Tuesday, October 6, 2026
More

    360 Fransiskan Kalimantan Barat Rayakan 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus

    MajalahDUTA.Com | Sekitar 360 anggota keluarga besar Fransiskan dari berbagai tarekat dan persaudaraan di Kalimantan Barat berkumpul di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kabupaten Kubu Raya, Minggu, 4 Oktober 2026.

    Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi sekaligus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan Fransiskan di Kalimantan Barat.

    Para peserta datang dari empat wilayah keuskupan, yakni Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Sanggau, dan Keuskupan Sintang.

    Mereka berasal dari berbagai tarekat dan persaudaraan Fransiskan, antara lain Ordo Kapusin (OFMCap), Bruder Maria Tak Bernoda (MTB), Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC), Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS), Suster-suster Fransiskus Dina (SFD), Suster Misi Fransiskan Santo Antonius (SMFA), Kongregasi Misionaris Para Rasul Kudus (MSA), Sister Mary Joseph of the Infant Jesus (SMIJ), serta Ordo Fransiskan Sekular (OFS).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat yang berlangsung selama dua hari.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan peringatan Transitus Santo Fransiskus, dilanjutkan dengan rekoleksi dan ditutup dengan perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus.

    Ketua Panitia, Suster Serlina Sigiro, SFIC, mengatakan perayaan 800 tahun Transitus merupakan bagian dari rangkaian tiga peristiwa besar dalam perjalanan peringatan delapan abad Fransiskan.

    Dokumentasi Usai Perayaan Ekaristi. Pastor Hermanus Mayong Andreas Acin, OFMCap sebagai Selebran Utama Perayaan 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi

    “Dari antara sekian banyak generasi, kita adalah orang-orang yang terpilih dan diizinkan untuk merayakan tiga peristiwa penting selama tiga tahun terakhir,” kata Suster Serli dalam sambutannya.

    Menurutnya, pada 2024 keluarga besar Fransiskan memperingati 800 tahun Stigmata Santo Fransiskus. Tahun berikutnya, 2025, diperingati 800 tahun Gita Sang Surya. Sementara pada 2026, perhatian diarahkan pada 800 tahun Transitus Santo Fransiskus.

    “Pada tahun 2024, kita merayakan 800 tahun Stigmata Bapak Fransiskus. Pada tahun 2025, kita merayakan 800 tahun Gita Sang Surya. Dan pada tahun ini, kita merayakan 800 tahun Transitus Bapak Kita Santo Fransiskus,” ujarnya.

    Suster Serli berharap rangkaian peringatan delapan abad tersebut terus menjadi perjalanan iman yang membawa keluarga Fransiskan semakin dekat dengan warisan spiritual Santo Fransiskus.

    “Semoga beberapa tahun ke depan kita masih diperkenankan untuk merayakan 800 tahun kanonisasi Bapak Kita Santo Fransiskus,” katanya.

    Pater Paulus Toni, OFMCap, yang mendampingi peserta selama rekoleksi, Minggu 04 Oktober 2026, (Catatan: Berita edisi khusus materi akan dipublikasikan).

    360 Fransiskan dari Empat Keuskupan

    Suster Serli menyampaikan bahwa sekitar 360 saudara-saudari Fransiskan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka datang dari berbagai komunitas dan tarekat yang tersebar di Kalimantan Barat.

    “Dalam dua hari ini, sekitar 360 saudara-saudari Fransiskan se-Kalimantan Barat hadir bersama kita. Mereka datang dari Keuskupan Pontianak, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Sanggau, dan Keuskupan Sintang,” ungkapnya.

    Kehadiran lintas tarekat tersebut, menurut Suster Serli, menunjukkan bahwa semangat Fransiskan tidak berhenti pada batas-batas komunitas. Persaudaraan menjadi ruang bersama untuk memperkuat kerja sama, pelayanan, serta pewartaan damai dan kebaikan.

    Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan apresiasi kepada para provinsial, pimpinan umum, Dewan Penasihat, Dewan Pimpinan Komunitas, serta Minister dan Ministra Persaudaraan yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan.

    Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pater Hermanus Mayong OFMCap dan para imam yang menjadi konselebran dalam perayaan Ekaristi.

    Secara khusus, Suster Serli menyampaikan penghargaan kepada Pater Paulus Toni, OFMCap, yang mendampingi peserta selama rekoleksi, serta Pater Stephanus Gatot, OFMCap, dan tim Rumah Retret Tirtaria yang telah menyediakan tempat dan berbagai fasilitas selama kegiatan berlangsung.

    Dia juga mengapresiasi dukungan para donatur, petugas liturgi, serta seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan.

    “Terima kasih juga kepada kita semua yang telah dengan setia mengikuti rangkaian kegiatan sejak kemarin: Transitus, hari ini rekoleksi, dan kemudian perayaan Misa Syukur ini,” tutur Suster Serli.

    Potret Suster-suster Fransiskus Dina (SFD), 800 Tahun Transitus St Fransiskus Assisi.

    Memperkuat Persaudaraan

    Bagi Suster Serli, pertemuan selama dua hari bukan sekadar agenda perayaan, tetapi kesempatan untuk memperbarui hubungan persaudaraan di antara keluarga Fransiskan.

    “Semoga pertemuan selama dua hari ini semakin menguatkan tali persaudaraan di antara anak-anak Bapak Fransiskus yang ada di Kalimantan Barat,” katanya.

    Dia menyebut sembilan tarekat dan persaudaraan telah hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, dua kelompok Fransiskan, yakni saudara-saudara OFM dan para suster FCJM, belum dapat bergabung dalam kegiatan kali ini.

    Suster Serli berharap kedua kelompok tersebut dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan Fransiskan berikutnya.

    Lebih jauh, dia mengajak seluruh peserta untuk membawa semangat perayaan ke dalam kehidupan sehari-hari.

    “Semoga kita menjadi berkat dan semakin maju dalam kolaborasi, dalam mewartakan damai dan kebaikan kepada semakin banyak orang, dalam melayani Allah dan sesama, serta merawat alam ciptaan,” ujarnya.

    Dia juga mengajak peserta untuk menjaga sukacita yang telah dibangun selama perjumpaan bersama.

    “Janganlah peristiwa-peristiwa yang terjadi kemarin, hari ini, maupun yang akan terjadi esok hari mencuri sukacita kita,” pesan Suster Serli.

    Menurutnya, damai yang dialami selama perayaan hendaknya tidak berhenti di tempat kegiatan, tetapi dibawa kembali ke komunitas dan lingkungan pelayanan masing-masing.

    “Kita berdoa agar damai itu tetap tinggal dalam diri kita, sehingga dapat kita sebarkan kepada semua orang,” katanya.

    Suasana Rekoleksi, 04 Oktober 2026.

    Menjadi Peziarah Perdamaian

    Dalam kesempatan yang sama, Pastor Hermanus Mayong Andreas Acin, OFMCap, selaku selebran utama, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perayaan tersebut.

    Perayaan Ekaristi itu didampingi Sekretaris Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Pionius Hendi, OFMCap, bersama tiga imam lainnya dan dua diakon.

    Pastor Mayong mengawali sambutannya dengan menyampaikan terima kasih kepada para pimpinan umum, provinsial, Minister dan Ministra Persaudaraan yang telah memberikan ruang bagi keluarga besar Fransiskan untuk mengalami kebersamaan.

    “Terima kasih kepada saudara-saudari yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mengalami persaudaraan serta kebersamaan dalam perayaan ini,” katanya.

    Dia juga memberikan apresiasi kepada panitia yang telah mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan sejak hari sebelumnya.

    Secara khusus, Pastor Mayong menyebut Suster Serli selaku ketua panitia serta seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan.

    Ucapan terima kasih juga diberikan kepada para petugas liturgi, imam, diakon, misdinar, penari, musikus, dan anggota koor yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi.

    Pastor Mayong secara khusus mengapresiasi keterlibatan anak-anak muda melalui tarian dan pelayanan liturgi.

    “Anak-anak muda kita luar biasa. Terima kasih atas penampilan sekaligus pelayanan mereka dalam perayaan Ekaristi ini,” ujarnya.

    Dia juga menyinggung penampilan koor yang menurutnya mampu membangun suasana doa dan menyentuh hati umat.

    “Tadi ketika kita mendengarkan lagu berbahasa Inggris, saya sendiri merasa terharu. Walaupun belum tentu semuanya mengerti artinya, tetapi kita semua bisa merasakan suasananya,” katanya.

