Sunday, April 26, 2026
More
    Home Blog Page 86

    Uskup Agustinus: Semoga TEMU INFO JPIC Indonesia Memberikan Kabar Baik Bagi Semua

    Foto Bersama Setelah Perayaan Ekaristi Pembukaan INFO JPIC – Komisi KOmunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Bertempat di Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Pontianak, Ekaristi Kudus Pembukaan INFO JPIC Indonesia 2023 di Pimpin langsung oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus diiringi tarian serta sebanyak 10 Imam yang turut mendampingi Uskup Agustinus dalam perarakan ekaristi hari Sabtu, 19 Agustus 2023, Pukul 18.00 WIB.

    Pertemuan INFO JPIC Indonesia dilaksanakan setiap tahun untuk membahas masalah-masalah sosial yang konkrit dan terkini, yang kiranya memerlukan perhatian khusus dari kita, para animator/koordinator JPIC dari semua tarekat Fransiskan yang ada di Indonesia.

    Pada tahun yang lalu telah diputuskan bahwa pertemuan pada tahun 2023 ini akan dilaksanakan di Pontianak, Kalimantan Barat. Maka setelah panitia inti di Pontianak mengadakan rapat internal dengan Dewan Pimpinan INFO JPIC Indonesia, bersama telah menyepakati sebuah tema yang berjudul: “Menanggulangi dan Mengatasi Perbudakan Manusia (Human Trafficking) di Era Modernitas”.

    Penegakan Keadilan dan Kedamaian Ala Fransiskan

    Bersamaan dengan itu Uskup Agustinus dalam sambutan pembukaan ekaristi kudus mengatakan bahwa sore ini memang misanya tidak biasa, karena ada tarian dan orang asing. Hari ini dibuka pertemuan INFO JPIC Indonesia (Keadilan dan perdamaian ala Fransiskan).

    Baca Juga: Pastor Pionius Hendi OFMCap: Selamat Datang Peserta INFO JPIC Indonesia, Inilah Bumi Kalimantan

    “Ini sekaligus pembukaan, saya sebagai Uskup Agung Pontianak, sangat bangga tempat ini digunakan. Banyak masalah ketidakdilan yang terjadi di sini. Salah satunya adalah perdagaangan manusia,” kata Uskup Agustinus.

    Uskup Agustinus juga berharap semoga kehadiran INFO JPIC Indonesia di Keuskupan Agung Pontianak dapat memberikan dampak baik untuk orang katolik maupun diluar katolik. Uskup Agustinus juga mengajak semua umat untuk mendoakan agar Temu INFO JPIC Indonesia yang diadakan di Keuskupan Agung Pontianak berjalan dengan lancar.

    Dalam sambutan awal misa itu, tidak lupa pula Uskup Agustinus melantunkan pantun bagi semua peserta yang turut hadir dalam perayaan Ekaristi Kudus seraya menyambut hangat seluruh peserta INFO JPIC Indonesia.

    Gereja itu Hadir Untuk Semua Orang

    Uskup Agustinus mengupas sedikit tentang bacaan yakni tentang tanah Kanaan. Dalam homilinya menegaskan bagaimana kesombongan menjatuhkan manusia. Sehubungan dengan para murid Yesus, semangat kesombongan rohani menjadi tantangan yang harus diwaspadai dan disadari.

    “Bagi saya pribadi, kita tidak boleh meremehkan apapun,” kata Uskup Agustinus.

    Kurang lebih 70-an peserta INFO JPIC Indonesia yang akan melaksanakan seminar tentang Human Trafficking, oleh karena itu bagi Uskup Agustinus kehadiran gereja adalah bagi banyak orang.

    “Yesus hadir bukan hanya untuk orang Yahudi, Jangan sombong! apapun posisi kita,” tegas Uskup Agustinus.

    Dia juga menambahkan gambaran tentang hadirnya peran Gereja untuk orang banyak bisa diumpamakan seperti Rumah Retret Santo Johanes Paulus Anjungan yang telah Uskup Agustinus bangun, ternyata justru banyak yang bukan dari kalangan katolik saja yang berkunjung di sana.

    Baca Juga: Harmoni Kemanusiaan dan Perjuangan Melawan Perbudakan Manusia: Sorotan Pertemuan INFO JPIC Indonesia

    Dalam hidup sehari-hari, tambah Uskup Agustinus “kita sering membanding-bandingkan hidup kita, seakan-akan kitalah yang paling baik.”

    Menutup homilinya Uskup Agustinus menyampaikan bahwa INFO JPIC Indonesia selama ini berperan “memberikan perhatian kepada orang yang susah” oleh karenanya, lanjut Uskup Agustinus “mari kita menjadi orang yang dicari orang, karena kita mengedepankan kepentingan orang lain, dan pasti Tuhan akan membantu.”

    Uskup Agustinus juga mengajak semua umat untuk belajar saling mendoakan, agar menjadi orang yang suci. Sebab baginya, semua umat akan bergulat dalam kenyataan, dan dalam kenyataan yang tak mudah itu, manusia pasti saling membutuhkan.

    “Karena itu, kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh orang lain,” tutup Uskup Agustinus.

    Penulis: Samuel/ Tim KOMSOS KAP

    Kasus Perdagangan Manusia dan Elemen Tindak Pidana: Romo Paschal Ungkap Kriteria Kategorisasi

    Foto: Romo Paschal saat menjadi animator untuk sesi utama -dalam tema Human Trafficking - INFO JPIC Indonesia (Baju Putih: Moderator: Romo Alfred OFMCap)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Senin, 21 Agustus 2023, Masuk hari ketiga, peserta hari itu spesial disuguhkan materi utama tentang perdagangan manusia. Kegiatan masih berlangsung di Wisma Immaculata Jl A.R Hakim nomor 104, Keuskupan Agung Pontianak.

    Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus atau yang sering dikenal dengan Romo Paschal, seorang Imam yang baru-baru ini dikenal dengan perjuangannya menolong dan membela hak-hak para korban perdagangan manusia di tempatnya melayani.

    Praktik perdagangan manusia menjadi perhatian khusus di zaman, diantaranya kebanyakan orang menganggap perbudakan merupakan sesuatu yang sudah lama ditinggalkan dengan kata lain menanggap dunia sudah terbebas dari era perbudakan.

    “Kebanyakan dari kita terlalu sibuk dengan urusan surgawi, yang dimana kita ketahui hal tersebut adalah pasti, namun  kita sering melupakan saudara saudara kita yang ada di dunia” ucap Romo Paschal.

    Romo Paschal juga menambahkan bahwa setiap manusia pengikut kristus harus kosongkan diri dan menjadi hamba yang terluka demi pemulihan untuk penyembuhan. Dia dengan tegas mengatakan semua umat Allah tidak boleh diam, oleh karenanya harus bergerak bersama Allah.

    Dia mengutib pesan Bapa Suci Paus Fransiskus yang pernah mengatakan “perdagangan orang adalah luka terbuka dalam masyarakat masa kini; luka terbuka dalam tubuh Kristus”

    “Luka terbuka inilah yang semestinya menjadi perhatian kita dalam beriman. Membuka mata melihat membuka telinga yang peka,” tambahnya.

    Eksploitasi anak dan dewasa

    Romo Paschal mengupas sebuah kasus dapat dikatakan sebagai Tindak Pidana Perdagangan Orang apabila terdapat tiga elemen utama yakni tindakan, ancaman, dan tujuan. Poin terpenting yang harus dimiliki oleh ketiga elemen tersebut ialah adanya bukti yang kongkret dan jelas.

    Diakhir sesi itu para peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi dan menilik beberapa kasus perdagangan manusia yang pernah terjadi di Indonesia.

    Romo Paschal juga menggarisbawahi ada beberapa trend perdagangan manusia mulai dari dalam negeri hingga luar negeri.  Eksploitasi anak dan dewasa, pengantin pesanan dan lain lain seolah sudah menjadi hal yang biasa.

    Bagi sebagian orang, agen penyalur TKI yang memiliki legalitas dianggap memiliki proses yang lebih rumit dari segi teknis maupun administrasinya. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para mafia perdagangan orang untuk membuka pintu dengan menawarkan kemudahan.

    “Fenomena ini juga didukung dengan target sasaran korban yang rentan secara ekonomi sehingga mudah untuk ditipu,” tambah Romo Paschal.

    Saksi mata tindakan kekejaman manusia

    Ditengah materi Romo Paschal, ada juga dua kesaksian  sahabat inspiratif dalam memperjuangkan hak kemanusiaan.

    Pertama, Suster Laurentina SDP alias Suster Kargo, menjadi panggilan unik yang diberikan kepadanya karena kiprah dalam membantu pemulangan imigran dari dalam dan luar negeri yang menjadi korban dari perdagangan manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Pengalamannya bersama rekan-rekannya menjemput jenazah korban di bagian kargo Bandara El Tari Kupang, dan mengurus administrasi bandara untuk membantu menghubungkan korban dan keluarga.

    Kesaksian itu adalah bentuk nyata perjuangan pengikut Kristus dalam membela dan membina para korban perdagangan manusia. Memang hal itu tidak selalu berjalan mulus, banyak tantangan  dihadapi seperti identitas yang tidak jelas, dokumen administrasi tidak lengkap bahkan ilegal, dan masih banyak lagi.

    “Saya pernah menerima korban hidup tanpa identitas yang sudah kurang lebih 14 tahun tidak bertemu dengan keluarganya, namun ketika ditanya asal dan alamatnya dia hanya menjawab di belakang rumahnya ada pohon asam,” kata Suster Laurentina SDP.

    Dia menambahkan bahwa potensi Human Trafficking terjadi di mana-mana terutama daerah yang secara ekonomi terbilang kurang mampu. Akibatnya saat diberikan sedikit iming-iming oleh para mafia tersebut disanalah perdagangan orang terjadi. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang itu tergiur dengan kesempatan bekerja di luar negeri.

    Kedua, Suster Kristina Fransiska CP, seorang Suster asli Kalimantan memulai perjuangannya  untuk membela korban-korban human trafficking sejak bertugas di Keuskupan Malang.

    Dia turut andil dalam program sosialisasi ke sekolah-sekolah. Suster Kristina melihat bahwa calo-calo  human trafficking menargetkan anak di sekolah. Menurut kesaksiannya banyak kasus yang ditemui adalah korban yang dijadikan sebagai ‘pengantin pesanan’ oleh calo dengan iming-iming memperoleh hidup yang lebih baik.

    Sekarang Suster Kristina Fransiska CP berada dalam Komisi pendidikan dan advokasi di KKPP KWI, dalam kesempatan itu juga dia siap membantu siapa saja yang ingin berkolaborasi dalam melawan praktik perdagangan manusia. (Panitia INFO JPIC). 

    Tali Persaudaraan yang Mengikat: Misi Fransiskan dalam Mengatasi Human Trafficking di Era Modern

    Foto: Pastor Pionius Hendi OFMCap - Tengah memberikan pengarahan (INFO JPIC Indonesia 2023)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Senin 21 Agustus 2023, Pastor Pionius Hendi OFMCap selaku ketua panitia INFO JPIC 2023 yang diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak, dalam wawancaranya bersama tim media JPIC Kalimantan Barat, pukul 20.10 WIB mengungkapkan pentingnya tema perlawanan kepada perbudakan manusia (human trafficking).

    Dia setuju dengan paparan materi Prof Dr William Chang OFMCap (sesi pertama) yang diberikan pada Minggu 20 Agustus 2023 kepada 20 tarekat fransiskan dan 1 bukan tarekat fransiskan dalam menggambarkan pentingnya peranan semangat fransiskan yang teraktualisasi bersama kenyataan yang pahit itu.

    Ditambah sesi hari ini (21/08) yang disampaikan oleh Romo Pascal, yang baru-baru ini hangat tentang isu perdagangan manusia. Bahkan pengalaman konkret yang disampaikan oleh Romo Pascal itu sebagai pandangan bahwa isu human trafficking betul-betul menjadi masalah yang serius.

    “Sebagai pengikut Santo Fransiskus Asissi, kita dihadapkan dengan kenyataan yang tidak gampang terselesaikan. Semangat Fransiskan harus melebur di tengah kenyataan untuk memberi garam dimana mereka berada,” kata Pastor Pionius Hendi OFMCap (21/08).

    Foto: Pastor Pionius Hendi OFMCap, Ketua Panitia INFO JPIC Indonesia 2023/ Sekaligus merupakan ketua JPIC Kalimantan Barat

    Lahan Pelayanan Nyata 

    Pertemuan INFO JPIC Indonesia yang dilaksanakan  setiap tahun yang membahas masalah-masalah sosial, konkrit dan terkini, menurut Pastor Pionius Hendi OFMCap memerlukan perhatian khusus para animator dan koordinator JPIC dari semua tarekat Fransiskan yang ada di Indonesia.

    Sebagai ketua panitia tahun 2023, Pastor Pionius Hendi OFMCap menetapkan bahwa di Kalimantan Barat perlu adanya penerangan informasi dan pertemuan yang membakar kembali spritualitas Fransiskan dalam menggaungkan tema  “Menanggulangi dan Mengatasi Perbudakan Manusia (Human Trafficking) di Era Modernitas”.

    Dia melihat  topik perbudakan manusia sedang  hangat  untuk dibicarakan. Pastor Pionius Hendi OFMCap juga menambahkan topik besar itu merupakan lahan pelayanan nyata  dengan berbagai tantangan,   namun di  dalamnya terbentang   luas  peluang untuk menyelamatkan  banyak jiwa.

    Pastor Pionius Hendi OFMCap menyebutkan setiap ordo dan tarekat tidak bisa berjalan sendiri terutama menuntaskan masalah human trafficking. Bahkan dia bersaksi tentang perbudakan manusia yang terjadi di Kalimantan Barat, baginya ini sangat menyayat hati.

    Dia menambahkan semangat Fransiskan adalah persaudaraan, diibaratkan seperti lidi, karena tarekat fransiskan terbilang banyak untuk itu haruslah saling mendukung dan membela. Pastor Pionius Hendi OFMCap berharap gaung ini bisa menjadi tenaga dan gerakan INFO JPIC bahkan untuk seluruh JPIC dalam tarekat masing-masing.

    Baginya semangat persaudaraan fransiskan itulah yang merajut kembali benang unik itu menjadi tali yang berjalan beriringan sembari menebarkan pesona kebaikan dan perdamaian.

    “Yang tadinya lidi, kini menjadi penyapu – untuk apa? Jelas untuk menyapu perbudakan manusia dengan cara fransiskan, karena misi kemanusiaan adalah misi yang tak putus,” tambah Pastor Pionius Hendi OFMCap sembari menutup wawancara singkat di Wisma Immaculata (21/08).

    Oleh: Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    Harmoni Kemanusiaan dan Perjuangan Melawan Perbudakan Manusia: Sorotan Pertemuan INFO JPIC Indonesia

    Foto: Dokumentasi Panitia INFO JPIC 2023 - Prof. Dr. William Chang OFMCap tengah memberikan sesi rekoleksi dan spritualitas Fransiskan

    MajalahDUTA.Com, Pontianak, Minggu 20 Agustus 2023 Pertemuan INFO (Inter Franciscans for JPIC) Indonesia di Wisma Immaculata Pontianak yang mulai dari tanggal 19 hingga 25 Agustus 2023 mengusung tema “Menanggulangi dan Mengatasi Perbudakan Manusia (Human Trafficking) di Era Modern.

    “Pertemuan ini diawali dengan Rekoleksi sehari yang dipandu oleh Prof. Dr. William Chang, OFMCap, yang juga anggota JPIC Ordo Kapusin Provinsi Pontianak pada minggu 20 Agustus 2023 yang memusatkan perhatian pada perwujudan damai dalam hidup sehari-hari.

    Dalam rekoleksi ini Prof. Dr. William Chang OFMCap menitikberatkan perhatian pada tema utama Manusia sebagai Citra atau Gambar Allah (Kej 1:26-27).

    Tema ini diusung karena acap kali manusia lupa bahwa dirinya adalah gambar atau ctira Sang Pencipta. Dalam diri setiap manusia terkandung kekudusan dan keluhuran (kemuliaan) ilahi. Dalam diri setiap manusia hadir Sang Ilahi.

    Manusia Sebagai Citra Allah

    Dalam rekoleksi sehari itu, Prof William Chang OFMCap menggambarkan bahwa kehadiran manusia sebagai citra atau gambar Allah mengandung tanggung jawab moral manusia untuk saling mengasihi, saling menghormati, dan saling bekerja sama. Setiap manusia memiliki nilai luhur dalam dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

    Akibatnya, setiap manusia seharusnya diperlakukan dengan sikap hormat dan kesantunan dalam hidup sehari-hari. Keluhuran martabat manusia, yang tampak dalam rasionalitas, peran hati nurani yang sehat, dan kapasitas yang tidak ditemukan dalam makhluk ciptaan lain.

    Berdasarkan pandangan ini, menurut Prof William Chang OFMCap, kecenderungan manusia untuk tidak menghargai atau menghormati orang sudah saatnya ditinggalkan. Sikap merendahkan atau melecehkan sesama bertentangan dengan sikap St. Fransiskus dari Asisi.

    “Sang Santo sangat menghargai dan menghormati setiap manusia sebagai citra atau gambar Allah karena Allah sendiri hadir dalam diri manusia,” kata Prof William Chang OFMCap.

    Sikap Gereja Katolik

    Prof William Chang OFMCap mengulik secara dalam peran Santo Fransiskus Assisi yang dipaparkan dalam Gita Sang Surya (1224). Dalam teks itu St. Fransiskus dari Assisi merangkum sebuah refleksi atas hidup rohaninya dengan membangun sebuah Persaudaraan Universal, yang mencakup seluruh anasir ciptaan.

    Menurut Prof William Chang OFMCap bahwa Santo Fransiskus Asissi menyapa setiap anasir ciptaan dan unsur dalam alam dengan sebutan Saudara atau Saudari.

    Dia menunjukkan bahwa Fransiskus dari Assisi sebegitu mencintai seluruh ciptaan Sang Pencipta. Setiap makhluk ciptaan memiliki Bapa, Sang Pencipta yang sama.

    “Bagaimanakah hubungan antara pandangan tentang manusia sebagai gambar atau citra Sang Pencipta dengan human trafficking di Indonesia. Sikap Gereja Katolik adalah jelas,” tegas Prof William Chang OFMCap.

    Keluhuran Martabat Manusia

    Selanjutnya, usai menerangkan teladan suci kemanusiaan dari cara hidup Santo Fransiskus Asissi, Prof William Chang OFMCap juga menerangkan tentang tindak human trafficking. Dia mengutip pernyataan Paus Fransiskus, bahwa human trafficking adalah tindak kriminal yang tidak bisa ditoleransi sedikit pun.

    Tindakan itu bertentangan dengan keluhuran martabat manusia. Nilai dasar kemanusiaan dilecehkan oleh ulah perbudakan dan perdagangan anak manusia. Langkah-langkah preventif perlu ditempuh untuk menghindari perdagangan anak manusia. Akar-akar masalah perdagangan ini musti digali dan dicabut sehingga tindak kriminal ini tidak berkepanjangan.

    “Ini berarti bahwa tindakan nyata dan jalan keluar yang nyata harus ditempuh sehingga perdagangan manusia dapat dicegahkan dan dihindari sedapat mungkin,” kata Prof William Chang OFMCap.

    Kesempatan itu pula Prof William menyebutkan beberapa langkah strategis untuk menghadapi dan memecahkan kasus human trafficking. Dia mengingatkan bahwa perlu disusun dengan baik dan diwujudkan dalam kegiatan hidup harian. Kerja sama dalam tubuh INFO JPIC Indonesia dengan pihak-pihak ketiga dalam bentuk jaringan laba-laba sangat penting.

    Sinergi keluarga besar Fransiskan  di Indonesia sangat diperlukan dalam menghadapi dan mengatasi kasus human trafficking.

    “Semoga pertemuan nasional ini dapat menelurkan sejumlah langkah konkret operasional untuk memecahkan kasus human trafficking ini,” kata Prof William Chang OFMCap sambil menutup rekoleksinya.

    Oleh: Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak  

    Eksplorasi Eksistensialisme: Menyelami Kerukunan Antar Umat Beragama Melalui Pandangan Søren Kierkegaard

    Oleh: Frater Ricky Setiawan Pabayo- Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com– Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan sesama untuk mewujudkan ketentraman dalam mencapai tujuan hidupnya. Namun, dalam mencapai ketentraman tersebut memerlukan sebuah aturan hidup atau norma agar dalam menjalani kehidupannya dapat berjalan dengan apa yang diinginkan.

    Oleh karena itu, agama merupakan salah satu nilai yang paling diutamakan dalam pencapai tersebut. Agama dapat membantu manusia untuk menjadi seorang yang mencerminkan kehidupan baik. Peranan penting dalam agama adalah salah satu pondasi dasar untuk manusia mewujudkan kehidupan seperti apa yang ingin mereka inginkan.

    Interaksi sosial yang baik dalam kehidupan manusia terwujud karena peranan ajaran agama, sebab ajaran yang diberikan merupakan salah satu wujud nyata untuk mewujudkan suatu perdamaian dan ketentraman hidup dalam mencintai sesama manusia. Dalam filsafat Søren Kierkegaard mengatakan bahwa manusia merupakan titik tolak dalam pencarian kebenaran.

    Pemikiran Søren Kierkegaard membantu manusia dapat memahami apa sebenarnya yang ingin diraih dalam kehidupan selama masih ada di dunia ini. Oleh karena itu, penting bagi manusia mengetahui bagaimana caranya manusia dapat memasuki panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam dan kritis dalam mengetahui konsep kemanusiaan untuk terciptanya sebuah kerukunan.

    Manusia Dalam Konsep Søren Kierkegaard

    Søren Kierkegaard dalam pemikirannya mengatakan bahwa manusia adalah pencarian dalam kebenaran. Kierkegaard mengartikan kebenaran adalah subyektifitas. Artinya kebenaran hanya dapat diperoleh melalui refleksi individu bukan sebaliknya.

    Refleksi manusia akan jatuh pada pemahaman tentang bagaimana. Bagaimana yang akan dikatakan dalam kehidupan sehingga Kierkegaard menyimpulkan bahwa kebenaran adalah ketidak-pastian obyektif yang dipeluk lewat proses aprosiasi.

    Eksistensi manusia bukanlah tentang “ada” statis, melainkan suatu “menjadi” yang artinya bahwa perpindahan dari yang mungkin menjadi nyata. Kehendak bebas yang dimiliki manusia membuatnya bebas untuk memilih. Pilihan kebebasan dimiliki oleh manusia membuatnya dapat memutuskan apa yang ingin menjadi keputusannya sehingga diyakini bahwa hal tersebut memiliki sumber tersendiri yaitu eksistensi manusia.

    Keputusan menjadi salah satu pilihan manusia untuk memilih namun tidak memaksanya untuk memilih atau melakukan sesuatu, melainkan itu semua ada pada dirinya pribadi. Sehingga, eksistensi dipahami sebagai perbuatan yang berani untuk mengambil keputusan yang bersifat menentukan kehidupannya.

    Manusia dikatakan sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial membutuhkan sebuah aturan untuk menjamin atau lebih tepatnya menjaga agar manusia tidak dapat bebas bertindak seperti, bertindak melakukan kekerasan atau melakukan hal-hal yang dapat membuat seseorang atau sesamanya menderita. Maka dari itu, dukungan dari aturan dan norma dibentuk untuk mengarahkan seseorang untuk mengontrol perbuatan yang dilakukan agar tidak dapat membuat seseorang menjadi menderita.

    Kierkegaard mengatakan bahwa keputusan itu ada pada dirinya pribadi, namun hal tersebut harus ada faktor pendukung untuk mengontrol kehidupan manusia saat ini. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas manusia untuk sadar akan hakekat eksistensinya.

    Menurut Kierkegaard ada tiga tahapan untuk menjadi manusia rohani yaitu estetik, etik dan religius. Tahapan estetik diyakini bahwa kejahatan dalam diri manusia disebabkan oleh rasa bosan sehingga hal tersebut diyakini menjadi akar.

    Eksistensi manusia dalam menghindari dari kejahatan adalah menjauhkan diri dari rasa bosan, apabila rasa bosan melanda hidup manusia maka kejahatan akan dengan mudah menghampiri manusia.

    Oleh karena itu, sangat diperlukan bagi manusia untuk mengisi kehidupannya agar tidak dikuasai oleh kebosanan. Menurut Kierkegaard sifat estetis ini tidak mempunyai ukuran moral yang telah ditetapkan dan tidak ada agama yang menentukan. Sehingga yang ada hanya sebuah keinginan untuk menjalankan kegiatan pengalaman tentang emosi dan membenci semua yang menghalanginya untuk memilih.

    Namun sifat estetis tersebut tidak akan bertahan lama karena hal tersebut akan mencapai sebuah batasan yang membuatnya harus memilih dalam menentukan apa yang diinginkan.

    Tahapan Etis atau tahapan yang mempunyai komitmen tegas untuk menghindari tahapan estetis. Tahapan etis juga disebut sebagai pertobatan. Oleh karena itu, tahapan ini mengarah kepada menjalani kehidupan dengan memegang nilai-nilai kemanusiaannya, sehingga tahapan ini membuat seseorang berani mengatakan tidak untuk perkembangan dunia yang saat ini sedang memasuki masa trend dan memilih untuk mendengarkan kata hatinya.

    Perpindahan tahapan yang dibuat oleh Kierkegaard dapat dipahami sebagai sebuah jalan hidup manusia yang mulai meninggalkan tentang hal-hal buruk dan mulai memasuki tahap yang berani menerima segalanya dengan landasan suara hati.

    Tahap religius adalah tahap yang melakukan kehendak Tuhan sebagai eksistensi personal. Tahapan religius diyakini sebagai tahapan yang dipercaya melalui Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia dan membawa suatu kedamaian dan kehidupan abadi untuk manusia.

    Hubungan antara hidup manusia dan Tuhan adalah sesuatu hal yang unik sehingga Kierkegaard mengatakan bahwa manusia merupakan individu atas dirinya sendiri, namun hal tersebut ternyata menyandang sebagai makhluk individu di hadapan Tuhan. Kebahagiaan yang ingin diraih oleh manusia, tercapai melalui kesengsaraan dan bukan karena usaha yang dilakukan secara langsung. Oleh karena itu, Allah menyatakan diri-Nya melalui kesadaran manusia dan keputusan tersebut ada pada Allah.

    Hakekat Agama

    Indonesia merupakan negara yang memiliki multi religius sehingga hal tersebut harus dilestarikan karena menjadi kekayaan bagi Bangsa Indonesia. Semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi landasan dasar untuk menjaga keutuhan NKRI, semboyan tersebut harus terus menerus dikembangkan demi terciptanya keamanan bagi masyarakat Indonesia dan tidak menjadi bumerang.

    Kehidupan di Indonesia yang diwarnai dengan berbagai macam kekayaan tersimpan sebuah keindahan termasuk tentang berbeda dengan keyakinan dan budaya menjadi salah satu faktor yang dapat menciptakan sebuah perpecahan. Oleh karena itu, pluralisme agama menjadi salah satu faktor realitas sosial yang ikut serta mendorong berbagai macam teori kehidupan bersama, seperti kerukunan, toleransi dan dialog agama.

    Kehidupan manusia terus berkembang dan ingin mencapai tujuan hidup, baik untuk dirinya sendiri atau kehidupan bersama. Namun hal tersebut masih menjadi misteri tentang kehidupan yang saat ini masih bergulat dengan perbedaan tentang agama.

    Agama dipercaya dapat membantu manusia untuk mengatasi tentang persoalan-persoalan yang saat ini masih dihadapi yaitu kesalahpahaman, namun peranan agama masih belum dapat dikatakan sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut dikarenakan adanya perbedaan sehingga membuat manusia terus berjuang untuk menemukan hakekat agama yang menjadi kepentingan bersama.

    Menurut Kierkegaard bahwa manusia dapat menemukan jati dirinya melalui agama karena dalam penghayatan hidup manusia menjadi sebuah permenungan dalam agama.

    Konsep yang ditawarkan Kierkegaard sangat relevan dengan masalah pluralisme yang ada di Indonesia karena cara penerapan keberagaman yang mengarah terhadap pemahaman tentang Tuhan. pemahaman yang diberikan Kierkegaard sangat sederhana namun membutuhkan sebuah refleksi yang mendalam untuk dapat memahaminya dengan sebaik mungkin tentang hakekat agama. Kierkegaard juga mengatakan bahwa hakekat agama dapat dipahami oleh seseorang yang memiliki pengetahuan tingkatan tertentu. Apabila hal tersebut tidak tercapai akan sangat sulit untuk memahami hakekat agama.

    Kierkegaard dalam pemikirannya tentang hakekat agama harus tepat untuk memahaminya dalam membangun kesadaran kacamata eksistensialisme karena agama adalah sebuah bentuk yang mengungkapkan kepribadian yang unik, perlu dihargai dan memberikan ruang gerak tersendiri pada hidup manusia.

    Agama dipahami sebagai pedoman tentang aturan atau tidak kacau, dengan memiliki agama diharapkan individu dapat hidup dengan baik dan tidak merugikan orang lain. Karena agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat sekarang.

    Manusia diharapkan dapat dengan benar untuk memahami tentang plurasisme agama karena plurarisme agama dapat membawa konflik apabila tidak dipahami dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, sangat diperlukan bagi manusia untuk tetap menjaga atau mempertahankan dengan sebaik mungkin tentang hakekat agama yang sudah dijelaskan menurut pemahaman Kierkegaard.

    Kerukunan Menciptakan Pengakuan Terhadap Agama Lain

    Plurarisme yang bisa dirasakan di Indonesia merupakan sebuah pembuktian bahwa agama lain bisa menjadi begitu eksis atau ingin menunjukkan jati dirinya terhadap agama lain sehingga perlulah rasa kesadaran untuk saling mengakui terhadap agama lain.

    Kerukunan dalam umat beragama menjadi keinginan setiap orang untuk mendapatkan rasa aman dalam peribadatan. Banyak kasus yang sudah terjadi di Indonesia karena perbedaan yang dapat membuat seseorang menjadi begitu rasis terhadap agama lain. Oleh karena itu, dialog menjadi sebuah jawaban yang diberikan untuk menciptakan atau menjalin kerjasama yang baik terhadap agama lain.

    Kerukunan dalam umat beragama menjadi sebuah kebutuhan saat ini. Karena agama menjadi pondasi dasar dalam membangun sebuah kerukunan. Suasana yang aman dan tentram dapat terjadi dikarenakan adanya rasa ingin menjaga terhadap satu sama lain. Bangsa Indonesia akan sangat kuat apabila setiap pemeluk agama dapat menjaga kerukunan terhadap sesamanya.

    Plurarisme ingin mengungkapkan bahwa setiap agama dapat memberikan pengakuan terhadap agama lain.

    Agama memiliki maknanya tersendiri sehingga setiap orang harus memahami tentang agama tersebut. Penganut agama lain harus bisa memiliki sikap untuk menghormati agama lain dan tidak diperbolehkan untuk ikut campur mengenai doktrin teologis penganut agama yang lain hal ini dapat menimbulkan pemahaman-pemahaman baru tentang makna teologis agama lain dan dapat menimbulkan sebuah kesalahpahaman tentang agama.

    Kebudayaan atau pemahaman tentang agama bukanlah menjadi sebuah permasalahan yang ingin diselidiki karena hal tersebut dapat menimbulkan sebuah kesalahpahaman, dendam dan permusuhan.

    Mengerti akan pemahaman tentang esensi ajaran agama lain sangat diperlulan dan sangat relevan untuk menciptakan sebuah kerukunan dalam persaudaraan berbeda agama. Oleh karena itu, plurarisme agama merupakan sikap tiap pemeluk agama dituntut bukan hanya untuk mengakui, melainkan terlibat dalam usaha untuk memahami agar tercapainya kerukunan dan kebhinekaan.

    Komunitas setiap agama memiliki dan dianjurkan untuk menerapkan rasa saling mengasihi terhadap sesama ciptaan dan mencintainya seperti dirinya sendiri. Dalam Agama Katolik dapat mengikuti ajaran dari Yesus Kristus yaitu kasih. Dalam Agama Islam melalui al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah mempunyai sifat Rahman dan Rahim yaitu kasih dan sayangnya sepanjang waktu, tanpa memandang siapa saja.

    Agama mengajarkan tentang kebaikan yang menjadi tujuan bersama dalam hidup manusia. Karena perbedaan tersebut adalah sebuah jalan dalam hidup manusia untuk memaknai tentang perbedaan.

    Perbedaan yang terjadi di setiap agama bukanlah sebagai pintu penghalang untuk saling membedakan melainkan sebagai keterbukaan hati untuk berani merangkul yang berbeda dengan sikap membuka tangan. Perbedaan terhadap penyembahan kepada Tuhan adalah sebuah hakekat tentang ritual atau sebagai penghormatan. Sementara itu terkandung pesan dasar yang sama yaitu mengenai tentang paham ketuhanan dan kemanusiaan yang masing-masing agama dapat melakukan dengan caranya sendiri.

    Agama seharusnya bisa menjadi alat sebagai pedoman untuk menyatukan dan memelihara perdamaian. Namun hal tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, seringkali agama menjadi sebuah hal yang menakutkan bagi segelintir orang.

    Tindakan untuk menguasai atau mendoktrin bahwa agama tertentu sebagai agama yang benar menjadi tolak ukur dalam memberikan penilaian terhadap agama lainnya bahkan hal tersebut menjadi faktor pemecah terhadap suatu negara. Konflik atau perpecahan yang terjadi diakibatkan oleh pengetahuan tentang pemahaman agama yang dangkal sehingga hal tersebut menjadi sebuah kekeringan spiritualitas.

    Pemimpin atau penganut agama diharapkan mampu bertindak secara bijaksana dalam memahami tentang perbedaan yang terjadi dan dengan benar untuk menemukan ajaran tentang agama yang berkaitan dengan kemanusian yang bersifat universal.

    Apabila hal tersebut dapat dilakukan dengan sebaik mungkin maka melahirkan sebuah manusia yang dapat membangun kerukunan dan komunikasi yang baik dalam segala aspek kemanusiaan. Oleh karena itu, manusia dapat merefleksikan dengan sebuah pertanyaan. Apakah sebagai manusia kita dapat saling mempercayai serta bersikap loyal terhadap sesama untuk mempertahankan kemanusiaan dalam diri orang lain.

    Totalitas Membangun Kebersamaan di Indonesia

    Kierkegaard dalam menjelaskan tentang hakekat agama merupakan sebuah pendekatan yang subjektif, sehingga pemikiran yang diberikan merupakan sumbangan yang cukup berarti dalam hidup manusia untuk menterjemahkan kehidupan eksistensial seperti apa yang ingin dibangun untuk menciptakan rasa kebersamaan di dalam sebuah kemajemukkan.

    Pemikiran yang diberikan menjadikan setiap individu mampu untuk mengontrol diri mereka masing-masing untuk tidak terjerumus kedalam hal-hal yang dapat merugikan sesama. Oleh karena itu, sumbangan yang diberikan Kierkegaard diharapkan mampu membawa manusia untuk lebih merfleksikan kembali tentang hakekat agama dan eksistensial manusia untuk mencapai sebuah kebahagiaan.

    Indonesia merupakan masyarakat yang pluralis sehingga tidak jarang terjadi perdebatan yang hebat mengenai hal tersebut. Namun dengan adanya pemikiran dari Kierkegaard mampu membawa manusia lebih mendalami tentang intelektual yang lebih tinggi agar perdebatan yang terjadi mampu membawa jalan keluar yang ingin dituju bersama yaitu kebersamaan. Konsep pluralisme yang dikatakan oleh Kierkegaard apabila tidak di tempatkan pada suatu hal tentang kebenaran, maka konsep itu akan membuat manusia sulit menemui makna kebersamaan dalam hidup beragama yang berbeda.

    Tuntutan yang terjadi di Indonesia dalam hal konteks kehidupan perbedaan mengenai ras, suku, agama dan kebudayaan diikat menjadi satu melalui Bhineka Tunggal Ika. Setiap perbedaan membawa kepada kesatuan. Kesatuan yang diinginkan adalah hidup bersama dengan perbedaan. Setiap agama selalu membahas tentang memaknai hidup seseorang sebagai realitas yang harus dijaga. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, maka hal yang tidak diinginkan dapat terjadi.

    Totalitas dalam membangun kebersamaan merupakan totalitas yang benar dan secara total atau tidak setengah-setengah. Karena totalitas membutuhkan kerja keras yang maksimal agar hal tersebut dapat terjadi dengan sebaik mungkin.

    Pentingnya bagi para pemuluk agama untuk berani lebih total dalam membangun itu semua, apabila dilakukan dengan setengah hati maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Maka dari itu, pentingnya manusia mengenal eksistensial hidupnya untuk mencari sebuah kebenaran dalam kehidupan yang plural tersebut dan diselingi dengan ajaran agama yang mengambil peran penting untuk menciptakan sebuah perdamaian dan ketentraman agar sebuah masyarakat dapat hidup harmonis dan mengurangi angka kejahatan di Indonesia.

    Kehidupan yang serba berbeda pasti tidak dapat dipungkiri akan terjadi sebuah pergolakan antara satu dengan yang lain, namun apabila kita mampu merefleksikan itu dengan sebaik mungkin bahwasannya setiap manusia pasti saling membutuhkan untuk memenuhi kehidupan bersama. Maka dari itu setiap individu berani melihat kebenaran yang ada dalam agama lain, dan berani memperkecil setiap pergolakan yang terjadi serta berani menonjolkan sikap berani membangun kebersamaan dengan orang lain.

    Pemaparan tentang semua dalam artikel ini semuanya dapat terjadi apabila setiap orang berani untuk memegang teguh akan perdamaian dan toleransi terhadap satu sama lain. hakekat agama dapat menjadi sebuah pilar dalam membangun hal tersebut dengan sebaik mungkin.

    Namun hal tersebut tidak akan terjadi apabila tidak dilakukan dengan segenap hari dan niat yang baik dan tokoh-tokoh agama saling bahu-membahu untuk memperkuat ikatan dengan agama lain dan mendukung semua kegiatan yang dapat menciptakan keharmonisan dalam perbedaan yang indah. Maka perasaan waspada perlu ditingkatkan agar tidak terjadi provokasi dan hasutan dari pihak yang meingginkan sebuah perpecahan.

    Eksistensialisme Manusia Menciptakan Kerukunan

    Pemaparan tentang Eksistensi Manusia hidup adalah menjadi nyata atau berani bertindak untuk mengambil keputusan seperti yang sudah dijelaskan pada halaman di atas, karena ada kehendak bebas yang membuat manusia menjadi bebas untuk memilih sehingga Kierkegaard mengatakan bahwa keputusan yang diambil merupakan sebuah hasil refleksi dalam hidup manusia. Jadi, apabila manusia tidak merefleksikan itu semua maka keputusan yang diambil akan menjadi sebuah kerugian untuk masyarakat di sekitarnya.

    Menciptakan sebuah kerukunan dengan identitas plurarisme merupakan sebuah hal yang sulit alasannya, karena tidak semua orang dapat mengerti dengan apa yang dimaksud dengan sebuah kerukunan, segelintir orang hanya memahami kerukunan ada di agama mereka sendiri. Kierkegaard sudah menjelaskan tentang hakekat agama yang dapat membantu manusia menjadi yang lebih baik tapi alasan tersebut tidak begitu menyentil manusia untuk memahaminya dengan baik. menjadi baik justru membuat tembok pemisah antara yang satu dengan yang lain karena berbeda dengan pemahaman.

    Dalam menciptakan sebuah kerukunan perlu kerjasama yang baik antar agama. Pentingnya peranan tokoh juga sangat dibutuhkan karena para tokoh agama diyakini sebagai orang yang benar-benar memahami tentang agama. Namun, apabila para tokoh agama yang dipercaya lebih menyarankan untuk menyebarkan sesuatu yang berbau ingin memecahkan.

    Oleh karena itu, pentingnya manusia untuk mengenali eksistensi yang dijelaskan oleh Kierkegaard yaitu merefleksikan suatu kebenaran melalui Tuhan, namun itu semua membutuhkan proses tinggal kehendak bebas manusia untuk memilihnya kembali ke jalan kebenaran melalui refleksi tersebut.

    Tingkatan intelektual yang diberikan Tuhan kepada manusia menjadi suatu bantuan untuk merefleksikan jalan kebenaran yang diemban oleh agama masing-masing. Banyak cara untuk menemukan sebuah kerukunan dimasyarakat yang pluraris, salah satu contoh melakukan kerja sama atau kegiatan yang dapat mempererat hubungan antar agama.

    Kegiatan yang dilakukan harus direncanakan dengan sebaik mungkin. Sebagai contoh nyata adalah Kenduri. Kenduri merupakan salah satu kegiatan yang mengundang agama lain untuk melakukan diskusi atau menjalin relasi sebaik mungkin untuk kegiatan ramah tamah atau permohonan besar kepada Tuhan atas kegiatan yang ingin dilakukan.

    Tata cara pelaksanaan yang dilakukan Kenduri adalah sebuah nilai yang sangat baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu melakukan diskusi bersama dan ruang dialog yang dilakukan terhadap perwakilan agama-agama yang hadir terhadap sebuah permasalahan dan saling memperkuat ikatan tali persaudaraan.

    Tidak hanya kenduri, ada juga FKUB yang menjadi forum dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. FKUB sering dilakukan untuk memperluas pengetahuan bagi mereka yang mengikuti dengan cara berdialog. FKUB memiliki peranan penting dalam menjaga kerukunan dengan memperdayakan umat beragama dalam pelayanan kemasyarakatan.

    Hidup yang Tentram Aman dan Nyaman.

    Manusia dapat hidup tentram aman dan nyaman dikarenakan adanya sebuah keharmonisan dalam suatu negara. Maka dari itu demi menjaga perasaan tersebut, setiap manusia berani memberikan diri untuk menciptakan rasa damai di dalam ruang lingkup kecil. Apabila hal tersebut berhasil, maka bisa dilakukan ke dalam ruang lingkup yang lebih besar. Hal ini dilakukan demi menjaga keutuhan dalam masyarakat plural.

    Apabila dalam ruang lingkup kecil manusia tidak bisa menjaga rasa perdamaian, bagaimana bisa perdamaian dapat dilakukan pada ruang lingkup yang lebih besar. Perselisihan yang terjadi ada ruang lingkup kecil diharapkan dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin agar setiap persoalan yang dapat memancing suatu permusuhan dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin.

    Tantangan manusia saat ini adalah bagaimana menjaga kedaulatan NKRI yang memasuki zaman millennial ini banyak unsur dari sosial media yang selalu menyebarkan hal-hal untuk memicu sebuah permasalahan atau banyak orang terprovokasi dengan berita Hoax. Penulis ingin memberikan sebuah solusi dengan sebaik mungkin mengenali Eksistensialisme Kierkegaard. Apabila dapat dipahami dengan sebaik mungkin maka hal-hal yang berbau tentang Hoax dapat ditangkal dengan sebaik mungkin. Atau lebih berani dengan menyuarakan hal-hal kebenaran yang membawa pada suatu kerukunan.

    Pemikiran Kierkegaard tentang agama apabila tidak dipahami dengan sebaik mungkin akan menjerumuskan manusia pada konsep pietisme yang dalam sejarah pernah diperangi oleh Gereja Katolik. Perkembangan dunia yang saat ini menyentuh kata modern membuat pengaruh globalisasi yang besar. Sehingga memunculkan sebuah penemuan baru dalam teknologi yang dapat merubah kehidupan masyarakat saat ini.

    Fenomena yang terjadi ternyata membuat pengertian eksistensialisme Kierkegaard menjadi pudar karena menjadi pisau bermata dua yang dapat menyerang dirinya sendiri. Kecenderungan agama menjadi sebuah konsekuensi yang diterima sebagai kecenderungan umum. Kecenderungan masyarakat mempertanyakan tentang kepentingan agama dalam suatu kepentingan umum.

    Pergulatan agama menjadi sebuah permasalahan yang saat ini belum sepenuhnya dapat teratasi sikap ego dari manusia yang tidak mau merubah pola pikirnya untuk berani menerima agama lain sebagai satu saudara menjadi sebuah tantangan saat ini. Pentingnya peran orang muda untuk berani menyuarakan diri sebagai seseorang yang dapat menciptakan sebuah kerukunan adalah hal yang sulit karena banyak sekali organisasi-organisasi agama yang saat ini sudah banyak dikurang minati oleh anak muda. Oleh karena itu diperlukan kembali untuk membangun organisasi-organisasi yang berbau agama untuk berani menyuarakan tentang perdamaian.

    Rasa aman tentram dan nyaman akan tercipta apabila setiap manusia mampu bekerja sama dengan sebaik mungkin dan menaruh perhatian pada kebaikan bersama. Maka dari itu semuanya tidak akan terlaksana dengan baik apabila manusia enggan untuk melalukan hal tersebut. Diharapkan pemikiran dari Kierkegaard dapat membantu manusia kembali memahami tentang eksistensial kehidupan mereka dengan sebaik mungkin.

    Walaupun banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut sudah tidak relevan untuk dilakukan, namun penulis percaya bahwa hal tersebut mampu membuat manusia memahami kembali dirinya sendiri melalui refleksi yang lebih mendalam dengan mengandalkan kemampuan yang Tuhan berikan kepada dirinya sendiri.

    Simpulan

    Kebebasan manusia untuk memilih adalah aspek penting dalam eksistensi manusia, memungkinkan mereka menentukan keputusan dan mengikuti panggilan hati. Tahapan perkembangan menurut Kierkegaard mengarahkan individu untuk hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan dan mengikuti suara hati, termasuk tahapan religius yang melibatkan hubungan unik antara manusia dan Tuhan. Agama dapat membantu mengatasi kesalahpahaman, namun perbedaan dan ketidaksepahaman tetap mungkin terjadi.

    Pluralisme agama penting untuk diakui dan dihormati, memperkuat ikatan kerukunan antaragama. Pemimpin agama dan penganut agama perlu bertindak bijaksana, memahami perbedaan, dan mencari ajaran agama yang bersifat universal dan berhubungan dengan kemanusiaan.

    Dalam kehidupan yang plural dan berbeda, pemahaman eksistensial yang baik diperlukan untuk mencapai kerukunan dan perdamaian. Dialog, diskusi, dan pertemuan antaragama penting dalam menciptakan kerukunan dan persaudaraan, serta menyelesaikan konflik dengan cara yang baik. Peran orang muda juga penting dalam memperjuangkan kerukunan, meskipun ada tantangan yang dihadapi. Secara keseluruhan, pemahaman tentang eksistensi dan kerukunan agama menjadi kunci dalam menciptakan perdamaian dan harmoni di masyarakat yang plural dan berbeda.

    Daftar Pustaka

    Bernard, Delfgaauw. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.

    Fitriana, Dina. “Eksistensi Keberagaman; Studi Terhadap Pemikiran Eksistensialisme Soren Kierkegaard,” n.d.

    Fletcher, Ricahrd. Relasi Damai Islam & Kristen. Edited by Syaiful Hakim. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2009.

    Hadwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: PT KANISIUS, 1992.

    Hanik, Umi. “Volume 26 Nomor 2 September 2015 341.” IAIT Kediri 26, no. 2 (2015): 341–61.

    Haryati, Tri Astutik. “MANUSIA DALAM PERSPEKTIF SØREN KIERKEGAARD DAN MUHAMMAD IQBAL.” Stain Pekalongan 9, no. 1 (2012): 88–113.

    Kamaluddin, Kamaluddin. “Konsep Agama-Agama Dalam Membina Kerukunan Antar Umat Beragama.” Studia Sosia Religia 3, no. 2 (2021): 1–15. https://doi.org/10.51900/ssr.v3i2.8875.

    Kenneth, Curtis A. Lang J Stephen. Petersen. Randi Rajendran. 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen. jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

    Kewuel, Hipolitus Kristoforus. “Pemikiran Soren Kierkegaard Tentang Hakekat Agama: Kontribusinya Bagi Dialog Dan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Di Indonesia” 3, no. September (2012): 1–47.

    Maulidia, Hanifa. “RELASI AGAMA DAN MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM DAN KARL MARX Hanifa Maulidia A . Pendahuluan Agama Adalah Sesuatu Hal Yang Sangat Penting Dalam Sebuah Masyarakat . Dalam Beberapa Sumber , ‘ Agama ’ Diberi Arti Tidak Kacau Atau Teratur . Denga.” Jurnal Sosiologi USK 13, no. 2 (2019): 183–200.

    Sakirin, Ahmad. “Mengenal Pluralisme Disintegratif Menuju Pluralisme Integratif Masyarakat Beda Agama Di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri.” Ibriez : Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains 3, no. 2 (2018): 179–98. https://doi.org/10.21154/ibriez.v3i2.56.

    Setiyawan, Yudik. “Kerukunan Dalam Perspektif Agama-Agama Di Indonesia” 08, no. 02 (2017): 1–14.

    Valentino, Thimotius. “Hakekat Agama Saling Toleransi (Soren Kierkegaard),” 2021. https://www.ptonline.com/articles/how-to-get-better-mfi-results.

    Yogiswari, Krisna Sukma. “Agama Di Mata Kaum Muda: Tinjauan Subjektivisme Søren A. Kierkegaard.” Genta Hredaya 3, no. 1 (2019): 28–36.

    Membangun Indonesia Emas: Uskup Agustinus Ceritakan Jejak Gereja Katolik di Kalimantan Barat

    Dialog Kebangsaan Menuju Indonesia Emas, Uskup Agustinus Ceritakan Peran Gereja Katolik di Kalimantan Barat

    MajalahDUTA.Com, Singkawang, Minggu 20 Agustus 2023 – Dalam rangka Konferensi Sinodal Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) yang berfokus pada Gereja Masyarakat dan Agama-agama (GERMASA) serta Lingkungan Hidup, acara Dialog Kebangsaan ‘Menuju Indonesia Emas’ menjadi salah satu sorotan utama. Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, hadir sebagai narasumber dan memberikan wawasan berharga terkait peran Gereja Katolik di Kalimantan Barat.

    Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) mengumumkan rencana penyelenggaraan Konferensi Sinodal yang berfokus pada Gereja Masyarakat dan Agama-agama (GERMASA) serta Lingkungan Hidup. Konferensi ini akan diadakan dari tanggal 20 hingga 23 Agustus 2023 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dengan tujuan memperkuat semangat bersama dalam mengimplementasikan Panggilan dan Pengutusan Gereja dalam konteks misi Allah untuk menyelamatkan dunia.

    Konferensi Sinodal GPIB ‘Menuju Indonesia Emas’ tampil dengan gemilang dengan kehadiran narasumber-narasumber terkemuka. Mengacu pada Program Sinodal tahun 2023-2034, Bidang GERMASA dan Lingkungan Hidup GPIB akan menyelenggarakan Konferensi Sinodal GERMASA yang merupakan yang ketiga kalinya diadakan. Konferensi ini merupakan wadah bagi gereja untuk berkolaborasi, berdiskusi, dan menyusun strategi dalam menghadapi isu-isu yang relevan dengan keesaan gereja, lintas iman, sosial kemasyarakatan, dan lingkungan hidup.

    Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, dipercayakan menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan “Menuju Indonesia Emas” yang akan digelar dalam rangka Konferensi Sinodal GERMASA GPIB. Dialog Kebangsaan ini dijadwalkan pada hari Minggu, 20 Agustus 2023, di Vihara Tri Dharma Bumi Raya Sui Kheu Thai Kung Singkawang, Kalimantan Barat. Dialog tersebut bertujuan untuk membahas pemikiran dalam berbagai perspektif, termasuk sosial, politik, ekonomi, dan teologi, guna membantu gereja bersiap menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

    Acara itu juga diramaikan oleh sejumlah tokoh berpengaruh, di antaranya mantan Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, Laksamana Madya TNI Purn Robert Mangindaan dari Lembaga Pertahanan Nasional RI, serta Pdt Prof. John Titaley dan Pdt Sylvana Apituley, yang akan memberikan wawasan dan perspektif berharga dalam menjawab tantangan masa depan gereja dan masyarakat.

    Dalam paparannya, Uskup Agustinus memaparkan bagaimana sejarah peran Gereja Katolik di Kalimantan Barat, yang dimulai pada permulaan abad ke-19. Gereja katolik, menurut Uskup Agustinus tidak hanya memusatkan perhatian pada kehidupan rohani, tetapi juga terlibat dalam membangun infrastruktur pendidikan dengan mendirikan sekolah Nyarumkop pada tahun 1916. Upaya ini diteruskan dengan mendirikan rumah sakit dan mengenalkan bibit karet unggul ke Sejiram, yang mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah.

    “Gereja katolik bermisi di Kalimantan Barat ada tiga hal pokok yang dilakukan diantaranya membangun  pendidikan supaya masyarakat pintar, membangun rumah sakit supaya masyarakat sehat dan melatih pemberdayaan ekonomi supaya ekonomi berjalan,” kata Uskup Agustinus.

    Uskup Agustinus diberikan piagam penghargaan menjadi Narasumber di Sinode Majelis GPIB – Singkawang 20 Agustus 2023

    Menjadi 100% Katolik- 100% Indonesia

    Salah satu nilai penting yang ditekankan oleh Uskup Agustinus adalah prinsip inklusivitas Gereja Katolik. Beliau mengutip kata-kata Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, “100 % Katolik 100 % Indonesia,” yang mencerminkan semangat gereja dalam tidak membeda-bedakan suku, agama, dan golongan dalam pelayanannya. Dalam konteks ini, Uskup Agustinus merujuk pada ajaran Yesus dalam Matius 25:40, bahwa segala sesuatu yang dilakukan untuk saudara yang paling hina adalah seperti dilakukan untuk Tuhan sendiri. (Mt.25,40- “Sesungguhnya  segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku  yang paling hina ini, kamu telah melakukannya utk Aku”).

    Menyambut ajaran itu, Uskup Agustinus mengingatkan peran umat GPIB dalam memperhatikan dan merespons kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Pandangan itu tercermin dalam Gaudium et Spes dari Paus Paulus VI, yang menyatakan bahwa kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan manusia dewasa ini adalah bagian dari perhatian Kristus dan murid-muridnya. Dalam hal ini, Paus Fransiskus juga menyebutkan dalam Evangeli Gaudium bahwa umat Kristiani, termasuk para imam katolik dan semua pendeta GPIB, memiliki tanggung jawab membangun dunia yang lebih baik.

    Uskup Agustinus juga mengingatkan tentang dokumen Nostra Aetate dari tahun 1965, yang menyatakan bahwa Gereja Katolik mengakui nilai-nilai benar dan suci dalam agama-agama non-Kristen. Beliau menekankan pentingnya menolak diskriminasi dan penindasan atas dasar ras, warna kulit, status, atau agama, sejalan dengan semangat Kristus.

    Dalam Dialog Kebangsaan hari itu, Uskup Agustinus  memberikan wawasan mendalam tentang Gereja Katolik yang telah terlibat dalam membangun Kalimantan Barat serta berkontribusi pada semangat inklusivitas, kepedulian sosial, dan harmoni antaragama. Konferensi Sinodal GPIB semakin menjadi panggung penting bagi pemikiran dan aksi kolektif dalam mewujudkan Indonesia Emas melalui peran gereja dan masyarakat.

    Tiga pokok integritas pemimpin

    Menjelang penutup acara, beberapa majelis bertanya tentang pilihan siapa yang paling baik untuk menjadi pemimpin di Indonesia tahun 2024 sebab menurut salah satu peserta itu dikatakan bahwa mulai saat ini jelas sudah masuk tahun politik.

    Mula-mula Uskup Agustinus menegaskan untuk memilih pemimpin tidak boleh dengan paksaan. Baginya memilih pemimpin harus didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang beradab. Menanggapi hal itu, Uskup Agustinus menekankan tiga pokok integritas memilih seorang pemimpin. Pertama, pemimpin yang takut akan Tuhan. Setiap pemimpin yang takut akan Tuhan bisa dipastikan kehidupannya secara moral baik.

    Kedua, pemimpin yang mengedepankan kepentingan banyak orang. Bukan untuk keuntungan diri tapi mampu melihat dan memperhatikan orang-orang kecil. Kemudian yang ketiga, pemimpin yang mau melayani semua kalangan.

    “Untuk itu janganlah memilih pemimpin yang hanya mau menjadi ‘pejabat’,” kata Uskup Agustinus sembari  menutup sesinya.

    Oleh: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    Pastor Pionius Hendi OFMCap: Selamat Datang Peserta INFO JPIC Indonesia, Inilah Bumi Kalimantan

    Foto Bersama Usai Penyambutan/Sumber foto: Panitia INFO JPIC Indonesia 2023 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Penyambutan kepada seluruh peserta INFO JPIC Indonesia berlangsung meriah pada Sabtu, 19 Agustus 2023. Penyambutan dilakukan dengan tarian penyambutan khas tarian Dayak kemudian dilanjutkan dengan tarian nusantara.

    Ketua INFO JPIC Indonesia, Pastor Yansianus Fridus Derong, OFM diberi mandat untuk memotong bambu sebagai tanda pintu masuk dan datangnya seluruh anggota INFO JPIC Indonesia di Keuskupan Agung Pontianak.

    Sambutan itu didahului dengan doa syukur atas keselamatan peserta dan sambutan khas gaya Kalimantan oleh salah satu perwakilan Bruder MTB.

    Inilah Bumi Kalimantan

    Usai tarian penyambutan itu kegiatan dilanjutkan dengan sambutan yang pertama dimulai oleh Ketua Panitia, Pastor Pionius Hendi OFMCap. Dalam sambutannya Pastor Pionius Hendi OFMCap menyampaikan salam khas kalimantan “Adil ka Talino, Bacuramin ka Saruga, Basengat ka Jubata – Arus, Arus, Arus”.

    Dia menjelaskan makna dari pengertian Adil ka Talino artinya adil kepada sesama manusia. Kemudian dia menambahkan arti dari Bacuramin ka Saruga artinya meneladani jalan kasih Tuhan, dan terakhir Basengat ka Jubata artinya hanya Tuhanlah sumber keselamatan.

    Baca Juga: Ketua JPIC Kalimantan Memberikan Semangat dalam Persiapan Temu INFO JPIC Indonesia

    “Inilah bumi kalimantan, selamat datang kepada kita semua,” kata Pastor Pionius Hendi OFMCap sembari membuka sambutannya tersebut.

    Dia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, pertama-tama ketua INFO JPIC Indonesia Pastor Yansianus Fridus Derong, OFM yang sudah mendukung pelaksanaan pertemuan INFO JPIC Indonesia 2023 di Keuskupan Agung Pontianak.

    Dalam sambutan sore itu, Pastor Pionius Hendi OFMCap juga mengucapkan terima kasih kepada semua elemen panitia yang menyiapkan kelengkapan kegiatan selama persiapan sampai hari H.

    “Bagaimana kita menggemakan human trafficking di Kalimantan Barat, itulah sebabnya kami minta untuk Uskup Agung Pontianak yang memimpin pembukaan misa disini,” tutur Pastor Pio.

    Dia berharap gaung ini terdengar sampai provinsi, bahkan sampai elemen masyarakat yang ada di masyarakat Kalimantan Barat.

    “Kita berusaha memberikan yang terbaik, dari penyambutan hingga kegiatan, mari kita gaungkan tema human trafficking, agar kita yang tahu, yang mau belajar dan akhirnya umat tahu agar bisa berkolaborasi bersama semua orang. Terima kasih kepada kita semua,” tambah Pastor Pionius Hendi OFMCap dalam menutup sambutannya (19/08/2023).

    Kehadiran gereja

    Ketua INFO JPIC Indonesia Pastor Yansianus Fridus Derong, OFM dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh panitia yang sudah bekerja keras dalam merajut kegiatan yang penuh warna itu.

    Ditambah kehadiran Bapa Uskup Agung Pontianak merupakan bentuk keibuan Gereja dalam memperhatikan gerakan Fransiskan dalam menggaungkan tema human trafficking yang diselenggarakan oleh INFO JPIC Indonesia pada tahun 2023 ini.

    Dia juga berterima kasih kepada semua peserta dan panitia yang luar biasa dalam memberikan semangat sehingga berkesempatan turut hadir dalam INFO JPIC Indonesia 2023 di Keuskupan Agung Pontianak.

    “Dianeka ragam kesibukannya bisa hadir dalam kegiatan ini,” kata Pastor Yansianus OFM.

    Menutup sambutanya, Pastor Yansianus Fridus Derong OFM menyampaikan secuplik pesan Bapa Paus Fransiskus “bahwa Tuhan tidak memanggil kita menjadi penyanyi solo, Tuhan memanggil kita untuk menjadi paduan suara.”

    Baca Juga: JPIC (Justice Peace And Integrity Of Creation)

    “Kasih Kristus menuntut kita untuk menyingkirkan diri dari keegoisan, dan memanggil kita untuk menerima dan saling menjaga satu sama lain, bagaikan benang-benang aneka warna agar membentuk permadani untuk persatuan para putra dan putri-Nya,”tambah Pastor Yan OFM.

    Harapan besar Ketua INFO JPIC Indonesia

    Ditambahkannya dalam penutupan sambutannya Pastor Yan OFM memiliki harapan besar kepada semua peserta.

    Pertama untuk para korban perdagangan manusia, diarapkan semua anggota Fransiskan/nes berupaya menanggulangi dan mengatasi pergejolak human trafficking minimal mampu menyuarakan kabar baik untuk menganggulangi hal tersebut.

    Kedua, harapan besar kepada tarekat masing-masing agar menjadi tanda pengingat untuk bertanggung jawab dan mampu bergandengan tangan dalam berjalan bersama untuk menyuarakan kabar baik kepada semua orang.

    “Saya buka kegiatan temu INFO JPIC Indonesia 2023, Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin,” kata Pastor Yansianus Fridus Derong, OFM membuka pertemuan INFO JPIC Indonesia di Keuskupan Agung Pontianak.

    Kegiatan tersebut ditutup dengan pembacaan jumlah peserta dari 20 tarekat Fransiskan, 1 tarekat bukan tarekat Fransiskan dan kehadiran KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak yang turut serta dalam peliputan sepanjang kegiatan berlangsung. Mulai dari 19-25 Agustus 2023 mendatang.

    Penulis: Samuel/ Tim KOMSOS KAP

    Perayaan HUT RI ke-78 Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak

    Dokumentasi Kegiatan semarak 17 Agustus YPGB – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Indonesia menginjak usia 78 tahun di tahun 2023 ini, Indonesia sudah menikmati kemerdekaannya selama 78 tahun. Perayaan hari kemerdekaan adalah momentum perayaan syukur ulang tahun kemerdekaan negara Indonesia tercinta untuk semakin melaju dan berkembang sesuai dengan tema HUT RI tahun 2023 “Terus Melaju Untuk Indonesia Maju”. Karena Merdeka bukanlah sekadar kata, melainkan tekad untuk terus berkarya dan menggapai prestasi.

    Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak turut merayakan dan memeriahkan perayaan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan melaksanakan Upacara Bendera, dan mengadakan perlombaan bersama karyawan dan guru-guru dari setiap unit, dari Tk sampai SMA. Peserta Upacara Bendera adalah karyawan, staf, dan guru Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak bersama siswa/siswi SMP dan SMA. Inspektur upacara adalah ketua Yayasan Pendidikan Gembala Baik, pastor Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM Cap.

    Perayaan Kemerdekaan RI

    Petugas Upacara Bendera adalah unit SMP, mulai dari Tim Paskibra, paduan suara dan panitia pelaksana perlombaan. Upacara Bendera berjalan penuh khidmat dan lancar walaupun diselimuti asap dan jerebu akibat kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Pontianak dan Kubu Raya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para peserta upacara.

    Pastor Toni dalam amanatnya mengucapkan terima kasih kepada peserta atas kehadirannya, dan kepada panitia sehingga pelaksanaan Upacara Bendera berjalan dengan lancar.

    Pastor Toni mengingatkan bahwa kemerdekaan itu tidak diwujudnyatakan menurut hawa nafsu tetapi saling mengabdi, dan saling menolong dalam cinta kasih. Dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan diri untuk sungguh-sungguh hadir dan melangkah bersama untuk masa depan dan kemajuan bangsa.

    Baca Juga: Perayaan HUT PGRI Ke-77 Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak: Tulang Punggung Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Adalah Guru

    “Mari, kita menciptakan manusia yang cerdas dan sejahtera sesuai dengan misi Yayasan kita. Kita diminta untuk menjadi orang-orang yang cerdas. Karena kita tahu bahwa kita semua berjuang untuk mempersiapkan kecerdasan anak bangsa” ungkap pastor Toni.

    Setelah Upacara Bendera selesai, dilanjutkan dengan kegiatan perlombaan. Perlombaan yang diadakan ada 4 jenis yaitu lomba KPK, estafet karet, estafet kardus dan estafet air. Perlombaan diikuti sangat antuasias oleh semua peserta. Setiap cabang lomba diambil satu pemenang. Lomba KPK dimenangkan oleh unit SD Plus Gembala Baik, lomba estafet karet dimenangkan oleh Yayasan, lomba estafet kardus dimenangkan oleh unit TK, dan estafet air dimenangkan oleh unit SD Plus Gembala Baik.

    Penulis: Winda/Tim Komsos

    Di Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke 78, Bang Zaki Mengajak Berkarya Inovatif & Berdampak Positif Agar Dapat Melaju Untuk Indonesia Maju

    Ahmed Zaki Iskandar ketua DPD Partai Golkar Provinsi DKI Jakarta – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Jakarta – Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78 tahun adalah momentum untuk semakin mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan kerja nyata, ikhlas dan cerdas untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

    “Peringatan HUT Kemerdekaan RI selalu menghadirkan kesan yang mendalam. Pesan dan kesan itu semakin kuat di tahun ini karena diselenggarakan dalam kondisi bangsa Indonesia sedang melaju untuk meraih kemajuan dalam perkembangan peradaban dunia,” kata Ahmed Zaki Iskandar ketua DPD Partai Golkar Provinsi DKI Jakarta kepada awak media, Kamis, 17/8/2023 malam di Jakarta.

    Dia juga menuturkan, meski menghadapi berbagai kondisi dan situasi, tentunya di usianya ke 78 Bangsa Indonesia harus tetap optimis. Sebab, kondisi yang dihadapi hari ini tidak lebih sulit daripada yang dihadapi para pejuang kemerdekaan yang harus membangun bangsa yang porak poranda akibat penjajahan. Optimisme, kekuatan tekad, dan persatuan adalah modal untuk membangun Indonesia. Ini tantangan bagi kita semua, khususnya Pemerintah dan pengelola negara agar benar-benar mampu membaca spirit kemerdekaan.

    Baca Juga: OMK Santo Carolus Memperingati HUT RI ke-77 Dengan Pakaian Adat dan Baju Lintas Profesi

    Kondisi sesulit apapun bisa dilalui dengan optimisme, tekad yang kuat, dan persatuan, serta harus menghadirkan kebijakan yang menyemai modalitas bangsa tersebut, menjadi teladan dengan menunjukkan kerja nyata, ikhlas dan cerdas dengan menghasilkan karya inovatif, kreatif dalam gerak melaju untuk meraih kemajuan bangsa Indonesia.

    Dia menambahkan, dalam situasi kekinian, maka sesuai tema HUT Kemerdekaan RI ke 78 ini, yakni “Terus Melaju untuk Indonesia Maju”, yang merefleksikan semangat kolektif, berharmoni, berkolaborasi serta sinkronisasi irama gerak, dan sinergi pikiran dari tiap-tiap pelari untuk satu tujuan. Ini merupakan energi gerak untuk bangsa Indonesia agar laju momentum ini Terus Melaju untuk Indonesia Maju, maka tentunya keberadaan keluarga besar Partai Golkar utamanya di wilayah Provinsi DKI Jakarta, tidak bisa tinggal diam, dan berpangku tangan, melainkan sudah semestinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Jakarta, terpanggil untuk lebih berperan  aktif sebagai sosok yang menginspirasi dan bahkan mempelopori setiap lahirnya karya inovatif dan kreatif, yang  berdampak langsung untuk kemajuan negara dan tercapainya kemajuan kesejahteraan Masyarakat.

    Terus Melaju untuk Indonesia Maju

    “Ini yang menjadi tantangan keluarga besar partai Golkar, terutama kader-kader mudanya jangan hanya pandai buat rencana lalu beretorika di depan publik, bukan itu yang diinginkan rakyat, melainkan bukti nyata di lapangan, berupa karya nyata yang berdampak positif untuk rakyat ” tegas Bang Zaki.

    Untuk itulah lanjut Bang Zaki, dirinya sangat berharap, di momentum peringatan kemerdekaan RI ke 78 ini, keluarga besar partai Golkar DKI Jakarta dapat membulatkan tekad untuk mengisi kemerdekaan  dengan suatu langkah nyata bukan hanya meraih simpati masyarakat saja, melainkan dapat berbaur dengan masyarakat, memenangkan dan memerdekakan hati, perasaan maupun kehidupan rakyat, khususnya warga Jakarta, dari berbagai bentuk kecemasan, kegelisahan, kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan melalui program-program strategis maupun taktis secara terstruktur, sistematis dan massif, serta kolaboratif bersinergi dengan berbagai pihak.

    “Janganlah mengira kita semua sudahlah cukup berjasa dan kemudian merasa sudah besar, selama masih ada ratap-tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai. Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat, berkarya inovatif, kreatif, inspiratif dan berdampak positif agar dapat terus melaju untuk Indonesia Maju, Dirgahayu kemerdekaan RI ke 78.” pungkas Bang Zaki.

    Penulis: Tricahyo/ NasionalPos

    Kegiatan Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska 2023 dilaksanakan di perbatasan Indonesia-Malaysia

    Dokumentasi Kegiatan Bersama Warga Desa/Sumber foto: Panitia ASEG 2023 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Bengkayang – Mahasiswa Katolik FKIP Untan mengadakan kegiatan Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska (ASEG) selama 7 hari di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia tepatnya di Dusun Bumbung, Desa Bengkawan, Kec. Seluas, Kab. Bengkayang.

    Kegiatan Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska merupakan bentuk perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat dan juga merupakan kerangka pelayanan Orang Muda Katolik kepada sesama umat Katolik dalam perwujudan Cinta Kasih.

    Pelayanan

    Dalam kegiatan ini Panitia Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska mengadakan sejumlah kegiatan yaitu Bakti Sosial (renovasi gereja, pembuatan plang nama gereja, pembuatan plang dusun, dan nomor rumah), seminar pendidikan, seminar kesehatan, Doa Rosario, katekese umat, nonton bersama, pengobatan gratis, pendidikan iman anak, permainan rakyat dan olahraga bersama.

    Ketua Panitia Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska 2023, Joshierai OPG. Mengatakan kegiatan ini sengaja dilaksanakan di daerah yang jauh dari jangkauan kami yaitu di dusun Bumbung, desa Bengkawan, kec. Seluas Kab. Bengkayang daerah perbatasan Indonesia-Malaysia karena berdasarkan hasil survai panitia selama 2 kali, daerah ini sesuai dengan kriteria Panitia dan buku panduan umum ASEG yang dikeluarkan oleh pengurus Gamaska FKIP Untan periode 2023-2024 yaitu daerah 3T, kurangnya partisipasi umat ke gereja hari minggu dan tingginya angka putus sekolah.

    Baca Juga: Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Baksos KEWAKA FISIP UNTAN 2023 di Desa Langan Kec. Belimbing Kab. Melawi

    Ketua Umum Gamaska, Dea Carolin dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program unggulan pengurus Gamaska FKIP Untan periode 2023, memang benar-benar harus diperjuangkan dan dilaksanakan karena kegiatan ini sepenuhnya melibatkan masyarakat, pemerintah daerah dan paroki setempat, beliau berharap semoga kegiatan ini membawa berkat serta hal positif terutama kepada teman-teman mahasiswa Katolik FKIP Untan, dan secara khusus kepada masyarakat dusun Bumbung, desa Bengkawan, kec. Seluas, kab. Bengkayang.

    Kegiatan ini dibuka langsung oleh Camat Seluas yaitu Ibu Radid, S.Sos. pada tanggal 1 Agustus 2023 jam 10 pagi di panggung utama kegiatan Aksi Sosial dan Edukatif Gamaska 2023 yaitu di dusun Bumbung, dalam sambutannya beliau selaku pemerintah daerah mengucapkan banyak terimakasih kepada mahasiswa Katolik FKIP Untan yang sudah datang dan turut membantu pemerintah dalam peningkatan SDM terutama kesadaran akan pentingnya pendidikan dan iman. Beliau juga berharap semoga kegiatan ini membawa dampak positif kepada masyarakat Dusun bumbung, desa Bengkawan kec. Seluas, kab. Bengkayang.

    Penulis: Libertus/Panitia ASEG2023

    TERBARU

    TERPOPULER