Oleh: Ade Prastowo, prodi Bahasa Inggri, Semseter IV, Mahasiswa STKIP Pamane Talino
MajalahDUTA.Com,Pontianak-Di dunia modern seperti sekarang ini, Kita terkadang terlena dengan segala tawaran dan kesibukannya sehingga melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya sangat urgen (Penting dan mendesak).
Yang ada didalam pikiran kebanyakan orang yang hidup di era modern adalah kehidupan yang tanpa sedikit pun mengalami kekurangan, baik fasilitas dsb.
Tetapi apakah pernah terbayang dalam benak kita akan kehidupan sulit, yang ternyata hingga saat ini masih eksis di tengah masyarakat pedesaan khususnya di Kalimantan Barat?
Pertanyaan inilah yang akan saya jawab lewat cerita pengalaman saya bersama teman-teman IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) STKIP Pamane Talino ketika mengadakan BAKSOS di salah satu desa, yang dengan keadaan jalannya tidak seperti jalan kebanyakan, listrik, air dan signal internet.
Perkenalkan nama saya Ade Prastowo, salah seorang mahasiswa dari STKIP Pamane Talino ngabang. Saya berasal dari Pontianak dan sekarang menetap di Ngabang demi menuntut ilmu.
BACA JUGA : Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19
Kurang lebih 3 tahun ini saya hidup dan berdinamika di tempat itu. Oh ya, saya juga adalah salah seorang mahasiswa yang cukup aktif dalam organisasi, yang salah satunya adalah IMK (Ikatan Mahasiswa Katolik) STKIP Pamane Talino – Ngabang.
IMK adalah organisasi khusus yang menaungi mahasiswa yang beragama katolik dikampus STKIP Pamane talino. Dan dari IMK sendiri, banyak program kerja yang saya ikuti salah satunya adalah BAKSOS (Bakti Sosial).
BAKSOS tahun ini, kami realisasikan di salah satu dusun yang ada di Kecamatan Bengkayang, Kab. Bengkayang, yakni membangun gedung gereja. Alasan dari dibangunnya gedung gereja tersebut adalah karena melihat situasi bangunan awal yang sangat tidak layak dan sungguh memprihatinkan untuk bisa digunakan lagi.
Baksos Ikatan Mahasiswa Katolik STKIP Pamane Talino
Informasi atas keprihatinan ini kami peroleh dari Fr. Mikael Ardi, Pr., frater yang kebetulan bertugas di kampus kami.
Kebetulan pada akhir tahun 2020, di saat natal beliau melakukan tourney di sebuah daerah cukup terpencil, sebut saja dusun Selabih Atas, Desa Setia Budi, kec. Bengkayang, Kab. Bengkayang. Dari cerita beliau, kami pun berinisiatif dan terdorong untuk membantu.
Lalu akhirnya rencana itupun terwujud, di mana pada tanggal 4 Februari kami berangkat dari Ngabang menuju ke tempat tujuan.
BACA JUGA: Mgr Agustinus Agus, Sosok Ramah Yang Ku Kagumi
Kurang lebih 1 bulan kami mempersiapkan segala sesuatu dan melakukan pengalanggan dana untuk pembangunan gereja tersebut. Banyak tantangan dan cobaan yang kami temui, apalagi di saat masa pandemi ini.
Peserta yang mengikuti BAKSOS sebanyak 20 mahasiswa harus melakukan pemeriksaan Rapid Test Antigen terlebih dahulu, dan syukur kepada Allah kami semua dinyatakan negatif. Lalu akhirnya kami pun diperbolehkan mengikuti kegiatan BAKSOS Pembangunan Gereja.
Kegiatan ini dilaksanakan selama 10 hari ( 4 februari – 14 februari 2021) di dusun Selabih Atas, Desa Setia Budi, Kec. Bengkayang, Kab. Bengkayang.
Saya dan Fr. Mikael Ardi memulai perjalanan pada tanggal, 3 Februari 2021 tujuan kami melihat kondisi dan menghadiri sebuah acara gerejawi di Paroki Samalantan.
Dan pada pagi hari tanggal 4 Februari, kami pun mendapat kabar yang sungguh tidak mengenakan yaitu telah terjadi longsor sepanjang 50 meter di dusun Selabih Atas, tempat kami melakukan BAKSOS.
Saat itu peserta BAKSOS yang lain sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan dalam keadaan tidak tahu mengenai situasi yang terjadi. Mereka tiba di Bengkayang pukul 12.00 WIB dan pada saat itu kami masih di Samalantan.
Para peserta BAKSOS pun melanjutkan perjalanannya pukul14.00 WIB, berhubung akses jalan teputus oleh longsor dan banjir mereka pun melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, perjalan yang mereka tempuh berjarak kurang lebih 5 kilo meter, dan akhirnya para peserta sampai dusun selabih atas pada pukul 17.00 wib.
Saya bersama Fr. Mikael Ardi melanjutkan perjalanan dari Samalantan menuju Bengkayang dalam waktu 1 jam 30 menit dan sampai pukul 15.00 wib.
Setiba di Paroki Bengkayang, kami beristirahat sejenak sembari mempersiapkan barang – barang dan mengumpulkan informasi terlebih dahulu. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan ke dusun Selabih Atas pukul 18.00 wib dan sampai didesa setia budi pukul 19.00 wib.
BACA JUGA: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Terima Vaksin Covid-19
Setiba di desa, kami pun sedikit berbincang dengan kepala desa setia budi terkait situasi saat ini dan rencana BAKSOS yang akan kami lakukan.
Setelah itu, pukul 20.00 wib kami pun melanjutkan perjalanan menuju dusun selabih dengan berjalan kaki dan kami berdua sampai pada pukul 22.00 wib.
Saya bersama dengan seluruh peserta BAKSOS diberi kesempatan untuk tinggal selama 10 hari di rumah sederhana milik Pak RT dusun selabih Atas. Ia beserta istri sangat ramah kepada kami dan sangat mendukung kegiatan kami.
Beberapa kegiatan yang kami lakukan ketika berada si dana, di antarannya adalah semua peserta laki-laki membantu membersihkan serta mencangkul dan meratakan tahan untuk pondasi gereja dan sebagian lagi membantu mencari kayu dan mengangkut pasir.
Kegiatan ini kami lakukan selama 7 hari hingga benar-benar selesai, terutama mengumpulkan kayu dan pasir serta meratakan tanah untuk podasi gereja.
Lalu teman-teman mahasiswi menyiapkan makanan dan mendampingi anak- anak untuk belajar. Saya merasa sengang, oleh karena warga yang ada di sana sangat murah senyum dan tidak sombong.
Tidak jarang mereka juga mengajak kami bercerita atau berbagi pengalaman antara satu sama lain, terutama tentang kehidupan, pekerjaan, perjalanan, pekerjaan dll.
Sampai-sampai keluh-kesah mereka pun mereka ceritakan kepada kami, terutama keinginan besar mereka untuk bisa memiliki bangunan gereja.
Ketika tingal di disana, kami semua benar-benar hidup tanpa sinyal dan listrik, dan hanya mengunakan genset pada malam hari.
Sembari mendengarkan kebisingan genset, bersama Fr Ardi kami melakukan doa malam bersama dan melakukan evaluasi terutama tentang apa yang sudah kami kerjakan disetiap hari nya.
Doa dan Sikap yang Selalu Bersyukur
Karena doa dan sikap yang selalu bersyukur, kami pun bisa menjalani keseharian kami dengan baik, tanpa banyak mengeluh, dsb.
Lalu pada hari ke-10, hari terakhir kami berada di tempat ini, pada pagi hari nya kami melakukan ibadah terlebih dahulu yang dipimpin oleh Fr Ardi, dan kemudian dilanjutkan dengan sesi berfoto bersama warga dusun selabih atas.
Kami sudah mulai melihat kesedihan mereka saat mendengar kami peserta BAKSOS ingin pulang ke Ngabang. Anak-anak pun sudah ada yang menangis karena berat untuk melepaskan kepergian kami.
Pesan dan kesan dari saya, banya hal yang saya dapatkan di dusun Selabih Atas; kerjasama warga, kekompakkan, semangat anak-anak di sana , serta harapan warga yang sangat besar terhadap pemerintah daerah kabupaten Bengkayang, yakni mereka hanya ingin akses jalan mereka diperbaiki dan listrik bisa masuk didaerah mereka.
Semoga pemerintah daerah kabupaten Bengkayang lebih efektif membangun daerah nya terutama daerah- daerah terpencil yang akses nya kurang memadai serta listrik yang belum dapat merreka nikmati, semoga dengan adalah pembangunan gereja didusun selabih atas ini lebih membuat semangat kepada warga untuk beribadah serta peluang pembangunan akses jalan dan listrik bisa masuk ke dusun selabih atas
Selalu bersyukur dan perbanyak berdoa serta beribadah
Tuhan tidak pernah tidur, tuhan akan selalu menjawab doa umat nya lewat berbagai cara
Kali ini Tuhan mengutus kami serta para donatur membantu pembangunan gereja didusun selabih atas, semoga pembangunan nya cepat selesai dan dapat digunakan dengan semestinya
Dan juga semoga akses dapat diperbaiki dan listrik dapat masuk di dusun Selabih Atas.




