Peserta Lomba Menulis di Bulan Arwah, Penulis: Robertus Septian Hito, Alamat: Biara Kapusin Alverna, Kec. Tapian Dolok, Kab. Simalungun, SUMUT. Instagram: @robertusseptianhito_
MajalahDUTA.Com, Pontianak- Johan Winkler lahir di St. Andra, Bozen, Italia pada tanggal 19 Juni 1939 dalam keluarga yang religius. Pada usia 20 tahun, ia menerima tawaran berharga dari Tuhan untuk menjadi seorang Saudara Hina Dina Kapusin. Kasih Tuhan begitu menakjubkan baginya pada 52 tahun yang lalu, ketika ia bersama adiknya dipersembahkan kepada Gereja sebagai seorang Imam. Sejak saat itu, ia mulai akrab dipanggil P. Barnabas Johan Winkler OFM Cap.
Perjalanan hidup P. Barnabas telah menginspirasi banyak orang terutama saudara-saudaranya. Tahun 1970 merupakan permulaan penggembalaannya sebagai Misionaris di bumi Andalas. Bersama adiknya P. Wilfried Winkler OFM Cap, P. Barnabas berangkat dari Brixen (Tirol Selatan) ke Pulau Nias. Tugas penggembalaannya yang pertama ialah menjadi Pastor rekan di Gunungsitoli. Seiring berjalannya waktu, P. Barnabas mulai mengembangkan talentanya dalam bidang arsitek.
Baca Juga: Dari Pesan Menjadi Kenangan
Ia banyak merancang dan membangun berbagai biara di daerah Nias dan sekitarnya. Salah satu bangunan historis yang menjadi karya rancangannya adalah Biara St. Fransiskus Assisi dan Biara Santa Klara di Gunungsitoli.
Pada masa inilah, kiranya P. Barnabas pertama kali bertemu langsung dengan P. Bonifasius Langgur OFM Cap yang saat itu sedang menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral). Menurut P. Boni, “sosok P. Barnabas adalah pribadi yang rendah hati, tegas, dan baik. Beliau memang tidak terlalu banyak bicara, namun beliau sering menasehati para saudara agar jangan bermalas-malasan, setiap saudara harus rajin berdoa dan bekerja. P. Barnabas adalah saudara kapusin yang sejati. Beliau sangat mencintai pelayanannya, ia mau menjadi orang Indonesia, dan mau mati di Indonesia. Ia selalu setia dalam berdoa, seorang pekerja keras, sangat disiplin, sederhana dalam berkata, tidak mudah marah, dan murah hati membantu siapapun.”
Bagi P. Boni, P. Barnabas telah banyak menyampaikan pesan-pesan moral dan hidup kepada para saudara bukan melalui kata-kata saja, melainkan dari teladan hidup yang dilakukannya.
Baca Juga: Tak Usah Takut
Kehadiran P. Barnabas dalam Persaudaraan Kapusin dan Gereja memberikan suatu kebahagiaan yang khusus. Para saudara kapusin menilai bahwa P. Barnabas adalah rahmat yang Tuhan berikan bagi mereka. Br. Yustinus Waruwu OFM Cap telah memberikan kesaksian tentang hal itu.
Ia berkata bahwa “P. Barnabas adalah pembawa kehangatan persaudaraan yang sejati. Beliau juga kerap mengajak umat untuk setia mengandalkan Tuhan dalam hidup. Ada kata-kata yang sering diucapnya: ‘Kalau dari Tuhan asalnya, maka Tuhan menolong dan menyelesaikannya sampai akhir, dan akan berhasil. Sebaliknya, kalau dari manusia, dengan sendirinya akan berakhir!’ Ungkapan itu sarat akan pesan moral dan rohani. Itulah kata-kata beliau yang seakan-akan mau berkata ‘Bertobatlah! Percayalah! Bukalah hatimu kepada Tuhan, maka Tuhan akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu!’.”
Berkat teladan dan kebersahajaan P. Barnabas, Persaudaraan Kapusin pernah mempercayakan tugas pelayan sebagai Minister Propinsial kepada dirinya. Pada saat itu, P. Barnabas begitu dikasihi oleh banyak saudara dan umat. Tragedi gempa bumi di pulau Nias pada tahun 2005, merupakan saksi bisu bagi melimpahnya kasih yang diberikan kepadanya.
Meskipun selamat dari musibah itu, P. Barnabas mengalami sakit di bagian punggung dan harus menggunakan alat bantu untuk berjalan. Pada masa sakitnya ini, Fr. Dominikus Ndruru OFM Cap hadir sebagai pembawa kasih dalam hidupnya. Fr. Domi merawat, membantu, dan memberikan pelayanan kepada P. Barnabas agar ia dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
Dalam kebersamaan mereka, Fr. Domi bersaksi bahwa “P. Barnabas adalah teladan hidup bagi saudara kapusin. Beliau merupakan saudara kapusin yang militan, pintar, peduli, serta pendoa yang setia, terutama dalam berdevosi rosario. P. Barnabas pernah berkata: ‘Kapusin adalah ordo persaudaraan, saya sebenarnya tidak suka jika ada perpecahan, sebab tidak sejalan dengan kharisma kita’.” Kata-kata yang sederhana itu, mau menyatakan bahwa P. Barnabas sangat mencintai persaudaraan. Menurut Fr. Domi, beliau adalah sosok bapa yang tidak banyak bicara, namun melalui tindakannya ia mengatakan sesuatu.
Pesan-pesan moral dan bijaksana juga pernah di katakan P. Barnabas kepada Br. Elias Dion Tinambunan OFM Cap. Br. Elias ingat bahwa “Pada suatu keadaan yang begitu gawat, P. Barnabas pernah berkata: ‘Ya, tenang saja. Kalau kapal tenggelam, kita harus tinggal selama mungkin bertahan di atas kapal; karena kapal ini dari kayu, mungkin tidak akan tenggelam seluruhnya’. Kata-kata ini mungkin menjadi alasan yang membuat saya dan beberapa teman lainnya selamat dari musibah tenggelamnya kapal Surya Makmur Indah pada tahun 2006. Setelah saya refleksikan, kata-kata sederhana P. Barnabas itu memiliki pesan mendalam bagi kita. P. Barnabas mungkin mau menyampaikan bahwa di saat kita mengalami musibah tenggelam, atau situasi yang sulit dalam hidup, kita harus bertahan dalam situasi sulit itu dan tidak melarikan diri.
Karena situasi itu tidak terjadi selamanya dan pasti ada cara untuk menyelesaikannya”. Kenangan hidup itu membuat Br. Elias juga pernah berkata kepada P. Barnabas “tinggallah selama mungkin di atas kapal”. Suatu ungkapan yang berharap agar P. Barnabas dapat tinggal selama mungkin di atas kapal kehidupan di dunia ini.
Harapan Br. Elias ini merupakan harapan semua saudara kapusin dan seluruh umat. Namun, harapan ini harus berakhir pada tanggal 6 November 2020, kala P. Barnabas dijemput oleh saudari maut menghadap Bapa. Sebelum meninggal, P. Barnabas sempat dijenguk oleh P. Boni ketika dirawat di Sibolga. Menurut kisah P. Boni, “P. Barnabas berkata bahwa ia sudah siap untuk mati dan merindukan saat-saat kematian itu”.
Peristiwa ini disebut P. Boni sebagai pernyataan bahwa P. Barnabas adalah alter St.Fransiskus Assisi. Sosoknya yang rendah hati, penuh pengertian, dan bersahaja adalah rahmat yang pernah Tuhan berikan bagi Persaudaraan Kapusin dan Gereja. Hidup telah didedikasikannya bagi pelayanan dan kebaikan banyak orang.
Dialah tokoh inspiratif yang banyak berpesan melalui teladan hidup. Dialah yang berpesan kepada kita untuk memberi diri secara total dalam setiap pelayanan, mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup, mencintai sesama dalam kasih persaudaraan, dan tetap setia dalam setiap cobaan hidup kita.
Sebagai seorang Imam dan saudara, P. Barnabas layak disebut sebagai gembala yang baik. Dialah pastor bonus yang telah berkata dalam perbuatan, mengerti dalam tindakan, dan berpesan dalam teladan bagi para dombanya. Seluruh teladan hidupnya telah menjadi untaian pesan bagi semua saudara dan umat.
~Pace e Bene




