Saturday, May 9, 2026
More
    Home Blog Page 53

    Mahasiswa Agribisnis San Agustin di Landak Menyambut IKN

    Pianus Tutuk - Agribisnis San Agustin (2024)

    MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin | Kamis, 22 Agustus 2024 – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) memunculkan berbagai pertanyaan dan potensi perubahan yang cukup signifikan.

    Perubahan yang mungkin terjadi mulai dari struktur sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang ada di Indonesia. Masyarakat yang melihat hal ini menyambut dengan sikap tegas serta penuh perhatian terhadap pembangunan IKN.

    Perubahan serta tantangan besar-besaran yang akan terjadi bagi lulusan program studi Agribisnis Sanagustin nantinya, pertama-tama dapat dilihat dari dua sisi.

    Sisi pertama adalah dampak negatif yang merujuk pada kerusakan lingkungan, peningkatan biaya hidup, perubahan budaya, dislokasi sosial, tingkat persaingan dari berbagai bidang.

    Termasuk pendidikan, pekerjaan,  bisnis,  kesenjangan ekonomi dan aksesibilitas pendidikan, serta keterbatasan sumber daya.

    Tantangan yang cukup kompleks ini adalah contoh kemungkinan dampak negatif yang mesti diantisipasi oleh mahassiswa mulai dari sekarang.

    Kedua, dampak positif di mana akan hadir peluang pemerataan pembangunan dan kesempatan bagi wilayah tengah ke timur Indonesia untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

    Tantangan pemindahan IKN bagaimana pun juga turut membawa peluang bagi mahasiswa termasuk terbukanya peluang kerja yang lebih luas hingga pengembangan infrastruktur di wilayah sekitar IKN dan Kalimantan Barat pada umumnya.

    Peran Gerakan Mahasiswa Agribisnis

    Gerakan yang dapat dilakukan oleh orang muda khususnya mahasiswa Agribisnis yang berkecimpung dalam dunia organisasi kemahasiswaan atau organisasi kemasyarakataan adalah mengawal jalannya kebijakan publik termasuk pemindahan IKN.

    Karena ini akan menjadi peluang kedepannya terhadap keberlanjutan para tamatan Agribisnis agar lebih mengoptimalkan tentang kemajuan Pertanian yang lebih moderen.

    Terlebih gerakan mahasiswa yang ada di Kalimantan Barat. Peran ini termasuk dengan melakukan kaderisasi dan pendidikan non formal untuk menumbuhkan daya kritis sumber daya manusia Indonesia dari kalangan mahasiswa.

    Gerakan mahasiswa berperan untuk menyelaraskan peran pendidikan formal dan non formal serta pengalaman yang bisa di peroleh selama menjadi mahasiswa.

    Dengan kata lain, gerakan mahasiswa adalah gerakan kritis yang perlu menyiapkan peran anggotanya untuk menghadapi perubahan termasuk dengan hadirnya IKN di Kalimantan.

    Sebuah keberuntungan dan juga Peluang besar bagi mahasiswa Agribisnis nantinya.

    Maka menyambut IKN, saya merasa sangat penting adanya kolaborasi gerakan bersama dari Poktan atau lembaga pertanian yang ada di kabupaten Landak, termasuk dari Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Agribisnis  untuk mengambil peran menyambut IKN.

    Selain mengawal dengan kritis lewat gerakan demokrasi di jalan, juga dengan mengoptimalkan peran pelatihan dan kaderisasi, serta melakukan riset isu-isu strategis untuk menyambut IKN.

    Menyiapkan sumber daya manusia daerah yang siap mengisi peran-peran pembangunan yang terus berlanjut di IKN pada waktunya.

    Untuk menjawab dan menjadi kunci mengatasi tantangan kehadiran pembangunan IKN gerakan mahasiswa perlu mengetahui kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Juga memahami detail rencana pembangunan IKN dan dampak Pertanian atas kehadirannya.

    Selanjutnya gerakan mahasiswa dapat membantu masyarakat dengan memberikan informasi dan edukasi yang berimbang dangan dibentuknya badan penyuluh.

    Sehingga ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat di kabupaten Landak khusus nya yang akan menjadi dampak dari IKN.

    Merujuk pada catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada Kompas,com (2024), pembangunan IKN yang terdiri dari beberapa tahap, pada tahap pertama tengah mencapai perkembangan 74 persen.

    Ini terdiri dari sejumlah infrastruktur dasar seperti Istana Presiden, Kantor Presiden, Lapangan Upacara, Rumah Tapaj Jabatan Menteri (RTJM), Rusun ASN, Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko), hingga Jalan Tol IKN.

    Pembangunan tahap berikutnya pun diperkirakan masih akan panjang dalam beberapa dekade ke depan, karena pembangunan IKN bukanlah pekerjaan yang mudah dan berlangsung cepat.

    Sekolah, perguruan tinggi, beberapa yayasan-yayasan ternama, bahkan sekolah internasional lainnya pun mulai melirik investasi pendidikan di IKN.

    Dengan demikian, ini akan dapat meningkatkan  akses pendidikan bagi masyarakat khususnya daerah Kalimantan Barat.

    Harapannya, hal ini juga bisa mengurangi kesenjangan akses pendidikan antara daerah Kalimantan dan Jawa.

    Selanjutnya tidak kalah penting adalah isu pengembangan pendidikan kejuruan atau pendidikan praktis dibidang tertentu.

    Hal ini patut didukung terutama oleh masyarakat sekitar untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing tenaga kerja lokal.

    Pendidikan kejuruan yang relevan diharapkan berkembang khususnya yang terkait dengan digitalisasi, sehingga diperlukan langkah-langkah dari pemerintah untuk menggelar inovasi pendidikan.

    Gerakan mahasiswa dengan tim riset masing-masing organisasi perlu turut mengawal ini, agar pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman dapat terbangun baik.

    Harapan Bersama

    Pemindahan IKN adalah keniscayaan dengan melihat dinamika politik yang mendorong program-program berkelanjutan.

    Maka diharapkan mahasiswa mahasiswa agribisnis Sanagustin agar sadar akan peran penting dalam menyambut dan memanfaatkan peluang dari kebijakan nasional ini.

    Harapan saya tersendiri dari program studi agribisnis, gerakan mahasiswa juga bisa lebih membuka diri bahwa kaderisasi bukan hanya semata-mata mengisi waktu luang tetapi juga bisa memberi dampak besar bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara.

    Untuk itu perlu ada kerjasama bersama untuk melakukan evaluasi terhadap materi kaderisasi agar dapat menopang keterampilan sumber daya manusia dalam organisasinya.

    Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dan sebagai mahasiswa agribisnis, setiap gerakan mahasiswa mesti menyambut IKN yang sudah di depan mata ini.

    Menyadari pentingnya keterlibatan kita semua untuk ikut mengawal dan menjadi bagian dari proses pembangunannya.

    Maka untuk itu, pemerintah perlu dikritik sekeras-kerasnya dalam kebijakan yang keliru, namun juga harus dibantu dengan sebaik-baiknya dalam penyiapan sumber daya manusia unggul lewat kaderisasi yang lebih kontekstual dan berparadigma maju.

    By. Pianus Tutuk | Agribisis San Agustin.

    Kapusin Provinsi Pontianak pada Tiga Puluh Tahun Kemudian (1994-2024) – (Serial 4)

    Sumber Paroki Santa Sesilia Pontianak (2024)

    MAJALAHDUTA.COM| Pontianak, Selasa 20 Agustus Selama 30 tahun sebagai provinsi mandiri, Kapusin Pontianak telah mencapai banyak hal baik.

    Mereka telah berhasil membangun dan mengembangkan komunitas Kapusin yang kuat dan berpengaruh di wilayah Kalimantan.

    Selain itu, mereka juga telah aktif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, seperti melalui kegiatan sosial dan pendidikan.

    Pencapaian-pencapaian ini tidak hanya mencerminkan dedikasi Kapusin Provinsi Pontianak dalam melayani masyarakat, tetapi juga menunjukkan komitmen mereka dalam menghayati karisma Ordo Kapusin.

    Dalam 30 tahun ini, Kapusin Provinsi Pontianak telah menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

    Karya Ordo selama 30 tahun dalam mengemban tugas dan pelayanan kepada Gereja dan umat Allah di Bumi Borneo ini menjadi refleksi bagi persaudaraan Kapusin untuk meneguhkan, menyegarkan tekad/komitmen untuk senantiasa setia dalam melanjutkan visi dan karya misi yang telah diwariskan.

    Provinsi Kapusin Pontianak bisa merayakan 30 tahun pada hari ini adalah berkat doa dan bantuan umat beriman dan jasa para misionaris dari Belanda dan Swiss.

    Untuk sekarang ini, misi ke Timor l‘Este (paroki dan rumah pendidikan) yang tadinya merupakan misi Provinsi Kapusin Portugal sejak 2020 secara resmi diserahkan sepenuhnya kepada Persaudaraan Kapusin Provinsi Pontianak. Selain itu, Kapusin Pontianak juga mengepakkan sayap misinya ke Malaysia, Belanda dan Belgia.

    Arsip Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    Sejak berdiri sebagai provinsi mandiri Ordo Kapusin Provinsi Pontianak sampai hari ini telah mengalami beberapa kali pergantian pelayan provinsi (minister provinsial).

    Pater Bartholomeus Theo Janssen (1994-1997); Pater Samuel Oton Sidin (1997-2003); Pater Simon Petrus Rostandy  (2003-2009); Pater Samuel Oton Sidin (2009-2012), sekarang Uskup Sintang; Pater Victorius Dwiardy (2012-2013) sekarang Uskup Banjarmasin; Pater Amandus Ambot (2013-2018); Pater Hermanus Mayong (2018-2021); Pater Faustus Bagara Darmawan (2021-sekarang).

    Saat ini, Ordo Kapusin Provinsi Pontianak berkarya dalam pastoral parokial dan kategorial (pendidikan formal dan pelayanan sosial/karitatif).

    Keuskupan Agung Pontianak (10 paroki), Keuskupan Sanggau (4 paroki), Keuskupan Sintang (1 paroki), Keuskupan Palangka Raya (2 paroki), Keuskupan Agung Jakarta (1 paroki), di Timor l’Este (1 paroki dan 2 rumah pendidikan).

    Dalam bidang pendidikan formal Ordo Kapusin Pontianak berkarya beberapa yayasan: Yayasan Widya Dharma Pontianak (Universitas Widya Dharma), Yayasan Pendidikan Helvetia Bunut (SMP dan SMA), Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak (TK sampai SMA), Yayasan Pendidikan Maniamas Ngabang (SD, SMP, SMK dan SMA).

    Kapusin Pontianak juga berkarya di dua rumah retret pembinaan mental dan spiritual: Rumah Retret Laverna, Sanggau Kapuas dan Rumah Retret Tirta Ria, Kubu Raya.

    Pelayanan sosial / karitatif dikelola di Yayasan Sabatu (Rehabilitasi Diffabilitas, Pusat Konservasi Alam Rumah Pelangi, Pertanian dan Peternakan di Rumah Panjang Sumpin, Sanggau Ledo, Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak.

    Pelayanan Spiritual untuk OSCCap Bejabang dilayani oleh para saudara Kapusin yang tinggal di Fraternitas Gubbio, Bejabang.

    Uskup Agustinus, Sumber: Paroki Santa Sesilia Pontianak (2024)

    Tanda bahwa Tuhan mencintai kita

    Dalam perayaan misa syukur 30 tahun provinsi Kapusin Pontianak pada 2 Agustus 2024, dalam homilinya Uskup Agustinus Keuskupan Agung Pontianak mengatakan bahwa ada tanda yang telah Tuhan berikan kepada manusia dan itulah yang menjadi simbol kehadiran Tuhan sebetulnya nyata dalam kehidupan manusia.

    “Tanda-tanda bahwa Tuhan menyertai dan mencintai kita, tapi kadang-kadang otak kita dan pengetahuan kita seakan-akan tidak percaya  bahwa Tuhan menyertai kita,” kata Uskup Agustinus, (02/08).

    Untuk itu Uskup Agustinus menitikberatkan yang paling penting diantaranya itu meneladani teladan Bunda Maria. Seperti yang Maria katakan tentang kehendak dari Tuhan tentang  rencana kemuliaan Allah di dunia.

    Bunda Maria menyerahkan diri seutuhnya kepada rencana Allah dengan mengatakan ‘terjadilah pada ku menurut kehendak Mu’ menurut Uskup Agustinus, sikap ini adalah sikap ‘iman’ yang patut diteladani di zaman ini.

    Dalam wawancara pada media paroki, Uskup Agustinus mengucapkan selamat merayakan 30 tahun berdirinya Provinsi Kapusin Pontianak.

    “Saya juga berterima kasih, atas jasa-jasa dan pekerjaan yang luar biasa dalam mengembangkan Keuskupan Agung Pontianak. Sejak hadirnya Kapusin di Keuskupan Agung Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat umumnya,” kata Uskup Agustinus, (02/08).

    Sejalan dengan itu, Pastor Paroki Santa Sesilia Pontianak, Pastor Fransiskus Yosnianto OFMCap juga turut memberikan komentarnya.

    Dia menyampaikan selamat kepada seluruh anggota Kapusin yang pada hari itu merayakan ulang tahun ke 30.

    Pastor Fransiskus Yosnianto OFMCap atau lebih dikenal dengan Pastor Yanto menyampaikan bahwa semangat dari persaudaraan tetap terpelihara, sebagaimana Provinsi Kapusin Pontianak dengan Bunda Maria sebagai pelindungnya “Santa Maria Ratu Para Malaikat”.

    Dokumentasi Paroki Santa Sesilia Pontianak (2024)

    “Semoga saudara-saudara Kapusin dimanapun karyanya tetap semangat dan selalu bertumbuh, menyebar, bercahaya, dan menjadi berkat bagi banyak orang,” kata Pastor Yanto, (02/08).

    Seraya dengan itu, komentar serupa juga diucapkan oleh Pastor Pionius Hendi OFMCap sebagai Komunikator Panitia Hut 30 Kapusin Pontianak. Dengan bangga dia menyampaikan selamat kepada seluruh anggota saudara Kapusin.

    Dia menyebutkan keutamaan untuk semakin bertumbuh, menyebar dan bercahaya.

    “Berikan yang terbaik, jadilah saudara untuk semua,” kata Pastor Pio, (02/08).

    Sambutan serupa dari saudara Kapusin lain yaitu Pastor Athanasius Nandung OFMCap dan Pastor  Fransiskus Forgione OFMCap juga mengatakan ucapan selamat kepada seluruh anggota Kapusin Provinsi Pontianak yang berpesta.

    Mereka berharap dengan satu suara yakni agar Kapusin tetap semakin bertumbuh, menyebar dan bercahaya. (Selesai). 

    By. Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.
    Sumber: Paroki Santa Sesilia dan Panitia.

    Berdirinya Kapusin Provinsi Indonesia (Serial 3)

    Arsip Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    MAJALAHDUTA.COM | Pontianak, Selasa 20 Agustus 2024 – Pada awal tahun 1960-an, proses indonesianisasi dalam misi Katolik di Indonesia mulai berubah signifikan.

    Uskup Agung Ferrerius van den Hurk awalnya tidak sepenuhnya mendukung otonomi misi Kapusin di wilayahnya.

    Namun, kesadaran di Belanda dan Indonesia mulai tumbuh bahwa pekerjaan misi harus digantikan oleh pelayanan pastoral oleh imam lokal.

    Di Belanda, keyakinan bahwa perkembangan ini harus mengarah pada pendirian provinsi Kapusin Indonesia semakin jelas pada kapitel provinsi tahun 1966.

    Pada Januari 1967, Minister Provinsial Pater Gerontius Loonen dan procurator misi Pater Bonfilius van den Berge mengunjungi dua wilayah misi di Indonesia untuk mengevaluasi kesiapan mereka menuju kemandirian.

    Hasilnya, pada kapitel berikutnya di Oosterhout pada Juli 1969, disepakati untuk membentuk satu provinsi dengan tiga wilayah (regio), walaupun masih ada kekhawatiran tentang dukungan personel dan keuangan.

    Pada kapitel April 1974 di Pematangsiantar, Pater Gonzalvus Snijders kembali terpilih sebagai superior dan permintaan resmi diajukan ke Roma untuk mendirikan provinsi Indonesia yang mandiri.

    Setelah menyelesaikan berbagai peraturan hukum dan keuangan, dekret untuk “Pendirian Provinsi Kapusin Indonesia” ditandatangani pada 31 Januari 1976.

    Pater Gonzalvus Snijders menjadi minister provinsial pertama, dengan superior regional untuk masing-masing wilayah: Pater Godhard Liebreks (1923-2013) dari Mierlo untuk Regio Medan, Pater Amantius Pijnenburg (1925) dari Gilze untuk Regio Pontianak, dan Pater Christian Brockmann dari Jerman untuk Regio Sibolga.

    Partisipasi Indonesia dalam kepemimpinan provinsi mencakup tiga orang: Pater Thomas Saragi (wakil provinsial dari Medan), Pater Petrus Tan Un Mou (Pontianak), dan Pater Robertus Dachi (Sibolga).

    Pada saat itu, ada 222 kapusin dengan 99 di antaranya orang Indonesia.

    Pada 24 Mei 1976, Ferrerius van den Hurk mengundurkan diri dan digantikan oleh Pius Datubara sebagai Uskup Agung Medan. Ferrerius kembali ke Belanda, dan Provinsi Kapusin Indonesia semakin memiliki karakter lokal.

    Pada akhir 1977, jumlah kapusin Indonesia mencapai 105 orang, sementara jumlah orang asing menurun menjadi 99. Pada tahun yang sama, sebuah buletin provinsi bernama Simpai didirikan.

    Pendirian Kapusin Provinsi Indonesia memiliki struktur yang belum sepenuhnya sesuai dengan konstitusi Ordo Kapusin. Meskipun demikian, provinsi ini telah memberikan dampak positif bagi perkembangan Ordo di Indonesia, dengan peningkatan jumlah saudara pribumi dan kerja sama antar-regio yang semakin baik.

    Untuk menyelesaikan masalah struktur yang tidak konstitusional, para saudara berencana merevisi statuta provinsi agar lebih sesuai dengan tugas dan wewenang dewan pimpinan.

    Meskipun revisi statuta telah dilakukan, masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pendirian tiga provinsi Kapusin mandiri.

    Foto Arsip Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    Berdirinya Tiga Provinsi Kapusin di Indonesia

    Sebelum terbentuknya Provinsi Indonesia pada 31 Januari 1976, terdapat tiga misi Kapusin di wilayah tersebut, masing-masing dipimpin oleh seorang Superior Regularis bersama Dewan Penasihatnya.

    Provinsi Pontianak dipercayakan kepada Provinsi Belanda sejak tahun 1905, sementara misi di Medan juga berada di bawah Provinsi yang sama sejak tahun 1911. Pada akhir tahun 1950-an, Provinsi Swiss datang membantu misi-misi tersebut.

    Tahun 1929, saudara-saudara dari Belanda mendirikan stasi pertama di daerah Sibolga dan pada tahun 1939 di Pulau Nias. Tahun 1955, misi di Medan dibagi dan didirikan misi di Nias yang dipercayakan kepada Provinsi Rheinland-Westfalen, dalam Vikariat Apostolik Medan.

    Tahun 1959 didirikan Prefektur Apostolik Sibolga yang meliputi Pulau Nias serta daerah Tapanuli Tengah dan Selatan.

    Pada tahun 1960-an, saudara-saudara dari Brixen datang membantu sebagai misionaris di Prefektur Apostolik Sibolga.

    Pada permulaan, tidak terdapat banyak hubungan di antara ketiga misi tersebut. Setiap misi bergantung pada Provinsinya masing-masing, tetapi ada kerja sama dalam pendidikan bagi saudara-saudara muda yang hidup di rumah yang sama selama tahun-tahun pendidikan.

    Terdapat juga perbedaan dalam hal kebiasaan, kebudayaan, dan suku, baik dari pihak misionaris Eropa maupun saudara-saudara setempat.

    Setelah Provinsi otonom berdiri dengan tiga regio pada 31 Januari 1976, kesulitan dalam hubungan dengan kepemimpinan dari jarak jauh serta perbedaan budaya dan kebiasaan tersebut pelan-pelan dapat diatasi.

    Statuta khusus Provinsi Indonesia memberikan otonomi tertentu kepada masing-masing Regio.

    Selama sepuluh tahun terakhir, jumlah saudara pribumi berkembang cukup pesat, sementara jumlah misionaris mulai berkurang.

    Kesulitan akibat jarak yang jauh dan struktur provinsi semakin terasa. Bagaimana dapat diperdamaikan kesatuan Provinsi dengan otonomi ketiga regio?

    Pembagian Provinsi dalam tiga regio dimaksudkan sebagai pemecahan sementara untuk mempersiapkan perkembangan lebih lanjut kehadiran Kapusin di Indonesia.

    Arsip Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    Karakter lokal yang berkembang di setiap dari tiga wilayah (Medan, Pontianak, dan Sibolga) lebih bersifat gerejawi daripada khas Kapusin.

    Bagi banyak orang Indonesia, menjadi Kapusin sama artinya dengan menjadi pastor, seperti halnya bagi banyak misionaris Belanda. Kedua kelompok ini terus bekerja untuk mengindonesiakan ordo tersebut.

    Dalam kapitel pertama provinsi pada tahun 1979 muncul ide pembentukan tiga provinsi di Indonesia. Otonomi regio yang lebih besar menjadi sorotan, karena minister provinsial kesulitan menjalankan tugasnya secara penuh.

    Namun, mayoritas suara memilih untuk mempertahankan struktur yang ada. Pada kapitel kedua tahun 1982, isu struktur provinsi kembali dibahas, mayoritas suara masih memilih status quo.

    Pada kapitel tahun 1985 dan 1988, ide pemekaran tiga provinsi masih dipertimbangkan, namun mayoritas suara tetap memilih untuk mempertahankan satu provinsi.

    Meskipun terdapat pandangan yang berbeda-beda dari regio-regio, keputusan akhir adalah memperkuat kesatuan provinsi.

    Diskusi tentang pemekaran provinsi akan dilanjutkan oleh masing-masing regio dan hasilnya akan dirumuskan dalam kapitel provinsi tahun 1991.

    Sebelum tahun 1991, komisi khusus tidak berhasil menetapkan arah untuk struktur provinsi. Kapitel tahun 1991 berfokus pada tugas pimpinan regio yang didelegasikan oleh minister provinsial. Namun, Konstitusi Ordo Kapusin tidak mengenal istilah superior regionalis, sehingga pendelegasian tugas tidak sah setelah 15 tahun.

    Pater Franz Xaver menyarankan pembentukan tiga provinsi baru dengan kerja sama dalam bidang pendidikan. Dewan Pimpinan Provinsi diminta memohon persetujuan Minister General dan menyusun konsep kerja-sama antar provinsi.

    Surat permohonan izin dikirim pada 30 Mei 1991, namun jawaban belum diterima hingga Oktober 1991. Perkembangan signifikan terjadi setelah surat minister provinsial pada Juni 1992.

    Definitor General meminta batas wilayah provinsi baru ditentukan, kerjasama pendidikan ditandatangani, dan kontrak dengan provinsi induk disesuaikan. Keanggotaan provinsi baru terbuka bagi semua saudara.

    Para saudara sangat senang dan antusias mendengar keputusan Minister Provinsial dan Dewan Penasihatnya (MPDP) untuk mendirikan tiga provinsi.

    Rapat MPDP pada 16 Januari 1992 membahas pembentukan provinsi dari masing-masing regio.

    Regio Pontianak menyetujui pembentukan provinsi, sementara Regio Sibolga awalnya mempertimbangkan hanya dua provinsi, tetapi akhirnya mendukung tiga provinsi.

    Regio Medan masih membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan. Panitia ad hoc dari MPDP merumuskan bentuk kerjasama antara ketiga provinsi yang akan didirikan.

    Setiap provinsi baru perlu merancang kerja sama dengan provinsi induk terutama dalam hal personel dan keuangan.

    Setelah semua hal disiapkan, pada 15 Maret 1993 Minister Provinsial dengan persetujuan Dewan Penasihatnya mengirim kembali surat kepada Minister General Pater Flavius Roberto Carraro, untuk secara resmi memohon pendirian tiga provinsi Kapusin di Indonesia.

    General menanggapi dengan baik dan mengutus wakilnya Pater Viktrizius Veith untuk mengadakan visitasi khusus dalam rangka persiapan pembentukan provinsi baru.

    Penentuan anggota dari masing-masing provinsi baru juga merupakan hal yang sensitif, dan MPDP sangat berhati-hati dalam menentukannya.

    Minister provinsial meminta bantuan Kuria General untuk menjelaskan prosedur keanggotaan. Formulir pernyataan keanggotaan harus dikembalikan sebelum 30 September 1993.

    Minister provinsial juga memberikan gambaran mengenai cakupan wilayah provinsi masing-masing kepada pihak kuria general. Wilayah Propinsi Pontianak akan meliputi seluruh Kalimantan dan rumah di Jakarta sebagai domus preasentiae. Informasi ini menetapkan batas wilayah ketiga provinsi yang akan didirikan.

    Definitor General menyetujui pendirian ketiga provinsi di Indonesia, namun tanggal yang diajukan tidak sesuai dengan jadwal kuria general. Sebagai solusi, dia mengusulkan tanggal 20-28 Februari 1994 untuk acara peresmian.

    Dewan Pimpinan Provinsi setuju dengan tanggal 21-22 Februari 1994 sebagai hari proklamasi yuridis pendirian provinsi di Pematangsiantar.

    Selain itu, provinsi Pontianak akan diresmikan pada 22-25 Februari 1994 dan provinsi Sibolga pada 28 Februari-1 Maret 1994.

    Nama pelindung juga telah ditentukan, yaitu Santo Fransiskus dari Assisi untuk provinsi Medan, Santa Maria Ratu Para Malaikat untuk Pontianak, dan Santo Fidelis Sigmaringen untuk Sibolga.

    Minister general menyetujui rencana ini dan meminta persiapan yang baik untuk perayaan tersebut.

    Tiga provinsi baru di Indonesia, yaitu Medan, Pontianak, dan Sibolga, didirikan setelah mendapat dukungan positif dari SAPCC (South East Asia Pacific Capuchin Conference) dalam rapat pada 13 Februari 1994 bersama definitor general.

    Setiap provinsi memiliki pimpinan provinsi yang ditetapkan oleh minister general, serta tugas-tugas yang harus diemban oleh masing-masing anggota dewan pimpinan.

    Proses pendirian provinsi dilakukan setelah hasil visitasi kanonik dari vikaris general, dan setelah mendapat persetujuan dari definitor general.

    Semua persiapan dan acara perayaan telah dipersiapkan dengan rapi, dan semua pihak terlibat telah menyatakan dukungannya atas pendirian provinsi-provinsi baru ini.

    Berdasarkan hasil visitasi kanonik vikaris general Pater Viktrizius Veith ke Pontianak, maka pada tanggal 21 Februari 1994, Minister General secara resmi memproklamasikan pendirian provinsi Pontianak sebagai provinsi otonom dengan semua hak dan kewajibannya dalam sebuah Dekret Prot. No. 00222/94 bertanggal 2 Februari 1994 yang ditandatangani oleh Minister General Pater Flavius Roberto Carraro.

    Tanggung jawab kepemimpinan provinsi ini diemban oleh saudara-saudara yang diangkat oleh minister general bersama definitornya.

    Arsip Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    Pater Bartholomeus Janssen menjabat sebagai minister provinsial, Pater Petrus (Tan Un Mou) Rostandy sebagai wakil minister provinsial.

    Pater Samuel Djumen, Pater Heliodorus Paulus, dan Pater Florentius Sidot masing-masing menjadi penasehat kedua, ketiga, dan keempat.

    Yang menarik, dari tiga minister provinsial yang baru ditunjuk, hanya satu yang merupakan orang Indonesia, yaitu Pater Guido Situmorang, yang menjadi minister provinsial Medan.

    Di Pontianak, Pater Bartholomeus Janssen (lahir 1927) dari Eindhoven menjadi minister provinsial. Bart telah bekerja di Indonesia sejak Juni 1957 dan selama lebih dari lima belas tahun menjadi pastor kepala di Paroki Tebet, Jakarta.

    Pada Juni 1990, ia menjadi superior regional di Pontianak dan kini diangkat menjadi provinsial. Di Sibolga-Nias, posisi minister provinsial dipegang oleh orang Jerman, Pater Barnabas Winkler.

    Pendirian tiga provinsi Kapusin di Indonesia bukan semata-mata merupakan respons terhadap kesulitan struktural yang diakibatkan oleh sistem provinsi yang inkonstitusional.

    Meskipun perjalanan menuju pembentukan tiga provinsi Kapusin memang memerlukan perjuangan dan penyelesaian masalah terkait dengan otonomi superior regional yang luas, motivasi utama di balik langkah ini adalah untuk menghidupkan kembali dan memperdalam penghayatan akan karisma Ordo Kapusin. (Bersambung…) 

    By. Samuel – KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak. 

    Pandangan Pacifikus Bos OFMCap, Borneo Zaman itu (Serial 2)

    Arsip Kapusin Pontianak (2024)

    MAJALAHDUTA.COM| Pontianak, Selasa 20 Agustus 2024 – Suku Dayak adalah penduduk asli Kalimantan. Sebagai sebuah kelompok etnis, jumlah mereka sekitar 50 persen dari total populasi sekitar tahun 1905.

    Menurut perkiraan, jumlah mereka sekitar satu setengah hingga dua juta orang, terbagi dalam beberapa subsuku, masing-masing dengan bahasanya sendiri.

    Agama mereka adalah animisme. Mereka sebagian besar tinggal di pedalaman Kalimantan.

    Menurut Pacificus Bos, orang-orang Dayak yang lebih tua khususnya “tidak mau berpindah agama”. Oleh karena itu, misi harus memperhatikan kaum muda Dayak.

    Mendirikan sekolah rakyat (volksschooltjes), dengan atau tanpa asrama, adalah cara terbaik untuk menjangkau kaum muda.

    Hal ini dimulai oleh Eugenius van Disseldorp, Camillus Buil dan Theodoricus van Lanen di Sejiram pada tahun 1906/1907.

    Mereka membangun sebuah gereja baru dan sebuah sekolah kecil, yang dimulai pada tanggal 1 Juli 1907 dengan tujuh belas murid.

    Setelah awal yang sangat sulit, Sejiram mengalami kemajuan pesat pada tahun 1920-an, sebagian berkat hasil dari kebun karetnya sendiri, menjadi sebuah stasi model dengan fungsi sentral untuk seluruh kawasan Hulu Kapuas.

    Pada 28 November 1906, gelombang kedua yang terdiri dari enam kapusin dari Belanda tiba di Singkawang bersama lima suster Fransiskanes dari Veghel (sekarang disebut SFIC).

    Keenam saudara kapusin tersebut adalah Bruder Leopold Schellekens dari Riel, Pater Gonzalvus Buil dari Pannerden, Pater Liberatus Cluts dari Exel, Pater Marcellus Winnemuller dari Dodewaard, Pater Marius Zom dari Zevenbergen dan Bruder Ivo van Schijndel dari Volkel.

    Prefek Bos memilih Liberatus sebagai pemimpin misi Borneo-Timur ditemani oleh Pater Camillus dan Bruder Ivo.

    Arsip Kapusin Pontianak (2024)

    Dua Prefektur Mandiri

    Hampir enam setengah tahun setelah provinsi kapusin Belanda di Borneo ditugaskan sebagai wilayah misi, tanggung jawab atas Sumatera juga diberikan.

    Pada 30 Juni 1911, Sumatra menjadi prefektur apostolik yang terpisah, mengakhiri perdebatan tentang apakah Borneo dan Sumatra sebaiknya menjadi satu misi atau dua misi terpisah.

    Prefek Apostolik Borneo Barat, Pacificus Bos, menginginkan satu misi untuk memanfaatkan dana dari pemerintah Belanda yang digunakan untuk mendukung beberapa pastor di Sumatera.

    Namun, Propaganda Fide dan minister general kapusin Pater Carletti memilih dua prefektur mandiri.

    Setelah keputusan ini, provinsial Anastasius de Goeij berangkat ke Hindia Belanda pada 21 September 1911 untuk mengatur pelaksanaan praktis bersama dengan definitor Robertus Roos, Fidelis Tonus, Bavo van Gils, dan beberapa suster Fransiskan Veghel.

    Di Pontianak, disepakati bahwa Prefek Bos mengirim lima saudara untuk misi baru dan mengusulkan Pater Liberatus Cluts sebagai prefek kepada Propaganda Fide dan diangkat sebagai prefek apostolik sumatera pada 24 Mei 1912.

    13 juni 1912 ditetapkan sebagai awal misi Kapusin di Sumatera bersamaan dengan tibanya Liberatus Cluts sebagai prefek apostolik Sumatera yang bertakhta di Padang.

    Setelah tiba di Padang pada 13 Juni 1912, Pater Liberatus memutuskan untuk mengikuti saran dari Uskup Luypen dan membagi sembilan saudara yang tersedia mulai akhir Agustus 1912 ke lima stasi (Padang, Kota Raja, Medan, Sungai Selan, Tanjung Sakti).

    Ini termasuk empat misionaris dari Borneo dan lima pastor serta bruder yang baru tiba dari Belanda.

    Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ketegangan dengan Belanda berlanjut, terutama mengenai Irian Jaya, hingga penyelesaian pada 1969.

    Selama periode ini, pemerintah Indonesia menerapkan peraturan ketat bagi warga Belanda, yang mengakibatkan kesulitan bagi misionaris Belanda dalam melanjutkan misi mereka di Indonesia.

    Untuk mengatasi kekurangan misionaris, Kuria General di Roma mengalihkan misionaris Belanda yang seharusnya pergi ke Indonesia ke Tanzania, dan misionaris Swiss menggantikan mereka di Kalimantan Barat.

    Arsip Kapusin Pontianak (2024)

    Pada tahun 1957, tiga saudara kapusin dari Swiss: Pater Franz Xaver Brantschen, Pater Ewald Beck, dan Pater Rene Roschy dipilih untuk bermisi di Kalimantan Barat.

    Mereka mempersiapkan diri melalui kursus misi di Friborg dan belajar bahasa Inggris di Irlandia. Setelah visa mereka disetujui, mereka tiba di Pontianak pada 1 November 1959, dan memulai pelayanan dengan mempelajari bahasa Indonesia dan melayani di berbagai lokasi.

    Beberapa misionaris Swiss lainnya bergabung hingga tahun 1977, dengan total 14 saudara Kapusin terlibat dalam misi di Kalimantan Barat. (Bersambung….)

    By. Samuel – KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak. 

    ‘PAH Cap’ Semiotika Kedekatan Umat Pada Saudara Kapusin Provinsi Pontianak (Serial 1)

    Dokumen Foto Kapusin Provinsi Pontianak (2024)

    MAJALAHDUTA.COM|Pontianak, Selasa 20 Agustus 2024 –  ‘PAH Cap’, merupakan semiotika kedekatan umat katolik khususnya bagi karya-karya Kapusin di tanah Borneo alias Kalimantan. Mulai dari teladan hidup, ‘cara hidup apa adanya’ dan semboyan ‘ramah’ yang menunjukkan rasa ‘hormat’ pada segala kelompok.

    Semangat kesederhanaan dan pancaran ‘jubah’ coklat sebagai semiotika ‘sederhana’ ditambah lingkaran ‘tali putih’ di pinggangnya.

    Merasuk dalam kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan dengan teladan dan semangat Santo Fransiskus Assisi untuk mewartakan kasih dan semangat injil serta menjadi garam dan terang dunia.

    Bumbu garam tersebut memberikan nuansa berbeda pula pada dunia. Menjelang perayaan 30 tahun Kapusin Provinsil Pontianak, Minister Provinsial Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Pontianak RP. F. Bagara Darmawan OFM.Cap menyampaikan bahwa Kapusin Provinsi Pontianak telah mencapai 30 tahun.

    “Ini mau menunjukkan bahwa kehadiran Kapusin mengalami suatu pertumbuhan menyentuh kehidupan masyarakat  karena itu dengan penuh kegembiraan  mengajak kita untuk bersyukur Bersama dan berdoa agar para saudara Kapusin senantiasa bertumbuh, menyebar dan bercahaya,” kata Pastor Bagara OFMCap, (18/07).

    Dalam akun resmi Paroki Santa Sesilia Sungai Raya Dalam yang terposting pada 18 Juli 2024, dia berharap semoga kehadiran Kapusin sungguh memancarkan  sesuatu yang berasal dari Allah dan mendatangkan berkat untuk umat sekalian.

    Pastor Bagara OFMCap, (2024)

    Santo Fransiskus dari Assisi

    Santo Fransiskus dari Assisi merupakan tokoh yang mendirikan tiga ordo.

    Ordo Pertama yang didirikan adalah untuk laki-laki, sementara Ordo Kedua adalah Ordo Santa Klara yang ditujukan bagi perempuan, dan Ordo Ketiga untuk religius regular dan awam sekular (baik laki-laki maupun perempuan).

    Ordo Pertama yang Santo Fransiskus dirikan terdiri dari tiga ordo utama mandiri: Ordo Fratrum Minorum (OFM), Ordo Fratrum Minorum Conventualium (OFMConv), dan Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFMCap) atau yang dikenal sebagai Ordo Kapusin.

    Ordo Kapusin, yang diinisiasi oleh Matteo Serafini da Bascio, secara resmi didirikan pada tanggal 3 Juli 1528 dengan Bulla Religionis Zelus.

    Nama “Kapusin” sendiri berasal dari sorakan anak-anak yang melihat para saudara dina yang mengenakan jubah dengan kap panjang dan runcing, yang mereka sebut “Scapucini” (pakai kap), dan dari situlah lahir nama Kapusin.

    Ordo Kapusin telah tersebar luas ke seluruh dunia.

    Kapusin di Negeri Belanda

    Santo Fransiskus Assisi. Sumber: simplycatholic

    Menurut sumber yang dituliskan dalam website resmi Kapusin Pontianak, diterangkan bahwa dalam negeri Belanda, setelah tarik ulur dalam mengirim misionaris ke luar negeri Kapusin Belanda akhirnya menerima tawaran bermisi dan mendapat dukungan dari Propaganda Fide.

    Pada 16 Oktober 1905, enam misionaris Kapusin pertama untuk Kalimantan berangkat dari Tilburg.

    Mereka itu ialah: Pater Johannes Pacificus Bos van Uden (41 tahun); Pater Eugenius Adrianus F. van Disseldorp (30 tahun); Pater Beatus Joseph G. A. Baijens van Dennenburg (29 tahun); Pater Camilius Franciscus Buil van Pannerden (28 tahun); Bruder Wilhelmus Johannes Verhulst van Oosterhout (30 tahun); dan Bruder Theodoricus Wilhelmus van Lanen (31 tahun).

    Dari Tilburg mereka pergi ke Marseille (sebuah kota pelabuhan yang terletak di pesisir Laut Mediterania di Prancis) dengan kereta api, dan dari sana naik kapal ke Singapura pada tanggal 20 Oktober.

    Mereka menggunakan kapal “Cholon” sampai ke Singapura dan berganti kapal “Camphuys”, sebuah kapal dari perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart-Maatschappij untuk me-lanjutkan perjalanan ke Batavia, di mana mereka tiba pada tanggal 20 November 1905.

    Mereka tinggal beberapa hari di Batavia, di mana Mgr. E.S. Luypen SJ menerima mereka dengan sangat baik, sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Kalimantan. Empat dari mereka (Pacificus, Eugenius, Wilhelmus dan Theodoricus) tiba di Singkawang pada tanggal 30 November.

    Dua orang lainnya tetap tinggal di Batavia untuk belajar bahasa Tionghoa dan India, dan tiba di Singkawang pada tanggal 23 Februari 1906. Namun, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar siap untuk pekerjaan misi mereka.

    Seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu dari mereka, “Kami tiba di sana tanpa persiapan, tanpa pengetahuan teoritis tentang metode misi, dan sebagainya.” Mereka benar-benar harus mencari jalan dan meraba-raba dalam ketidakpastian.

    Setelah berkonsultasi dengan imam Jesuit H. Schräder, diputuskan untuk terus melanjutkan kerasulan di antara orang Tionghoa di Singkawang dan melakukan karya misi di antara suku Dayak di Nanga Sejiram, serta mengembangkannya lebih lanjut jika memungkinkan.

    Dua kelompok sasaran utama misi kapusin ini menjadi fokus perhatian sementara, meskipun, paling tidak bagi Pacificus Bos, misi kepada orang Tionghoa selalu mendapat perhatian paling besar.

    Seperti yang ditulisnya dalam sebuah catatan tak lama sebelum pensiun pada tahun 1935:

    “Kalimantan Barat adalah daerah dengan banyak orang Tionghoa. Unsur Tionghoa adalah penting dan selalu tetap murni sebagai orang Tionghoa meskipun mereka adalah pendatang.

    Mereka adalah orang-orang yang rajin dan materialistis, tetapi juga sangat ingin belajar. Itulah sebabnya kita harus berusaha memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap mereka, terutama melalui sistem sekolah yang murni Tionghoa.”

    Selama masa jabatannya, dari November 1905 hingga Februari 1935, banyak energi dicurahkan untuk mendirikan sekolah-sekolah Belanda-Tionghoa dan kemudian sekolah-sekolah Inggris-Tionghoa di kota-kota besar sepanjang pesisir pantai sejauh dua ratus kilometer, yaitu di Singkawang, Pontianak, Pemangkat, dan Sambas.

    Pada tahun 1905, ada sekitar 60.000 orang Tionghoa yang tinggal di seluruh Borneo Belanda.

    Beberapa dari mereka, terutama yang telah menetap di Borneo sejak abad ke-18, telah kehilangan sebagian besar budaya dan agama Tionghoa asli mereka melalui perkawinan dengan orang Dayak.

    Dalam beberapa dekade setelah tahun 1905, banyak kelompok orang Tionghoa kembali beremigrasi ke Kalimantan, sehingga pada tahun 1930 jumlah orang Tionghoa mencapai 12% dari populasi. Mereka termasuk dua kelompok bahasa dan budaya yang berbeda: Hakka dan Hoklo.

    Untuk berhubungan dengan mereka, para misionaris pada awalnya harus bergantung sepenuhnya pada kemampuan bahasa asisten guru dan katekis Tionghoa, Tsang A. Kang, yang telah dididik oleh para pastor Jesuit.

    Dia telah tinggal di Singkawang sejak 1895 dan memimpin ibadah Minggu di sana tanpa kehadiran seorang imam. (Bersambung….)

    By. Samuel | KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak. 

    San Agustin Kampus II Gelar Ujian Praktik Keperawatan OSCE bagi Mahasiswa Semester 6

    Kaprodi DII Keperawatan San Agustin. Ns Eben Haezar Kristian M.Kep (2024)

    MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin | Pontianak, Selasa 20 Agustus 2024 – Fakultas Kesehatan San Agustin Kampus II sukses menyelenggarakan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang menjadi salah satu syarat kelulusan dan tuntutan akreditasi untuk mahasiswa program DII Keperawatan, hari ini (20/08).

    Kegiatan ini berlangsung di ruang OSCE Center, dan dihadiri oleh 106 mahasiswa semester 6 yang mengikuti ujian praktik ini.

    Acara OSCE dimulai dengan pembukaan resmi oleh Dekan Fakultas Kesehatan San Agustin Kampus II.

    Setelah itu, dilakukan briefing untuk peserta uji, klien standar, serta penguji OSCE.

    Briefing ini bertujuan memastikan bahwa seluruh proses uji coba berjalan sesuai standar dan seakurat mungkin seperti di lapangan.

    Dokumen Foto: Kaprodi DII Keperawatan San Agustin, Ns. Eben Haezar Kristian, M.Kep (2024)

    Klien standar mendapatkan pelatihan khusus untuk memastikan bahwa mereka dapat menampilkan kondisi yang relevan dengan kasus nyata.

    Kaprodi DII Keperawatan San Agustin, Ns. Eben Haezar Kristian, M.Kep, menyampaikan bahwa kegiatan OSCE ini merupakan salah satu langkah penting dalam memenuhi standar akreditasi dan menyiapkan mahasiswa untuk dunia kerja.

    “Ini adalah tantangan pertama kali bagi kami untuk menguji keterampilan mahasiswa dengan standar yang ketat. Meskipun baru pertama kali diselenggarakan, kami sangat optimis dan berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan di kampus kami,” ujar Eben dalam wawancara dengan Media Center, (20/08).

    Mahasiswa yang terlibat dalam OSCE ini menunjukkan antusiasme meskipun terdapat rasa gugup karena ini adalah pengalaman pertama mereka.

    Mereka dihadapkan pada berbagai skenario praktik, seperti merawat luka, latihan gerak sendi, pemeriksaan ibu hamil, hitung tetesan infus, pemasangan oksigen, latihan batuk efektif, tindakan sedot cairan, dan pengukuran tanda-tanda vital.

    Semua ini bertujuan untuk menguji keterampilan mereka dalam tindakan keperawatan secara komprehensif dan terstruktur.

    Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa Fakultas Kesehatan San Agustin, meskipun terbilang muda, telah mampu menyediakan fasilitas yang memadai, termasuk peralatan dan laboratorium yang sesuai dengan standar nasional.

    Ujian Praktik OSCE meliputi beberapa keterangan seperti gambar diatas (2024)

    Harapan ke depan adalah agar dengan adanya OSCE ini, kampus San Agustin dapat menjadi tuan rumah untuk kegiatan nasional dan berkolaborasi dengan penyelenggara OSCE nasional untuk memfasilitasi kampus lain yang belum memiliki ruang OSCE.

    “Dengan adanya kegiatan OSCE ini, kami berharap mahasiswa dapat lebih siap dan mampu menerapkan ilmu praktis dalam dunia pekerjaan nantinya, sebagai bekal yang berguna untuk karier mereka,” tambah Eben (20/08).

    Menurut Eben kegiatan OSCE ini tidak hanya menjadi bagian dari proses akademis, tetapi juga sebagai langkah konkret dalam menciptakan tenaga keperawatan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan profesional di masa depan.

    By. S | Media Center San Agustin.

    Riam Bedawan: Indah-Nya Karya Tangan Tuhan, Merdeka Indonesia

    Pastor Apo CP di Riam Bedawan (2024)

    MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin| Selasa, 20 Agustus 2024 – Sungguh aku bersyukur kepada, ya Tuhan untuk anugerah kesehatan, boleh sejenak melihat dan mengagumi keindahan alam ciptaanMu, Air Terjun Bedawan dan Air Terjun Unga-Desa Dange Aji, Kec. Air Besar Serimbu, Kab. Landak.

    Dalam perziarahan kali ini bertepatan dengan hari Kemerdekaan RI ke 79, saya merefleksikan bumi Indonesia terkhusus Borneo dengan segala kekayaan tradisi, budaya, adat dan alam yang sangat Indah, harmoni, panoramanya bak lukisan terkenal Michelangelo dan lukisan naturalisme Thomas Cole ataupun Theodore Rousseau.

    Saya sungguh speechless ketika sampai ke lokasi Air Terjun Bedawan dan Air terjun Unga. Kendati, harus melewati 6-7 jam perjalanan (Ngabang – Serimbu 1-jam, Serimbu ke desa Dange Aji 3 Jam-an, dari Desa Dange Aji ke lokasi Air Terjun 2-3 jam) melewati, bukit, ngarai, tebing, jalan berbatu dan becek, hujan, dingin, licin bahkan binatang Pacat(penghisap darah) terus menemani sepanjang jalan.

    Bercucuran keringat dan kaki yang penat dan otot keram namun disuguhkan dengan alam yang asri nan indah, semuanya sirna.

    Sungguh ku terpesona, terperangah melihat indah-Nya karya tangan Tuhan.

    Akhir dari refleksi dan kontemplasi ini, saya hendak bermazmur “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”

    Mzm. 8:9. Merdeka, merdeka merdeka! Indonesiaku.

    Seruan ini juga mengingatkan saya tentang orang Dayak Iban mencintai alam dan leluhurnya, demikian Petuah Suku Dayak Iban

    Tanah Indai kitai, utai-kampung apai kitai, Sungai darah kitai ( Tanah adalah ibu kami, hutan adalah ayah kami, sungai adalah darah kami).

    Riam Bedawan (2024)

    Akses jalan masih sulit

    Satu harapan bahwa Kabupaten landak adalah salah satu daerah di Kalimantan barat yang kaya akan potensi alam, kiranya banyak investor, pengusaha bahkan pegiat dan pecinta alam mengekplorasinya lebih jauh.

    Harus diakui akses jalan masih sangat sulit perlu perjuangan keras.

    Realisasi jalan menjadi bagus hanya dapat tercapai dan bukan di angan-angan semata ketika semua pihak terlibat baik aparatur Desa, pemerintah daerah setempat, swasta, tokoh-tokoh setempat, Dewan Perwakilan Daerah dan terlebih orang setempat.

    Bila semua akses dibuka, bukan tidak pasti pengunjung dari berbagai tempat akan datang, baik pengunjung lokal maupun internasional.

    Kemudian pengelolaan tiket masuk dan guidenya pun harus diatur regulasi sedemikian rupa, sehingga pengunjung dapat mendapatkan informasi yang benar dan menikmati perjalanan pendakian menuju air terjun.

    Pesan terakhir, bahwa jagalah hutan-rimba, air dan segala isinya.

    Dalam perenungan akhir, ketika kami berangkat dari Ngabang dimulai dengan doa.

    Kami pulang pun ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama di Stasi terdekat Stasi Dange Aji.

    Ekaristi ini dirayakan untuk mengucap syukur atas keindahan alam dan penyertaan Tuhan, berdoa bagi pemerintah setempat untuk memerhatikan akses wisata ini dengan maksimal.

    Refleksi Kemerdekaan RI ke-79 bersama Satu mahasiswa San Agustin (Suliwa) dan alumni San Agustin (Albertus Agung dan Dandi) dan terkhusus terimakasih bang Dadang-Serimbu Saham sudah menemani perjalanan ini.

    By. Pastor Kristianus Damianus Tepo CP (Pastor Apo) , Riam Bedawan 16-18 Agustus 2024.

    Hidup Membiara dan Pengikhraran Kaul Kekal Bruder MTB, Ini Pesan Uskup Agustinus

    Perayaan Syukur 50 & 25 Tahun Hidup Membiara dan Pengikhraran Kaul Kekal Bruder MTB (2024)

    MAJALAHDUTA.COM| Senin 19 Agustus 2024 – Perayaan Syukur 50 dan 25 tahun Hidup Membiara  dan Pengikraran kaul Kekal berjalan lancar di Gereja  Katedral Santo Yosef Pontianak, pada Kamis, 15 Agustus 2024 sore.

    Hari indah itu, keluarga besar Bruder Maria Tak Bernoda mengantar saudaranya untuk merayakan 25 Tahun Hidup Membiara, Bruder Videlis Suhardi MTB dan 50 tahun hidup membiara, Bruder Petrus Handoko MTB.

    Kemudian dilanjutkan dengan Kaul Kekal Bruder Alfonsus Perangin Angin MTB dan Bruder Anselmus Marulitua Barasa MTB.

    Misa kudus hari itu dipimpin langsung oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus diikuti oleh kuria keuskupan dan beberapa Imam Keuskupan Agung Pontianak.

    Dalam perayaan itu, bertepatan pada 15 Agustus Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dimana persaudaraan Bruder Maria Tak Bernoda atau yang sering dikenal dengan Bruder MTB mengambil nama Bunda Maria diujung nama setiap anggotanya.

    Bruder Vianney MTB saat memberikan sambutan, (2024)

    Semangat Bruder MTB

    Para bruder misionaris pertama ini meneladani sikap penyerahan diri Bunda Maria. Bunda Maria yang setia dan penuh dengan pengalaman pergulatan batin yang disimpan di dalam hatinya [Luk 2:54].

    Para Bruder Misionaris pertama juga melaksanakan hal itu. Yang terbukti kesetiaan mereka adalah merawat karya-karya kongregasi hingga sampai saat ini masih tetap relevan.

    Maka, patutlah kesetiaan mereka menjadi pembelajaran yang inspirasi bagi generasi kita saat ini. Kelima misionaris Bruder MTB itu adalah Br. Canisius, Br. Maternus, Br. Serafinus, Br. Longinus dan Br. Leo Geers. Mereka datang ke kota Singkawang pada 11 Maret 2021 sebagai tempat berkarya pertama kali.

    Kita lebih mengenal semangat yang mendasar, yang menjiwai Para Bruder MTB menurut RUR 1, 1978 yang disajikan dalam buku semangat dan tujuan MTB menurut dokumen-dokumennya [Tumbarman, 1997:16] menegaskan dua semangat mendasar, yakni: “semangat dalam sejarah yang meliputi semangat beriman, sederhana, siap sedia, tekun, berani mengambil resiko, mengabdi untuk gereja dan masyarakat menurut teladan St. Fransiskus Assisi dan di bawah perlindungan St. Perawan Maria secara khusus bagi mereka yang sederhana dan membutuhkan.”

    Semangat Bruder MTB di Indonesia yang sesuai dengan konteks konteks budaya maupun tradisi, yang meliputi: beriman, sederhana, peka, berani beresiko, tekun, mengabdi, disponibel, solider, persaudaraan, doa dan karya.

    Semangat ini terus menjiwai pada Bruder MTB sampai saat ini. Suatu kegembiraan besar bagi para Bruder MTB dalam rangka merayakan 100 tahun kehadiran MTB di Indonesia, refleksi tentang hidup doa dan karya terus dimaknai sebagai ‘medan’ untuk menjawab tantangan zaman.

    Pertanyaan refleksi yang terus menggema dalam beberapa kali pertemuan virtual adalah usai 100 tahun kebaruan macam apa yang diperlihatkan oleh Kongregasi Bruder MTB? Pertanyaan dibutuhkan jawaban bersama.

    Perayaan Syukur 50 & 25 Tahun Hidup Membiara dan Pengikhraran Kaul Kekal Bruder MTB (2024)

    Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

    HARI Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga merupakan hari yang dikhususkan untuk menghormati sang bunda Allah yang tetap perawan dan setelah menjalani perutusan di dunia, Maria ikut bersama sang Putera di Surga.

    Dogma itu dikeluarkan Paus Pius XII pada 1950 sebagai ajaran Iman Katolik. Hari raya ini merupakan suatu penghormatan kepada Maria yang tetap setia berada di samping Yesus sampai wafat.

    Kesetiaan itulah yang menjadi suatu kesaksian hidup Maria dalam perutusan-Nya sebagai Bunda Allah. Kesetiaan itu juga yang mampu meyakinkan Allah bahwa Ia memilih perempuan yang tepat untuk menjadi Bunda Tuhan.

    Selain itu, Bunda Maria juga dikenal sebagai Bunda yang memberi kesegaran dan kegembiraanya. Bunda yang mampu mengayomi segala kalangan masyarakat. Bunda yang senantiasa bertekun dalam kerendahan hati dan menjadi ‘obat’ penenang bagi banyak orang.

    Selain itu, kemurnian Bunda Maria menjadi salah satu bukti akan ketulusan hati dan kejernihan hati seorang perempuan. Ketulusan hati yang memang jarang dimiliki oleh perempuan masa itu. Ketulusan hati yang mampu mengubah persepsi perempuan sebagai sumber celaka yang telah dilakukan oleh Hawa pada kitab kejadian.

    Kala itu, perempuan dilihat hanya sebagai buah simalakama. Namun, kehadiran bunda Maria menjadi oasis baru yang mengangkat perempuan bahwa mereka bukanlah bencana tapi suaka, dimana tempat kita bersimpuh untuk menerima surga dari telapak kaki sang Bunda.

    Selain itu, Bunda Maria pun dikenal sebagai orang yang sederhana. Kesederhanaannya tampak ketika sang Bunda mau mengunjungi Elisabeth saudarinya yang sedang mengandung, jarak yang jauh dan dilakukan dengan berjalan kaki menghabiskan waktu hingga 3 hari.

    Kala itu tidak se-modern sekarang dengan transportasi yang beragam untuk tujuan kemana pun. Jarak dan waktu sedemikian rupa tidak menyurutkan niat Maria untuk menyapa saudarinya. Maria merangkul saudarinya dari keterpurukan karena mengandung diusia tua menjadi bukti kesederhanaanya. Sederhana dalam pikiran, sikap, dan tindakan.

    Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga dirayakan setiap 15 Agustus, dengan tanggal tersebut menjadi tanggal kebanyakan Imam Diosesan Jakarta merayakan ulang tahun tahbisan mereka.

    Bunda Maria menjadi teladan para Imam dalam menghayati kesetiaan, kesederhanaan dan kemurniaannya. Para Imam yang dalam menjalankan perutusan serta menghidupi kehidupan Imamat senantiasa bersimpuh di bawah kaki Bunda Maria untuk semakin menghidupi pelayanan di tengah umat.

    Selain itu, Maria diangkat ke Surga juga dipakai sebagai pelindung dari paroki Katedral Jakarta dengan penghayatan dan harapan agar umat Jakarta semakin meneladani sikap bunda Maria yang mampu mengatakan “fiat foluntas tua- terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”.

    Maria adalah Bunda Tuhan Yesus Kristus, ia adalah juga Bunda kita. Bukan hanya dahulu Maria selalu menyertai hidup Yesus, sekarang pun Maria selalu menyertai hidup kita juga, yang berusaha menghayati hidup kita menurut ajaran dan teladan Yesus puteranya. Maria adalah tanda harapan yang murni bagi segenap umat yang percaya dan melakukan apa yang dilakukan puteranya itu.

    Perayaan Syukur 50 & 25 Tahun Hidup Membiara dan Pengikhraran Kaul Kekal Bruder MTB (2024)

    Hidup dalam dunia

    Dalam Homilinya, Uskup Agustinus mengatakan bahwa dalam dunia banyak orang mudah menjadi angkuh dan sombong. Menurutnya itulah kenyataan yang tidak bisa dihindari.

    “Hidup di dunia ini, orang mudah menjadi angkuh dan mudah menjadi sombong. Kecantikan juga bisa membuat orang angkuh, sebaliknya,” kata Uskup Agustinus (15/08).

    Uskup Agustinus juga menerangkan situasi “fakta pengalaman” Bunda Maria sebenarnya untuk menunjukkan kepada manusia bahwa siapapun adalah manusia yang sangat berharga di hadapan Tuhan.

    “Pada diri kita yang saat ini, ada kecenderungan ingin dihargai, ingin juga dihormati bahkan dengan cara yang tidak benar. Orang yang ingin dihargai-kan, dia pikir dengan kekayaan dia bisa dihargai orang? Itulah Dunia,” ujarnya, (15/08).

    Uskup Agustinus juga menggarisbawahi bahwa dengan cara itulah, orang kecil tidak pernah diberikan kesempatan dan tidak pernah juga diberikan hak yang sama dengan yang lain. Baginya itulah tantangan.

    Bahwa godaan-godaan seperti itu ada dalam diri kita, lanjut Uskup Agustinus: “Tapi ingatlah bahwa Bunda Maria mengalami hal yang istimewa, orang kecil namun sikap seperti Bunda Maria bisa kita lakukan.”

    “Mulai dari hal yang kecil, yakin dan jika kita lihat bahwa orang yang sederhana-pun dipakai oleh Tuhan,” tambah Uskup Agustinus, (15/08).

    Anugerah Tuhan

    “Kami disini, merupakan anugerah Tuhan yang diberikan Tuhan kepada kami,” kata Bruder Alfonsus MTB saat menyampaikan sambutan hari itu, (15/08).

    Dia mengungkapkan bahwa, mereka menyadari betul selesai kaul kekal bukan berarti selesai semuanya. Tetapi tetap harus berjuang untuk setia dan bertekun dalam menjalani panggilan.

    “Seperti yang telah ditunjukkan dari saudara kami, Bruder Videlis MTB yang merayakan hidup membiara 25 tahun dan Bruder Petrus MTB yang merayakan hidup membiara 50 tahun dan dengan teladan mereka kami mencoba untuk belajar dari kesetiaan seumur hidup kami,” kata Bruder Alfonsus MTB, (15/08).

    Sejalan dengan itu, Bruder Anselmus MTB juga menyampaikan tentang sebuah syair yang dia tuliskan. Dalam kesempatan itu dia mengatakan bahwa, perjalanan bukan hanya sekedar melangkah tetapi lebih dari itu ada suka dan duka, ada canda tawa serta perjuangan untuk sesuatu yang dituju.

    “Dalam doa dan refleksi, memampukan kami melangkah dengan pasti walaupun dalam perjalanan jatuh dan bangun tetapi tetap bangkit untuk mencapai pada tujuan mulia setia bersama Yesus,” kata Bruder Anselmus MTB, (15/08).

    Bruder Anselmus MTB menggarisbawahi bahwa dalam kerapuhan, kelemahan bahkan kehampaan, membuat jalan mereka tak berdaya dan terombang-ambing dalam kehidupan.

    “Itu semua tak membuat kami goyah dan menyerah, namun kami semakin dikuatkan dengan pengalaman itu dan semakin didewasakan dalam melangkah dengan pasti,” tuturnya, (15/08).

    Mereka berdua berharap, berkat doa dan dukungan semua pihak mereka menyerahkan diri pada ‘Dia’ yang memanggil kami untuk setia. Seperti Rasul Paulus mengatakan: ‘segala perkara dapat ku tanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku.’

    “Kami sadar kami bisa sampai pada saat ini karena penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan, sehingga kami terus dimampukan untuk terus maju menjadi pelayan dalam persaudaraan Bruder MTB,” tambah Bruder Anselmus MTB , (15/08).

    Kita ini hamba Tuhan

    “Ditepi dermaga banyaklah duduk pemuda tampan, membawa bekal hendak memancing ikan, kalau bukan karena kesalehan dan iman, tidak akan kekal bruder mengarungi jalan panggilan,” kata Bruder Vianney MTB, Dewan Pimpinan Umum Bruder MTB dalam membuka sambutannya hari itu, (15/08).

    Bruder Vianney MTB mengungkapkan bahwa para Bruder MTB mendasarkan hidup mereka atas injil seraya mengikuti seruan, untuk meninggalkan segala-galanya.

    Untuk itu dia berterima kasih kepada para bruder yang sudah memperbaharui kaul, mulai dari profesi pertama, kekal dan berpesta.

    “Kita ini menjadi hamba Tuhan, sekali lagi menjadi hamba Tuhan untuk mereka yang miskin lemah dan sakit,” kata Bruder Vianney MTB, (15/08).

    Bruder Vianney MTB menegaskan, lewat keutamaan Santa Perawan Maria dan Santo Fransiskus, mereka berupaya mewujudkan kemuliaan Allah, khususnya pembinaan kaum muda dan mengupayakan mereka yang miskin, lemah dan sakit.

    “Ingatlah itu, maka mohon semua mendoakan kami, ingatkan juga kami kalau tiba-tiba misi kami berbeda,” tambah Bruder Vianney MTB, (15/08).

    Sebagai Dewan Pimpinan Umum Bruder MTB dia berharap, semoga semua tetap kuat dan setia untuk terus menghayati dan melaksanakan _‘simpliciter et confidenter’_ [kesederhaaan dan kepercayaan].

    By. Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.
    Foto: Martin – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak. 

    Ketua Umum LPAI, Kak Seto Kunjungi Uskup Agustinus

    Kak Seto dan Uskup Agustinus (2024)

    MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agsutin| Rabu, 14 Agustus 2024– Pontianak, pada Selasa 13 Agustus 2024, tepat pukul 14.11 WIB, Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menerima kunjungan dari Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Prof. Dr. Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto.

    Kunjungan ini merupakan bagian dari perjalanannya saat sampainya di Pontianak sehari sebelum menghadiri undangan Seminar Paud Gembira Bergerak Interaktif Kabupaten Bengkayang, 14 Agustus 2024 hari ini.

    Dalam seminar tersebut Kak Seto menjadi narasumber utama Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dengan tema “ Mendidik Dengan Cinta”.

    Kenal beliau?

    Prof. Dr. H. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si., Psikolog. atau yang akrab disapa Kak Seto merupakan psikolog anak dan menjabat sebagai ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, lembaga swadaya yang bergerak pada ranah perlindungan anak di Indonesia khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu.

    Seminar Paud Gembira Bergerak Interaktif Kabupaten Bengkayang dalam membangun Sumber Daya Manusia Menuju Generasi Emas Tahun 2045 kali ini mengundang Kak Seto menjadi pembicara utama yang dengan undangan langsung oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis.

    Sebagai Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Kak Seto bersama tim siang itu mendatangi kediaman Uskup Agustinus untuk ‘nyinggah’ ngopi sejenak.

    Dalam wawancaranya dengan Komisi Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak Kak Seto menjelaskan tentang zaman ini, mendidik anak tidak perlu menggunakan kekerasan.

    Menurutnya ‘kekerasan’ bukanlah cara yang tepat untuk mendidik anak zaman ini. Justru menurutnya cara mendidik yang keras akan menimbulkan pertengkaran baru.

    Kak Seto menghimbau para orang tua untuk bicara dan berkomunikasi dengan anak – anak terlebih dalam konteks dan situasi sekarang paling penting adalah pendekatan dengan cinta (dari hati).

    Baginya itulah keutamaan dari pendekatan kemanusiaan yang lebih bermartabat.

    “Kekerasan hanya akan memicu konflik baru. Pendekatan terbaik adalah berbicara dan berkomunikasi dengan anak-anak dengan penuh cinta, dari hati ke hati,” kata Kak Seto, (13/08).

    Kunjungan Ketua Umum LPAI, Kak Seto di Keuskupan Agung Pontianak, (2024)

    Sapaan hangat Uskup Agustinus

    Kak Seto juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas sambutan hangat dan suasana penuh kasih yang dirasakannya selama kunjungan tersebut.

    Dia merasa sangat dihargai ketika Bapa Uskup Agustinus memperkenalkan berbagai fasilitas di keuskupan, termasuk museum dan kapel, serta menjamunya ‘ngopi’ kunjungannya siang itu.

    “Saat pertama saat saya datang ke keuskupan ini, memori lama saya terpanggil kembali untuk mengingat sejuknya lingkungan Katolik,” ujar Kak Seto sembari mengingat suasana sekolah dalam lingkungan katolik, (13/08).

    Kunjungannya di Keuskupan Agung Pontianak dan bertemu Uskup Agustinus, dengan jelas dikatakan bahwa Kak Seto mengaku turut merasakan adanya suasana katolik yang khas dengan ‘getaran’ kasih yang dia simpulkan dalam makna ‘suasana’ yang damai dan sejuk.

    Dia mengatakan bahwa cara sederhana Bapa Uskup menyapa, menyambut dan memperkenalkan seisi keuskupan mulai dari museum keuskupan, kapel keuskupan, mengajak untuk melihat panorama kota Pontianak dari lantai lima dan menjamunya ‘ngopi’ siang merupakan bukti bahwa dirinya disambut hangat oleh Bapa Uskup.

    Sejalan dengan kunjungan Kak Seto, sebagai Uskup Agung Pontianak, dia memberikan dukungan penuh terhadap misinya dalam memperjuangkan keadilan dan perlindungan anak.

    Dalam komentarnya, Uskup Agustinus menggarisbawahi bahwa kehadiran dan perhatiannya untuk Kalimantan merupakan salah satu gerakan dan teladan yang patut untuk didukung.

    “Saya mendukung gerakan Kak Seto dalam upayanya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi muda untuk masa mendatang,” kata Uskup Agustinus (13/08).

    Uskup Agustinus juga mendoakan langkah-langkah Kak Seto dan lembaganya untuk melindungi lebih banyak anak-anak yang diperlakukan secara tak adil dan ia berharap agar langkah dari mereka selalu diberkati oleh Tuhan.

    By. Sl|Media Center San Agustin.

    Persaudaraan Imam Santo Dominikus

    Pastor Johanes Robini Marianto OP (2024)

    MAJALAHDUTA.COM, Media Center San Agustin | Pontianak, Rabu 14 Agustus 2024 – Di dalam Konstitusi Fundamental Ordo Dominikan pasal IX dikatakan bahwa Ordo Dominikan meliputi imam dan Bruder Dominikan, para suster kontemplatif, para suster aktif, dan persaudaraan para imam diosesan (baca: Praja di Indonesia sebutannya) St. Dominikus. Mereka tergabung sebagai keluarga besar Ordo Dominikan.

    Kesemua kelompok di atas mempunyai afiliasi hukum dengan Ordo Dominikan perlbagai tingkat.

    Para imam dan para bruder Ordo Dominikan adalah mereka yang secara kuat terikat dan langsung di bawah kepemimpinan Provinsial (di tingkat lokal atau regional) dengan pemimpin tertinggi Master Jenderal (di Roma). Dulu disebut Ordo Pertama.

    Para Suster Kontemplatif (pertapa) berada langsung di bawah kepemimpinan Abdis dan akhirnya Master Jenderal di Roma. Dahulu disebut Ordo Kedua.

    Para Suster aktif Ordo Dominikan adalah suster-suster yang terafliasi secara spiritual kepada Ordo Dominikan di bawah kepemimpinan spiritual Master Jenderal meski secara structural mempunyai pemimpinya sendiri.

    Pemimpin mereka adalah provincial mereka atau superior Jenderal mereka sendiri. Namun sebagai persekutuan dan spiritual mereka terikat dengan Master Jenderal sebagai kepala.

    Mereka dahulu disebut Ordo Ketiga Reguler (regular artinya mempunyai konstitusi/aturan hidup Bersama sebagai komunitas religious).

    Para awam banyak yang tertarik dengan cara hidup spiritual Ordo Dominikan dan terinspirasi oleh Sto. Dominikus ingin mengambil bagian karena rahmat baptisan (baca: imamat umum) mengabungkan diri sebagai anggota keluarga besar Ordo Dominikan.

    Mereka tetap awam; namun menghidupi jiwa, semangat dan di dalam konsidi khusus sebagai awam (biasanya berkeluarga) terlibat di dalam karya Ordo Dominikan sebagai pewarta.

    Mereka tetap Imam Diosesan

    Yang terakhir adalah para imam diosesan (Uskup dan pastor) yang merasa terinspirasi oleh hidup dan spiritual dan misi Ordo Dominikan sebagai pewarta mengabungkan diri di dalam keluarga besar Ordo Dominikan.

    Mereka tetap imam diosesan dan Uskup diosesan; namun berkat pengabungan dengan keluarga besar Ordo Dominikan terlibat di dalam misi pelayanan pewartaan.

    Mereka sebagai imam diosesan atau Uskup diosesan tidak menganti ketaatan mereka; namun hanya ingin berpartisipasi di dalam misi Ordo Dominikan.

    Pimpinan structural mereka tetap Uskup diseosan (bagi imam praja diosesan) dan tetap mereka sebagai Uskup diosesan. Yang mereka hidupi adalah rahmat dan nilai spiritual Ordo Dominikan melalui teladan dan hidup Sto. Dominikus.

    Pengikraran kaul mereka menjadi pendalaman dan keseriusan mereka mengambil sungguh karya pewartaan menjadi milik dan spiritualitas mereka pribadi dengan mencontoh Sto. Dominikus.

    Mereka tergabung dengan keluarga besar lebih luas di bawah persekutuan dengan Master Jenderal dan tentunya hubungan khusus sebagai keluarga rohani dengan para imam dan bruder Dominikan.

    Banyak dari imam dan Uskup diosesan yang mengabungkan diri di dunia.

    Paus Benediktus XV dan Paus Pius XII adalah anggota persaudaraan imam St. Dominikus. Sto. Arnoldus Yansen pendiri SVD dan Santo Louis Monfort pendiri tarekat SMM adalah anggota persaudaraan imam Sto. Dominikus.

    Di zaman sekarang, seperti di Filipina, Kardinal Jose Advincula (Uskup Agung Manila), Mgr. Socrates Villegas (Uskup Agung Dagupan) adalah segelintir Uskup yang menjadi anggota persaudaraan imam Sto. Dominikus dan mengucapkan kaul kekal.

    Mereka tergabung dengan Keluarga Besar Ordo Santo Dominikus dan bagian dari universalitas Ordo Dominikan yang melampaui batas negara.

    Pastor Johanes Robini Marianto OP (2024)

    Apakah kewajiban mereka?

    Pertama, kewajiban utama semua adalah menghidupi nilai rohani dan mengambil di dalam rahmat dan misi Ordo Dominikan yaitu studi, pewartaan, doa dan liturgi serta hidup di dalam persaudaraan.

    Lambang kesatuan adalah pimpinan Master Jenderal dengan afliasi tingkatan berbeda seperti dijelaskan di atas.

    Di luar para imam dan bruder Ordo Dominikan, kepemimpinan mereka bukan langsung di bawah Master Jenderal melainkan pimpinan mereka masing-masing.

    Khusus untuk persaudaraan imam Sto. Dominikus bagi imam dan Uskup disoesan ketaatan mereka ada di bawah Uskupnya masing-masing.

    Kedua, mereka mempunyai kewajiban hidup di dalam persaudaraan sebagai keluarga. Maka penerimaan dan persaudaraan merupakan tekanan utama.

    Oleh sebab itu pada acara liturgi perayaan, kegiatan bersama tertentu (tanpa menghilangkan kewajiban mereka secara khas) dillibatkan dan mereka selalu di mana-mana diminta mengunjungi biara-biara Ordo Dominikan sebagai bagian dari keluarga.

    Ketiga, mereka dengan kaul mereka wajib menjadi pewarta dan pelayan Sabda Gereja lebih dekat untuk mewartakan Sabda Allah.

    Mereka dengan penyerahan diri secara baru justru diminta lebih berdedikasi untuk pewartaan dengan cara khas masing-masing.

    Maka sebagai imam dan Uskup diosesan; mereka diminta lebih bersemangat dan rajin melayani dan mewartakan.

    Keunikkan Ordo Dominikan adalah semua anggota keluarga besar Ordo Dominikan, termasuk persaudaraan imam Sto. Dominikus memakai jubah khas Ordo Dominikan dan memakai di belakang mereka title O.P. (termasuk awam).

    Khusus awam; apabila mereka wafat, mereka boleh memakai jubah Ordo Dominikan di dalam pemakaman mereka dan didoakan secara khusus di baik untuk orang tua mereka yang meninggal (7 Februari)  maupun jiwa mereka (9 November).

    By. Johanes Robini Marianto, O.P.

    TERBARU

    TERPOPULER