Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 100

    Belum Prioritaskan Implementasi SDG’s, 100 hari Kinerja PJ Gubernur Tak Serius Entaskan Kemiskinan

    MajalahDUTA.Com, Jakarta– Pada tahun 2020 lalu, Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) bersama Koalisai Reformasi Perlindungan Sosial (KRPS ) aktif berjuang melakukan pembelaan agar seluruh warga miskin di Jakarta mendapatkan Jaring Pengaman Sosial yang merupakan cara mengatasi agar Rakyat Miskin Jakarta tidak jatuh ke dalam lubang kemiskinan yang lebih parah, demikian dikatakan Puspa Yunita Ketua DPW SPRI DKI Jakarta, saat menjadi narasumber acara diskusi publik evaluasi 100 Hari Kerja Pejabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, Rabu, 25/1/2023 kemaren di Aula LBH Jakarta.

    ” Berdasarkan hasil audit Sosial SPRI ada 2 hal yang menjadi persoalan besar dalam hal Program Perlindungan Sosial yakni problem pendataan yang belum efektif dan tidak libatkan rakyat dalam penentuan indikator dan penerima manfaat, serta problem cakupan penerima dan manfaat yg kecil. hasil survei spri manfaat pkh bpnt tdk cukup utk kebutuhan dasar pangan sebulan.”ungkap Puspa

    Menurut Puspa, SPRI Jakarta telah melakukan serangkaian kegiatan meliputi audit sosial pada tahun 2020, tercatat ada 2000 lebih keluarga miskin yang layak mendapatkan Program Keluarga Harapan ( PKH), tapi ternyata sampai sekarang, Pemprov DKI Jakarta dari era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta yang lalu sampai dengan kepemimpinan Pj Gubernur belum mendapatkan prioritas perhatian.

    Untuk mengatasi masalah tersebut, lanjut Puspa, maka SPRI mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta bisa menerapkan PKH lokal, yang merupakan bentuk nyata menjalankan SDGs. Melindungi warga miskin dgn cara memperkuat perlindungan sosial.

    “Kami sudah mencoba untuk berdialog dengan Pj Gubernur, namun belum juga ada respon yang serius dari beliau beserta jajarannya, selain itu,kami juga telah berkali-kali mendesak pemprov DKI Jakarta agar membuka ruang keterlibatan rakyat dalam penyusunan, penetapan dan pengawasan kebijakan publik, tapi rupanya mereka enggan merespon usulan kami tersebut “ucap Puspa

    Sementara itu, Ketua Koalisi Rakyat Masyarakat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) Sugiyanto (SGY) yang hadir juga sebagai narasumber, mengatakan Acara diskusi evaluasi 100 Hari Kerja Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono ini sangat menarik lantaran mengaitkan dengan program kesepakatan global Sustainable Depelopment Goals (SDG’s) atau dikenal dengan istilah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), SDG’s sendiri adalah kelanjutan dari 8 tujuan untuk agenda Millenium Depelopment Goals (MDG’s) yang digagas PBB sejak tahun 2000. Kemudian, program MDG’s yang belum tercapai dilanjutkan dalam pelaksanaan pencapaian SDGs hingga tahun 2030 (2015-2030).

    Sehingga SDG’s atau TPB ini, lanjut Sugiyanto, adalah agenda atau program wajib nasional yang merupakan komitmen negara. Namun suskses SDG’s atau TPB sangat tergantung daerah-daerah. Daerah-daerah wajib mengikuti atau melaksanakan program SDG’s atau TPB termasuk Provinsi DKI Jakarta.

    “Jakarta ini daerah kaya raya, APBDnya saja untuk tahun 2023 ini mencapai Rp83,7 triliun, tapi anehnya masih ada warganya yang mengalami kemiskinan ekstrem, nah untuk itu adalah menjadi hak setiap warga Jakarta untuk menuntut komitment pemerintah DKI Jakarta melaksanakan prinsip-prinsip Suntainable Depelopment Goals atau Tujuan Pembangunan Berkeanjutan (TPB) untuk mencapai atau mewujudkan masyakat Jakarta yang sejahtra.”ucap Sugiyanto

    Lebih lanjut Sugiyanto mengatakan di Jakarta masih banyak orang miskin?! Bahkan berdasarkan data BPS tahun 2022 menunjukan adanya peningkatan jumlah penduduk miskin mencapai angka 500 ribu jiwa dan 146 ribu jiwa masuk ke dalam kategori kemiskinan ekstrim, salah satu penyebabnya mungkin pemprov DKI Jakarta kurang memahami sejauhmana pentingnya implementasi SDG’s di Jakarta, sehingga tidak menjadikan program prioritas.

    “Saat, Pj Gubernur dilantik oleh Presiden Jokowi, beliau hanya diberi tugas prioritas untuk segera dikerjakan, yakni kemacetan, Banjir dan tata ruang, sehingga dalam 100 hari kerja beliau tidak memprioritaskan penanggulangan kemiskinan ekstrem yang dialami oleh warga Jakarta, dan ini tidak boleh dibiarkan, karena itu, mari sama-sama kita menghadap ke Pj Gubernur DKI Jakarta, agar untuk memprioritaskan implementasi SDG’s untuk segera menanggulangi kemiskinan ekstrem di Jakarta,” pungkas Sugiyanto.

    Demi Cegah Kegaduhan, Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Bansos 2020 Di Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta

    Demi Cegah Kegaduhan, Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Bansos 2020 Di Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Saat ini Warga Jakarta sedang dihebohkan dan dicemaskan dengan munculnya isu dugaan korupsi program bantuan sosial (bansos) pada 2020 senilai Rp 3,65 triliun. Dugaan korupsi bansos ini dibeberkan oleh seorang pegiat sosial media, Rudi Valenka, melalui sebuah utas atau thread di akun Twitter @kurawa pada 9 Januari 2023 lalu, disebutkan bahwa diduga Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, kala itu hendak menanggulangi pandemi Covid-19 dengan menyalurkan bansos senilai Rp 3,65 triliun dalam bentuk sembako. Lewat program itu, diduga Dinas Sosial DKI menunjuk tiga rekanan terpilih untuk menyalurkan paket sembako senilai Rp 3,65 triliun tersebut lewat Perumda Pasar Jaya, PT Food Station, dan PT Trimedia Imaji Rekso Abadi.
    Sontak saja informasi yang disampaikan penggiat Rudi Valenka tersebut, mengundang respon komentar dari berbagai kalangan, salah seorang diantaranya, adalah Drs Primus Wawo, MSi pengamat sosial dan perkotaan, ketika di hubungi awak media, ia mengatakan bahwa kasus dugaan korupsi bansos terjadi di Pemprov DKI Jakarta, ini sesuatu yang menunjukkan bahwa lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program bansos untuk menanggulangi masalah pandemic covid-19 yang ditujukan membantu meringankan warga Jakarta terdampak covid-19.

    “Ya, ini sesuatu temuan informasi tentang kasus yang bukan saja menghebohkan, melainkan juga memprihatinkan, kok tega-teganya mereka yang diduga terlibat di kasus tersebut, menari diatas penderitaan warga Jakarta yang saat itu menderita menghadapi pandemic covid-19”ungkap Drs Primus Wawo, MSi yang juga mantan pejabat Pemda prov DKI Jakarta kepada awak media, Senin, 23/1/2023 di Jakarta.

    Karena itu, menurut Primus, sudah sepatutnya kasus ini harus segera diusut tuntas, agar masyarakat tidak merasa penasaran, mengenai kebenaran kasus tersebut, dan tentunya pengusutan kasus tersebut harus memenuhi rasa keadilan masyarakat, yang menjadi korban atas dugaan perilaku korupsi tersebut, yang ditengarai kasus ini bukan hanya merugikan keuangan negara saja, melainkan juga menciderai rasa kemanusiaan warga Jakarta, untuk itulah, penanganan kasus ini juga mesti dilakukan secara professional, komprehensif, tentunya terlepas dari tendensi politis, serta tidak adanya intervensi politis dari pihak manapun,

    Primus juga menegaskan seandainya ada dugaan keterlibatan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada kasus ini, ya, buka saja, jangan ada yang ditutupi, kalau nggak terlibat ya, harus juga dibuka dan dijelaskan kepada masyarakat, agar masyarakat tidak berpolemik hingga bisa menimbulkan kegaduhan situasi, yang dapat mengganggu konsentrasi Pemprov DKI Jakarta yang sedang giat melakukan pembenahan dan juga pembangunan di berbagai segi kehidupan warga Jakarta.

    “Kami sangat berharap penegakkan hukum yang setegas-tegasnya dan transparan untuk mengusut tuntas, membongkar seterang-terangnya siapa saja yang terlibat dalam temuan kasus dugaan korupsi bansos tersebut, serta membuka motif dibalik terjadinya kasus ini, sehingga para pelaku yang terlibat dapat dihukum seberat-beratnya, demi memenuhi rasa keadilan masyarakat, kami sangat berharap aparat hukum tanpa ragu-ragu mengusut kasus tersebut”pungkas Drs Primus Wawo MSi, yang juga tokoh masyarakat Nagekeo NTT yang ada di Jabodetabek.

    Faisal Saleh: Erik Thohir Sosok Bernyali dan Inspirator, Menjawab Tantangan Jaman

    Faisal Saleh: Erik Thohir Sosok Bernyali dan Inspirator, Menjawab Tantangan Jaman

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Ungkapan mengenai dibutuhkannya pemimpin bernyali untuk mewujudkan sepak bola Indonesia yang bersih dan berprestasi diucapkan Erikc Thohir Menteri BUMN saat mengumumkan dirinya sebagai calon Ketua Umum PSSI periode 2023-2027, Minggu, 15/1/2023, pernyataan itupun, sontak mendapatkan perhatian dan bahkan respon dari berbagai kalangan, salah seorang diantaranya adalah Faisal Saleh pengamat politik, saat ditemui wartawan, ia mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Erik Thohir tersebut merupakan jawaban dari perkembangan fenomena yang terjadi di negeri ini, yang sarat dengan kompleksitas permasalahan, dan membutuhkan problem solving yang cepat dan tepat.

    “Nah, untuk membuat keputusan cepat, diperlukan sosok pemimpin ataupun kepemimpinan yang bernyali untuk mengambil sebuah keputusan yang cepat dan tepat, sejarah negeri ini telah membuktikan bahwa kemerdekaan yang direbut dari penjajah, itu dilakukan oleh para pejuang yang bernyali, tapi bukan asal bernyali doank, namun bernyali yang bisa berprestasi”ucap Faisal Saleh pengamat politik kepada pers, Kamis, 19/1/2023 di Jakarta.

    Menurut Faisal Saleh, dalam perjalanan sejarah negeri ini, hingga tercapainya kemerdekaan yang saat ini telah berusia 78 tahun ini, dan kemudian memasuki era pembangunan, tidak terlepas dari peran para pemimpin bernyali, namun ketika memasuki era sekarang ini, muncul fenomena terjadi krisis kepemimpinan terutama di kalangan generasi muda, yang menganggap pemimpin yang muncul di permukaan adalah sosok yang korup, penakut, mengekor, pasrah dan tidak berani mengambil tindakan tegas , sehingga menimbulkan sikap yang apatis, skeptis terhadap munculnya sosok pemimpin, yang tidak bisa diteladani atau bahkan tidak bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama generasi milineal.

    “Tapi ternyata kondisi tersebut di jawab oleh sosok Erik Thohir yang bukan hanya berbicara soal kepemimpinan bernyali, tapi dia sendiri yang tampil sebagai sosok fenomenal yang berani melakukan perubahan mental, perubahan mindset terutama di kalangan generasi milineal, diantaranya melalui keberaniannya mengambil tugas sebagai Ketua Team Sukses Jokowi-Ma’ruf Amin di pilpres 2019 lalu, padahal dia bukan seorang aktivis dan juga bukan seorang politisi, tapi ia punya nyali untuk ambil tugas itu kemudian dijalankannya dengan hasil kemenangan bagi pasangan Jokowi-Maruf Amin”tukas Faisal Saleh.

    Bukan hanya itu, lanjut Faisal rupanya sosok Erik Thohir ini meneladani apa yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan tempo dulu, yang berani mengambil resiko apapun, dengan pertimbangan matang, cerdas dan tepat mengambil langkah maju ke medan pertempuran, hasilnya kemerdekaan itu dapat di raih dan dirasakan hingga sekarang, ya, keteladanan itulah yang kemudian mendorong Erik Thohir, saat diberi amanah oleh Presiden Jokowi untuk memimpin kementerian BUMN, ia tidak pernah ragu untuk mengevaluasi setiap petinggi di BUMN. Seperti pegawai di Kementerian BUMN yang terbukti jelas melakukan kesalahan, berani membongkar kasus korupsi di kalangan BUMN, dan tentunya Erik telah berani menerapkan perubahan total baik di lingkungan kementerian yang dipimpinnya maupun di luar tugasnya sebagai Menteri.
    “Menurut saya negeri ini membutuhkan pemimpin Bernyali yang cerdas, bersih, berintegrasi, cekatan serta tentunya memiliki skill, dan itu semua sudah dimiliki oleh Erik, yang bisa menjadi figur inspiratif bagi generasi muda Bangsa Indonesia, ya, Erik Layak Menjadi Sosok Bernyali Inspirator”pungkas Faisal Saleh

    Jangan Ada Politisasi di Balik Pengakuan Presiden Jokowi atas Pelanggaran HAM Berat di Masa Lalu

    Jangan Ada Politisasi di Balik Pengakuan Presiden Jokowi atas Pelanggaran HAM Berat di Masa Lalu

    MajalahDUTA.Com, Jakarta– Pernyataan resmi Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara yang mengakui dan menyesalkan telah terjadi pelanggaran HAM berat setidaknya dalam 12 peristiwa konflik di masa lalu, pada realitasnya mengundang reaksi dari berbagai pihak, terutama dari kalangan saksi dari terjadinya peristiwa tersebut, diantaranya adalah Amelia Yani Putri Almarhum Jendral TNI-AD Ahmad Yani yang gugur pada peristiwa berdarah 30 September 1965 silam. Kepada wartawan yang menghubunginya, ia mengatakan bahwa jika mengingat peristiwa tragedi berdarah 1965, yang diakui oleh Pemerintah Jokowi sebagai pelanggaran HAM berat, maka tidak bisa dilepaskan dan tidak bisa dilupakan oleh para keluarga anak-anak yang para orang tuanya telah dihabisi diluar batas-batas perikemanusiaan. Akan tetapi terkait peristiwa itu, dirinya sudah berusaha bersama Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) untuk melakukan rekonsiliasi dengan pihak yang orang tuanya terlibat dalam peristiwa HAM berat 1965 yakni PKI dan juga dari keluarga Pemimpin Besar Revolusi/Presiden Pangti ABRI Sukarno.

    “Terkait peristiwa tersebut, semua tercantum dicatatan ayah saya yang ditulis dengan tulisan tangan beliau tentang PKI dan Presiden Pangti ABRI, namun anehnya, apa yang terjadi saat itu, kemudian divisualkan dalam film Penghianatan G30S/PKI, dilarang diputar selama hampir 18 tahun dengan maksud masyarakat Indonesia melupakan peristiwa tragedi nasional. Sekarang ketika film diputar kembali saya merasakan generasi usia antara 25-40 tahun adalah yang haus akan kebenaran peristiwa tersebut yang selama ber tahun-tahun diusahakan untuk dilupakan, padahal semestinya semua itu harus di buka. Adalah tugas saya untuk membuka semua catatan ayah saya seperti soal Dewan Jendral, Dokumen Gilchrist Jendral-jenderal Pentagon berkulit sawo matang penghianat kata DN Aidit dll, supaya dari generasi ke generasi Fakta Sejarah itu tidak boleh dilupakan, bukan untuk mewariskan konflik tapi untuk mencegah agar tidak terulang kembali konflik tersebut” ungkap Amelia Yani kepada Awak media, Kamis, 19/1/2023 kemaren.

    Propaganda PKI sangat masif lanjut Amelia Yani, dan saat itu juga dipercaya oleh Presiden Sukarno, merupakan fakta sejarah tak terbantahkan, menjadi bibit awal pemicu terjadinya Malapetaka 30 September 1965 silam, namun anehnya, malapetaka yang diciptakan oleh mereka yang ingin merubah ideologi Pancasila itu, justru sekarang negara menyatakan bahwa Negara mengakui dan menyesalkan peristiwa tersebut menjadi salah satu pelanggaran HAM berat di masa lalu, bahkan Tim yang dibentuk pemerintah Jokowi itu, akan menulis ulang sejarah?! Kalau bicara mengakui harusnya sudah dari dulu, kemudian menyesali telah terjadi peristiwa-peristiwa tersebut, menyesal kepada siapa?

    “Menurut saya, pernyataan Presiden tersebut hanya kulitnya tapi tidak lebih ‘in depth’ atau mendalam, dan menyerahkan kepada Menkopolhukam untuk memfollow upnya. Seharusnya Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) dilibatkan dalam Tim, karena FSAB telah memulainya, dan fakta-fakta sejarah 1965 saya memiliki tulisan ayah saya, kemudian juga catatan jalannya sidang Mahmilub berikut hasilnya, serta banyak lagi dokumen-dokumen serta para nara sumber yang masih hidup bisa dilibatkan. Penulisan Sejarah mau diulang? Mau seperti apa? Mau dibalikkan untuk kepentingan pihak lain? Justru hal ini akan menimbulkan gejolak dalam masyarakat yang lebih besar, untuk itu Menkopolhukam sebaiknya berhati-hati dalam melangkah, dan jangan ada muatan politis apapun dibalik maksud tersebut” tukas Amelia Yani.

    Amelia Yani juga mengatakan bahwa jika ingin menulis ulang sejarah, terutama mengenai peristiwa 1965 sampai dengan peristiwa jatuhnya Presiden Soekarno, maka harus ditulis secara komprehensif, misalnya saja, apa yang terjadi di tahun 1966, perlu diungkap di tahun 1966 telah terjadi demonstrasi besar-besaran yang dimulai sejak Desember 1965 oleh mahasiswa KAMI, dirinya pun ikut sebagai Ketua KAPPI setiap hari demo didepan Istana Negara meminta pertanggung jawaban Presiden Sukarno tentang peristiwa 1 Oktober, juga tuntutan TRITURA; yakni Bubarkan PKI, ‘Recall’ Kabinet 100 Mentri, dan Turunkan harga beras. Nah, itu fakta tak terbantahkan bahwa di Tahun 1965-1966 dapat dikatakan Bangsa Indonesia mengalami kemiskinan luar biasa, inflasi 650%, rakyat miskin, politik dan ekonomi hancur.

    Semua itu, lanjut Amelia Yani, terjadi dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, Apakah Presiden Sukarno itu sedemikian ‘untouchable’ dan perbuatannya dibolehkan rakyat? Sementara rakyat Indonesia miskin? Sampai akhirnya keluarlah Surat Perintah 11 Maret kepada Letnan Jenderal Suharto yang esok harinya 12 Maret 1966 PKI dan seluruh ormas-ormasnya dibubarkan.

    “Mengapa hal ini tidak pernah ditulis, saat itu negara kacau balau, ideologi Pancasila mengalami ancaman nyata, digerus dan bahkan mau diganti oleh kalangan komunis beserta antek-anteknya, ini fakta sejarah yang obyektif dan tidak ada rekayasa, sehingga sesungguhnya penulisan sejarah yang diulang apanya, itu benar-benar terjadi, jadi mau ditulis ulang? Silahkan kalau mau menulis ulang sejarah, tapi ingat, jangan sampai penulisan ulang sejarah itu justru bisa menciptakan konflik dan mewarikan konflik, yang sangat kontradiksi dengan visi, misi dan perjuangan FSAB yang sejak tahun 2003 menerapkan pola silahturahmi sebagai wahana rekonsiliasi, serta memperjuangkan agar tidak mewariskan konflik” tegas Amelia Yani.

    Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Martinus Johan Mosi salah seorang korban Malapetaka Mei 1998 silam, kepada wartawan ia mengatakan bahwa di setiap peristiwa konflik yang terjadi di masa lalu, pastinya terdapat dua kubu berseberangan, yakni pelaku dan korban, masing-masing pihak tentunya menyimpan sakit hati, dendam dan bahkan trauma yang tidak mungkin bisa disembuhkan, sehingga menjadi sesuatu peristiwa yang bisa saja diwariskan oleh generasi selanjutnya.

    “Nah kalau itu terjadi, maka kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini akan terganggu, dan negeri ini tidak akan bergerak maju ke masa depan, karena tidak bisa beranjak dari dendam terhadap peristiwa konflik yang terjadi di masa lalu. Nah, inilah kemudian menjadi pembahasan serius di FSAB sebagai organisasi yang mendasarkan diri pada gerakan moral perubahan ‘mindset’ untuk berusaha menghilangkan rasa dendam turunan dari semua pihak yang terlibat konflik sehingga menimbulkan tragedi kelam dalam sejarah bangsa Indonesia” ungkap Martinus Johan Mosi kepada awak media, Sabtu, 21/1/2023 di Jakarta.

    Menurut Martinus Johan Mosi, ketika ia mengalami peristiwa malapetaka di bulan Mei 1998 silam, yang merupakan tragedi bagi kelompok minoritas etnis Tionghoa, yang saat itu menjadi sasaran amuk massa, dan juga menjadi target tindak kejahatan seperti penjarahan, pembakaran, intimidasi dan bahkan diduga terjadi pembunuhan maupun pemerkosaan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, tentu saja peristiwa itu sangat membekas menyakitkan bagi dirinya. Kemudian dirinya pun sangat berharap agar kasus ini diungkap, ditangkap, diadili dan dihukum para pelakunya, namun setelah puluhan tahun peristiwa itu terjadi, didorong oleh rasa kemanusiaan yang diyakininya sebagai pengamalan sila ke 2 Pancasila, maka muncul dalam dirinya untuk memaafkan apa yang terjadi pada peristiwa itu, termasuk juga para pelakunya, akan tetapi dirinya tidak bisa melupakan tragedi Mei 1998, agar peristiwa itu tidak boleh terulang lagi di masa mendatang, maka jangan pernah melupakan tragedi Mei 1998.

    “Namun, terkait peristiwa Mei 1998, yang mengherankan, sampai sekarang, kita tidak pernah mendengar pemerintah mendalami peristiwa ini dengan menanyai para korban dan pelaku. Kita tidak tahu apakah yang disebut korban juga ribuan rakyat kecil yang terpanggang hidup-hidup di mall-mall dan jutaan rakyat yang akhirnya kehilangan pekerjaan, serta ribuan rumah tangga yang hancur sebagai ekses dari kerusuhan tersebut.“ ucap Martinus Johan Mosi.

    Selain itu, lanjut Martinus Johan Mosi, dikabarkan pelaku melakukan provokasi dan sangat terlatih pindah dari satu mall ke mall lain. Lalu siapakah mereka, siapakah yang melatihnya, siapakah yang mendanai pelatihan mereka, hingga sekarang, dirinya tidak melihat ada proses penelitiannya dan tahu-tahu sekarang Presiden mengakui dan menyesali peristiwa tersebut sebagai salah satu pelangaran HAM Berat di masa lalu. Tanpa proses, tanpa diketahui kenapa serta siapa pelaku serta korbannya, lalu dengan apa agar bisa membuat peristiwa tersebut tidak terulang lagi.

    “Saya sangat bingung dengan pernyataan Presiden tersebut, kita tunggu saja apa kelanjutan dari pengakuan dan penyesalan ini, mudah-mudah bisa semakin jelas, dan jangan terkesan basa-basi politik, maupun jangan ada politisasi dibalik pengakuan dan penyesalan terhadap peristiwa yang disebut pelanggaran HAM di masa lalu tersebut. Kalau mau serius selesaikan masalah tersebut, libatkan masyarakat, diantaranya FSAB yang sudah terapkan pendekatan silahturahmi untuk berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru” pungkas Martinus Johan Mosi.

    Vatikan meluncurkan “Sekolah Seni dan Perdagangan” untuk pengrajin masa depan

    Sebuah sayatan di bagian tengah tengah St. Peter, dipilih sebagai logo resmi Sekolah

    MajalahDUTA.Com, Vatikan– Fabric of Saint Peter Vatikan meluncurkan “Sekolah Seni dan Perdagangan” baru untuk menawarkan formasi teknis bagi tukang batu, tukang kayu, dan pengrajin marmer di masa depan.

    Dua puluh siswa menghadiri kelas hari pertama mereka pada hari Senin di Fabric of Saint Peter sebagai bagian dari “Sekolah Seni dan Perdagangan” yang baru.

    Yayasan Fratelli Tutti membantu mendirikan Sekolah bekerja sama dengan Fabric of Saint Peter, yang mengawasi konservasi dan pemeliharaan Basilika Vatikan.

    Para siswa baru—12 remaja putra dan 8 remaja putri—berasal dari Italia, Peru, Jerman, dan Belarusia.

    Mereka akan dilatih untuk menjadi tukang batu, pekerja marmer, tukang plester, dekorator interior, dan tukang kayu.

    Setiap siswa telah mendapatkan pelatihan teknis dan artistik, dan kursus ini bertujuan untuk melengkapi formasi mereka melalui keahlian “Sanpietrini”, seperti yang dikenal para ahli konservasi Kain Santo Petrus.

    Kursus diadakan di Palazzo della Canonica, sedangkan seminar praktis berlangsung di bengkel Fabric.

    Membentuk pengrajin masa depan

    Menurut Kardinal Mauro Gambetti, Presiden Kain dan Imam Agung Basilika Santo Petrus, Sekolah Seni dan Perdagangan berusaha untuk menularkan pengetahuan praktis selama berabad-abad kepada generasi muda.

    “Sekolah akan membantu kita menanam benih di tanah promosi manusia, pembinaan yang ditujukan untuk melayani budaya, wanita dan pria di zaman kita dan Gereja,” kata Kardinal. “Berkat tradisi berusia berabad-abad yang dijaga oleh Kain Santo Petrus, profesionalisme sanpietrini dan kontribusi ilmiah dunia akademik internasional, kami akan berusaha mewujudkan formasi yang benar-benar integral, yang mampu melibatkan spiritual. dan dimensi antropologis melalui pengajaran seni dan perdagangan.”

    Kursus studi imersif

    Siswa akan tinggal di kediaman “Villa Aurelia” yang dijalankan oleh para Dehonian Fathers untuk seluruh periode kursus enam bulan.

    Tujuan kursus meliputi pertumbuhan profesional dan pribadi pengrajin muda dan pengembangan keterampilan manual, bersama dengan pembentukan sejarah seni.

    Kegiatan pengajaran terdiri dari siklus kuliah, seminar, tur terpandu, dan kunjungan studi ke berbagai lokasi di seluruh Italia.

    Sebagai magang, dua puluh siswa akan menerima perendaman penuh dalam detail teknis dan spiritual Basilika Santo Petrus, gereja Kristen terbesar dan paling penting di seluruh dunia.

    Dirilis Vatikan News: Devin Watkins & Alessandro Di Bussolo, 16 Januari 2023, 12:07 Waktu Vatikan. 

    Doa Angelus

    MajalahDUTA.Com, – Doa Angelus

    Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,

    Bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

    Salam Maria …

    Aku ini hamba Tuhan,

    Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.

    Salam Maria …

    Sabda sudah menjadi daging, Dan tinggal diantara kita.

    Salam Maria …

    Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,

    Supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

    Marilah berdoa (Hening)

    Ya Allah, karena kabar malaikat, kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.

    50 wanita diculik saat krisis memburuk di Burkina Faso

    (File foto) Para pengunjuk rasa berkumpul di sekitar kendaraan tentara ketika mereka berdemonstrasi di Ouagadougou, Burkina Faso (AFP atau pemberi lisensi)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Staf Vatikan News pada 17 Januari 2023, 14:50 waktu Vatikan merilis pemberitaan tentang penculikan yang terjadi di Faso. Setidaknya ada 50 wanita telah diculik di wilayah Sahel Burkina Faso, karena para pemberontak terus membuat kondisi kehidupan tak tertahankan.

    Sedikitnya 50 wanita telah diculik oleh tersangka pemberontak di wilayah Sahel utara Burkina Faso. Perempuan-perempuan itu dikatakan diculik antara 12-13 Januari, saat mencari buah beberapa kilometer jauhnya dari desa mereka. Rodolphe Sorgho, gubernur Sahel, mengumumkan perkembangan tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.

    “Gubernur wilayah Sahel menyampaikan kepada publik bahwa pada tanggal 12 dan 13 Januari 2023, masing-masing sekitar lima puluh perempuan diculik oleh kelompok bersenjata teroris sekitar 15 kilometer dari Arbinda (desa Liki) dan di lokasi lain yang terletak di sebelah ke Barat Aribinda, di provinsi Soum,” demikian bunyi pernyataan itu.

    Lanjutan dari Sementara mereka pergi mencari buah-buahan liar, istri, ibu dan anak perempuan ini diambil secara tidak adil oleh orang-orang bersenjata,” katanya. “Segera setelah hilangnya mereka dilaporkan, penelitian dilakukan untuk menemukan semua korban yang tidak bersalah ini. segar bugar.”

    Pemberontakan yang berlangsung lama

    Burkina Faso adalah salah satu dari beberapa negara di Afrika Barat yang memerangi pemberontakan.

    Di tengah kegagalan pemerintahan berturut-turut untuk mengekang pemberontakan secara efektif, negara tersebut mengalami dua kudeta militer pada tahun 2022, menyebabkan ketidakstabilan politik.

    Kekerasan terkait dengan ekstremisme Islam telah mengakibatkan kematian ribuan orang, sementara lebih dari 2,7 juta orang mengungsi di seluruh Sahel, di mana ketidakamanan telah mempengaruhi pertanian dan berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat kelaparan.

    Banyak bagian negara telah terputus dan dikendalikan oleh pemberontak dalam beberapa bulan terakhir, menyebabkan kekurangan pangan akut, dan menjadi semakin berbahaya untuk mengirimkan pasokan ke warga.

    Kerabat perempuan yang hilang mengatakan kepada Reuters bahwa para korban mencari makan di semak-semak di sekitarnya karena tidak cukup lagi untuk memberi makan keluarga mereka di desa.

    Gubernur wilayah Sahel menyatakan solidaritasnya dengan keluarga para korban, dan mengatakan otoritas publik akan “berpihak pada mereka di masa-masa sulit ini dan tetap berkomitmen untuk menerapkan hasil yang membahagiakan dari situasi tersebut”.

    Orang-orang Kongo: kunjungan Paus adalah mimpi yang menjadi kenyataan

    Foto papan reklame dari kota Kasindi, yang mendokumentasikan serangan hari Minggu di sebuah gereja Pantekosta - Vatikan News

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Nuncio Apostolik untuk Republik Demokratik Kongo, Uskup Agung Ettore Balestrero, mengatakan negara itu berharap menerima kata penghiburan dari Paus Fransiskus selama kunjungannya karena kekerasan terus menghancurkan bagian-bagian Afrika Tengah.

    Sebuah serangan bom di sebuah Gereja Pantekosta di provinsi Kivu Utara, Kongo timur pada hari Minggu telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan menyebabkan lebih dari 40 lainnya terluka. Pasukan Demokrat Sekutu (AFP), yang terkait dengan apa yang disebut Negara Islam, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

    Dalam sebuah wawancara dengan Antonella Palermo dari Vatikan News setelah pengeboman, Nuncio Apostolik untuk Republik Demokratik Kongo, Uskup Agung Ettore Balestrero, mengatakan serangan itu mengirim sinyal yang mengkhawatirkan, “terlebih lagi karena itu menegaskan kekacauan situasi di lapangan. .”

    Damai yang diharapkan masih jauh untuk digapai

    Nuncio juga mencatat serangan itu terjadi pada hari yang sama dengan pemboman lain di pasar sentral di kota Beni, Kivu Utara. Provinsi tersebut telah “dalam keadaan terkepung selama lebih dari setahun, menunjukkan bagaimana situasi tidak hanya tidak membaik, tetapi juga memburuk,” kata Uskup Agung Balestrero.

    Uskup Agung Balestrero menambahkan bagaimanapun mereka akan mengatakan bahwa perdamaian di Timur masih jauh. Dia khawatir ADF diuntungkan dari konflik dengan kelompok M23 di selatan negara itu, sementara ikatan antara ADF dan ISIS semakin kuat.

    “Ini hanya bisa menjadi perhatian untuk keamanan regional dan terutama untuk populasi yang terus-menerus menjadi korban pembantaian terhadap mereka,” tambahnya.

    Kerjasama antar Gereja Kristen

    Ada tanda-tanda harapan, Uskup Agung Balestrero mencatat dari “kerjasama yang besar” di antara umat Kristiani di negara itu. Berbagai komunitas Kristiani bersatu dalam menunjukkan bahwa kekayaan “lapisan bawah tanah Timur” adalah akar dari konflik.

    Uskup Agung Balestrero menjelaskan, kekayaan sumber daya mineral negara itu “adalah alasan mendasar untuk kepentingan strategisnya dengan semua negara tetangga dan penyebab utama ekonomi perang yang diabadikan di wilayah Timur ini.”

    Ia juga menyoroti kerja sama ekumenis jelang kunjungan Paus pada 31 Januari hingga 3 Februari. Misalnya, dia mencatat bahwa umat Kristiani dari denominasi lain akan ambil bagian dalam pertemuan Paus dengan para pengungsi.

    “Kami berusaha bersama untuk mengiringi perkembangan demokrasi di negara ini,” katanya.

    Menyiapkan kunjungan Paus

    Upaya yang dilakukan untuk memastikan keamanan dan ketertiban umum untuk Perjalanan Apostolik mendatang sangatlah besar, kata Uskup Agung. Tujuan utama dari kunjungan tersebut adalah “untuk membangkitkan keyakinan pada mereka yang tidak memilikinya, dan untuk memperkuat kegembiraan mereka yang memilikinya.

    “Banyak orang mengatakan kunjungan Paus adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” kata Uskup Agung Balestrero.

    Dia menambahkan dari seluruh negeri ada antisipasi untuk menerima kata penghiburan [dari Paus], dan juga penyembuhan luka yang masih berdarah, terutama di Timur.

    Paus Fransiskus meratapi serangan terhadap gereja Pantekosta di DR Kongo

    Pengeboman hari Minggu terjadi di mana para jemaah berkumpul untuk kebaktian - Vatikan News

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus mengungkapkan belasungkawa atas para korban serangan terhadap sebuah gereja Pantekosta di Republik Demokratik Kongo. Saat Paus Fransiskus bersiap untuk mengunjungi Republik Demokratik Kongo pada 31 Januari hingga 3 Februari, serangan kekerasan terus menyebabkan banyak warga sipil tewas atau terluka, terutama di bagian timur negara Afrika Tengah itu.

    Dalam serangan terbaru, tersangka teroris membom gereja Pantekosta di timur kota Kasindi pada hari Minggu. Ratusan jemaah telah berkumpul untuk menyambut anggota baru ke komunitas dalam pembaptisan. Sebuah ledakan mengguncang halaman gereja, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai lebih dari 40 lainnya.

    Apa yang disebut Negara Islam mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, dan tentara Kongo menyalahkan Pasukan Demokrat Sekutu (ADF), yang bersekutu dengan ISIS.

    Kesedihan Paus atas penyerangan

    Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya atas pengeboman teroris dalam sebuah telegram yang dikirim pada hari Selasa. Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin menandatangani telegram, yang ditujukan kepada Pendeta André Bokundoa-Bo-Likabe, Presiden Gereja Kristus di Kongo.

    “Sedih mengetahui serangan terhadap sebuah gereja Pantekosta di Kasindi, yang menyebabkan kematian orang tak bersalah,” kata Paus.

    Dia juga mengungkapkan “belas kasih dan kedekatannya dengan semua keluarga yang terkena dampak tragedi itu.”

    Bapa Suci mempercayakan para korban kepada belas kasihan Tuhan.

    Paus Fransiskus mengakhiri telegramnya dengan berdoa kepada “Kristus, Tuhan kehidupan, agar mereka yang terkena dampak dapat melawan penghiburan dan kepercayaan kepada Tuhan” dan memohon kepada mereka karunia perdamaian.

    Kekerasan telah merenggut banyak nyawa di Kongo timur selama beberapa dekade, dengan lebih dari 120 kelompok bersenjata dan milisi aktif di wilayah tersebut.

    Setidaknya 6 juta orang telah terlantar akibat kekerasan, banyak di antaranya menghadapi kerawanan pangan yang ekstrim, menurut PBB.

    Apakah Santo Antonius dari Mesir, Padua, Zaccaria atau Lisbon?

    Apakah Santo Antonius dari Mesir, Padua, Zaccaria atau Lisbon?

    MajalahDUTA.Com, Sejarah– Banyak yang akrab dengan doa kepada Santo Antonius untuk menemukan barang yang hilang, tetapi ada banyak Santo Antonius dalam daftar orang suci Katolik.

    Misalnya Santo Antonius “pertama” bisa dibilang adalah Santo Antonius dari Mesir, juga dikenal sebagai Santo Antonius Agung. Dia adalah seorang pertapa di abad ke-3 dan cara hidupnya mengilhami banyak orang untuk mengikuti jejaknya. Namun, dia biasanya tidak dipanggil untuk doa syafaatnya untuk menemukan barang yang hilang.

    Kemungkinan lain adalah Santo Antonius Zaccaria, seorang imam pada abad ke-16 yang mempromosikan adorasi Ekaristi. Dia bukanlah Santo Antonius yang kita cari (atau, yang dikenal mencari atas nama kita!).

    Santo Antonius manakah yang menjadi perantara bagi Anda untuk menemukan sesuatu yang hilang?

    Santo Antonius yang paling terkenal di dunia Barat adalah Santo Antonius dari Padua, yang juga dikenal sebagai Santo Antonius dari Lisboa (dia lahir di Lisboa, tetapi meninggal di Padua).

    Dialah yang paling sering menjadi perantara bagi mereka yang mencari barang hilang.

    Ini bukan untuk mengatakan bahwa orang suci lain bernama Anthony tidak akan menjadi perantara bagi Anda ketika Anda perlu menemukan sesuatu. Mereka pasti akan melakukannya, tetapi Santo Antonius dari Padualah yang paling sering dimintai nasihat dalam situasi seperti itu.

    Jika Anda perlu menemukan sesuatu yang hilang, panjatkan doa ini kepada Santo Antonius dari Padua.

    TERBARU

    TERPOPULER