Friday, April 17, 2026
More

    Part 1: “KAPUSIN di Pontianak, (OFM Cap)”

    Oleh: Samuel (Diolah dari Arsip Keuskupan) Dirilis 20/10/2022

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Kehadiran Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin selama lebih dari satu abad di Indonesia, secara khusus di bumi Kalimantan ini bukanlah waktu yang singkat. Kenyataan ini menghantar para saudara kapusin Provinsi Pontianak kepada ucapan syukur dan terimakasih kepada Allah, yang menyelenggarakan karya agung-Nya, lewat para misionaris awal, para waligereja di mana para saudara kapusin Provinsi Pontianak berkarya.

    Ordo Kapusin masuk Indonesia melalui para misionaris Kapusin dari Belanda, Swis dan Jerman (untuk Nias dan Sibolga).

    Pada 10 Oktober 1905, setelah Prefek Apostolik Pasifikus Bos dengan 5 Kapusin asal Negeri Belanda mengadakan perpisahan dengan umat setempat, mereka meninggalkan Tilburg melalui Paris ke Marseille.

    Baca juga: Doa Pembawa Damai- Santo Fransiskus Dari Asissi

    Kemudian, menuju Singapura dengan kapal laut Perancis. Pada tanggal 30 November 1905 enam Kapusin asal Belanda (Pacificus J. Bos, Eugenius, Beatus, Carmillus, Wilhelmus, Theodoricus) menginjakkan kaki di Singkawang.

    Mereka disambut umat Katolik Tionghoa Setempat. Rumah sakit, sekolah, kebun dan karya sosial kemanusiaan mereka galakkan. Buah-buah karya kemanusiaan dapat dinikmati oleh masyarakat Kalimantan Barat dewasa ini.

    Awalnya 300-an Umat Katolik

    Kedatangan para Kapusin pertama menoreh lembaran sejarah baru di tanah Kalimantan. Sekitar 300-an umat katolik mendapat pelayanan pastoral.

    Dengan bantuan seorang guru agama Katolik, yang sekaligus berperan sebagai juru bahasa, Tshang A Kang, pindahan Penang, mereka mulai mengunjungi umat di daerah Singkawang, Hoklonam, Nyarumkop, Samalantan dan sekitarnya.

    Mereka mula-mula bergerak di bidang agama. Kemudian menembus dunia pendidikan umum. Persekolahan Katolik Nyarumkop termasuk salah satu warisan berharga misionaris Kapusin.

    Baca juga: Menemukan Kristus dengan Membaca Kembali Kehidupan Pribadi

    Sistem pendidikan yang menyatukan wujud pendidikan formal dan nonformal ternyata mendatangkan dampak positif bagi anakanak didik jebolan Nyarumkop. Asrama berpengaruh bagi pembinaan kepribadian anak didik. Dalam asrama diperkenalkan tata tertib dan disiplin tinggi.

    Hasil didikan asrama tampak dari munculnya tokohtokoh masyarakat dalam bidang keagamaan maupun pemerintahan. Hingga kini mereka masih menekuni bidang pelayanan di asrama, seperti di Nyarumkop, Pahauman, Ngabang, Pusat Damai dan Sanggau.

    Ketika stasi (paroki) Pontianak dibuka pada tahun 1909, pusat pelayanan dan tempat tinggal Prefek pun dipindahkan ke Pontianak pada tahun yang sama.

    Dongkrak Kekuatan Kapusin

    Misionaris Kapusin tidak hanya memusatkan perhatian dan pelayanan di kawasan pantai, tapi tak lama kemudian mereka mengincar daerah Pelanjau sebagai pangkalan untuk pelayanan karya misi di daerah pedalaman.

    Rencana ini gagal sehingga mereka membidik Sejiram (Keuskupan Sintang) sebagai kawasan pengembangan karya misi Gereja. Segera mereka mengembangkan hidup sosial ekonomi masyarakat dan memperkenalkan dunia pendidikan formal. Mesin penggiling karet didatangkan dari Belanda Sekolah dibuka.

    Tenaga-tenaga pengajar diusahakan walaupun masih sangat terbatas. Dongkrakan kuat Kapusin dalam bidang-bidang tersebut ternyata mendatangkan perubahan dan perbaikan sosial.

    Baca juga: Pastor Luigi Maria Epicoco: Dua hal yang harus dilakukan setiap murid

    Mereka tidak hanya berhenti di Sejiram, tapi juga merambah tanah Kalimantan hingga ke kawasan Lanjak, Benua Martinus dan bahkan sampai di Laham (Kalimantan Timur). Semangat dasar sebagai perantau Fransiskan sangat terasa.

    Kedatangan mereka diterima dengan baik karena kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat dan budaya lokal. Daya adaptasi para misionaris pantas dikagumi dan semangat kerasulan mereka menyentuh hati banyak orang.

    Sejak awal Kapusin mencari keseimbangan dalam pelayanan bagi umat Katolik yang tersebar di kawasan kota dan pedalaman. Metode pelayanan ‘ disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

    Kerasulan dalam masyarakat

    Jenis kerasulan yang ditangani Kapusin waktu itu adalah mengunjungi masyarakat yang tersebar dari kawasan kota dan daerah.

    Di samping  menjalankan pastoral di paroki, misionaris Kapusin juga mendirikan sekolah-sekolah, seperti sekolah formal (Nyarumkop — 1907, Sekolah Pertukangan di Singkawang dan Pontianak, serta Sekolah Pertanian di Nyarumkop).

    Selain itu, mereka juga mendirikan asrama sebagai tempat tinggal anak-anak yang ingin menuntut ilmu di sekolah. Seminari Menengah dimulai di Pontianak. Kemudian, dipindahkan ke Nyarumkop pada tahun 1949.

    Baca juga: Jenazah Para Kudus yang Tidak Rusak

    Pada waktu itu, anak-anak seminari diwajibkan tinggal di asrama dengan jadwal hidup yang menolong mereka menjadi seorang imam. Perhatian bagi orang-orang sakit juga besar.

    Mereka ikut mendirikan klinik dan rumah sakit untuk menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Ketika misionaris Belanda sulit memasuki Indonesia (karena masalah Irian Jaya), didatangkanlah misionaris asal Swiss yang juga berkarya dalam bidang pelayanan rohani umat, sekolah, rumah retret dan karya sosial. Sampai saat ini, mereka masih meneruskan pelayanan yang dapat mereka lakukan di tengahtengah umat.

    Kerjasama baik dengan umat

    Pada Februari 1994, berdirilah Provinsi Kapusin Pontianak. Sebagian dari anggota provinsi baru ini masih menjalani pendidikan.

    Sampai sekarang, Kapusin di Kalimantan masih menangani kerasulan parokial, pendidikan formal, serta karya kategorial yang menjunjung keadilan, kedamaian, dan keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation).

    Kerja sama yang baik dengan umat sangat terasa sehingga cita-cita meningkatkan hidup rohani dapat diwujudkan tahap per tahap.

    Kapusin hadir untuk melayani dan menolong mereka yang memerlukan pertolongan. Kesediaan untuk memajukan kehidupan menggereja menjadi salah satu ciri hidup fransiskan.

    Disamping itu, tanpa melupakan cita-cita dasar hidup panggilan fransiskan-kapusin, setiap saudara perlu terus-menerus membenahi dan mengembangkan diri secara profesional dalam menanggapi dan menjawab tanda-tanda zaman.

    Bagaimanakah Kapusin dapat hidup dan berkembang di tengah keadaan zaman yang berubah dengan Kiprah para misionaris awal menjadi pijakan bagi para kapusin masa sekarang untuk terus 1 berupaya menerjemahkan karisma kekapusinan dalam era milenial ini.

    Lanjut Part 2….

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles