usaha memahami dinamika pasar dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

    Ketika saya melihat fenomena ini, saya merasa bahwa para pelaku usaha Pontianak telah menerapkan konsep yang dibahas Komariah & Mahfud, bagaimana bisnis kuliner harus fleksibel, inovatif, dan sensitif terhadap perilaku konsumen. Tanpa itu, sebuah usaha hanya akan bertahan sebentar atau bisa ketinggalan jaman.

    Namun, yang paling kuat dari kuliner Pontianak adalah kemampuan para pelaku usaha mempertahankan nilai lokal sambil tetap relevan. Hal inilah yang menjadi sorotan Sri Rahmawati dalam bukunya yang berjudul Strategi Pemasaran Produk Pangan Lokal.

    Ia menekankan bahwa bagaimana produk pangan lokal memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya, sehingga strategi pemasarannya harus mampu menonjolkan karakter tersebut. Contoh saya melihat bagaimana lidah buaya, tanaman khas Kalimantan Barat, di olah menjadi oleh-oleh favorit Pontianak dalam bentuk minuman, selai, dan manisan, saya sadar bahwa pelaku usaha di Pontianak benar-benar memahami potensi produk lokal sebagai kekuatan pemasaran di era sekarang.

    Rahmawati juga menekankan pentingnya edukasi terhadap konsumen. Banyak UMKM Pontianak, terutama yang mengolah bahan baku seperti aloe vera atau madu hutan, bukan hanya menjual produk, tetapi juga memberikan informasi manfaat kesehatan pada bahan baku yang di olah, proses pengolahannya bagaimana, dan asal-usul bahan mereka yang didapati. Edukasi seperti ini membuat konsumen merasa lebih percaya, lebih terhubung atau ada kaitannya, dan memiliki alasan tambahan untuk membeli.

    Di sisi lain, kuliner Pontianak juga punya karakter keautentikan rasa yang membuatnya memiliki segmen pasar tersendiri.

    Mi tiaw sapi Pontianak, misalnya, terkenal dengan penggunaan kaldu yang kuat dan daging yang melimpah. Makanan seperti ini tidak perlu dibuat-buat untuk menarik perhatian konsumen, pelaku usaha justru semakin dicari karena mempertahankan cita rasa aslinya. Dalam perspektif pemasaran, ini adalah contoh pendekatan customer-driven authenticity strategi yang secara tidak langsung juga dibahas dalam literatur kuliner modern.

    Namun bukan berarti kuliner Pontianak tidak menghadapi tantangan. Kompetisi antar-pelaku usaha cukup padat, terutama di tempat-tempat favorit. Banyak usaha harus menonjolkan kreativitas, inovasi, dan pelayanan yang semakin baik agar bisa bertahan.

    Di era digital, pelaku usaha kuliner di Pontianak sudah cukup banyak menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran. Foto makanan yang menarik, video yang singkat, serta ulasan dari food blogger lokal menjadi strategi yang kini sangat efektif.

    Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemasaran kuliner modern harus memanfaatkan digitalisasi, namun tetap mempertahankan nilai lokal agar tidak kehilangan karakteristiknya.

    Secara keseluruhan, kulineran di Kota Pontianak bukan hanya perjalanan lidah, tetapi juga perjalanan memahami bagaimana rasa, budaya, dan strategi pemasaran bersatu menciptakan ekosistem kuliner yang kuat.

    Para pelaku usaha tampak sadar bahwa kuliner bukan sekadar bisnis, melainkan representasi budaya yang harus dijaga sekaligus dikembangkan. Dengan perpaduan antara manajemen pemasaran yang baik, adaptasi terhadap perkembangan zaman, serta strategi mempertahankan produk lokal, kuliner Pontianak memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan dikenal lebih luas.

    Pontianak bukan hanya kota yang punya rasa tapi kota ini mempunyai ceritanya sendiri. Dan ketika sebuah kota bisa menceritakan dirinya lewat kuliner, maka kuliner itu bukan hanya makanan tetapi identitas.

    Sumber:

    Rizki, Muhammad. 2020. Manajemen Pemasaran Kuliner. Jakarta: Andalas Media.

    Komariah, Nur & Mahfud, Mahfud. 2021. Manajemen Bisnis Kuliner. Bandung: Alfabeta.

    Rahmawati, Sri. 2019. Strategi Pemasaran Produk Pangan Lokal. Yogyakarta: Gava Media.

    *Penulis: Petronela Ribi – AKUB_San Agustin- Manajemen Pemasaran.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles