MajalahDUTA.Com | Kedamaian tidak selalu lahir dari keadaan yang tenang. Justru ketika manusia berhadapan dengan penderitaan, konflik, sakit, dan berbagai bentuk keretakan kehidupan, semangat untuk menjadi pembawa damai diuji.
Pesan itulah yang kembali dihidupi keluarga besar Fransiskan-Fransiskanes Keuskupan Agung Pontianak (KEFRAP) dalam peringatan 800 tahun Transitus dan Pembaharuan Janji Fransiskan di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kubu Raya, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ibadat yang berlangsung pukul 17.00–19.00 WIB tersebut dipimpin Pastor Pionius Hendi, OFMCap, yang akrab disapa Pastor Pio.

Hadir keluarga besar Fransiskan-Fransiskanes di Keuskupan Agung Pontianak (KEFRAP), antara lain Ordo Kapusin (OFMCap), Bruder Maria Tak Bernoda (MTB), Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC), Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS), Suster-suster Fransiskus Dina (SFD), Suster Misi Fransiskan Santo Antonius (SMFA), Kongregasi Misionaris Para Rasul Kudus (MSA), Sister Mary Joseph of the Infant Jesus (SMIJ), dan Ordo Fransiskan Sekular (OFS).
Dalam pengantar drama Transitus, Pastor Pio mengingatkan bahwa peristiwa wafat atau “peralihan” Santo Fransiskus dari Assisi merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga Fransiskan di seluruh dunia.
“Pada sore hari ini, kita berkumpul untuk mengenangkan saat-saat terakhir hidup Bapak Serafik kita, Santo Fransiskus dari Assisi, di dunia ini,” ujarnya.
Menurut Pastor Pio, menjelang akhir hidupnya, Fransiskus menyadari bahwa tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepadanya telah dijalani. Karena itu, dia tidak melihat kematian sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai Saudari Maut yang mengantarnya kembali kepada Bapa.
Bagi keluarga Fransiskan, mengenangkan Transitus bukan sekadar mengingat kematian seorang santo. Peristiwa tersebut menjadi kesempatan untuk kembali melihat bagaimana Fransiskus menjalani penderitaan, melayani sesama, dan mempertahankan kedamaian hingga akhir hidupnya.

Damai di tengah penderitaan
Dalam renungannya, Pastor Pio mengawali dengan pertanyaan sederhana yakni – apakah manusia masih mampu mempertahankan kedamaian ketika dirinya disakiti?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kehidupan masyarakat berhadapan dengan berbagai persoalan, termasuk kabut asap dan kesulitan memperoleh air akibat kemarau panjang di Kalimantan.
“Realitas menunjukkan bahwa menjaga kedamaian hati tidak selalu mudah. Ketika segala sesuatu berjalan baik, mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan, ‘Damai.’ Tetapi bagaimana ketika kita disakiti? Bagaimana ketika kita menderita? Bagaimana ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang kita harapkan?” katanya.
Pastor Pio kemudian mengutip Petuah Santo Fransiskus, khususnya tentang makna menjadi pembawa damai.
“Orang yang dalam segala penderitaannya di dunia ini tetap memelihara kedamaian dalam jiwa dan raganya, demi cinta kasih kepada Tuhan, mereka itu sungguh-sungguh pembawa damai,” katanya.
Menurut dia, penderitaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang mengalami penderitaan atau tidak, melainkan bagaimana dia menyikapinya.
Santo Fransiskus sendiri mengalami penderitaan berat pada masa akhir hidupnya. Tubuhnya semakin lemah dan berbagai penyakit menyerangnya, termasuk gangguan pada mata yang hampir membuatnya buta. Namun, penderitaan tersebut tidak membuat Fransiskus kehilangan arah hidup.
Sebaliknya, dia menerima penderitaan sebagai bagian dari perjalanan hidup bersama Tuhan. Bahkan kematian diterimanya sebagai Saudari Maut.

“Penderitaan dan kematian tidak hanya diterima sebagai kenyataan yang harus dihadapi, tetapi ditempatkan dalam relasi dengan kasih Allah,” ujar Pastor Pio.
Dari pengalaman itu, Pastor Pio mengajak umat melihat bahwa kedamaian sejati bukan berarti hidup tanpa penderitaan. Kedamaian justru tampak ketika manusia tetap mampu mengarahkan hati kepada Tuhan dalam keadaan apa pun.
Salah satu gambaran kuat mengenai sikap Fransiskus terhadap penderitaan terlihat dalam Kidung Saudari Matahari atau Gita Sang Surya.
Kidung tersebut lahir ketika Fransiskus berada dalam keadaan sakit dan tubuhnya semakin lemah. Namun, di tengah penderitaan itu, dia masih mampu memuji Tuhan.
“Di tengah rasa sakitnya, ia masih mampu memuji Tuhan,” kata Pastor Pio.
Bagi Pastor Pio, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa iman tidak berhenti ketika manusia menghadapi kesulitan. Penderitaan tidak harus membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersyukur.
Semangat yang sama terlihat dalam pengalaman pertobatan Fransiskus ketika berhadapan dengan penderita kusta. Ketika banyak orang melihat penderita kusta sebagai pribadi yang menjijikkan dan harus dijauhi, Fransiskus justru mengambil jalan berbeda.
“Dia datang mendekati penderita kusta itu, bahkan memeluk dan menciumnya,” ujar Pastor Pio.
Perjumpaan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting yang mengubah cara pandang Fransiskus. Dia tidak lagi melihat orang lain semata-mata berdasarkan keadaan fisik, status, atau penilaian masyarakat, tetapi sebagai sesama yang harus diterima dan dikasihi.

Pax et Bonum sebagai cara hidup
Dari semangat itu pula, keluarga Fransiskan mengenal sapaan Pax et Bonum—damai dan kebaikan.
Namun, bagi Pastor Pio, Pax et Bonum tidak cukup menjadi sapaan yang diucapkan ketika keadaan sedang baik.
Sapaan tersebut justru mendapatkan makna yang lebih dalam ketika manusia berhadapan dengan konflik, pertengkaran, penghinaan, maupun hubungan yang retak.
“Damai bukan sekadar sesuatu yang kita ucapkan, tetapi sesuatu yang kita hidupi,” tegasnya.
Semangat untuk tetap melayani juga tampak dalam kisah Santo Fransiskus menjelang kematiannya. Pastor Pio mengutip catatan Thomas dari Celano bahwa Fransiskus meminta roti, memberkatinya, memecah-mecahkannya, kemudian membagikannya kepada saudara-saudaranya.
Tubuh Fransiskus ketika itu sudah lemah. Namun, kelemahan fisik tidak menghentikannya untuk memikirkan orang lain.
“Dia masih melayani. Dia masih berbagi. Dia masih menjadi pembawa damai,” kata Pastor Pio.
Bagi Pastor Pio, tindakan sederhana tersebut memperlihatkan bahwa menjadi pembawa damai tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat lahir dari tindakan sederhana: hadir, berbagi, melayani, dan memperhatikan orang lain.

Menjadi “Fransiskus-Fransiskus kecil”
Refleksi tentang Fransiskus kemudian dibawa Pastor Pio ke dalam konteks kehidupan manusia zaman sekarang, termasuk ketika ilmu pengetahuan dan kecerdasan buatan berkembang semakin cepat.
Menurutnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar dengan kemampuan intelektual tinggi. Dunia juga membutuhkan pribadi-pribadi sederhana yang bersedia hadir secara nyata bagi sesama.
“Yang kurang dalam dunia ini adalah pribadi-pribadi—atau saya mau katakan, Fransiskus-Fransiskus kecil—yang datang ke dalam dunia dalam kesederhanaannya,” ujarnya.
Pribadi seperti itu, lanjutnya, bukan hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki tindakan kasih yang nyata, hati yang terarah kepada Allah, serta kemauan untuk melayani sesama.
Dalam konteks perkembangan artificial intelligence (AI), Pastor Pio menekankan pentingnya kehadiran manusia secara langsung.
“Datang dan hadir di tengah orang yang memerlukan bantuan kita. Inilah yang sulit digantikan oleh AI yakni kehadiran nyata di hadapan dunia yang sedang terkoyak di zaman ini,” katanya.
Kehadiran tersebut dapat berupa tindakan sederhana untuk mendengarkan seseorang yang kesepian, membantu mereka yang mengalami kesulitan, mengunjungi orang sakit, ataupun berdiri bersama mereka yang sedang menghadapi penderitaan.

Dipanggil menjadi pembawa damai
Peringatan Transitus menjadi momentum bagi keluarga Fransiskan-Fransiskanes untuk kembali bertanya tentang panggilan hidup mereka.
“Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah dunia yang tidak ada rasa damai,” kata Pastor Pio.
Menurutnya, jalan menuju panggilan tersebut dimulai dari relasi dengan Tuhan. Kedamaian tidak dibangun semata-mata karena keadaan di sekitar manusia baik, tetapi karena kasih kepada Tuhan.
“Kita memelihara kedamaian bukan karena keadaan selalu baik. Kita memelihara kedamaian demi cinta kasih kepada Tuhan,” ujarnya.
Pada bagian akhir renungannya, Pastor Pio mengutip nasihat Santo Fransiskus dalam Anggaran Dasar, Bab III, nomor 10–11.
Para saudara Fransiskan diajak untuk tidak berselisih, bertengkar, atau menghakimi orang lain, tetapi hidup murah hati, suka damai, lembut, rendah hati, dan sopan dalam berbicara.
Bagi keluarga Fransiskan-Fransiskanes yang hidup di tengah masyarakat dengan berbagai persoalan. Menjadi pengikut Fransiskus bukan hanya berarti mengenakan identitas Fransiskan, tetapi menghadirkan semangat Fransiskus dalam kehidupan sehari-hari.
Transitus akhirnya tidak berhenti pada kenangan tentang seorang santo yang hidup delapan abad lalu. Ia menjadi undangan untuk meneruskan cara hidup yang sama dalam konteks zaman sekarang, sederhana, rendah hati, dekat dengan mereka yang menderita, dan berani menghadirkan damai.
“Semoga kita menjadi Fransiskus-Fransiskus kecil di zaman kita yang sederhana, rendah hati, dekat dengan mereka yang menderita, dan selalu membawa Pax et Bonum ke mana pun kita pergi,” demikian pesan penutup renungan Pastor Pio.*Samuel, OFS.





