Wednesday, October 7, 2026
More

    Persaudaraan Fransiskan Bukan Piramida Kuasa, tetapi Lingkaran Kasih, Pater Toni, OFMCap

    MajalahDUTA.Com | Fransiskus mengira San Damiano adalah tempat terakhir yang dia cari. Namun, Tuhan ternyata menghadiahkan sesuatu yang tidak pernah dia rencanakan, para saudara. Dari hadiah itu lahir sebuah cara hidup yang menolak kuasa, mengutamakan pelayanan, dan akhirnya mengutus para saudara menjadi pembawa damai ke dunia.

    Fransiskus sudah menemukan tempat yang dicarinya.

    San Damiano menjadi ruang tempat dia berhenti mengejar kejayaan, meninggalkan ambisi lama, dan mulai menata hidup dalam terang Injil. Dia tidak menginginkan sesuatu yang lain.

    Itu sudah cukup.

    Tetapi Tuhan ternyata belum selesai dengan Fransiskus.

    Ketika dia merasa telah menemukan tempatnya, datang sebuah “hadiah kejutan”, para saudara.

    Kisah inilah yang menjadi pintu masuk Pater Paulus Toni, OFMCap—yang akrab disapa Pater Toni—ketika menyampaikan sesi kedua rekoleksi Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kubu Raya, Minggu, 4 Oktober 2026.

    Sekitar 360 anggota Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Mereka berasal dari empat wilayah keuskupan, yakni Pontianak, Ketapang, Sanggau, dan Sintang, serta sembilan komunitas, ordo, dan kongregasi Fransiskan yang hadir dalam perayaan tersebut.

    Bagi Pater Toni, kehadiran para saudara mengubah kembali perjalanan Fransiskus. Dia yang sebelumnya belajar menemukan Kristus dalam diri orang miskin, penderita kusta, dan Kristus yang tersalib, kini dipanggil untuk menjalani Injil bersama orang lain.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Hadiah Kejutan: Para Saudara

    Pater Toni mengutip Wasiat Fransiskus:

    “Setelah Tuhan memberiku saudara-saudara, tidak seorang pun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat, tetapi Yang Maha Tinggi sendiri mewahyukan kepadaku bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci.”

    Bagi Pater Toni, kalimat tersebut memperlihatkan bahwa persaudaraan Fransiskan bukan hasil dari rancangan organisasi manusia.

    Para saudara hadir sebagai rahmat.

    Fransiskus tidak pertama-tama merancang sebuah institusi besar. Dia menerima orang-orang yang Tuhan hadirkan dan bersama mereka mencoba mencari bagaimana Injil harus dihidupi.

    “Bersama para saudara, dia mau hidup menurut Injil suci,” jelas Pater Toni.

    Dari sana, kehidupan para saudara tidak berhenti di antara mereka sendiri. Mereka akan merantau ke seluruh dunia untuk mewartakan damai.

    Benih Injil yang telah tumbuh dalam diri Fransiskus kemudian ditaburkan melalui kehidupan bersama para saudara.

    Benih itu diharapkan berbuah melimpah.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Persaudaraan Tanpa Kuasa

    Pater Toni kemudian membawa peserta kepada salah satu gagasan penting dalam spiritualitas Fransiskan, persaudaraan tanpa kuasa.

    Fransiskus, menurut dia, tidak ingin menciptakan sebuah ordo yang berbentuk piramida kekuasaan. Dia tidak membangun komunitas dengan prinsip bahwa seseorang harus berdiri di atas orang lain.

    Sebaliknya, Fransiskus menghendaki persaudaraan yang melingkar.

    Dalam pola tersebut, hubungan tidak dibangun secara vertikal berdasarkan kuasa, sebagaimana struktur feodal yang kuat pada zamannya. Hubungan dibangun melalui pelayanan satu sama lain yang bersumber dari Injil.

    Pater Toni menunjukkan bahwa bahkan istilah yang digunakan dalam kehidupan persaudaraan mencerminkan gagasan tersebut.

    Fransiskus mengatakan:

    “Janganlah ada yang disebut ‘prior’, tetapi hendaklah setiap orang dipanggil sebagai saudara dina. Hendaklah kita saling mencuci kaki.”

    Menurut Pater Toni, ungkapan “mencuci kaki” bukan sekadar simbol kerendahan hati. Ia menjadi prinsip dasar bagaimana seorang saudara memperlakukan saudara yang lain.

    Dalam persaudaraan, pemimpin tidak ditempatkan sebagai penguasa.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Pemimpin sebagai Pelayan dan “Ibu”

    Pater Toni menjelaskan bahwa dua peran penting menjadi jaminan agar semangat tersebut tetap hidup.

    Pemimpin pertama-tama harus menjadi “pelayan dan hamba” bagi semua saudara.

    Dia tidak hadir untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

    Lebih jauh, pemimpin bahkan diharapkan bertindak seperti seorang “ibu”—seseorang yang mampu dekat, memperhatikan, mendampingi, dan hadir terutama ketika saudara mengalami kesulitan.

    Cara pandang ini, menurut Pater Toni, memungkinkan terbentuknya apa yang dia sebut sebagai “suasana rumah” dan “rasa kekeluargaan” yang sejati.

    Hanya dalam suasana seperti itu, para saudara dapat sungguh-sungguh hidup bersama menurut Injil.

    “Suasana rumah dan rasa kekeluargaan menjadi buah-buah otentik dan jaminan pasti untuk hidup bersama menurut Injil,” jelasnya.

    Dengan demikian, persaudaraan bukan sekadar tinggal bersama dalam satu komunitas. Persaudaraan adalah kemampuan menciptakan ruang di mana setiap orang merasa diterima, diperhatikan, dan dilayani.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Kesulitan Bukan Kegagalan, tetapi Berkat

    Pater Toni kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan surat Fransiskus kepada seorang minister anonim.

    Menurut dia, Fransiskus memiliki pandangan yang sangat khas terhadap kesulitan dalam memimpin dan menjalani kehidupan bersama.

    Kesulitan dalam relasi tidak selalu harus dilihat sebagai kegagalan.

    Sebaliknya, pengalaman yang menyakitkan dalam hubungan dapat menjadi rahmat atau berkat.

    Pater Toni menjelaskan bahwa hubungan manusia memang tidak selalu mudah. Ada perbedaan karakter, kesalahan, konflik, dan kekecewaan.

    Namun, apabila semua itu dialami dalam nama Injil, relasi manusia justru dapat menjadi jalan menuju dunia yang lebih bersaudara.

    “Keajaiban hubungan manusia, jika dialami dalam nama Injil, akan menuntun kita kepada dunia yang lebih bersaudara,” demikian inti refleksi Pater Toni.

    Karena itu, seorang saudara tidak dipanggil untuk mencari komunitas yang sempurna. Dia dipanggil untuk belajar mengasihi manusia yang nyata—dengan kelemahan, kesalahan, dan kesulitannya.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Dari Persaudaraan Menjadi Pewarta Damai

    Dari gaya hidup bersaudara itu kemudian lahir buah kedua yaitu menjadi saksi dan pewarta damai.

    Pater Toni kembali mengangkat salam yang menjadi identitas Fransiskus:

    “Semoga Tuhan memberimu damai.”

    Salam tersebut, menurut dia, bukan sekadar ungkapan sopan santun.

    “Ini bukan sekadar salam. Ini adalah program penginjilan atau evangelisasi,” tegas Pater Toni.

    Namun, tugas tersebut hanya dapat dipercaya jika para saudara tetap hidup sebagai saudara dina di tengah manusia—sederhana dan menjadi hamba bagi semua orang.

    Kesederhanaan dan kedinaan bukan aksesori dalam pewartaan. Keduanya justru menjadi isi dari salam damai itu sendiri.

    Dengan kata lain, orang akan percaya pada pewartaan damai bukan terutama karena kata-kata yang diucapkan, tetapi karena cara hidup orang yang mengucapkannya.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Tidak Bertengkar, Tidak Menghakimi

    Pater Toni kemudian mengutip nasihat Fransiskus dalam Anggaran Dasar.

    Fransiskus menasihati para saudaranya agar ketika merantau di dunia, mereka tidak bertengkar, berselisih, ataupun menghakimi orang lain.

    Sebaliknya, mereka harus bersikap lemah lembut, damai, pantas, sederhana, rendah hati, dan berbicara dengan sopan kepada semua orang.

    Dalam kutipan tersebut, Fransiskus menulis:

    “Saya menasihati, mendorong dan menganjurkan saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus supaya mereka jangan bertengkar atau berselisih paham atau menghakimi yang lain saat mereka merantau di dunia ini; namun, hendaknya mereka lemah-lembut, damai, pantas, sederhana, dan rendah hati berbicara dengan sopan dengan semua orang, sebagaimana seharusnya.”

    Bagi Pater Toni, cara hidup tersebut merupakan syarat agar para saudara mampu menjalankan misi mereka sebagai pembawa damai.

    Karena itu, ketika memasuki sebuah rumah, mereka tidak datang membawa ancaman atau dominasi.

    Mereka datang membawa salam: “Damai bagi rumah ini!”

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026, Foto: salah satu peserta Ordo Fransiskan Sekular.

    Bukan Tentara Kristus

    Pater Toni kemudian menggambarkan karakter misioner para saudara Fransiskan dengan cara yang menarik.

    Para saudara dina bukanlah tentara yang berkeliling membawa kekuatan dan memaksakan kebenaran dari atas.

    Dalam Anggaran Dasar, Fransiskus bahkan melarang para saudara naik kuda.

    Mereka tidak dipanggil untuk mengarungi dunia dengan simbol-simbol kekuasaan.

    Mereka justru dipanggil untuk hidup sederhana dan rendah hati, berada “di antara kaum miskin dan tidak punya kuasa, orang sakit dan kaum kusta, dan para pengemis di pinggiran jalan.”

    Karena itu, pewartaan mereka harus hadir melalui kedekatan.

    Mereka tidak berdiri di atas orang lain untuk mengatakan apa yang benar. Mereka berjalan bersama manusia dan membuka ruang dialog.

    Pater Toni mengaitkan semangat tersebut dengan kisah perjumpaan Fransiskus dengan Sultan Malek Al-Kamil.

    Kehadiran Fransiskus yang rendah hati membuka ruang bagi penghormatan dan dialog di tengah perbedaan.

    Menurut Pater Toni, cara hidup semacam inilah yang dapat mempromosikan damai bukan hanya di dalam Gereja, tetapi juga dalam masyarakat dan dunia.

    Dokumentasi Malam usai ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Saudara Dina, Penyair yang Berkelana

    Dalam perspektif tersebut, Pater Toni menggambarkan para saudara dina sebagai semacam “penyair berkelana dari Tuhan”.

    Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain bukan untuk menguasai, melainkan untuk menggerakkan hati manusia menuju damai.

    Mereka membawa Injil bukan terutama dengan kekuatan, tetapi dengan kesederhanaan hidup.

    Mereka mewartakan damai bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui cara mereka memperlakukan orang miskin, orang sakit, kaum kusta, para pengemis, dan mereka yang tidak memiliki kuasa.

    Dengan cara itulah, salam “Semoga Tuhan memberimu damai” memperoleh tubuh dan wajah.

    Dokumentasi ibadat Transitus, 3 Oktober 2026.

    Jalan Lemah Lembut di Tengah Dunia yang Tegang

    Di bagian akhir refleksinya, Pater Toni membawa pesan Fransiskan tersebut ke dunia masa kini.

    Menurut dia, jalan kelemahlembutan dan kerendahan hati yang ditunjukkan Yesus justru semakin dibutuhkan.

    “Dewasa ini, lebih perlu daripada sebelumnya, kita memahami bahwa jalan lemah-lembut dan rendah hati, seperti yang dimiliki Yesus, adalah satu-satunya hal yang dapat menuntun orang dengan hati yang tulus dan pasti mencari jalan-jalan perdamaian,” katanya.

    Dunia saat ini, lanjutnya, merupakan dunia yang saling terhubung dengan berbagai wajah, kepentingan, budaya, dan pandangan.

    Karena itu, ketegangan dan persaingan tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan.

    Dunia membutuhkan dialog dan kerja sama.

    Semangat Fransiskan, dengan demikian, tidak hanya relevan bagi para biarawan dan biarawati. Ia juga relevan bagi masyarakat yang sedang mencari cara hidup bersama di tengah perbedaan.

    Doa untuk Belajar Menjadi Saudara

    Sesi kedua itu kemudian ditutup dengan doa yang merangkum seluruh refleksi Pater Toni tentang persaudaraan.

    Doa tersebut dimulai dengan pengakuan bahwa para saudara adalah hadiah Tuhan kepada Fransiskus:

    “Ya Tuhan, yang telah memberikan saudara-saudara kepada Fransiskus, ajarilah saya hidup dalam persaudaraan.”

    Doa itu kemudian menjadi permohonan untuk dibebaskan dari keinginan menguasai dan godaan terhadap kekuasaan.

    “Bebaskan saya dari keinginan untuk menguasai, dari godaan kepada kekuasaan.”

    Pater Toni mengajak peserta menyadari bahwa relasi persaudaraan tidak bersifat piramidal, tetapi melingkar.

    “Tolonglah saya untuk mengerti bahwa hubungan sifatnya bukan piramidal melainkan lingkaran; semua adalah saudara, tiada guru di dalamnya.”

    Doa itu juga memohon kemampuan untuk mencuci kaki orang lain dan memilih menjadi pelayan, bukan tuan.

    “Ajarilah saya untuk ‘mencuci kaki’ orang lain, untuk menjadi pelayan, bukan tuan.”

    Lebih jauh, peserta diajak memohon hati seorang “ibu”: mampu menerima mereka yang melakukan kesalahan dan bersabar terhadap mereka yang menyusahkan.

    “Sadarkanlah saya untuk menjadi seorang ‘ibu’, untuk menerima mereka yang melakukan kesalahan, untuk sabar kepada mereka yang menyusahkan.”

    Pada akhirnya, doa tersebut meminta agar kesulitan dalam hubungan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh.

    “Bantulah saya untuk melihat kesulitan-kesulitan dalam hubungan bukan sebagai kegagalan, melainkan berkat, dan peluang untuk bertumbuh dalam kasih. Amin.”

    Dokumentasi Usai Perayaan Ekaristi. Pastor Hermanus Mayong Andreas Acin, OFMCap sebagai Selebran Utama Perayaan 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi

    Menjadi Saudara, Membawa Damai

    Dari San Damiano, Fransiskus menemukan para saudara sebagai hadiah yang tidak pernah dia rencanakan.

    Namun, hadiah itu ternyata bukan hanya untuk Fransiskus.

    Para saudara kemudian menjadi jalan bagi lahirnya sebuah persaudaraan yang menolak dominasi, mengutamakan pelayanan, dan bergerak keluar membawa damai.

    Delapan abad kemudian, pertanyaan itu kembali diarahkan kepada Keluarga Besar Fransiskan: apakah persaudaraan masih menjadi ruang yang membebaskan manusia dari keinginan menguasai? Apakah para saudara masih mampu menjadi “pelayan dan hamba” satu sama lain? Dan apakah dari persaudaraan itu dunia masih dapat mendengar salam yang sama—“Semoga Tuhan memberimu damai”?

    Bagi Pater Toni, jawabannya tidak cukup ditemukan dalam kata-kata.

    Damai harus mempunyai tubuh yaitu dalam cara hidup, dalam pelayanan, dalam kerendahan hati, dalam dialog, dan dalam keberanian berjalan bersama mereka yang tidak memiliki kuasa.

    Sebab seorang saudara dina akhirnya bukan orang yang datang untuk menguasai dunia.

    Dia datang untuk membawa damai ke dunia.*Sdr. Samuel, OFS. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles