MajalahDUTA.Com, Ketapang | Menjadi kuat sering kali menjadi tuntutan yang tidak tertulis bagi seorang ibu yang kehilangan pasangan.
Ia harus bangun setiap pagi, mengurus rumah, mendampingi anak, memikirkan masa depan, dan tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Padahal, ada saat-saat ketika ia juga ingin berkata: Saya lelah.
Ada kesepian yang tidak terlihat. Ada air mata yang disimpan sendiri. Ada pergulatan membesarkan anak tanpa lagi memiliki pasangan untuk berbagi beban.
Tetapi 21 ibu yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Santa Monika (SANTIKA) Ketapang memilih sebuah cara lain: mereka tidak mau menjalani perjuangan itu sendirian.
Di dalam komunitas ini, pengalaman kehilangan tidak berhenti sebagai luka. Para ibu belajar mengubahnya menjadi kekuatan melalui persaudaraan, doa, dan keberanian untuk saling berbagi.
SANTIKA menjadi ruang bagi para ibu janda dan single mom untuk bertemu, bercerita, saling menyemangati, dan bertumbuh dalam iman.

Monika: Ibu yang Tidak Berhenti Berharap
Tidak sulit menemukan alasan mengapa Santa Monika menjadi sosok yang menginspirasi komunitas ini.
Setiap 27 Agustus, Gereja Katolik memperingati Santa Monika sebagai pelindung para ibu. Ia dikenang sebagai sosok perempuan yang gigih, tekun, dan setia dalam iman.
Perjalanan hidupnya tidak bebas dari pergulatan keluarga. Ia menghadapi suami yang bukan pengikut Kristus dan seorang anak, Agustinus, yang menempuh perjalanan hidup yang panjang sebelum akhirnya menemukan jalan menuju Allah.

Monika tidak memilih menyerah. Ia memilih berdoa, menunggu, dan tetap berharap. Air mata dan ketekunannya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pertobatan keluarganya.
Bagi para ibu SANTIKA, kisah Monika bukan cerita masa lalu yang jauh dari kehidupan mereka.
Justru sebaliknya.
Monika terasa seperti seorang ibu yang hidup di antara mereka.
Ia memahami bagaimana rasanya menanggung pergulatan keluarga. Ia memahami bagaimana rasanya menunggu. Dan ia menunjukkan bahwa kasih seorang ibu terkadang harus bertahan jauh lebih lama daripada yang dibayangkan.
Dua Hari untuk Berhenti Sejenak
Semangat itulah yang kembali dihidupkan dalam rangka menyambut Pesta Santa Monika 2026.
Pada Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus 2026, para anggota SANTIKA berkumpul di Augustinian Spiritual Centre, Susteran OSA Ketapang. Mereka mengikuti Hari Studi dan Rekoleksi bertema “Berjalan Bersama Mewartakan Kerahiman Allah.”
Dua hari itu menjadi semacam jeda.
Jeda dari rutinitas. Jeda dari berbagai persoalan. Jeda untuk melihat kembali perjalanan hidup dan bertanya: Bagaimana saya menjalani panggilan sebagai ibu setelah melewati pengalaman kehilangan?
Hari pertama mengajak para ibu mengenal kembali sosok Santa Monika.
Sr. Valentina Nedi, OSA, membawakan materi tentang kisah hidup dan identitas Santa Monika, terutama perjalanan Monika sebagai istri dan ibu serta ketekunannya mendoakan pertobatan suami dan putranya.

Sementara itu, Sr. Felisitas Saptari, OSA, selaku Pendamping Rohani Komunitas, mengajak peserta memahami kembali identitas dan tujuan SANTIKA sebagai rumah persaudaraan.
Rumah itu penting.
Sebab ketika seseorang kehilangan pasangan hidup, yang hilang bukan hanya sosok yang selama ini mendampingi. Ia juga dapat kehilangan tempat untuk berbagi cerita, mengambil keputusan, dan mencurahkan kegelisahan.
Di sinilah komunitas menjadi berarti: tidak menghapus luka, tetapi membuat seseorang tahu bahwa ia tidak harus memikul luka itu sendirian.
Hari pertama kemudian ditutup dalam suasana doa melalui Rosario di Gua Maria Penolong Abadi dan ibadat Taizé di Kapel ASC.
Ketika Menjadi Ibu Berhadapan dengan Dunia Digital
Hari kedua dibuka dengan Perayaan Ekaristi di Kapel St. Agustinus Hippo. Misa dipimpin oleh RP. Alberto Bartiana, OSA, didampingi RP. Anthony Nombrefia, OSA.
Dalam homilinya, Romo Abe mengajak umat menyadari bahwa Yesus senantiasa berjalan bersama manusia dalam suka dan duka kehidupan.
Bagi para ibu yang sedang menjalani kehidupan dengan segala tantangannya, pesan itu menjadi sangat konkret: Allah hadir dalam perjalanan hidup mereka.
Refleksi kemudian berlanjut melalui sesi “Santa Monika dan Santo Augustinus – Hubungan Ibu dan Anak” yang dibawakan RP. Anthony Nombrefia, OSA.
Para ibu diajak melihat hubungan Monika dan Agustinus bukan sebagai hubungan ibu-anak yang sempurna, melainkan sebagai perjalanan yang diwarnai kasih, doa, air mata, pergulatan, dan kepercayaan kepada Allah.
Dari kisah itu, para peserta diajak kembali melihat keluarga mereka sendiri.
Bagaimana menjadi ibu yang tetap hadir bagi anak?
Bagaimana mendampingi anak ketika pilihan hidupnya berbeda?
Dan bagaimana tetap percaya kepada Allah ketika doa belum menunjukkan jawaban seperti yang diharapkan?
Father Tony mengingatkan bahwa belas kasih adalah perjalanan yang ditempuh bersama. Para ibu berjalan bersama anak-anaknya, anak-anak berjalan kembali kepada ibu mereka, dan setiap orang pada akhirnya berjalan menuju Allah.
Pergulatan menjadi ibu ternyata tidak berhenti pada persoalan keluarga. Ada tantangan baru yang masuk melalui layar telepon genggam.
Karena itu, sesi terakhir yang dibawakan RP. Advent, SJ, mengangkat tema “Berjalan Bersama; Menjadi Monika di Era Digital.”
Para peserta diajak melakukan examen digital melalui lima langkah: Sadari, Syukuri, Periksa, Ampuni, dan Esok.
Tujuannya sederhana tetapi penting: agar gawai dan arus informasi tidak mengendalikan kehidupan, melainkan digunakan secara sadar dan bertanggung jawab.

Para ibu diajak bertanya kepada diri sendiri: Apakah apa yang saya lakukan di dunia digital sesuai dengan kehidupan iman dan peran saya sebagai seorang ibu?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena menjadi ibu pada zaman ini bukan hanya tentang mendampingi anak di rumah, tetapi juga menemani mereka menghadapi dunia digital yang nyaris tidak memiliki batas.
“Kami Tidak Merasa Sendiri Lagi”
Pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah rekoleksi bukan hanya materi yang didengarkan.
Yang tinggal lebih lama adalah pengalaman diterima, didengarkan, dan dikuatkan.
Itulah yang dirasakan para ibu SANTIKA.
Lilis Suhendri, Ketua Komunitas SANTIKA, berharap perjumpaan tersebut semakin mempererat persaudaraan para anggota.
“Kita tetap merasa satu, susah senang bersama, saling menguatkan dan menemani perjalanan kita, sehingga kita tidak merasa sendiri dan susah menjalankan kehidupan kita setelah ditinggalkan oleh pasangan hidup.”
Kalimat itu mungkin menjadi inti dari seluruh perjalanan komunitas ini: tidak merasa sendiri.
Veronika Jinam merasakan hal serupa. Baginya, rekoleksi mempererat persaudaraan sekaligus membarui iman.
“Kami juga merasa dikuatkan dan supaya tetap tegar.”
Sementara Rosalia Theo Asa mengaku tersentuh oleh keteladanan Santa Monika yang tabah dan setia dalam iman serta pengharapan kepada Allah.
“Materi rekoleksi juga sangat mengena, bicara tentang hubungan ibu dan anak, menjadi Monika di era digital — sungguh meresap dalam kehidupan kami.”
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sharing kelompok, evaluasi bersama, kunjungan kepada Sakramen Mahakudus, Doa Kerahiman, dan Koronka.
Tegar Bukan Berarti Tidak Pernah Menangis
Ada satu hal yang mungkin dapat dipelajari dari para Sahabat Santa Monika: tegar bukan berarti tidak pernah menangis.
Tegar berarti tetap memilih berjalan meski pernah kehilangan.
Tetap berdoa meski jawaban belum datang.
Tetap mendampingi anak meski tidak selalu mudah.
Dan tetap membuka hati untuk menerima kekuatan dari orang lain.
SANTIKA ingin terus menghidupi semangat itu melalui moto mereka: “TEGAR – Doa Mengubah Segalanya.”
Di tengah masyarakat yang kadang menuntut seorang ibu untuk selalu kuat, komunitas ini justru menawarkan sesuatu yang sederhana: boleh lelah, tetapi jangan berjalan sendiri.

Sebab kesepian dapat menjadi berat ketika dipikul seorang diri. Tetapi ketika ada tangan yang menggenggam, telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, dan komunitas yang mau berjalan bersama, luka perlahan dapat menemukan ruang untuk disembuhkan.
Para Sahabat Santa Monika mungkin pernah kehilangan pasangan.
Tetapi mereka tidak kehilangan harapan.
Mereka memilih untuk tetap berjalan.
Bersama.




