Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 101

    Paus Fransiskus mengirim telegram belasungkawa dan berdoa untuk 70 orang yang tewas ketika pesawat Yeti Airlines

    Dokumen Vatikan News - Paus Fransiskus mengirim telegram belasungkawa dan berdoa untuk 70 orang yang tewas ketika pesawat Yeti Airlines

    MajalahDUTA.Com, Internasional- Paus Fransiskus mengirim telegram belasungkawa dan berdoa untuk 70 orang yang tewas ketika pesawat Yeti Airlines jatuh di kota wisata Pokhara, Nepal. Paus Francis telah menyatakan belasungkawa atas kematian sedikitnya 70 orang yang tewas pada hari Minggu dalam kecelakaan pesawat di negara Asia Selatan Nepal.

    Dalam sebuah telegram yang ditandatangani oleh Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin dan dikirimkan Senin kepada Presiden Nepal, Bidya Devi Bhandari, Paus ikut berkabung atas mereka yang tewas.

    Pada Minggu pagi, pesawat ATR72 Yeti Airlines dari Kathmandu jatuh saat mendekati bandara baru yang melayani kota wisata Pokhara di Nepal utara.

    Ini menandai kecelakaan pesawat paling mematikan di negara Himalaya dalam tiga dekade. Menurut juru bicara Yeti Airlines, ada empat awak pesawat, dan beberapa warga negara asing di antara penumpang. Orang asing itu termasuk lima orang India, empat orang Rusia, dua orang Korea Selatan, dan masing-masing satu orang dari Irlandia, Australia, Argentina, dan Prancis.

    Dalam telegramnya, Paus Fransiskus meyakinkan masyarakat Nepal akan doanya bagi mereka yang terkena dampak dan terlibat dalam upaya pemulihan, dan memuji jiwa orang yang meninggal dalam belas kasihan Tuhan Yang Mahakuasa. Paus menyimpulkan dengan memohon berkat ilahi untuk penyembuhan dan kedamaian bagi mereka yang berduka.

    Pencarian sedang berlangsung

    Menurut Reuters, seorang saksi yang merekam rekaman penurunan pesawat mengatakan, pendaratan itu tampak seperti pendaratan normal hingga pesawat tiba-tiba berbelok ke kiri. Tim penyelamat masih mencari puing-puing, yang tersebar di jurang setinggi 300 meter, untuk mencari tiga orang hilang yang diyakini tewas.

    Pada hari Senin, tim pencarian mengambil data penerbangan dan perekam suara kokpit pesawat penumpang. Nepal adalah rumah bagi delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia termasuk Gunung Everest. Kota Pokhara populer di kalangan turis sebagai pintu gerbang ke jalur pendakian Sirkuit Annapurna.

    Refleksi Pelayanan Cianjur: Aku, Reruntuhan dan Puing-Puing Sukacita

    Frater Fransesko Ranubaya- Calon Imam Projo Ketapang tengah dalam potret pelayanannya

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Beberapa bulan lalu, konfrater saya iseng menawarkan tempat untuk asistensi. Saya agak terheran-heran karena liburan untuk asistensi, khususnya pada hari natal masih lama sekali. Di mulailah percakapan kami saat itu dan ia bertanya kepada saya mengenai lokasi yang akan saya kunjungi untuk asistensi nanti. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya masih belum menemukan tempat untuk asistensi.

    Akhirnya, ditawarkanlah lokasi yang sesungguhnya tidak asing terdengar oleh saya. Tempat itu adalah Cianjur, lokasi yang acapkali saya ketahui melalui televisi. Lokasi yang dikelilingi oleh kaum-kaum ekstrimis di Jawa Barat. Saya berpikir sejenak, dalam benak saya jika Tuhan berkehendak, saya pasti tidak akan berjumpa dengan orang-orang demikian. Tetapi jika memang itu yang harus terjadi, saya serahkan saja seluruhnya dalam kekuasaan Tuhan. Tanpa berpikir panjang lagi, saya menyetujui lokasi Cianjur untuk menjadi tempat melaksanakan pelayanan selama liburan.

    Pada 21 November 2022, ketika saya sedang surffing Instagram, saya melihat berita bahwa Kota Cianjur, tempat asistensi saya tersebut dilanda bencana Gempa dengan kekuautan 5,6 Skala Ritcher. Agak sedikit kaget, saya mencari informasi tentang Kota Cianjur yang saat itu dilanda oleh Gempa Bumi. Jumlah Korban gempa yang ada saat itu masih 56 orang meninggal. Namun dalam perkembangannya, saya terkejut bahwa korban yang meninggal semakin banyak setelah dilakukan evakuasi yakni sebanyak 600 orang.

    Gempa Bumi ini sungguh membawa dampak yang cukup dasyat. Hal ini menggerakkan hati saya untuk melihat secara langsung apa yang sedang terjadi di Bumi Cianjur itu. Teman saya, yang menawarkan tempat tadi bertanya kembali, apakah saya lanjut atau tidak melaksanakan asistensi di Cianjur. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah menetapkan hati untuk melaksanakan asistensi di Cianjur. Demikian, surat resmi dari Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang dibuat untuk tujuan kepada Pastor Paroki Cianjur Pater Bonefasius Budiman OFM yang diketahui oleh Rektor Seminari.

    Jauh hari saya telah memesan tiket Kereta Api dengan tujuan Pasar Senen. Demikian juga, beberapa Frater lainnya dengan tujuan asistensi ke wilayah “Barat” Jawa. Kami memesan tiket Kereta Api menuju Stasiun Pasar Senen dengan asumsi berpisah ke tujuan masing-masing setelah tiba di stasiun. Jauh hari pula, saya pribadi mempersiapkan keberangkatan dengan meminta bahan-bahan ibadat Natal dan Tutup Tahun dari Romo Endi. Bahan-bahan ibadat tersebut sangat membantu saya dalam mempersiapkan hal-hal yang bersifat urgent ketika berada di lokasi asistensi.

    Berjam-jam dalam Kereta Api

    Pada 23 Desember 2022, saya mulai berangkat menuju lokasi asistensi. Paroki yang akan menjadi wadah pelayanan saya kali ini berada di Gereja St. Petrus Cianjur. Paroki ini terletak di Dekanat Selatan Keuskupan Bogor. Rute yang akan saya lalu menuju lokasi tersebut melalui Kereta Api. Pagi-pagi kami berangkat menuju stasium Kota Baru Malang menggunakan Maxim. Kami beberapa rombongan dengan menggunakan armada Maxim yang berbeda meluncur ke stasiun. Tiba di lokasi, rombongan saya langsung melakukan cetak tiket dan masuk ke dalam ruang tunggu. Tetapi beberapa Frater tertinggal di luar dan harus ditunggu. Tetapi syukurlah, kami semua sudah berada di dalam gerbong tepat waktu.

    Di dalam Kereta Api, kami menikmati perjalanan dengan gembira. Sambil melepas kebosanan, kami membaca buku, wefie-an dan bercerita. Kami memesan makanan, kopi, dan berbagai hal yang bisa dilahap bersama untuk menghindari kejenuhan. Canda tawa mewarnai di sepanjang perjalanan belasan jam ini.

    Waktu demi waktu, jam demi jam berjalan semakin lambat. Kami mulai merasakan lapar sehingga kami memutuskan untuk turun dan melihat apa saja yang dapat kami peroleh. Ternyata, di setiap perhentian kami tidak menemukan kesempatan untuk membeli makanan di stasiun. Alasannya, karena kereta setiap menurunkan penumpang di stasiun akan kembali berjalan setelah waktu sepuluh menit. Pendek cerita, orientasi yang kami alami bukan lagi rasa lapar melainkan rasa haus. Dahaga sudah berada di tenggorokan, tapi kami tidak menemukan petugas yang lalu lalang untuk menawarkan air putih. Akhirnya, saya berinisiatif untuk menuju ke gerbong lima di mana para petugas berada.

    Di sana kami menemukan air mineral, dan saya memborong beberapa untuk diberikan kepada teman-teman. Tentu saja ini sangat melegakan dahaga.

    Saya merefleksikan peristiwa ini sebagai semacam disposisi batin “jalan terus tanpa persiapan matang”. Sebenarnya, segala hal melimpah di dalamnya. Tetapi karena kami memiliki pemikiran sendiri, akhirnya kami berputar dan terkungkung di dalam pemikiran itu. Akibat terlalu mengandalkan diri sendiri, kami berjalan terus dan itu juga tanpa persiapan matang. Seharusnya kami sejak awal mempersiapkan minuman yang cukup supaya tidak mengalami kehausan selama belasan jam di dalam kereta.

    Pengalaman ini sering kali saya rasakan ketika saya merasa bahwa saya mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan sendiri. Dan hasil yang sama terjadi, segala rencana yang sudah dirancang dengan baik pada akhinya tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya.

    Memesan Travel “Aneh”

    Saat turun dari Kereta di Stasiun Senen, kami satu per satu mulai menghubungi travel ke tujuan masing-masing. Saya sendiri bersama dua lainnya, Fr. Alfrid dan Fr. Domis, mengkonfirmasi travel yang akan kami gunakan. Fr. Domis sebenarnya menuju arah Keuskupan Bogor dan bisa melalui KRL, tetapi loket kereta baru buka pada pagi hari. Akhirnya, kami berembuk bersama untuk memesan travel. Saya mencoba menghubungi Travel yang sore sebelumnya sudah dikonfirmasi untuk menjemput kami, tetapi tidak dapat dihubungi saat itu.

    Atas inisiatif Fr. Alfrid, kami memesan Travel lain. Travel yang akan kami tumpangi ini begitu murah, jauh lebih murah dari harga travel yang kami pesan sebelumnya. Tanpa rasa curiga, kami setuju untuk naik travel tersebut. Termasuk Fr. Domis, kami melakukan negosiasi dengan supir Travel untuk tujuan Bogor dengan biaya seratus ribu rupiah dan merekapun setuju.

    Naiklah kami bertiga ke dalam tersebut Mobil L300 tersebut. Masih hal yang wajar ketika supir Travel mengangkut satu per satu penumpang dan barang-barangnya. Tetapi yang menjadi tidak wajar adalah ketika sang pengemudi masih nekat mencari penumpang, padahal muatan mobilnya sudah tidak mampu lagi. Pemandangan yang miris, di mana pengemudi menurunkan sandaran serendah-rendahnya supaya rekan supir satunya bisa duduk di atasnya. Jadi dalam satu kursi pengemudi ada dua orang di atasnya. Di sampingnya ada dua ibu-ibu yang saling berdempetan. Satunya duduk di tengah-tengah “pedal gigi” mobil, yang satunya duduk di kursi kiri. Maka di depan ada empat orang, saya bertiga di tengah dengan para Frater, dan tiga orang di belakang bertumpuk dengan barang-barang. Sementara itu, terdapat barang-barang lainnya di atas mobil tersebut. Sambil menge-chat, Fr. Alfrid menulis,”Sepertinya kita salah naik travel”. Saya tertawa sejenak, dan tersenyum. Meskipun demikian, saya mengatakan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan ini. Karena kelelahan, kami semua bisa tidur nyenyak di dalam angkutan tersebut. Akhirnya satu per satu diturunkan, Fr. Domis di Paroki Keuskupan Bogor, Fr. Alfrid di Paroki Cipanas dan saya di Paroki Cianjur.

    Peristiwa ini sangat berkesan bagi saya pribadi, karena menggambarkan secara langsung realita kehidupan masyarakat kecil di Bogor. Diperkirakan anak-anak remaja sudah harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Kejadian tersebut memang terlihat miris, tapi saya merefleksikannya sebagai jalan kehidupan yang harus dijalani oleh para pejuang nafkah tersebut. Berada di posisi mereka memanglah tidak mudah. Sekalipun terhimpit dalam lika-liku kehidupan mereka tetap berjuang demi orang-orang yang dikasihinya.

    Hal tersebut tentu saja memotivasi diri saya untuk terus berjuang dalam jalan panggilan. Apalagi jika kita memiliki orang-orang atau sesuatu yang begitu berharga untuk diperjuangkan terutama Tuhan yang mengajarkan kebenaran hidup, orang tua, sahabat-sahabat dan orang-orang yang selalu mendukung kita dalam suka dan duka.

    Disambut Dengan Hangat Sebagai Saudara

    Ketika tiba di Gereja Paroki St. Petrus Cianjur, saya disambut oleh bapak-bapak paruh baya. Saya lupa menanyakan nama dari bapak tersebut, ia berkata pada saya,”Frater ya? Mari saya antarkan kepada Pastor,” kata beliau. Di sana saya berjumpa untuk pertama kalinya Pater Gabriel, OFM. Beliau sangat ramah dan memiliki karisma ke-Bapa-an.

    Sekali jumpa saya merasa begitu segan karena setiap tutur kata penuh dengan makna yang mendalam. Begitu juga Pater Bonefasius Budiman, OFM yang sedang isoman saat saya pertama datang. Beliau adalah Pastor Paroki St. Petrus Cianjur. Romo Bone, begitu umat memanggilnya, adalah Pastor Paroki yang sangat jenaka.

    Hampir di setiap perjumpaan, selalu ada hal lucu yang diceritakannya. Beliau juga sedang melaksanakan pendidikan di Bandung. Sejak bencana gempa bumi di Cianjur, kedua Pastor ini sangat amat sibuk mengurusi aneka macam donasi dan turun ke lapangan untuk meninjau langsung. Beliau berdua adalah perpaduan yang sangat harmoni terlihat bagaimana umat begitu mencintai kedua pastor di Paroki St. Petrus Cianjur tersebut. Ada juga Bruder Albert, OFM yang tinggal di Pastoran.

    Beliau sosok yang tidak pendiam, Romo Gabi mengatakan bahwa beliau menghidupi semangat kontemplasi. Sehari-hari beliau membuat aneka macam rosario, kalung salib dan benda-benda rohani di ruangan kamarnya. Bahkan, saya memperoleh satu buah salib Tau yang sangat bagus. Tentu saja, saya akan selalu memakainya karena mengingatkan saya kembali pada ajaran St. Fransiskus Assisi ketika saya masih bersama-sama dengan para saudara-saudari OFS Pontianak.

    Saya sangat bahagia bisa hidup di tengah-tengah orang-orang baik dan penuh kharisma di Paroki St. Petrus Cianjur. Sosok mereka tentu saja sangat memotivasi diri saya untuk selalu gembira dalam bekerja di ladang Tuhan. Pater Bone, Pater Gaby dan Bruder Albert merupakan sosok pelayan Tuhan dengan masing-masing keistimewaan. Dari beliau-beliau ini, begitu banyak hal yang saya timba dari pelayanan mereka.

    Salah satunya adalah memiliki hati untuk umat. Terkadang, umat merindukan sosok gembala yang memiliki hati. Pengalaman saya sewaktu OMK, jika ada gembala yang mau ikut serta dalam kegiatan kepemudaan, ramah, hangat dan tidak antipati pada kaum muda, imam itu pasti akan disenangi oleh OMK. Di Paroki St. Petrus Cianjur ini, saya menemukan kasih dari umat dari anak-anak, remaja, Kaum Muda, hingga manula yang begitu memperhatikan imamnya. Ini saya refleksikan sebagai wujud nyata kasih yang Tuhan Yesus wariskan kepada manusia (bdk. 1 Kor. 13:4).

    Kita sebagai tubuh dari Gereja, hendaknya saling tolong menolong dalam menanggung berbagai kesukaran hidup. Dari cara umat menyambut tamu, saya bisa merasakan bahwa imam berhasil membangun umat yang solider, peka, empati dan inisiatif tinggi untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan Gereja.

    Asistensi, Serasa Berada di Rumah Sendiri

    Tujuan utama saya diutus ke Paroki St. Petrus Cianjur adalah untuk terus belajar menghidupi jalan panggilan selama mengisi liburan Natal.

    Asistensi menjadi sarana untuk tetap dalam situasi belajar. Saya meyakini, dengan mengisi liburan melalui belajar, saya tetap menjalankan mandat dari seminari sebagai utusan, bukan seseorang yang dengan kebebasannya melakukan hal dengan sesuka hatinya.

    Ada opsi untuk liburan, akan tetapi saya lebih memilih untuk menjalani asistensi atau membantu berbagai tugas-tugas yang diberikan gembala kepada saya. Tugas-tugas asistensi ini secara rohani mendorong saya secara pribadi untuk taat pada gembala.

    Sebagaimana saya taat dan hormat kepada rektor dan para formator, di tempat tugas saya ini juga diproyeksikan secara nyata wujud ketaatan sebagai pelayanan seperti rumah sendiri, seminari tercinta.

    Tugas-tugas yang diberikan oleh Pastor Paroki antara lain Maklumat di malam natal, tugas-tugas bersama paduan suara, menyanyikan lagu Te Deum, kotbah untuk misa anak-anak, ikut serta mendampingi PMKRI dalam melakukan assesment bantuan, dan menjadi MC dalam acara Tahun Baru Bersama Imam, Biarawan-Biarawati dan Frater Se-Dekanat Selatan Keuskupan Bogor. Semua pengalaman-pengalaman tersebut benar-benar membakar semangat saya dalam menghayati dan menghidupi spiritualitas imam diosesan.

    Dari segala hal yang baik itu, saya menimba banyak sekali rahmat yang Tuhan berikan terutama rasa syukur atas perjumpaan singkat yang memiliki jutaan makna di dalam hati saya. Saya mengenal banyak orang, teman-teman baru, dan umat yang memiliki kepedulian dan rasa cinta yang besar kepada Gereja.

    Saya merenungkan ini dalam suatu malam di mana ketika saya mengendapkan segala emosi di dalam dada, saya memperoleh pencerahan. Di Seminari, saya ditempa untuk menjadi pribadi yang siap sedia dan memiliki perasaan yang peka. Pembinaan di Seminari, merupakan modal awal untuk mampu melangkah ke luar atau ke tempat yang lebih dalam (Duc in altum). Setiap bentuk pengalaman yang saya alami, saya endapkan dalam examen setiap malam. Saya menimbang-nimbang apakah yang saya lakukan sungguh berkenan di hadapan Allah atau hanya demi kepuasan pribadi semata.

    Tentu saja, rahmat kerendahan hati membuat saya untuk merasa untuk selalu kosong setiap bangun pagi sehingga saya juga siap untuk menerima pengalaman-pengalaman serta pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

    Pengelolaan Pembuangan Sampah Di Modernland Tangerang, Carut Marut, Siapa Bertanggungjawab?

    Pengelolaan Pembuangan Sampah Di Modernland Tangerang

    MajalahDUTA.Com, Tangerang– Diperoleh informasi sebelumnya, yang menyebutkan bahwa pada bulan September 2021 lalu Pemkot Tangerang bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutann telah mengusut tuntas mengenai keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Ilegal di wilayah Kota Tangerang, dalam pengusutan dan penelusuran di lapangan telah ditemukan 6 TPS Ilegal baik pada pengelolaannya maupun lokasinya yang tidak sesuai ketentuan, sehingga pada tanggal 29 September 2021 KLHK telah menyegel keenam TPS liar tersebut.

    Sementara itu, petugas Gakkum KLHK pun turut mengamankan tiga tersangka di Kota Tangerang, yang diduga mencemari bantaran Sungai Cisadane dengan sampah yang terkontaminasi limbah B3.

    “Lokasi ini berada di Bantaran Sungai Cisadane. Berdasarkan bukti-bukti dan pemeriksaan saksi, kami telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka” ungkap salah seorang penyidik Gakkum KLHK

    Menurutnya, melalui penegakan hukum ini, Pemkot Tangerang dan KLHK berharap agar menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak melakukan pengolahan atau pembuangan sampah ilegal. Berdasarkan Pasal 98 dan/atau Pasal 99 Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, penanggung jawab dan/atau pelaku pengelolaan sampah ilegal diancam hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp 15 miliar.

    Dari hasil penelusuran informasi oleh awak media, Pasca penyegelan TPS Liar tersebut, enam bulan kemudian nampaknya muncul kembali fenomena keberadaan TPS Liar di Kota Tangerang, utamanya di kawasan perumahan elit Kota Modern Tangerang, hal ini terlihat dari adanya tumpukan sampah setinggi kurang lebih 2 meter di camp pekerja environmental di Jalan Villa Golf Raya, yang menimbulkan keresahan warga.

    Di saat team menelusuri Kawasan tersebut, sempat bertemu dengan salah seorang warga di salah satu RT ( Rukun Tetangga) terdekat dengan lokasi TPS liar tersebut, ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan TPS liar itu, sebut saja Melani (25), mulanya ia enggan berkomentar, namun Ketika diberi tahu tentang adanya tumpukan sampah tersebut, kemudian ia mengatakan bahwa Ini perumahan elit dengan pengelolaan sampah yang buruk.

    “ Ya, beginilah suasana perumahan mewah dan elit yang nampaknya saja dari luar bagus dan bersih, tapi sayang sekali masih ada Tempat Pembuangan Sampah liar”keluh Melanie kepada team awak media, Sabtu, 14/1/2023

    Usai berbincang-bincang dengan Melanie, maupun dengan beberapa pekerja, diketahui bahwa penanggung jawab lokasi tersebut adalah CV. Mitra Karya Sukses yang merupakan kontraktor landscape di perumahan Kota Moderend Tangerang, selain itu, dari penuturan mereka, diperoleh informasi bahwa tumpukan sampah itu adalah sampah landscape hasil penyapuan dan pemangkasan rumput serta pruning pohon dari kawasan dan cluster perumahan Kota Modern Tangerang.

    “Kami dari CV. Mitra Karya Sukses hanya bertanggung jawab sampai pada pembuangan sampah ini, sedangkan pengangkutan sampah dari lokasi ini ke TPA di kerjakan oleh pihak lain”ungkap salah seorang pekerja yang enggan menyebut Namanya kepada awak media
    Lebih lanjut ia mengatakan, soal sampah di lokasi ini yang menggunung itu disebabkan oleh kinerja buruk dari pihak yang bertanggung jawab dalam pengangkutan sampah , sehingga berdampak menciptakan lingkungan sangat kotor, kumuh dan rawan kebakaran.
    Sayangnya pada hari itu team awak media tidak dapat bertemu dengan dengan penanggung jawab operasional CV. Mitra Karya Sukses, sehingga tidak mendapatkan informasi profil kontraktor yang bertanggung jawab dalam pengangkutan sampah ke TPA.
    Dua hari kemudian, penelusuran mengenai TPS liar tersebut dilanjutkan, Secara kebetulan team berpapasan dengan kendaraan yang mengangkut sampah landscape di Kawasan Perumahan Kota Modern Tangerang, kemudian sopir kendaraan pengangkut sampah itu, mengungkapkan bahwa penanggung jawab pengangkutan sampah dari TPS liar Kota Modern Tangerang ke TPA adalah PT. Tanjung Alam Semesta (PT. TAS).

    Usai mengelilingi kawasan Perumahan Elit Kota Modern Tangerang, terlihat truk yang sedang pick up pengangkut sampah berplat nomor B 9714 PC (huruf belakangnya agak kurang jelas). Dari penuturan sopir truk pick-up itu diketahui bahwa PT. Tanjung Alam Semesta (PT. TAS) diduga kontraktor yang bertanggung jawab atas pengangkutan sampah rumah tangga dan sampah landscape dari kawasan Perumahan Kota Modern Tangerang ke Tempat Pembuangan Ahir Sampah.

    “Sampah-sampah ini tidak di buang ke TPA Rawa Kucing, Sampah ini kami buang ke Jatiwaringin Kali Item Sepatan di Lapaknya Bang Kucing”tegas Sopir truk yang sedang pick up pengangkut sampah berplat nomor B 9714 PC ke team awak media,Sabtu, 14/1/2023.
    Dari pengakuan sopir tersebut, diketahui bahwa Lapak Bang Kucing di Jatiwaringin Kali Item Sepatan adalah area yang berdekatan dengan TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang, dan disinyalir Tindakan tersebut merupakan tindakan illegal yang melanggar aturan pemerintah, karena pembuangan sampah tidak boleh melintas wilayah, serta juga adalah sikap yang sangat ironis dari Pengelola Perumahan Kota Modern Tangerang, wajar saja jika mereka menginginkan wilayahnya bersih tapi seyogyanya tidak dengan cara yang menimbulkan dampak pada pencemaran lingkungan di Wilayah lain.

    Selain itu, diperoleh informasi yang menyebutkan bahwa Charles Honoris Pemilik atau Owner PT. Modernland Tbk yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX membidangi Kesehatan, ternyata bertempat tinggal di Salah satu Cluster Kawasan Perumahan Kota Modern Tangerang tersebut.

    Dari penelusuran team awak media, menemukan pendapat dari beberapa orang warga, yang mengungkapkan pertanyaan mengenai keberadaan Charles Honoris yang dianggap tidak peka dan tidak peduli dengan kondisi TPS liar di Perumahan Kota Modern Tangerang yang sangat kumuh, rawan penyakit dan rawan kebakaran ?

    “Apakah beliau menutup mata dari fakta atas pelanggaran yang dilakukan oleh kontraktor pengangkutan sampah di Perumahan Kota Modern Tangerang yang melakukan pembuangan sampah lintas wilayah, sampah dari Kota Tangerang dibuang ke Kabupaten Tangerang.”ucap salah seorang warga.

    Sayangnya, sampai berita ini diturunkan kami tidak dapat menghubungi Charles Honoris untuk mengkofirmasi berita ini.

    Sejumlah Pengamat Apresiasi 100 Hari Heru Budi

    Sejumlah Pengamat Apresiasi 100 Hari Heru Budi

    MajalahDUTA.Com, JAKARTA – Pengamat politik dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) FX Gian Tue mengaku, Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono memiliki hubungan yang dekat dengan pemerintah pusat. Hal ini menjadi katalis positif bagi komunikasi pembangunan yang kemudian terbukti lebih progresif.

    “Banyak pihak telah memperkirakan hal ini sejak awal, seperti adanya akselerasi dalam pembangunan sodetan BKT, LRT maupun MRT hingga persiapan pembangunan Giant Sea Wall yang semakin diprioritaskan pasca semakin  kritisnya pemukiman tepi pantai akibat meningginya air laut,” ujar Gian di Jakarta, Rabu (11/1/2023)

    Gian menyatakan, adanya isu bahwa seolah Heru Budi ingin menghapus jejak Anies Baswedan di Jakarta tidak bisa diterima sebab ada keterbatasan wewenang seorang Pj Gubernur.

    “Tetapi nanti bisa kita lihat dalam Rencana Pembangunan yang disusun di masa PJ Gubernur baik itu RPJMD 5 tahunan maupun RKPD. Tentu saja kinerjanya akan lebih terasa pada tahun 2023 ini, jadi perlu ditunggu. Karena, 100 hari masa pemerintahannya juga sebenarnya di akhir tahun yah tentu saja sekedar melanjutkan dan mempersiapkan rencana pembangunan di tahun baru ini,” jelas Gian.

    Hal senada dikatakan Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus. Menurut Lucius, sebagai Pj Gubernur, kinerja 100 hari pertama Heru Budi Hartono nampak cukup memuaskan.

    “Keterbatasan wewenangnya sebagai Penjabat tak membuatnya enggan untuk membangun inisiatif. Normalisasi sungai yang paling terlihat, sebuah program yang tak begitu konsisten dijalankan oleh gubernur terdahulu,” ujar Lucius.

    Lucius menyatakan, keterbatasan kewenangan sebagai Penjabat juga coba diatasi Heru dengan melakukan pendekatan dan komunikasi dengan elit politik DKI seperti DPRD. Komunikasi yang dibangun sukses memuluskan pembicaraan tentang anggaran DKI 2023.

    “Intinya Heru cukup punya kemauan untuk bekerja. Dan ia nampak sedang ingin menunjukan hasilnya dari waktu ke waktu,” tandas Lucius.

    Sementara itu, peneliti GMT Institute Agustinus Tetiro menyatakan, kinerja 100 hari Heru Budi di Jakarta layak diapresiasi, karena berhasil membuat sejumlah terobosan yang dirumuskan dalam 3 prioritas yaitu penanganan banjir, transportasi massal, dan antisipasi perlambatan ekonomi yang berpotensi resesi tahun ini.

    “Tahun ini, DKI Jakarta harus bisa mengantisipasi kondisi ketidakpastian ekonomi dan potensi goncangan politik. Heru Budi sudah di jalur yang benar dalam hubungannya dengan pemerintah pusat dan sejumlah elemen di DKI Jakarta,” tegas Gusti, sapaan Agustinus Tetiro.

    Menurut Gusti, Heru Budi harus tetap bisa menjaga fokus kinerjanya, terutama dalam mempersiapkan Jakarta menjadi salah satu poros ekonomi global, khususnya dalam masa transisi pemindahan ibu kota ke IKN. “Jakarta berada di tangan yang tepat. HBH bisa membawa Jakarta lebih baik setelah 100 hari ini,” kata Gusti.

    KPPOD: Kesuksesan 100 Hari Kinerja Heru Budi Harus Berlanjut

    Pj Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono.

    MajalahDUTA.Com, JAKARTA – Direktur eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Herman N Suparman berharap, catatan positif atas 100 hari kinerja Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono harus berlanjut. Keberlanjutan itu akan memperlihatkan hasil kinerja yang lebih holistik dan komprehensif.

    “Terlalu dini sebenarnya menilai kinerja Pj Gubernur Heru Budi. Apalagi beliau menjabat di bulan-bulan akhir tahun anggaran. Akhir tahun ini, baru kita bisa melihat secara utuh kineria Pak Heru, bagaimana tata kelola perencanaan, penganggaran, kebijakan, dan pelayanan publik di DKI Jakarta,” ujar Herman di Jakart, Rabu (11/1/2023)

    Meski demikian, jelas Herman, dalam seratus hari ini, ada yang menonjol, yaitu penanganan banjir. Selain menggerakan kembali normalisasi sungai, peringatan dini terkait cuaca dan potensi banjir merupakan sebuah respons kebijakan yang patut diapresiasi.

    Menurut Herman, hal lain yang perlu diapresiasi adalah kemampuan Pj Gubernur Heru Budi dalam membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat dalam penanganan masalah banjir dan kemacetan, terutama beberapa kementerian terkait, semisal PU PR, ATR/BPN, BUMN dan Perhubungan.

    Kendati demikian, ungkap Herman, ada catatan yang membutuhkan atensi Pak Heru, terutama beberapa perubahan kebijakan yang memantik polemic di publik. “Menurut kami, ini karena sosialisasi  dari pihak Pemprov belum dilakukan secara sistematis,” ujar Herman.

    Hal senada diungkapkan pengamat kebijakan publik GMT Institute Agustinus Tetiro. Menurut Gusti, sapaan Agustinus, Pj Gubernur telah membuat berbagai terobosan untuk menjawab sejumlah masalah penting di ibu kota.

    “Sudah sejak awal kepemimpinannya, Heru Budi memetakan tiga prioritas, yaitu penanganan banjir, perbaikan layanan transportasi dan antisipasi perlambatan ekonomi tahun ini. Heru Budi sedang berada di jalur yang benar,” ungkap Gusti di Jakarta, Rabu (11/1/2023)

    Gusti menyatakan, Heru Budi telah tampil sebagai pemimpin yang humanis saat menghadapi sejumlah komponen masyarakat dengan beragam kepentingan di Jakarta. Hal ini terbukti dari kembali bersatunya sejumlah kelompok masyarakat lokal di Jakarta, kerukunan antarumat beragama yang kian prospektif, hingga komitmen sejumlah elemen masyarakat dana kelompok kategorial yang ingin berlomba-lomba berkontribusi secara positif di Jakarta.

    Lebih jauh, Gusti berharap, Heru Budi bisa memimpin Jakarta dengan baik setelah 100 hari kinerja ini, terutama memasuki tahun 2023 dan 2024 yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi dan bisnis hingga potensi peningkatan eskalasi politik di tanah air jelang pemilu 2024.

    Gusti mengapresiasi sejumlah terobosan Heru Budi seperti membuka lagi pos pengaduan langsung, turun langsung ke lokasi (blusukan), menggalakan kembali Jumat menanam, inspeksi mendadak (Sidak) ke kantor pemerintah seperti Kelurahan, Kecamatan, SKPD dan lainnya.

    “Keluwesan Heru Budi dalam membangun komunikasi dengan pusat dan sejumlah pihak menjadi modal kuat bagi Jakarta untuk lebih optimis melihat masa depan dan mempersiapkan diri menjadi kota dunia setelah IKN nanti. Sukses Jakarta untuk Indonesia!,” tegas Gusti.

    Foto Langka Mewarnai Pemakaman Paus (Emiritus) Benedictus XVI

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Kamis (05/01/2023)- Foto langka tiga orang pilihan dalam Gereja Katolik Dunia mewarnai pemakaman Paus (Emiritus) Benedictus XVI. Foto tersebut muncul di Youtube yang memuat tiga tokoh utama Gereja Katolik Dunia yang masing-masing saling menggantikan kepemimpinan pada jamannya. Paus (Emiritus) Benedictus XVI yang meninggal pada penghujung tahun 2022 yakni 31 Desember 2022 akan dimakamkan pada Rabu (0501/2023) di Katakombe Basilica St. Petrus yang diawali dengan misa requiem (duka cita).

    Link https://youtu.be/RexHaE_tgKM menanyangkan foto langka yang terdiri dari Paus Yohanes Paulus II dari Polandia (1978-2005) yang nama aslinya Karol Wojtyla, Kardinal Joseph A Ratzinger dari Jerman yang kelak terpilih menjadi Paus Benedictus XVI dan menggantikan Paus Yohanes Paulus II (2005-2013), serta yang terakhir adalah foto Kardinal Jorge Mario Bergoglio dari Argentina yang kelak menjadi Paus Fransiskus dan menggantikan Paus Benedictus XVI ((2013 – sekarang).

    Foto tersebut diunggah Rm Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan satu-satunya berasal dari Indonesia. Tayangan tersebut dimulai dengan keterangan judul: Ini Foto Langka Tiga Orang Pilihan dalam Gereja Katolik dan ditutup dengan kutipan ayat kitab suci yakni: “….rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku… Seperti tingginya langit dan bumi, demikian tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu”.

    (Yesaya 55: 8-9) Injil Yesaya dikutip Romo Markus Solo Kewuta SVD sebagai penutup unggahan foto langka tersebut karena sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup tiga pemimpin tertinggi gereja Katolik atau Paus yang terakhir.

    “Suatu waktu di suatu tempat di dalam masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, yakni antara tahun 1978 dan 2005, entah mengapa dan bagaimana tiba-tiba mereka berkumpul bersama dan berbicara satu sama lain. Apa yang terbayang di angan mereka, apa yang terlintas di benak mereka, kita tidak tahu….,” tulis Padre Marco nama akrab dari Rm Markus Solo Kewuta SVD.

    Yang jelas, papar Padre Marco, ketiganya bertemu, dan seperti Roh Kudus-lah yang merancang pertemuan langka dan sensasional itu! Pasalnya, ketiga tokoh tersebut menjadi orang-orang pilihan, pemimpin tertinggi sebuah agama besar di dunia, satu setelah yang lain.

    Paus Yohanes Paulus II (1978-2005)

    Bernama asli Karol Józef Wojtyła, Paus Yohanes Paulus II terpilih menjadi Paus pada Oktober 1978. Lahir di Wadowice, Polandia, suatu kota kecil berjarak 50 km dari Krakow, pada 18 Mei 1920. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara keluarga Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska.

    Karol dibaptis pada 20 Juni, 1920, di gereja paroki Wadowice, dan menerima komuni suci pertama pada usia 9 tahun dan sakramen penguatan pada usia 18 tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah atas Marcin Wadowita di Wadowice ia mendaftar di Universitas Jaggiellonian di Krakow pada 1938 dan di suatu sekolah drama.

    Pendudukan Nazi menutup universitas tersebut pada 1939 dan Karol muda harus bekerja di suatu pertambangan (1940-1944) dan kemudian di pabrik kimia Solvay untuk mendapatkan nafkah hidup dan untuk menghindari deportasi ke Jerman.

    Pada 1942, sadar akan panggilannya untuk menjadi imam, ia memulai kursus-kursus di seminari bawah tanah Krakow, yang diselenggarakan Kardinal Adam Stefan Sapieha, uskup agung Krakow. Pada waktu yang sama, Karol Wojtyla menjadi salah satu perintis “Rhapsodic Theatre” yang juga bergerak di bawah tanah.

    Setelah Perang Dunia II, dan seminari tinggi Krakow dibuka kembali, Karol melanjutkan studinya di situ di fakultas teologi Universitas Jagiellonian. Ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Sapieha di Krakow pada 1 November 1946.
    Tidak lama setelah itu, Kardinal Sapieha mengirim dia ke Roma untuk belajar di bawah bimbingan Garrigou-Lagrange, seorang Dominikan Perancis.

    Ia menyelesaikan doktoralnya di bidang teologi pada 1948 dengan tesis tentang iman dalam karya-karya St Yohanes dari Salib (Doctrina de fide apud Sanctum Ioannem a Cruce). Pada waktu itu, dalam masa liburan, ia menjalankan pelayanan pastoral di antara para imigran Polandia di Perancis, Belgia dan Belanda.

    Pada 1948 Karol kembali ke Polandia dan menjadi pastor rekan beberapa paroki di Krakow dan juga kapelan bagi para mahasiswa universitas. Masa ini berlangsung sampai 1951 ketika ia menempuh lagi studinya di bidang filsafat dan teologi. Pada 1953 ia mempertahankan tesis tentang “evaluasi kemungkinan mendasarkan etika Katolik pada sistem etika Max Scheler” di Universitas Katolik Lublin. Di kemudian hari, ia menjadi profesor teologi moral dan etika sosial di seminari tinggi Krakow dan di fakultas teologi Lublin.

    Pada 4 Juli 1958 ia diangkat menjadi Uskup tituler Ombi dan Uskup Bantu Krakow oleh Paus Pius XII, dan ditahbiskan pada 28 September 1958, di Katedral Wawel, Krakow, oleh Uskup Agung Eugeniusz Baziak.

    Pada 3 Januari 1964 ia diangkat menjadi Uskup Agung Krakow oleh Paus Paulus VI, yang menjadikannya Kardinal pada 26 Juni 1967, dengan gereja tituler S. Cesareo in Palatio dalam tingkatan para diakon, dan kemudian diangkat pro illa vice dalam tingkatan para imam.

    Selain mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), di mana memberikan kontribusi penting pada rancangan Konstitusi Gaudium et Spes, Kardinal Wojtyla berpartisipasi dalam semua pertemuan Sinode para Uskup.

    Para Kardinal memilihnya menjadi Paus dalam konklaf 16 Oktober 1978 dan mengambil nama Yohanes Paulus II. Pada 22 Oktober, Hari Tuhan, dengan mulia beliau mengawali pelayanannya sebagai pengganti Petrus ke 263. Masa kepausannya, salah satu yang terpanjang dalam sejarah Gereja, berlangsung hampir 27 tahun.

    Paus Benediktus XVI (2005-2013)

    Joseph A Ratzinger lahir di lingkungan keluarga petani di kawasan Bavaria, Jerman, pada tahun 1927, namun ayahnya adalah seorang polisi.

    Dia merupakan warga Jerman kedelapan yang menjadi Paus. Dia menguasai banyak bahasa dunia dan sangat menyukai musik gubahan Mozart dan Beethoven.

    Ketika berumur 14 tahun, dia bergabung dengan pasukan remaja Hitler, sebagaimana kewajiban bagi semua anak muda Jerman pada waktu itu.

    Dia pernah menuturkan bahwa kebrutalan dan kekejaman Nazi telah membantu mendorong perjalanannya ke dunia kependetaan.

    Ketika Perang Dunia Kedua meletus, masa belajarnya di seminari Traunstein terganggu karena dia harus mengikuti wajib militer.

    Dia melakukan desersi dari ketentaraan Jerman menjelang berakhirnya PD II dan sempat ditahan sebagai tawanan perang oleh pasukan sekutu pada tahun 1945.

    Ratzinger mengajar di Universitas Bonn sejak tahun 1959 dan pada tahun 1966 mulai mengajar teologi dogmatik di Universitas Tuebingen.

    Dia merasa tak senang dengan maraknya Marxisme di kalangan para mahasiswanya. Dalam pandangannya, agama telah direndahkan di bawah ideologi politik yang dianggapnya bersifat ‘tirani, brutal dan jahat.’

    Di kemudian hari dia menjadi pendukung penting dalam melawan teologi kebebasan, gerakan yang melibatkan Gereja dalam aktivisme sosial, yang menurut dia tak banyak beda dengan Marxisme.

    Pada tahun 1977 dia diangkat menjadi Kardinal dan Uskup Agung Muenchen oleh Paus Paulus VI.

    Dia memiliki reputasi sebagai penganut teologi konservatif, yang berpendirian keras terhadap homoseksualitas, pengangkatan pendeta wanita dan kontrasepsi.

    Dia mendukung penegakan hak asasi manusia, perlindungan lingkungan alam dan perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan.

    Tema utama kepausannya adalah pembelaan terhadap nilai-nilai dasar Kristiani dalam menghadapi apa yang dipandangnya sebagai kemerosotan moral di sebagian besar kawasan Eropa.

    Paus Benediktus XVI terpilih sebagai pemimpin umat Katolik sedunia pada bulan April 2005, setelah meninggalnya Paus Yohanes Paulus II.

    Saat itu usianya 78 tahun dan menjadikannya sebagai salah satu Paus tertua dalam sejarah ketika dipilih.

    Seorang profesor yang mahir bermain piano, Kardinal Joseph Ratzinger sudah ingin pensiun ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal pada tahun 2005. Dia mengatakan tak pernah ingin menjadi Paus.

    Sebelum naik ke tahta kepausan, dia telah menjadi tokoh penting di Vatikan selama 24 tahun, memimpin apa yang disebut the Congregation for the Doctrine of the Faith.

    Paus Fransiskus (2013 hingga sekarang)

    Jorge Mario Bergoglio lahir pada tanggal 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina. Lahir dari sebuah keluarga yang berasal dari Piemonte, sebuah wilayah di utara Italia, tepatnya di Bricco Marmorito, bagian dari kota Asti. Ayahnya bernama Mario Jose Bergoglio, seorang pegawai kereta api dan ibunya Regina Sivori, seorang ibu rumah tangga berdarah Piemonte dan Genoa.

    Ia belajar teknik kimia dan berhasil menjadi sarjana pada jurusan tersebut. Tetapi kemudian Ia memilih ingin menjadi imam dan masuk Seminari Villa Devoto. Pada 11 Maret 1958, Ia pindah ke Novisiat Company of Jesus setelah menyelesaikan studi humanitas di Chile. Pada 1963, ia meraih gelar sarjana filosofi di Seminari Tinggi Santo Yosef San Miguel. Pada tahun 1964-1965, Ia mengajar literatur dan psikologi di Kolese Immaculata di Santa Fe dan pada tahun 1966 mengajar mata kuliah yang sama di Universitas El Salvador di Buenos Aires.

    Pada tahun 1967 hingga 1970, Jorge juga belajar teologi di Seminari Tinggi St. Yosef San Miguel dan meraih gelar sarjana teologi. Ia ditahbiskan sebagai imam jesuit (SJ) pada tanggal 13 Desember 1969 selama studinya di Fakultas Teologi San Miguel Argentina. Pada tanggal 22 April 1973, Ia mengucapkan kaul kekalnya.

    Jorge Mario Bergoglio adalah Master Novis di Villa Valirali San Miguel di mana ia juga mengajar teologi. Ia pernah menjadi provinsial Jesuit Argentina (1973-1979) setelah ditunjuk pada tanggal 31 Juli 1973. Pada tahun 1980 hingga 1986, ia menjadi rektor Fakultas Filosofi dan Teologi San Miguel sekaligus Pastor Paroki St. Yosef di Keuskupan San Miguel. Tahun 1986, ia dikirim ke Jerman untuk menyelesaikan studi doktoralnya dan kemudian melayani sebagai pembimbing rohani di Cordoba.

    Pada tanggal 20 Mei 1992, ia ditunjuk sebagai Uskup Tituler Auca dan Uskup Auksilier Buenos Aires, menerima tahbisan uskup pada tanggal 27 Juni 1992. Ia lalu ditahbiskan uskup di Katedral Buenos Aires oleh Kardinal Antonio Quarracino, Uskup Ubaldo Calabres (Duta Besar Vatikan untuk Argentina) dan Uskup Emilio Ognenovich.

    Pada tanggal 3 Juni 1997, Jorge Mario Bergoglio ditunjuk sebagai Uskup Agung Koadjutor Buenos Aires dan menggantikan Kardinal Antonio Quarracino di Buenos Aires pada tanggal 28 Februari 1998.

    Ia melayani sebagai Presiden Konferensi Para Uskup Argentina pada tanggal 8 November 2005 sampai 8 November 2011. Diangkat sebagai kardinal oleh Beato Yohanes Paulus II pada Konsistori 21 Februari 2001 dengan Titel Kardinal dari St. Robertus Bellarminus. Ia pernah menjadi anggota Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen, Kongregasi Para Imam, Institut Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik, Dewan Kepausan untuk Keluarga dan Komisi Pontifikal untuk Amerika Latin.

    Pada tanggal 13 Maret 2013 di Roma, pada konklaf 2013, Jorge Mario Bergoglio dipilih oleh para kardinal sebagai Paus Gereja Katolik dan mengambil nama Fransiskus sebagai nama regnal. (Sumber: Youtube PdM, fjp2.com, bbc.com, indonesianpapist.com).

    Telah Menjunjung Tinggi Kerjasama dengan Tahta Suci, Paus Fransiskus berduka atas meninggalnya Kardinal Pell

    11 Januari 2023, 12:45- Waktu Vatikan - Majalah DUTA

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus mengirimkan telegram belasungkawa atas kematian Kardinal George Pell, dengan teguh mengikuti Tuhannya dengan ketekunan bahkan di saat pencobaan.

    Paus Fransiskus mengingat kesaksian almarhum Kardinal George Pell yang “konsisten dan berkomitmen, dedikasinya pada Injil dan Gereja, dan khususnya kerja samanya yang rajin dengan Tahta Suci dalam reformasi ekonominya baru-baru ini, di mana dia meletakkan dasar dengan tekad dan kebijaksanaan.

    Kata-kata Paus datang dalam telegram belasungkawa yang ditujukan kepada Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Kolese Kardinal, atas kematian Kardinal Pell di Roma pada Selasa malam, dalam usia 81 tahun, menyusul komplikasi jantung setelah menjalani operasi pinggul.

    Dalam pesannya, Bapa Suci mengatakan dia sedih atas berita meninggalnya Kardinal, Prefek Emeritus Sekretariat Ekonomi dan menyatakan kedekatannya dengan Dekan dan seluruh Kolese Kardinal serta anggota Kardinal. keluarga Pel.

    Dia memujinya atas kesaksian dan pekerjaannya, dan berkata dia berdoa “hamba yang setia ini, yang dengan teguh mengikuti Tuhannya dengan ketekunan bahkan di saat pencobaan, semoga diterima ke dalam sukacita surga dan menerima upah kedamaian abadi.

    Dubes Vatikan Msgr Piero Pioppo: Bangsa Indonesia Dianugerahi Tiga Kekayaan

    DUBES VATIKAN MSGR PIERO PIOPPO: BANGSA INDONESIA DIANUGERAHI TIGA KEKAYAAN

    MajalahDUTA.Com, Jakarta, Jumat (06/01/2023)- Bangsa Indonesia dianugerahi hati dengan tiga kekayaan yakni kerendahan hati, kebaikan, dan kelemahlembutan. Anugerah itu dapat berkontribusi dalam membangun bangsa Indonesia dan juga memelihara semangat persaudaraan termasuk persaudaraan di antara negara-negara tetangga.

    Hal itu diungkapkan AM Putut Prabantoro, pendiri dan sekaligus penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Jakarta, Kamis (06/01/2023) yang mengutip pernyataan Dubes Vatikan Untuk Indonesia Msgr Piero Pioppo, saat menerima rombongan PWKI di Kedubes Vatikan Jakarta, Selasa (03/01/2023).

    Kehadiran PWKI pada Selasa itu terutama untuk menyatakan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Paus Emeritus Benedictus XVI yang telah dimakamkan pada Kamis kemarin.

    Hadir juga dalam pertemuan pada hari Selasa itu, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, mantan Dubes RI untuk Vatikan L. Amrih Jinangkung, yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Hukum & Perjanjian Internasional (PHI) Kemenlu RI dan Rm. Yustinus Sulistiadi Pr dari Paroki Cilangkap, Jakarta.

    Msgr Pioppo menekankan bahwa Gereja Katolik dan semua gembalanya, secara khusus Kardinal Suharyo, dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) saat ini, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, memiliki pelayanan berharga dan penting demi kebaikan bersama di Indonesia, melaluinya mereka selalu bekerja sama dalam persekutuan dengan pemerintah untuk memelihara damai dan kesejahteraan bangsa, dan juga untuk negara-negara ASEAN.

    Khususnya di komunitas ASEAN, menurut Msgr Piero Pioppo, penting bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan perdamaian dan menciptakan saling pengertian di kawasan untuk berdialog, sikap terbuka satu sama lain.

    “Terkait dengan hal ini, dapat dikatakan bahwa Allah memberikan bangsa Indonesia khususnya hati yang kaya akan kerendahan hati, kebaikan, dan kelemahlembutan, yang dapat berkontribusi dalam membangun bangsa ini dan juga memelihara semangat persaudaraan di antara negara-negara tentangga,“ ujar Dubes Vatikan kepada rombongan PWKI.

    Untuk alasan inilah umat Katolik, Msgr Pioppo mengingatkan PWKI tentang ajaran mendiang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, yang berkata: “Jika kita benar-benar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot sejati.

    Karenanya, kita adalah 100% patriot karena kita adalah 100% katolik.” Ajaran tersebut lalu disingkat dan dipopulerkan dengan ungkapan “100% Katolik, 100% Indonesia”, dan selalu diwartakan oleh Gereja Katolik di Indonesia.

    Jurnalis dan Kasih

    Dalam pertemuan itu, Msgr Piero Pioppo menyatakan kebahagiaannya atas kehadiran PWKI di Kedubes Vatikan, Jakarta. Ia merasa senang menerima PWKI yang datang untuk menyampaikan rasa duka cita atas wafatnya Paus Emeritus Benediktus XVI. Dalam kesempatan itu, Msgr Piero Pioppo juga mengapresiasi dan ikut bahagia, PWKI diterima Paus Fransiskus pada 16 November 2022 lalu.

    “Saya gembira jurnalis Katolik Indonesia dapat diterima Paus Fransiskus. Melalui foto-foto yang ada, saya dapat melihat rasa bahagia tampak sekali pada raut wajah Anda semua waktu itu, dan juga senyum Paus yang bahagia saat menerima Anda sekalian. Dan rasa bahagia itu masih tampak di wajah Anda malam ini,” tutur Mgr Piero Pioppo tersenyum hangat dalam pertemuan tersebut.

    Kepada Msgr Piero Pioppo dalam kapasitasnya sebagai Nunsius Apostolik, yang adalah Perwakilan Pribadi Paus Fransiskus di Jakarta, Indonesia, Ketua Delegasi PWKI Ke Vatikan, Mayong Suryolaksono menginformasikan terkait kunjungan resmi ke Vatikan itu. Mayong menngungkapkan rasa sukacita PWKI dapat berkunjung ke Vatikan dan karenanya dapat menunaikan tugas mereka sebagai jurnalis dalam mendukung perdamaian dan harmoni.

    Menanggapi hal tersebut, Msgr. Pioppo memuji kehendak baik delegasi PWKI dalam menjelaskan kepada Bapa Suci semua upaya dari pihak media dalam memfasilitasi, melalui misi mereka, rasa saling pengertian dan toleransi, serta usaha untuk kebaikan bersama bagi semua anggota masyarakat Indonesia.

    “Apapun tugas yang menjadi panggilan kita, kasih haruslah menjadi dasar bagi perbuatan kita. Demikian pula untuk para jurnalis,“ tegas Nuntius Apostolik itu.

    Msgr Piero Pioppo juga menyarankan bahwa selagi melaporkan berita, hal tersebut harus dilakukan dengan kasih sejati. Mempersiapkan artikel juga harus dilakukan dengan kasih sejati bagi masyarakat kita. Dan diingatkan juga oleh Nuntius Apostolik itu terkait perkataan terakhir Paus Benediktus, beberapa jam sebelum kematiannya, yakni “Yesus, aku mencintaimu.”

    “Kita juga harus mencintai Yesus sebagai Allah dan Penyelamat kita, seperti yang diingatkan masa Natal ini. Tapi kita juga harus mencintai kehadiran Allah dalam diri semua saudara-saudari kita. Dalam cara ini, kasih yang sejati akan menjembatani harapan kita. Kasih untuk negara, kasih untuk dunia, kasih untuk gereja, kasih untuk orang miskin, guna menjamin kebaikan bersama bagi semua orang” katanya.

    Terakhir, Mgr Piero Pioppo menandaskan, agar kebahagiaan PWKI menjadi lengkap, beliau akan memberitahukan pertemuan ini kepada Paus Fransiskus, sehingga Paus dapat mendoakan dan menyemangati para wartawan dalam melaksanakan kewajiban hariannya.

    Pertemuan Parpol Tolak Pemilu Proporsional Tertutup Teladan Bagi Demokrasi

    Pertemuan Parpol Tolak Pemilu Proporsional Tertutup Teladan Bagi Demokrasi

    MajalahDUTA.Com, JAKARTA, – Delapan partai politik menggelar konsolidasi terkait pernyataan sikap menolak sistem pemilu proporsional tertutup merupakan teladan bagi demokrasi. Konsolidasi ini diinisiasi oleh partai Golkar bersama Gerindra, Demokrat, NasDem, PAN, PKB, PPP, dan PKS.

    Menurut Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, pertemuan tersebut adalah contoh baik bagi pemilih menjelang Pemilu 2024.

    “Itu pesan bagi publik juga ya, bahwa dinamika pemilu adalah dinamika yang sangat lentur. Oleh karena itu masyarakat jangan sampai mengalami polarisasi yang membelah persatuan dan kesatuan mereka. Ternyata di antara partai politik pun, meski mereka memiliki beragam pilihan tetapi mereka bisa ditemukan oleh persamaan-persamaan dalam proses pelaksanaan pemilu,” tegas Titi Anggraini, pada Senin (9/1/2023).

    Di situ menjadi pembelajaran bagi rakyat bahwa dalam perbedaan sekalipun, tetap ada persamaan yang membuat dinamika politik di tengah perbedaan itu bisa tetap menemukan kesamaan.

    “Bahwa dalam perbedaan sekalipun, tetap ada persamaan yang membuat dinamika politik di tengah perbedaan itu bisa tetap menemukan kesamaan. Kita juga begitu, meski pilihan politik berbeda dalam banyak dimensi, kita akan bisa menemukan kesamaan,” jelas Titi lagi.

    Dia menegaskan, pemilu itu harus dihadapi dengan logika dan memiliki program. “Justru pemilu itu harus dihadapi dengan logika, akal sehat dan bisa diwujudkan kalau kita berorientasi pada gagasan dan program,” ungkapnya.

    Ternyata diantara pilihan politik yang berbeda diantara partai, mereka dipertemukan karena adanya gagasan yang sama soal pemilu proporsional terbuka.

    Sebelumnya, Ketum Golkar, Airlangga Hartarto, mengatakan, “Kita duduk bersama, kita rembukan dan kebetulan ini di awal tahun perlu silaturahmi antarpartai politik. Kita ingin di tahun 2023 di tahun politik ini teduh. Nah, keteduhan akan tercipta jika ada komunikasi antarpartai politik.“

    Menurut Airlangga, walaupun berbeda-berbeda prioritas dan agendanya, tetapi ada kesamaan. Nah, kesamaaan ini yang dicari terutama menghadapi pemilu 2024 nanti.

    “Sistem pemilu proporsional terbuka merupakan perwujudan dari demokrasi yang berasaskan kedaulatan rakyat, di mana rakyat dapat menentukan calon anggota legislatif yang dicalonkan oleh partai politik. Kami tidak ingin demokrasi mundur,” kata Airlangga.

    Jauh dari Rakyat

    Sementara itu, Analis politik Pangi Syarwi Chaniago mengungkapkan adanya kelemahan dan kelebihan dari sistem proporsional tertutup. Adapun kelemahannya, pertama, sistem proporsional tertutup mengurangi interaksi dan intensitas kader partai dengan pemilih.

    Calon legislatif (caleg) yang terpilih bakal jarang turun bersosialisasi, menyapa dan menyalami masyarakat secara langsung, sebab caleg yang terpilih bertanggung jawab langsung kepada partai bukan konstituen.

    “Sumber kekuasaan bukan daulat ‘rakyat’, tapi daulat ‘elite’ parpol,” terangnya.

    Selain itu, sistem proporsional tertutup juga cenderung membuat caleg tidak mau bekerja keras untuk mengkampanyekan dirinya dan partai. “Sebab mereka percaya yang bakal dipilih adalah caleg prioritas nomor urut satu, bukan basis suara terbanyak, itu artinya menurunkan persaingan antar kader internal caleg,” tambahnya.

    CEO & Founder Voxpol Center Research and Consulting itu menambahkan sistem proporsional tertutup cenderung kurang sesuai untuk partai baru dan partai kecil yang belum terlalu dikenal.

    Sistem itu juga belum cocok untuk partai populis yang belum kuat dan belum tumbuh secara merata sistem kaderisasinya. Selain itu, akan membuat penguatan oligarki di internal partai politik dan memungkinkan adanya pengutamaan kelompok dan golongan tertentu.

    “Proporsional tertutup dikhawatirkan seperti memilih kucing dalam karung, pemilih banyak enggak kenal dengan daftar list nama calegnya. Sebab pemilih tidak merasa dekat dengan pemilihnya,” ungkapnya.

    Koreksi

    Kendati demikian, Pangi menilai munculnya keinginan kembali ke desain sistem pemilu proporsional tertutup merupakan koreksi dan kritik terhadap penyelenggaraan sistem proporsional terbuka. Menurutnya, kompleksitas dan realitas sistem pemilu proporsional terbuka cenderung terkesan melemahkan partai politik.

    “Sistem proportional terbuka kekuatan ada pada figur kandidat populis, melemahkan partai politik, tidak ada pembelajaran dan tidak menghormati proses kaderisasi di tubuh partai politik. Sementara proporsional tertutup menguatkan institusi kelembagaan partai politik,” lanjutnya.

    Menurut Pangi, ada beberapa alasan terkait sistem pemilu proporsional terbuka mampu merusak partai politik. Sistem itu bisa melemahkan partai politik ketika tidak ada caleg yang benar-benar kampanye mengunakan visi dan misi yang telah disusun partai.

    “Masing-masing caleg berkampanye dengan cara, tema dan narasinya sendiri-sendiri. Bagaimana berpikir untuk menang mengalahkan caleg sesama kader di internal partai, bukannya berkompetisi dengan partai lain,” tegasnya.

    Sistem proporsional terbuka juga cenderung menyebabkan pemilih memilih figur kandidat ketimbang tautan partai, serta lebih mengandalkan figur ketimbang menguatkan sistem kepartaian. Sistem itu diduga menyebabkan salah satu alasan rendahnya party-ID. Hanya 13,2 persen pemilih yang merasa dekat baik secara ideologis maupun secara psikologis dengan partainya,

    “Dugaan saya salah satu penyebab rendahnya party-ID karena penerapan sistem pemilu proporsional terbuka, sepanjang tetap memakai sistem proporsional terbuka, maka selama itu persentase party-ID di Indonesia tetap rendah,” pungkasnya.

    PESTA TANPA TAMU : Evaluasi Kritis 50 tahun PDIP

    PESTA TANPA TAMU : Evaluasi Kritis 50 tahun PDIP

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Sebagai pembuka evaluasi kritis perjalanan 50 tahun Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang bermetamorfosis menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang telah mewarnai perjuangan demokrasi Indonesia dengan tumpahnya darah para pemuda –yang bukan hanya kader PDI—dan para elemen maupun eksponen gerakan prodemokrasi pada peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 hingga peristiwa reformasi 1998 yang kemudian terus berlanjut sampai kemudian PDI (Promeg) tuntas bermetamorfosis pada deklarasi perubahan nama PDI menjadi PDIP di kota Denpasar Provinsi Bali tahun 1998 dan menjadi peserta pemilu pertama di era reformasi tahun 1999.

    Proses metamorfosis PDI menjadi PDIP seanalog metamorfosisnya ulat yg terbelenggu kepompong yg kemudian dengan penggalangan kekuatan revolusioner, didukung natur –era rakyat sudah muak dengan demokrasi prosedural orde baru– dan mendukung natur –terkonsolidasinya kekuatan prodemokrasi— berhasil menjebol dan membangun menjadi bentuk kupu-kupu yg indah.

    PDIP menjadi partai yang indah karena dalam susunan pengurus Dewan Pimpinan Pusatnya mengakomodir semua kekuatan politik rakyat. Susunan DPP PDIP hasil kongres Bali 1998 selain mengesahkan Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum dan Alex Litay menjadi sekretaris jendral, ada nama nama yang menjadi representasi kekuatan politik rakyat seperti Gus Im (Wahid Hasyim) adik Gus Dur dan Syaefullah Yusuf sebagai representasi NU. Juga ada representasi dari Muhammadiyah (namanya saya lupa). Ada pula RK Sembiring dan Theo Safei (unsur militer), Widjanarko Puspoyo, Tjahjo Kumolo dari Golkar, Kwik Kian Giea (Pengusaha), Laksamana Sukardi (kalangan profesional). Tak luput pula kalangan akademis seperti Prof. Dimyati Hartono. Dan tentunya para loyalis Megawati seperti Suparlan, Harjanto Taslam, Noviantika Nasution dll turut menghiasi susunan personalia DPP PDIP.

    Masih segar dalam ingatan, saat itu di hotel Dewangkara (belakang hotel Bali beach di Sanur) Cornellis Lay memegang draft susunan nama-nama calon DPP PDIP untuk dibuatkan legitimasi latar belakang nama nama itu masuk dalam susunan DPP PDIP periode 1998-2002.

    Dari susunan DPP PDIP saat itu tergambar mozaik kebhinekaan kekuatan politik prodemokrasi yg merupakan hasil reformasi.

    Sebagai “kupu-kupu” yang indah, PDIP menjadi partai yg seksi sehingga berhasil menang pada pemilu 1999 dengan kisaran angka 27% dari jumlah kursi parlemen. Namun sayangnya PDIP gagal menjadikan Megawati sebagai Preside RI karena diganjal oleh Poros Tengah yg digagas oleh Amien Rais.

    Perjalanan PDIP sejak 1998 hingga sekarang mengalami masa pasang surut. Setelah menang secara spektakuler pada pemilu 1999 mengalami penurunan pada pemilu 2004 dan 2009, lalu menang lagi pada pemilu 2014 dan 2019, serta saat ini punya target untuk hatrick (3 kali menang) pada pemilu 2024.

    Akankah hal ini tercapai ???

    Secara internal, semua pengurus DPP sampai DPC sangat optimis dapat mencapai hatrick tersebut. Tapi semua itu selain tergantung pada ikhtiar dan perjuangan seluruh kader PDIP, ada faktor-faktor lain yang dapat menghambat tujuan kemenangan tersebut.

    Faktor bersamaan antara pemilu legislatif dengan pemilu presiden dapat menjadi satu faktor yg membalikkan optimisme tersebut ketika PDIP gagal menyerap aspirasi rakyat terkait calon presiden yg akan diusung PDIP.

    Dengan menunda-nunda pengumuman dan deklarasi kader yg akan diusung menjadi calon presiden punya potensi merugikan bahkan menggerus suara konstituen.

    Faktor lainnya adalah eksklusivitas PDIP saat ini sebagai partai yg lupa akan awal sejarah penempatan diksi “perjuangan” sebagai tambahan nama Partai Demokrasi Indonesia. Representasi sebagai “rumah” kekuatan prodemokrasi telah hilang. PDIP sekarang menjadi partai yang steril dari kekuatan rakyat prodemokrasi. Dengan mandeknya kaderisasi dan munculnya terminologi “trah” Soekarno menampakan adanya fenomena feodalisme yg dapat merugikan citra dan berdampak pada elektabilitas partai.

    Fenomena ini diperkuat lagi pada perayaan ulang tahun ke 50 PDIP yang tidak mengundang partai partai lain hadir dalam pesta perayaan HUT.
    Memang hal itu adalah hak pengurus DPP PDIP dalam penyelenggaraan perayaan HUT. Namun dengan tidak mengundang partai lain mengesankan PDIP sudah melupakan sejarahnya sendiri bahwa dia besar karena didukung oleh natur politik yg berisikan elemen elemen rakyat prodemokrasi.

    Pesta perayaan HUT PDIP saat ini ibarat pesta tanpa tamu. Pesta yang hanya mempertontonkan tingginya kepercayaan diri dalam belantara politik nasional.
    Mudah-mudahan dengan pesta tanpa tamu ini PDIP tidak dikucilkan oleh partai partai lain khususnya dan elemen elemen prodemokrasi pada umumnya.

    Demikian catatan kritis perjalanan 50 tahun PDIP mewarnai pentas politik di Indonesia. Apabila ada kata dan hal yang kurang berkenan, penulis minta maaf yang sebesar-besarnya.

    Tulisan ini merupakan cinta dan harapan agar PDIP tetap besar dan mengawal cita cita proklamasi Indonesia mewujudkan Indonesia sejahtera yg berkeadilan.

    Jakarta, 10 Januari 2023.

    Yulianto Widirahardjo, SE, MSi.
    Partisipan aktivitas partai sejak KLB PDI 1993 di Surabaya hingga era reformasi dan era pemilu presiden langsung.

    TERBARU

    TERPOPULER