Thursday, August 13, 2026
More

    AI Menggantikan Akuntan? Jangan-Jangan Kita Salah Bertanya

    MajalahDUTA.Com, Pontianak | Ada satu pertanyaan yang semakin relevan ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) masuk ke berbagai bidang pekerjaan: apakah manusia akan kehilangan pekerjaannya?

    Dalam dunia akuntansi, pertanyaan ini menjadi semakin nyata karena AI mulai membantu pekerjaan yang selama ini identik dengan akuntan, seperti pengolahan data, rekonsiliasi, riset, hingga penyusunan laporan.

    Menurut saya, bukan profesi akuntan yang sedang berakhir, melainkan cara kerja akuntan yang sedang berubah.

    Perubahan tersebut bukan sekadar prediksi.

    Survei Intuit QuickBooks 2025 menunjukkan “81 persen akuntan menyatakan AI meningkatkan produktivitas”, sementara “79 persen memperkirakan pekerjaan strategic advisory akan meningkat.”

    Pada pertengahan tahun 2026, survei Blue J dan CPA.com terhadap lebih dari 1.000 profesional pajak juga menunjukkan “60 persen responden menggunakan AI untuk riset perpajakan setidaknya setiap minggu”, meningkat dari 33 persen pada tahun 2025.

    “Sebanyak 84 persen menyatakan AI menghemat waktu.”

    Data tersebut menunjukkan bahwa AI tidak semata-mata menjadi ancaman. AI semakin mampu mengambil alih pekerjaan yang rutin, berulang, dan berbasis pola. Memeriksa transaksi, menemukan ketidaksesuaian, membantu rekonsiliasi, mengelompokkan data, dan melakukan riset dapat dikerjakan lebih cepat dengan teknologi.

    Namun, akuntansi tidak pernah hanya tentang memasukkan angka ke dalam sistem.

    Angka dalam laporan keuangan memiliki konteks. Ketika muncul transaksi yang tidak biasa, pertanyaannya bukan hanya bagaimana transaksi tersebut dicatat, tetapi mengapa transaksi terjadi, apakah pencatatannya sesuai standar, apa dampaknya, dan apakah informasi tersebut dapat menyesatkan pengguna laporan.

    Di sinilah peran manusia tetap penting. Akuntan tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga memahami makna di balik angka, menilai risiko, mempertimbangkan konteks bisnis, memastikan kepatuhan, dan menjaga integritas informasi.

    Karena itu, AI mungkin menggantikan sebagian tugas akuntan, tetapi belum tentu menggantikan profesi akuntan.

    Jika mesin mengerjakan pekerjaan administratif dengan lebih cepat, akuntan justru harus bergerak ke pekerjaan yang membutuhkan analisis, komunikasi, pengambilan keputusan, pemahaman bisnis, dan pertimbangan profesional.

    Pergeseran kebutuhan kompetensi juga terlihat pada perusahaan akuntansi terbesar dunia.

    Analisis Financial Times terhadap lebih dari 50.000 lowongan Deloitte, EY, KPMG, dan PwC menemukan bahwa “hampir 7 persen lowongan Big Four membutuhkan keahlian AI.”

    Ini bukan berarti auditor tidak lagi dibutuhkan, tetapi menunjukkan bahwa kemampuan akuntansi semakin perlu dipadukan dengan teknologi.

    Karena itu, Tantangan terbesar akuntan bukan hanya munculnya AI, melainkan ketika kompetensi akuntan tidak berkembang secepat teknologi.

    Lulusan akuntansi yang hanya menguasai pencatatan manual akan lebih rentan terhadap otomatisasi. Sebaliknya, akuntan yang memahami standar, teknologi, analisis data, komunikasi, dan etika akan memiliki posisi yang lebih kuat.

    Semakin canggih teknologi, semakin penting pula pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas hasilnya. AI dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi kecepatan tidak selalu berarti kebenaran. Hasil AI tetap perlu diperiksa, terutama dalam pekerjaan yang berkaitan dengan laporan keuangan, pajak, audit, kredit, investasi, dan keputusan bisnis.

    Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) juga merespons perubahan tersebut. Pada Mei 2026, IAI mengangkat tema “Beyond the Ledger: Menjadi Akuntan 5.0 yang Menguasai AI, Data, dan Keberlanjutan.”

    Pesan ini menunjukkan bahwa profesi akuntansi perlu berkembang mengikuti teknologi, data, dan tuntutan keberlanjutan.

    Karena itu, pendidikan akuntansi juga harus berubah. Kemampuan membuat jurnal, menyusun laporan keuangan, dan memahami standar tetap menjadi fondasi.

    Namun, mahasiswa perlu melengkapinya dengan literasi AI, analisis data, kemampuan teknologi, komunikasi, pemecahan masalah, dan etika profesi.

    Pertanyaannya bukan lagi, apakah mahasiswa akuntansi harus belajar AI.

    Pertanyaannya adalah: seberapa cepat mereka harus mulai belajar?

    Menurut saya, jawabannya adalah sekarang.

    Masa depan akuntansi bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin. Mesin mengolah data, manusia memberikan pertimbangan.

    Mesin menemukan pola, manusia memahami konteks. Mesin mempercepat pekerjaan, manusia memastikan pekerjaan tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

    AI mungkin memang akan menggantikan sebagian pekerjaan akuntansi. Kita tidak perlu menyangkal kenyataan tersebut. Namun, menggantikan sebagian tugas tidak sama dengan menggantikan seluruh profesi.

    Akuntan masa depan bukanlah akuntan yang bekerja melawan AI, melainkan akuntan yang mampu bekerja bersama AI, memahami kapan teknologi dapat dipercaya, kapan hasilnya harus diperiksa, dan kapan keputusan membutuhkan pertimbangan manusia.

    “Yang sebenarnya sedang terancam bukanlah profesi akuntan, melainkan akuntan yang memilih untuk tidak berubah.”*Lusia Sedati | AKUB GAK | Unika San Agustin. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles