Lukisan Martir perawan Santo Agatha dari Sisilia. Sejarah Abad Pertengahan dikaitkan dengan periode Zaman Kegelapan, zaman takhayul, penindasan dan pelecehan seksual. (Sumber: National Geographic Indonesia)
MAJALAHDUTA.COM, SEJARAH- Abad Pertengahan, periode antara abad ke-5 hingga ke-15, sering dianggap sebagai masa ‘Zaman Kegelapan’ yang dipenuhi dengan ketidaktahuan, mitos, dan ketidakmampuan.
Namun, istilah ini memiliki sejarahnya sendiri yang perlu dilihat dengan lebih kritis.
Sejarah Abad Pertengahan dimulai setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi dan berlangsung selama lebih dari 900 tahun hingga era Renaisans.
Dalam periode ini, masyarakat Eropa sering digambarkan tenggelam dalam kebodohan, buta huruf, penindasan sosial, dan mitos.
Penggunaan istilah ‘Zaman Kegelapan’ pertama kali dikaitkan dengan Francesco Petrarca, atau dikenal sebagai Petrarch, seorang ilmuwan Italia pada abad ke-14.
Ia merasa kecewa dengan kurangnya karya sastra berkualitas pada masanya dan menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kurangnya kemajuan budaya.
Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa istilah ini terlalu umum dan kadang-kadang kurang tepat. Masa Abad Pertengahan bukanlah periode tunggal yang seragam.
Itu terdiri dari periode yang berbeda, mulai dari Abad Pertengahan Awal, Pertengahan, hingga Akhir, masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri.
Dalam kenyataannya, Abad Pertengahan juga memiliki sisi yang cerah.
Misalnya, saat meningkatnya aktivitas misionaris Kristen yang berdampak positif pada pertukaran pengetahuan dan budaya antara berbagai kerajaan.
Sejarawan juga menemukan bukti tentang perjalanan orang-orang Anglo-Saxon ke berbagai belahan Eropa, yang membuktikan bahwa komunikasi antarbudaya terus berlangsung.
Wabah black death atau kematian hitam melanda Eropa abad pertengahan. (Student History)
Selain itu, Abad Pertengahan telah melahirkan sastra yang dihargai dan dinikmati oleh masyarakat kelas atas. Ini adalah masa di mana sastra berkembang dan dihargai tinggi.
Terlepas dari pandangan awal yang meremehkan Abad Pertengahan sebagai ‘Zaman Kegelapan’, sejarah ini tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari evolusi masyarakat Eropa dan perkembangan budaya.
Dalam konteks modern, istilah ‘Zaman Kegelapan’ mungkin terlalu merendahkan dan tidak lagi relevan.
Mungkin saatnya untuk melihat Abad Pertengahan dengan lebih cermat dan menghindari generalisasi yang seringkali tidak akurat.
Editor: Kai – DUTA Sumber: National Geographic Indonesia
Gambar Yesus dan anak-anak (Sumber: kreasitermodern)
MAJALAHDUTA.COM, RENUNGAN– Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi….
(Mazmur 139:1-3)
Ayat-ayat dari Mazmur 139:1-3 menggambarkan sebuah panggilan yang sangat mendalam untuk merenungkan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.
Ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Sang Pencipta yang benar-benar mengenal setiap detail dari kita. Berikut adalah sebuah renungan berdasarkan ayat-ayat ini:
Ketika kita memandang langit dan bumi yang begitu besar ini, seringkali kita merasa kecil dan tidak berarti.
Namun, Mazmur 139 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan kita, tetapi Dia juga mengenal kita dengan sangat baik.
Dia tahu kapan kita duduk dan berdiri, bahkan Dia mengerti pikiran-pikiran kita yang jauh di dalam hati.
Pikirkan sejenak tentang makna dari “Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi…” Ini adalah pernyataan luar biasa tentang pemahaman yang mendalam yang dimiliki Tuhan terhadap hidup kita. Ketika kita berjalan di sepanjang jalan hidup ini, baik dalam kegembiraan maupun kesulitan, Allah adalah yang pertama kali tahu. Bahkan ketika kita berbaring di saat ketenangan atau dalam kegelisahan, Dia hadir.
Rasa dicari dan diketahui oleh Yang Mahakuasa adalah anugerah yang luar biasa.
Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Allah.
Dia tahu semua yang ada dalam hati kita, dan Ia tetap mencintai kita.
Ini adalah panggilan untuk menjalani hidup kita dengan penuh kesadaran akan kehadiran dan pemahaman-Nya, serta untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai-Nya.
Jadi, mari kita renungkan kembali Mazmur 139:1-3 dan ingatlah bahwa kita hidup di bawah pengawasan dan kasih sayang Allah yang sempurna.
Semoga ini membawa kedamaian dan dorongan bagi kita dalam setiap langkah hidup kita.
MAJALAHDUTA.COM, RENUNGAN– Dalam kata-kata Mazmur 139:23-24, kita diajak untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan.
Kita diminta untuk merenungkan hati dan pikiran kita, untuk mengintrospeksi diri, dan memohon bimbingan-Nya.
Kehadiran Tuhan dalam hidup kita adalah sumber pengetahuan dan petunjuk yang tak ternilai.
Melalui renungan ini, mari kita terbuka pada pemahaman diri dan mendukung kehendak-Nya untuk membimbing kita ke jalan yang kekal.
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!…. (Mazmur 139:23-24)
MAJALAHDUTA.COM, Vatikan– Sebuah Pakta Integritas yang melibatkan Pelaksana Tugas (Pj) Bupati Sorong, Yan Piet Moso, dalam mendukung Ganjar Pranowo, mendapatkan perhatian luas dan menimbulkan pertanyaan kritis terhadap kinerja Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Mendagri Tito Karnavian.
Pakta integritas tersebut, yang menunjukkan komitmen untuk memenangkan Ganjar Pranowo, menyoroti potensi kegagalan pengawasan oleh Kemendagri. Agung Wibowo Hadi, juru bicara dari Perhimpunan Aktivis 98, menyatakan pandangannya bahwa munculnya pakta ini merupakan bukti kegagalan Kemendagri. “Mendagri Tito Karnavian gagal,” tegas Agung Wibowo Hadi pada Sabtu (19/11).
Agung mengkritik Mendagri atas tidak berjalannya kewenangan dan kewajiban sebagai institusi negara yang seharusnya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selain itu, Agung menduga adanya kemungkinan Mendagri terlibat dalam permainan politik dengan menempatkan Pj kepala daerah yang mendukung calon tertentu untuk Pilpres 2024. “Atau bisa saja, Tito diduga main mata dengan menempatkan Pj kepala daerah untuk menangkan Ganjar Pranowo,” ujar Agung.
Menyikapi hal ini, Agung mendorong Presiden Jokowi untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Mendagri Tito Karnavian dan Pj kepala daerah di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah agar jalannya Pemilu 2024 dapat berlangsung dengan jujur, adil, dan aman.
Pakta integritas yang diteken oleh Yan Piet Moso berisi janji konkret untuk memenangkan Ganjar Pranowo sebanyak 60 persen di Kabupaten Sorong, Papua Barat. Pakta tersebut juga mendapat perhatian karena ditandatangani oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah (Kabinda) Papua Barat, Brigjen TSP Silaban, pada Agustus 2023.
Meskipun terdapat kritik terhadap pakta ini, Menko Polhukam dan cawapres, Mahfud MD, menilai bahwa tidak ada hukum yang dilanggar dan pakta tersebut tidak melanggar netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).
Editor: Redaksi DUTA Sumber: Christopher Wells-VatikanNews
Patriarch Absi (center left) presides over the Byzantine rite Mass (Vatican Media)
MAJALAHDUTA.COM, Vatikan – Pada Misa harian bagi anggota Sinode yang diselenggarakan di Basilika Santo Petrus, Kardinal Béchara Boutros Raï, Patriark Maronit Antiokhia, memberikan homili yang mendorong umat Kristen untuk menghayati cara hidup sinodal dalam menghadapi berbagai masalah global yang dihadapi dunia kita.
Pada hari Senin, anggota Sidang Umum Sinode merayakan Misa bersama, yang dipimpin oleh Patriark Youssef Absi, Patriark Melkit Yunani Antiokhia, sesuai dengan ritus Bizantium di Altar Kursi.
Kardinal Béchara Boutros Raï memberikan homili dalam Misa tersebut, yang merenungkan ajakan Yesus untuk berdoa bagi pekerja yang dapat menghadapi panen berlimpah Allah.
Menghadapi Situasi Penderitaan
Dalam homilinya, Kardinal Patriark mencatat bahwa Yesus merasa simpati terhadap orang banyak yang mengikutinya dan berkata kepada murid-murid-Nya: “Panennya memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit; oleh karena itu, mohon kepada Tuan panen untuk mengirimkan pekerja-pekerja bagi panennya.”
Kardinal Raï mengatakan kata-kata Yesus ini memberikan titik awal untuk memahami keadaan saat ini dalam Gereja dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat.
Dia pertama-tama merenungkan panen yang melimpah sebagai simbol berbagai isu global mendesak yang memerlukan perhatian dan tindakan dari Gereja dan seluruh umat Kristen.
Isu-isu ini, katanya, mencakup upaya mencapai perdamaian yang adil di tengah perang yang berkepanjangan, mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan, menantang sistem ekonomi yang eksploitatif, membantu individu yang dianiaya, dan menyembuhkan luka-luka yang ditimbulkan oleh berbagai bentuk penyalahgunaan.
Kardinal Raï menambahkan bahwa panen ini juga mencakup kebutuhan untuk mempromosikan martabat manusia, mendorong dialog ekumenis dan antaragama, peduli terhadap yang terpinggirkan dan rentan, serta berpartisipasi dalam tantangan-tantangan sosial kontemporer.
Pekerja Dipandu oleh Roh
Patriark Maronit Antiokhia kemudian mempertimbangkan para pekerja yang dipanggil untuk mengumpulkan panen.
Kardinal Raï mengatakan Instrumentum Laboris Sinode (dokumen kerja) mengidentifikasi para pekerja ini sebagai setiap orang yang diutus oleh Kristus dan dipandu oleh Roh Kudus.
Roh Allah, kata Kardinal Raï, adalah “pelaku sejati dari misi yang dipercayakan kepada Gereja dan oleh karena itu dari seluruh perjalanan sinodal.”
Setiap pekerja perlu menerima pembinaan dan panduan dari Roh Kudus untuk merangkul cara hidup sinodal.
Pelatihan semacam itu, katanya, “melibatkan pembinaan untuk kehidupan komuni, misi, dan partisipasi, serta spiritualitas sinodal yang menjadi inti pembaruan Gereja.”
Misi Kita untuk Menyembuhkan Luka Orang Lain
Sebagai kesimpulan, Kardinal Raï mengajak umat Kristen untuk merasakan kasih, seperti yang dilakukan Yesus, terhadap situasi penderitaan dunia kita dan kondisi di mana orang-orang berada.
Dia mengatakan penderitaan orang miskin, yang diabaikan, pengungsi, korban tak bersalah perang, dan gelandangan semua membangkitkan simpati Kristus dan harus membangkitkan simpati kita juga.
Foto: Dosen dan alumni AKUB- GAK Pontianak (08/10)
MAJALAHDUTA.COM, Pontianak- Minggu, 8 Oktober 2023, Reuni Akbar Alumni AKUB-GAK Pontianak, menjadi tonggak sejarah bagi Akademi Keuangan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB-GAK) Pontianak, yang merayakan Reuni Akbar Alumni pertamanya dengan semangat yang luar biasa.
Acara tersebut terlaksana di Gedung Lantai 4 Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.
Bertemakan “Merangkai Kenangan Membangun Persaudaraan,” acara tersebut sukses digelar di kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pontianak, yang juga merupakan peringatan Dies Natalis AKUB-GAK yang ke-31.
Reuni Akbar ini tidak hanya menjadi momen penting untuk merajut kenangan, tetapi juga untuk membangun persaudaraan yang semakin kuat di antara para alumni AKUB-GAK Pontianak yang terus berkembang.
Acara dimulai dengan penuh suka cita, dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh selebran utama Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus didampingi Pastor Johanes Robini Marianto OP selaku Ketua Yayasan Landak Bersatu.
Setelah Misa, semangat kebangsaan berkobar dengan nyanyian lagu Indonesia Raya dan Mars AKUB-GAK Pontianak.
Direktur AKUB-GAK Pontianak, Adrian Gabriel, dalam sambutannya, menegaskan peran penting alumni dalam mengembangkan perguruan tinggi.
Sementara Pastor Johanes Robini Marianto OP, menggarisbawahi pentingnya campurtangan dan peran aktif dari alumni untuk mempromosikan AKUB-GAK Pontianak.
Uskup Agustinus Agus dalam kata sambutannya menitikberatkan tentang semangat berkorban, kerendahan hati, akuntabilitas, dan penguasaan teknologi informasi bagi individu.
Dia juga mengajak semua untuk berkomitmen pada semangat berkorban, berbagi pengalaman, dan mencapai prestasi yang lebih tinggi dalam dunia pendidikan.
Suasana kegiatan dalam Reuni Akbar AKUB-GAK (08/10)
Sesi dialog interaktif antara Romo Ketua Yayasan Landak Bersatu dan Heru Wahyudi, Manajer Bisnis Customer Bank BRI Pontianak, menjadi bagian penting dalam acara ini.
Diskusi tersebut membahas harapan alumni untuk meningkatkan kompetensi mereka, terutama dalam penguasaan bahasa Inggris, serta peluang karir di bidang keuangan dan perbankan.
Romo Ketua Yayasan Landak Bersatu juga mengungkapkan peluang lanjutan dengan mengikuti kuliah di Fakultas Teknik Logistik UNIKA San Agustin.
Setelah makan siang bersama, acara dilanjutkan dengan peluncuran Ikatan Alumni AKUB (ILUMNIA), dengan Sri Novita sebagai Ketua Umum.
Puncak acara semakin meriah dengan tampilan tari kreasi, tarian, vokal grup, musik, dan sejumlah kuis serta game berhadiah dari Panitia.
Acara ditutup dengan pengukuhan pengurus terpilih oleh Direktur AKUB-GAK Pontianak, sebagai momen untuk mengakhiri dengan sukses acara Reuni Akbar Alumni AKUB-GAK Pontianak yang penuh makna dan semangat persaudaraan.
Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus sebagai Selebran utama didampingi oleh Pastor Johanes Robini Marianto OP Ketua Yayasan Landak Bersatu (08/10)
Editor: Redaksi DUTA Sumber: Ketua Umum, Sri Novita
Suasana pengucapan kaul Dominikan Awam di Gereja Santo Agustinus, Stasi Senakin, Paroki St Yohanes Pemandi Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak, Minggu, 8 Oktober 2023. (Romanus-Dominikan Awam)
MAJALAHDUTA.COM, Senakin- 8 Oktober 2023 – Gereja Santo Agustinus, Stasi Senakin, Paroki St. Yohanes Pemandi Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak menjadi saksi pengucapan kaul sebanyak 51 anggota Keluarga Dominikan Chapter Santo Dominikan Pontianak pada hari Minggu, 8 Oktober 2023.
Proses pengucapan kaul ini berlangsung seiring dengan perayaan Misa Kudus yang dipimpin oleh RP Andreas Kurniawan OP. Misa tersebut juga dihadiri oleh umat Stasi Senakin dan wilayah sekitarnya.
Sebelum prosesi pengucapan kaul dimulai, kebahagiaan terpancar di wajah para anggota Dominikan Awam ini.
Mereka berasal dari berbagai tempat, tidak hanya dari Stasi Senakin, tetapi juga dari Pontianak dan beberapa wilayah lain, termasuk Kabupaten Sintang.
Dalam prosesi pengucapan kaul, ada tujuh orang Inisiasi Baru, 13 orang Profes Sementara 1, 16 orang Profes Sementara 2, 15 orang Profes Sementara 3, dan satu orang yang mengucapkan Kaul Kekal.
Semua anggota mengucapkan kaul di hadapan Promotor Religius RP Andreas Kurniawan OP, didampingi Asisten Religius Sr. Benedita OP dan Presiden Chapter St. Dominikus Fransiskus Edy OP.
Selain mengucapkan kaul, anggota Dominikan Awam juga melaksanakan tradisi ordo yang melibatkan doa bersama untuk arwah orang beriman yang telah berpulang.
Tradisi ini dilakukan sehari sebelumnya, pada tanggal 7 Oktober 2023, di berbagai pemakaman Katolik di wilayah Anjungan, Salatiga, Kayu Ara, Senakin, Simpang Agal, Setabar, dan pada hari berikutnya, Minggu, 8 Oktober 2023, mereka berdoa di Pemakaman Katolik di Toho.
Keluarga Dominikan menyelenggarakan doa bersama ini sebagai tanda penghormatan terhadap anggota keluarga Dominikan yang telah meninggal dunia, termasuk orang tua, keluarga, dan saudara dari anggota Dominikan itu sendiri.
Doa ini juga merupakan bentuk kesetiaan mereka terhadap nilai-nilai yang dianut oleh Keluarga Dominikan, dan sebagai cara untuk menjaga kenangan mereka tetap hidup.
Fransiskus Edy OP, Presiden Chapter Pontianak St. Dominikus, menyatakan selamat kepada anggota baru dan berharap anggota yang telah mengucapkan kaul akan semakin teguh dalam doa, studi, hidup bersama dalam komunitas, dan dalam pelayanan.
Dia juga menekankan pentingnya persaudaraan dalam Keluarga Dominikan dan penghormatan terhadap warisan spiritual yang ditinggalkan oleh anggota yang telah berpulang.
Keluarga Dominikan adalah sebuah kelompok umat beriman yang berpartisipasi dalam hidup rohani dan kerasulan Ordo Pewarta Santo Dominikus di bawah bimbingan Persaudaraan Dominikan.
Mereka memiliki tujuan untuk keselamatan jiwa, baik jiwa anggota mereka maupun jiwa-jiwa yang lain.
Kegiatan mereka didasarkan pada empat pilar: Doa, Studi, Pewartaan, dan Komunitas.
Editor: Redaksi MajalahDUTA.COM Sumber: Romanus, Dominikan Awam Pontianak
Foto bersama Uskup, para imam & diakon, & ortu (Fian - 04/10)
MAJALAHDUTA.COM, Tanjung Selor- 4 Oktober 2023, bertepatan dengan Peringatan Wajib St. Fransiskus Assisi, Komunitas Suster Fransiskan, Dina Santo Yoseph (DSY) Manado, merayakan pesta pelindungnya dengan menggelar upacara Kaul Kekal atau Profesi Kekal bagi Suster Anastasia Sogen, DSY.
Bertempat di Gereja Katedral St. Maria Assumpta, Tanjung Selor, Suster Anas, DSY (biasa ia disapa), mengucapkan ikrar profesi kekalnya dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Tanjung Selor (KTS), Mgr. Dr. Paulinus Yan Olla, MSF.
Profesi kekal diucapkan Sr. Anas, DSY di hadapan Uskup KTS, Pemimpin Umum DSY Manado, Suster Christina Tadayu DSY, dan Pemimpin Yunior DSY Manado, Suster Theresiana Bupu DSY.
Hadir pula dalam perayaan ini keluarga dari yubilaris, para imam yang berkarya di KTS sebagai konselebran Misa bersama Bapa Uskup sebagai Selebran Utama.
Selain itu, tak ketinggalan komunitas-komunitas biarawan-birawati yang ada di KTS; Komunitas Frater CMM, Bruder MSF, Suster PRR, Suster OSF, Suster KSSY, dan pastinya Suster DSY Komunitas Tanjung Selor dan Tanjung Redeb, serta sejumlah umat yang antusias dengan perayaan ini.
Untuk diketahui bahwa upacara pengucapan kaul kekal ini, baru pertama kali digelar di KTS. Terlebih lagi, Suster Anas, DSY juga berasal dari KTS, tepatnya Stasi St. Gabriel, Sumber Mulia, Paroki St. Yoseph, Dumaring, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Mgr. Dr. Paulinus Yan Olla, MSF, Uskup KTS (04/10)
Berawal dari SEKAMI
Suster Anas, DSY, dilahirkan di Larantuka, 11 Januari 1994 dari pasangan suami istri Ignasius Miru Sogen dan Maria Goreti Watun. Ia kemudian dibawa keluarga pindah ke Kalimantan karena mengikuti program transmigrasi, saat usianya delapan bulan.
Awal panggilannya dirasa mulai tumbuh saat dia duduk di kelas enam sekolah dasar.
Dia yang ketika itu mengikuti rekoleksi bagi anak-anak Serikat Kepausan Anak-anak dan Remaja Misioner (SEKAMI), berjumpa dengan seorang biarawati DSY, Sr. Jein, DSY.
“Waktu itu saya lihat Suster Jein, DSY saat kegiatan rekoleksi SEKAMI. Suster itu tinggal di rumah saya. Awalnya saya suka lihat pakaian dari suster yang agak berbeda dari pakaian suster pada umumnya. Biasanya ‘kan suster bajunya putih, kok suster ini bajunya coklat.”, kisahnya.
Namun, kekaguman itu masih dia simpan sendiri dan hanya sekedar impian sambil lalu baginya.
Seiring berjalannya waktu, dia menjalani hidup layaknya remaja putri pada umumnya, sekolah, bergaul, tertarik dan mejalin hubungan dengan lawan jenis.
Hingga saat menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah, impian yang selama ini tersimpan, perlahan namun pasti benih itu tetap tumbuh.
“Sampai tiba saya tamat sekolah menengah, saya mengutarakan niat saya untuk menjadi suster kepada orang tua. Awalnya agak ikhlas ga ikhlas keluarga mendengar niat saya. terlebih mama yang selalu mengingatkan saya kalau jadi suster itu tidak menikah, hidup sendiri dan lainnya. Mama takut saya tidak siap. Tapi saya berusaha meyakinkan mereka dan berjanji akan menjalani pilihan ini dengan sungguh-sungguh.”, katanya.
Akhirnya, dia mengajukan diri sebagai aspiran dan tinggal di Komunitas Suster DSY, Paroki St. Eugenius de Mazenod (Eudema), Tanjung Redeb. September 2014, bergabung menjadi postulant di Biara DSY Lotta, Manado.
“Karena Aku, Engkau Cinta”
Suster Anas, DSY memilih motto panggilan “Karena Aku, Engkau Cinta”.
Ini merupakan ungkapan refleksi perjalanan panggilannya. Dia merasa dipangill Allah sejak awal dan Allah sendiri yang membimbingnya dalam seluruh proses hidupya.
Segala tantangan dan pergumulan hidup, menghantarkannya menjadi pribadi yang mampu untuk bertahan dalam jalan panggilan ini.
“Kalau saya mengandalkan kekuatan saya sendiri, saya tidak akan sampai pada titik ini. Tuhan begitu mencintai saya. Segala pengalaman “luka” yang saya alami, saya anggap sebagai kado manis dalam perjalanan panggilan saya. Karena Cinta Tuhan saya mampu melewati semuanya. Cinta Tuhan nyata. Saya alami dan itu menguatkan saya,” ujar Suster Anas.
Dia juga berharap bahwa Kaul Kekal ini memang suatu puncak dalam panggilannya.
Di sisi lain, masih ada banyak lagi puncak-puncak kehidupan yang harus digapai.
Suster Anas juga sangat membutuhkan dukungan dan doa dari umat, yang sedang berjuang.
“Tegur, kritik, sadarkan, dan nasihat saya jika saya salah. Bangunkan saya ketika terlambat bangun. Terangilah langkah saya,” harap Suster Anas.
Veronika menjadi Anastasia
Suster Anas, DSY lahir dengan nama Veronika Serang Sogen.
Setelah diterima dan resmi bergabung dalam komunitas para suster DSY, dia kemudian memilih nama Anastasia sebagai nama biaranya.
Berangkat dari latar belakang pengalaman pribadinya, dia melihat bahwa teladan hidup Santa Anastasia sejalan dengan apa yang dia lakoni.
Baginya keteladanan Santa Anastasia yang wafat sebagai martir karena membela imannya menjadi alasannya memilih nama Anastasia menjadi nama biara.
Bahkan dia mengaku bahwa dulu tinggal dan sekolah sebagai minoritas. Sebagai remaja, juga pernah berpacaran dengan cowok-cowok yang beda keyakinan.
“Namun, sebisa mungkin saya berusaha bertahan dengan apa yang saya imani sejak kecil. Saya harus memilih di antara kenyamanan-kenyamanan hubungan yang saya jalani,” tambahnya.
Nama orang suci itu (Anastasia) yang dipilih sejalan dengan arti yang dia inginkan, artinya bangkit.
Suster Anas mengaku pengalaman tumbuh dalam keluarga yang bisa dibilang kurang harmonis membuatnya belajar untuk tetap kuat dengan keadaan. Dari itulah santa Anastasi juga dia banyak belajar tegar dan tidak menyerah dengan keadaan.
Setelah Misa diadakan resepsi syukur sederhana bersama keluarga, umat, dan komunitas biarawan-biarawati yang turut hadir dalam perayaan ini.
Agustinus Fian Arfianto – Pegiat Komsos Keuskupan Tanjung Selor
Pastor Vincent Budi Nahiba Pr memimpin perayaan Ekaristi pada HUT ke 29 SMA Negeri 1 Paniai, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, Kamis 5 Oktober 2023
MAJALAHDUTA.COM, ENAROTALI – SMA Negeri 1 Paniai merayakan ulang tahunnya yang ke-29 dengan sebuah misa syukur yang diadakan di Enarotali, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, pada Kamis (5/10/2023). Misa ini dipimpin oleh Pastor Vincent Budi Nahiba, Pr, rekan paroki St. Yosep Enarotali dari Keuskupan Timika.
Misa syukur ini dihadiri oleh sekitar 60 siswa Katolik dari SMA Negeri 1 Paniai, yang berasal dari beberapa paroki di sekitar danau Paniai, serta dua pewarta Mihkael Goo dan Yohanes Mote, serta guru agama Katolik Maria Mia Yogi, dan dua guru Katolik lainnya, Ibu Meri Palembangan dan Bapak Andreas Lolopayung.
Marselina Mote, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Paniai, berinisiatif untuk mengundang tiga pemuka agama, yaitu Kristen Protestan, Katolik, dan Islam, untuk mengadakan ibadat syukuran serentak untuk para siswa dalam tempat dan waktu yang berbeda.
Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong sikap toleransi dan moderasi antar-umat beragama di Kabupaten Paniai.
Pastor Vincent Budi Nahiba Pr foto bersama siswa perayaan Ekaristi HUT ke29 SMA Negeri 1 Paniai, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, Kamis 5 Oktober 2023.
Maria Mia Yogi, satu-satunya guru Agama Katolik lulusan Sekolah Tinggi Katolik “Touyee Paapa,” menambahkan bahwa perayaan Ekaristi Kudus di SMA Negeri 1 Paniai merupakan yang pertama kali diadakan di sekolah tersebut.
Dalam homilinya, Pastor Budi mengajak para siswa untuk menjadi utusan dan pembawa kabar keselamatan, seperti para murid Tuhan Yesus yang diutusNya. Para siswa juga diajak untuk menjadikan diri mereka sebagai “Bait Allah” dengan menjauhi perilaku yang tidak baik sehingga dapat memiliki masa depan yang lebih baik.
Selain itu, Marselina Mote, yang beragama Kristen Protestan, meminta Pastor Budi untuk memberkati semua ruangan di SMA Negeri 1 Paniai.
Kepala sekolah berharap agar semua ruangan tersebut menjadi ruangan yang kudus dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar demi masa depan yang cerah.
SMA Negeri 1 Paniai memiliki sekitar 500 siswa, sementara jumlah siswa Katolik dari kelas satu hingga kelas tiga berjumlah 120 anak.
Perayaan HUT yang melibatkan beragam agama ini menjadi contoh nyata tentang pentingnya toleransi beragama dan kerukunan antar-umat beragama di lingkungan pendidikan.
MAJALAHDUTA.COM, Jakarta – Kecurigaan beberapa kalangan terkait potensi penyalahgunaan alat negara dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, khususnya yang diarahkan kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, mendapat bantahan keras dari pihak terkait. Nusron Wahid, Sekretaris TKN Prabowo-Gibran, menegaskan bahwa seluruh partai politik pendukung pasangan Prabowo-Gibran memiliki komitmen untuk meraih kemenangan dengan cara-cara yang bermartabat.
“Pada Koalisi Indonesia Maju, kami memiliki tekad yang kuat bahwa pasangan Prabowo-Gibran akan meraih kemenangan dengan cara yang elegan, bermartabat, fair, jujur, adil, dan transparan,” ungkap Nusron Wahid di Kantor TKN Prabowo-Gibran, Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat, pada Minggu (12/11).
Ia menambahkan bahwa partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) berharap agar pesta demokrasi lima tahunan ini berlangsung dengan baik, tanpa adanya gangguan “abuse of power” yang seringkali dikaitkan dengan pasangan Prabowo-Gibran.
“Kami ingin mengawal proses Pemilu secara demokratis, akuntabel, dan tidak boleh tercederai oleh praktik-praktik penyelewengan dari oknum-oknum aparat manapun. Semua elemen di dalam koalisi ini memiliki tekad dan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya,” tutupnya.
Dengan pernyataan tegas ini, TKN Prabowo-Gibran berusaha membubarkan keraguan dan menciptakan keyakinan bahwa seluruh perjalanan menuju Pilpres 2024 akan diwarnai oleh integritas, keadilan, dan transparansi yang tinggi.