    Suasana Koor dalam perayaan Ekaristi, Minggu 04 Oktober 2026.

    Jangan Pulang sebagai “Harta Benda yang Tidak Bergerak”

    Dalam sambutannya, Pastor Mayong mengajak peserta untuk tidak menjadikan rekoleksi dan perayaan tersebut sebagai pengalaman yang berhenti di tempat kegiatan.

    Dia menggunakan ungkapan sederhana sekaligus humoris mengenai “harta benda bergerak” untuk menggambarkan pentingnya membawa pulang semangat yang diperoleh selama perjumpaan.

    “Semoga setelah pulang dari sini, kita tidak menjadi harta benda yang tidak bergerak, tetapi menjadi harta benda yang bergerak,” katanya.

    Ungkapan tersebut kemudian dia jelaskan sebagai ajakan agar pengalaman persaudaraan, damai, dan kebaikan yang diperoleh selama kegiatan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

    “Artinya, apa yang kita terima dan alami selama perayaan ini jangan berhenti di tempat ini. Semangat persaudaraan, damai, dan kebaikan yang kita rayakan bersama hendaknya kita bawa pulang dan kita wujudkan dalam kehidupan serta pelayanan kita masing-masing,” ujar Pastor Mayong.

    Dia juga mengingatkan peserta agar keberhasilan kegiatan serupa pada masa mendatang sangat bergantung pada bagaimana setiap orang menghidupi hasil perjumpaan tersebut setelah kembali ke komunitas masing-masing.

    “Kalau kita pulang dari tempat ini dengan semangat yang berkobar dan hati yang bahagia, mudah-mudahan pada waktu yang akan datang kita diberi izin untuk kembali melaksanakan kegiatan seperti ini,” katanya.

    Dengan nada bercanda, dia menambahkan, “Kalau kita pulang lebih parah daripada ketika datang, mungkin masih perlu dipikir-pikir apakah kegiatan seperti ini akan dilaksanakan lagi.”

    Suasana Seminar Rekoleksi oleh Pater Paulus Toni, OFMCap, Minggu 04 Oktober 2026.

    Fransiskan Dipanggil Menjadi Pembawa Damai

    Pesan utama yang muncul dari kedua sambutan tersebut adalah ajakan agar perayaan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus tidak berhenti sebagai peringatan sejarah.

    Perjumpaan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk memperbarui panggilan Fransiskan sebagai pembawa damai, pelayan sesama, dan penjaga keutuhan ciptaan.

    Suster Serlina mengajak peserta untuk menjadikan doa dan teladan Santo Fransiskus sebagai kekuatan dalam menjalani kehidupan.

    “Semoga doa-doa Bapa Fransiskus senantiasa menemani dan mendampingi kita, mendatangkan damai bagi diri kita sendiri, sehingga damai itu juga dapat terpancar kepada orang-orang di sekitar kita,” katanya.

    Sementara Pastor Mayong mengajak seluruh peserta untuk pulang dengan semangat baru sebagai “peziarah perdamaian” dan “peziarah kebaikan”.

    “Semoga kita sungguh-sungguh menjadi peziarah perdamaian dan peziarah kebaikan,” tegasnya.

    Perayaan kemudian ditutup dengan ajakan untuk kembali ke tempat tugas masing-masing dengan membawa sukacita dan damai.

    “Selamat jalan kepada saudara-saudari yang akan melakukan perjalanan kembali ke tempat masing-masing. Semoga kita senantiasa mengalami sukacita dan damai yang sejati. Tuhan memberkati kita semua,” pungkas Pastor Mayong.

    Perayaan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus di Tirta Ria menjadi momentum bagi keluarga besar Fransiskan Kalimantan Barat untuk kembali menghidupi semangat Santo Fransiskus, membangun persaudaraan, membawa damai, melayani Allah dan sesama, serta merawat ciptaan.

    Sementara Suster Serli menutup sambutannya dengan ungkapan khas masyarakat Dayak Kanayatn: “Adil Ka Talino, Bacuraimin Ka Saruga, Ba Sengat Ka Jubata.”

    Ungkapan tersebut menjadi penutup yang menegaskan semangat kebersamaan, kedamaian, dan penghormatan kepada nilai-nilai kehidupan yang dihidupi bersama.*Sdr. Samuel, OFS. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles