Wednesday, October 7, 2026
More

    Santo Bartolo Longo: Dari Krisis Iman ke Karya Kerahiman

    PONTIANAK — Bagi para peziarah yang datang ke Pompei, Italia, Basilika Bunda Maria Rosario bukan sekadar tempat berdoa. Di tempat suci itu, doa Rosario, karya sosial, dan kisah pertobatan berpadu menjadi satu kesaksian iman yang hidup.

    Di balik berkembangnya tempat ziarah tersebut berdiri seorang awam Katolik bernama Santo Bartolo Longo. Ia bukan imam ataupun biarawan, melainkan seorang pengacara dan anggota Ordo Dominikan Awam. Melalui hidupnya, ia menunjukkan bahwa seorang awam pun dapat menjadi saksi Kristus lewat doa, pelayanan, dan karya belas kasih.

    Pada 19 Oktober 2025, Paus Leo XIV mengkanonisasi Bartolo Longo di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Sejak saat itu Gereja secara resmi menghormatinya sebagai Santo Bartolo Longo.

    Masa Muda dan Krisis Iman

    Bartolo Longo lahir di Latiano, Provinsi Brindisi, Italia, pada 10 Februari 1841. Setelah menempuh pendidikan dasar, ia melanjutkan studi hukum di Napoli pada tahun 1863.

    Di kota itu, ia bergaul dengan lingkungan intelektual yang membuatnya menjauh dari iman Katolik. Biografi resmi Pontificio Santuario di Pompei mencatat bahwa ia sempat terlibat dalam praktik spiritisme dan okultisme.

    Beberapa sumber bahkan menggunakan istilah “imam Satanis”. Namun, istilah ini perlu dipahami secara tepat. Bartolo Longo tidak pernah menjadi imam Katolik ataupun menerima tahbisan. Ia adalah seorang awam yang pernah mengikuti ritual-ritual okultisme sebelum akhirnya mengalami pertobatan.

    Pengalaman tersebut justru membawanya ke dalam kegelisahan batin yang mendalam. Dalam masa sulit itu, ia didampingi sahabatnya, Profesor Vincenzo Pepe, serta Pastor Alberto Radente, OP. Pendampingan inilah yang mengantarkannya kembali kepada Gereja.

    Setelah bertobat, Bartolo Longo bergabung dengan Ordo Dominikan Awam dan mengabdikan hidupnya bagi doa serta pelayanan.

    Dipanggil Melayani di Pompei

    Pada tahun 1872, Bartolo Longo datang ke Lembah Pompei untuk mengurus tanah milik Countess Marianna Farnararo De Fusco. Daerah itu saat itu masih miskin dan minim pelayanan pastoral.

    Ia mulai mengajarkan katekismus kepada para petani dan menghidupkan kembali devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario.

    Dalam tradisi pertobatannya diceritakan bahwa suatu hari, ketika mendengar bunyi lonceng gereja, ia merasakan panggilan dalam hati: “Jika engkau menyebarkan Rosario, engkau akan diselamatkan.”

    Pengalaman rohani itu menjadi titik balik hidupnya. Sejak saat itu, ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk menyebarkan Rosario serta membangun berbagai karya iman dan sosial.

    Lahirnya Tempat Ziarah Pompei

    Pada 13 November 1875, sebuah lukisan Bunda Maria Rosario dibawa ke Pompei dan segera menjadi pusat devosi umat.

    Setahun kemudian, tepatnya 8 Mei 1876, peletakan batu pertama gereja dilakukan. Dari sebuah gereja sederhana, kemudian berkembang Basilika Bunda Maria Rosario Pompei yang kini menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di dunia.

    Namun, Bartolo Longo tidak hanya membangun gereja. Ia juga membangun masyarakat. Bersama para dermawan, ia mendirikan rumah bagi para pekerja, mendukung pelayanan kesehatan, mengembangkan sarana pendidikan, hingga menerbitkan majalah Il Rosario e la Nuova Pompei pada tahun 1884 sebagai media pewartaan.

    Bagi Bartolo Longo, devosi kepada Maria selalu harus menghasilkan kasih yang nyata kepada sesama.

    Rosario yang Menghasilkan Buah Kasih

    Bartolo Longo menyusun berbagai bentuk devosi Rosario, termasuk Súplica kepada Bunda Maria Rosario Pompei.

    Pada 14 Oktober 1883, sekitar 20.000 peziarah mendaraskan doa tersebut bersama-sama untuk pertama kalinya.

    Baginya, Rosario bukan sekadar pengulangan doa. Rosario adalah jalan untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus bersama Maria sehingga orang beriman semakin mengenal Yesus dan terdorong mewujudkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

    Karena itu, devosi kepada Maria tidak pernah berhenti pada Maria sendiri, melainkan selalu mengantar umat kepada Kristus.

    Mencintai Anak-anak yang Terluka

    Salah satu warisan terbesar Bartolo Longo adalah perhatian kepada anak-anak yang hidup dalam situasi sulit.

    Pada 1887, ia mendirikan panti asuhan bagi anak-anak perempuan. Lima tahun kemudian ia membangun lembaga pendidikan bagi anak-anak narapidana, yang kemudian dikelola Bruder-bruder De La Salle.

    Pada tahun 1922, didirikan pula lembaga bagi anak-anak perempuan narapidana yang dipercayakan kepada para Suster Putri-putri Rosario Suci Pompei.

    Baginya, anak-anak tidak boleh menanggung akibat dari kesalahan orang tua mereka. Mereka berhak memperoleh pendidikan, kasih sayang, dan masa depan yang lebih baik.

    Karya-karya ini menjadi bukti bahwa Rosario yang didoakannya selalu melahirkan tindakan nyata.

    Bersama Marianna De Fusco

    Karya besar di Pompei tidak lahir seorang diri.

    Pada 1 April 1885, Bartolo Longo menikah dengan Countess Marianna Farnararo De Fusco, seorang janda dengan lima anak.

    Marianna menjadi rekan seperjalanan yang memberi dukungan moral, gagasan, dan bantuan finansial bagi berkembangnya seluruh karya di Pompei.

    Karena itu, sejarah Pompei juga merupakan kisah tentang kerja sama, persahabatan, dan pengabdian bersama.

    Dari Beato Menjadi Santo

    Paus Santo Yohanes Paulus II menganugerahkan gelar Beato kepada Bartolo Longo pada 26 Oktober 1980 dan menyebutnya sebagai “Rasul Rosario.”

    Empat puluh lima tahun kemudian, tepatnya 19 Oktober 2025, Paus Leo XIV mengkanonisasinya sebagai santo Gereja Katolik.

    Kanonisasi ini menjadi pengakuan Gereja bahwa hidup Bartolo Longo merupakan teladan iman yang layak diteladani oleh seluruh umat.

    Kisah Santo Bartolo Longo menunjukkan bahwa pertobatan bukan sekadar perubahan hati, tetapi juga perubahan hidup.

    Ia tidak berhenti pada doa. Ia mengajar katekismus, membangun gereja, mendirikan sekolah, menerbitkan media, merawat anak-anak yatim, mendampingi anak-anak narapidana, dan menghadirkan harapan bagi banyak orang.

    Di tengah dunia yang masih dipenuhi kemiskinan, kekerasan, dan keterasingan, teladan Santo Bartolo Longo mengingatkan bahwa devosi sejati selalu melahirkan pelayanan.

    Doa dan karya kasih tidak dapat dipisahkan. Rosario yang didaraskan dengan sungguh-sungguh akan menuntun orang semakin dekat kepada Kristus sekaligus semakin peka terhadap penderitaan sesama.

    Santo Bartolo Longo wafat pada 5 Oktober 1926 dalam usia 85 tahun dan dimakamkan di kawasan Santuario di Pompei.

    Perjalanan hidupnya—dari krisis iman menuju kekudusan—menjadi kesaksian bahwa rahmat Allah mampu mengubah siapa pun yang membuka hati kepada-Nya.

    Melalui teladan Santo Bartolo Longo, Gereja diajak untuk terus mewartakan Injil bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui doa yang berbuah dalam karya kerahiman.

    Kini, setiap tanggal 5 Oktober, gereja Katolik melakukan peringatan atau pesta Santo Bartolo Longo. ***

    Oleh: Stefanus Akim – Penulis adalah anggota Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia atau PDAI, Komunitas Jordan Saxony, Chapter Dominikus Pontianak.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles