Wednesday, April 29, 2026
More

    Di Dalam Cinta dan Kasih Hadirlah Tuhan

    Peserta Lomba Menulis di Bulan Arwah, Penulis: Jenny Barli, Alamat: Km. 3, Jalan Juang 1, No.16, Kecamatan Ngabang, Kab. Landak, Nomor Hp: 082191113897, Instagram: @jennybarli

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Alarm gawai saya berdering keras pukul 5 pagi.Saat itu,suasana masih begitu sejuk. Saya duduk di tepi ranjang dan melihat ke arah kalender yang tergantung setengah miring mengisi polosnya dinding kamar. Angka bercetak hitam dengan lingkaran merah tebal,bekas jejak spidol 20 hari sebelumnya,seketika membuat pandangan saya terkunci. Ya, tanggal 2 November 2020. Saya menutup mata dan sejenak merenungkannya.

    Mengawali bulan November khususnya tanggal 1 dan 2 setiap tahun, Gereja Katolik menetapkan hari-hari tersebut sebagai peringatan Hari Semua Orang Kudus dan Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman.

    Saat saya membuka mata kembali, saya ingat dengan seseorang yang pernah mengisi kisah perjalanan hidup saya. Terutama masa-masa sekolah dasar yang ceria.Saya mencoba mengenang,sejenak kembali ke masa lalu,menyusuri lorong waktu. Perlahan tapi pasti,ingatan itu semakin jelas.

    Baca Juga: Petuah dari Orang-Orang Terkasih: Berharga dan Selalu Diingat

    Saya berhasil memunculkan kisah yang indah itu bersama seseorang yang berperan langsung didalamnya. 11 tahun yang lalu, dengan perasaan yang girang dan berbinar-binar,selayaknya seorang anak sedang menikmati kudapan manis, saya memandangi setelan seragam Sekolah Dasar. Lengkap dengan atributnya seperti,topi dan dasi yang berwarna merah terang. Sejak malam, saya memperhatikan ibu menyiapkan semuanya dengan telaten.

    Besok adalah hari pertama putrinya menjadi siswi Sekolah Dasar. SDS Maniamas Ngabang tepatnya. Jaraknya tidak terlalu jauh dengan TK Amkur dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Pada tahun 2007  letak SD Maniamas berada di SMP Maniamas saat ini. Ketika angkatan kami naik di kelas 4, kami pindah di gedung baru yang dibangun tepat dibawah lokasi sekolah kami sebelumnya. Saya dan teman-teman yang masuk pada tahun 2007 merupakan angkatan kedua.

    Baca Juga: Warisan Abadi

    Di pagi hari yang cerah, saya menarik lengan bapak untuk segera mengantar ke sekolah. Bapak tersenyum dan membantu saya naik ke sepeda motornya yang lumayan tinggi buat saya waktu itu. Ketika sampai di sekolah, bapak mendampingi saya menuju ke kelas 1. Para siswa baru dan orang tua mereka berseliweran diteras kelas. Sejenak,suasana begitu hangat penuh keramah-tamahan.

    Tepat pukul 07.00 wib,ibu guru yang anggun berjalan ke arah kami yang sedang menunggu. 4 hari kemudian,baru saya mengetahui, nama beliau adalah Ibu Ana. Ibu Ana meminta kami anak-anak kelas satu memasuki ruangan kelas. Meja dan kursi tertata rapi,papan tulis kelas putih bersih,serta salib dinding yang tergantung tepat di atas dan sentral dinding yang masih polos.

    Kami para siswa-siswi baru menyimak setiap arahan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Terbukti dengan suasana kelas yang tenang dan hening. Pukul 09.00 wib,kami dibolehkan untuk kembali ke rumah. Pada hari itu, bapak memberikan waktu untuk menemani saya di sekolah. Beberapa hari kemudian,kami dikumpulkanlapangan untuk menggelar apel pagi dengan ditandai suara lonceng yang dipukul bertalu-talu tepat di depan kantor guru.

    Kami membentuk barisan rapi sesuai kelas kami masing-masing.Ternyata ada momen istimewa melalui pengumuman kepala sekolah oleh Pastor ketua yayasan.Pada waktu itu masih dijabat oleh Pastor Jacob Willy,OFM.Cap. Pandangan saya tertuju pada seorang Suster mengenakan kerudung putih,jubah berwarna biru tua dan kalung salib.

    Suster Valentine, KFS. Setiap pagi, dihari-hari selanjutnya, ketika Suster berjalan di selasar kelas,dengan setengah tergesa-gesa kami berebutan memberikan ucapan selamat pagi dan menyalami Suster. Masih saya ingat hingga saat ini,Suster tersenyum dan menyapa kami satu per satu,meskipun beliau belum tahu semua nama kami. Pelajaran agama kami di kelas 1, diampu langsung oleh Suster.

    Baca Juga: Untaian Pesan Sang Gembala

    Sebelum belajar,kami diarahkan berdoa,bernyanyi dan menari bersama. Membentuk lingkaran kecil,saling bergandengan tangan.“ Ubi Caritas et Amor, Ubi Caritas Deus Ibi Es”,adalah lagu singkat yang selalu kami nyanyikan. Penuh kebahagiaan dan semangat nampak jelas diantara kami. Dikemudian hari,lagu ini mengingatkan kenangan bersama Suster dan maknanya yang sangat luarbiasa.

    Tahun berganti,hari-hari berlalu begitu cepat. Semua semakin terasa,ketika kami selangkah demi selangkah dan bertahap naik tingkat, sesuai ketentuan seorang pelajar untuk melanjutkan masa studinya.

    Suster selalu mendampingi kami saat itu. Beliau memberikan kami motivasi untuk belajar lebih giat dan patuh pada orang tua. Senyuman tulus yang khas dan tutur kata yang lembut masih saya ingat dengan jelas saat ini.Hingga,kami sampai ditingkat paling akhir dalam jenjang Sekolah Dasar,yaitu kelas 6.

    Saya dan semua teman yang berjumlah 50 orang sedang dalam persiapan untuk rangkaian Ujian penentu kelulusan. Selain bimbingan belajar dari para guru, kami juga dibekali dengan penguatan iman dalam kegiatan Retret selama 3 hari di Rumah Retret Laverna Sanggau.

    Setelah melalui beberapa syarat penentu kelulusan yang terealisasikan, yang dibuka dengan Try out,Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, akhirnya pada tanggal 21 Juni 2014 adalah hari kelulusan dan pelepasan kami,siswa-siswi angkatan kedua. Dengan balutan pakaian adat,dandanan, serta aksesorisnya yang semarak,kami bersama dengan orang tua, memasuki gedung aula paroki Salib Suci tempat acara dilangsungkan.

    Saat mengharukan ketika kami seluruh siswa-siswi kelas 6 naik ke pentas untuk menyanyikan himne guru. Disambut pula dengan petuah Suster kepada kami. Satu kalimat Suster waktu itu, yang paling mengena bagi saya adalah “ Ketika kalian sudah semakin jauh melangkah,ke arah yang salah dan kalian bimbang dalam memutuskan arah ke depan,Ingatlah wajah Suster yang jelek ini. Suster yakin,kalian pasti akan kembali ke jalan yang benar.” Saya masih berusia 12 tahun saat itu, hanya bisa diam mencoba memahami dan mendalami makna kalimat tersebut.

    Saya baru menyadari ungkapan rendah hati,ketulusan dan penuh harapan ini, di usia saya saat yang ke-18 tahun. Ketika sesi foto bersama, Suster berdiri di samping kiri dan setengah merangkul saya sambil tersenyum. Peristiwa yang tidak dapat saya lupakan sampai kapanpun.

    Tuhan sangat mencintai Suster. Ternyata rangkulan itu adalah rangkulan terakhir. Suster berpulang pada tanggal 6 Juli 2017 karena sakit. Sebelumnya, Suster pindah tugas dari Ngabang menuju Sambas menjadi kepala sekolah SD Amkur. Pepatah Ubi Caritas et Amor,Deus Ibi Est yang berarti “Dimana ada kasih dan cinta,disitulah ada Allah” kini abadi. Suster kembali kepada pemilik kasih dan cinta yang kekal.

    Baca Juga: Dari Pesan Menjadi Kenangan

    Semua manusia akan mengalaminya. Tak ada yang bisa menghindar dan menolak. Saat Tuhan sudah berkehendak,maka terjadilah. Kenangan bersama Suster tak akan lekang tergerus waktu. Dalam diam dan permenungan di pagi hari itu, saya berjanji dalam hati untuk mengingat Suster sampai kapan pun.

    Saya percaya, Suster sudah bahagia disana. Senyumannya yang tulus,masih terbayang dalam angan-angan pagi yang sejuk dan berkabut. Mari kita mendoakan sanak famili, kenalan,sahabat dan semua orang yang sudah meninggal dunia. Sebagai umat beriman kita percaya,setelah meninggal dunia,raga memang sudah mati tetapi jiwa tidak,dan akan kembali kepada Tuhan Sang Pencipta.

    Semoga berkat Tuhan menyertai kita semua, tetap jaga kesehatan anda dan keluarga dengan menerapkan pola hidup sehat,untuk menekan kasus pandemi covid-19 di Indonesia.

    Salam…

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles