Thursday, February 12, 2026
More

    Warisan Abadi

    Peserta Lomba Menulis di Bulan Arwah, Penulis: Felicia Permata Hanggu, Alamat: Perumahan Jatitjajar Blok E12 No 41, RT/RW: 005/014, Kel Jatijajar, Kec. Tapos,   Depok, Jawa Barat, No HP: 08588-5527-419, Instagram: @fe.marichuy

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Orang Kudus telah menginsipirasi Gereja Katolik dari generasi ke generasi. Kisah mereka kerap menjadi semangat inti dari sebuah gerakan iman, harapan, dan kasih. Ketika kita memikirkan Para Kudus, terbersit dalam benak kita bagaimana kehidupannya dapat mengilhami banyak orang. Namun, banyak juga kisah dari para tua-tua yang menemani kita.

    Teladan dan petuah mereka kadang jarang didengar atau bahkan terkubur saat mereka mati. Padahal petuah itu dapat membantu kita memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia terus ada di bumi. Inilah sepenggal kisah dari sosok yang mungkin telah dikenal orang yang coba diungkapkan dari sisi lain.

    Baca dan Doa

    Berbekal pesan singkat via WhatsApp bertuliskan, “Yang Terkasih, Anda bisa datang ke Girisonta” aku pun pergi untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pusat Spiritualitas Girisonta pada tanggal 6 September 2018. Perjalanan dari Purwokerto menuju oasis para Yesuit ini memakan waktu kurang lebih lima jam. Sesampainya di sana, hawa dingin langsung menyambut kedatanganku.

    Baca Juga: Untaian Pesan Sang Gembala

    Di area Sidorejo, Bergas Lor, Kec. Bergas, Semarang, Jawa Tengah tepatnya di Wisma Emmaus Girisonta inilah menjadi saat pertamaku bertemu langsung dengan sosok pria berblangkon yang terkenal jenaka itu. Giginya memang tak lagi lengkap akibat di makan usia, namun senyum yang terpancar begitu menghangatkan, menghalau udara dingin yang mengigit kulit.

    Dengan keramahan kebapakannya, (Alm) Uskup Emeritus Purwokerto, Mgr. J. Sunarka, SJ mempersilahkanku untuk beristirahat sejenak. Setelah menyantap makan siang, aku kembali ke ruang kerjanya. Di sana ia tengah duduk di antara koleksi buku-buku tuanya. Belum sempat mengutarakan perkataan, ia langsung menyodorkan setumpuk buku lama. Beberapa diantaranya adalah hasil karyanya.

    “Apakah Anda suka baca buku?”, tanyanya. Dengan sedikit gugup aku berkata ‘ya’ sambil mengangguk. Ia pun memintaku untuk membawa kumpulan buku itu. Sembari mengumpulkan beberapa buku yang tercecer di meja kerjanya, ia berujar singkat, “Seorang penulis harus membekali dirinya dengan membaca tentang banyak hal.” Ia pun memintaku kembali keesokan harinya untuk berdiskusi usai kulahap seluruh buku yang diberikan.

    Baca Juga: Dari Pesan Menjadi Kenangan

    Keesokan harinya usai mengikuti Misa pagi, Mgr. Sunarka mengajakku berkeliling wisma. Ia dengan ceria menyapa seluruh imam Yesuit yang menghabiskan masa tuanya di tempat itu. “Ya, di sini tempat Yesuit menyimpan harta karunnya, kumpulan kebijaksanaan,” tuturnya sembari tertawa menunjuk beberapa imam sepuh yang sedang berkeliling taman. Sehabis berkeliling, ia kembali membawaku ke kapel.

    Di sana ia memintaku untuk berdoa secara spesifik. “Jangan takut meminta pasangan hidup kepada Tuhan, Ia dengan senang hati mendengarkan,” ucapnya agak berbisik sambil mengarahkan pandangan kepada Kristus tersalib.

    Responku hanya tersenyum malu saat itu. Ia melanjutkan, “Jika sudah punya pacar doakan saja apakah ia benar laki-laki yang baik. Itu penting.” Dari arah kursi belakang, ia berujar cukup keras bahwa adalah sebuah kesalehan jika melewati sebuah gereja atau kapel untuk berhenti sejenak mendaraskan doa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan.

    Di hari itu, kami berdiskusi banyak mengenai tantangan pastoral masa lalu dan kini. Bak seorang dosen yang sedang membimbing mahasiswa, ia banyak merekomendasikan buku yang patut dibaca. Matanya memang tak lagi dapat melihat dengan jernih, namun tetap tekun menatap layar komputer.

    Dengan kaca pembesar, ia berusaha mencari bahan-bahan terbaik agar bisa kupakai dalam tulisan. “Saya suka sekali belajar, tapi mata ini tidak mau berkompromi. Seharusnya kamu yang matanya masih terang harus lebih semangat dari saya,” ujarnya lagi terkekeh. Meskipun singkat, pertemuan itu terus membakar semangat di kala lelah mengejar asa menerjang.

    Kekuatan Introvert

    Pada kisah lain, sebagai seorang introvert aku begitu terkesan dengan kisah seorang imam diosesan (projo) asal Papua. Ia dikenal sebagai penyambung lidah perdamaian ulung bagi masyarakat Papua. (Alm) Pastor Neles Tebay yang kutemui pada 2 November 2018 di wisma UNIO Indonesia (UNINDO) adalah pribadi yang hangat.

    Sang cendekiawan itu sedang membereskan ruang tamu dan membersihkan meja untuk menyambut kedatanganku. Ia berulang kali meminta maaf karena keterlambatannya.

    Dalam diskusi bersamanya selama tiga jam, ia terus menekankan betapa pentingnya sebuah dialog. Baginya, dialog adalah wadah yang mempertemukan kedua pihak yang saling bertikai, untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan mencari solusi secara bersama. Menariknya, Pastor Neles berkisah bahwa berdasarkan tes sewaktu ia duduk di bangku kuliah tahun 1987, ia mendapati dirinya adalah seorang introvert.

    Baca Juga: Tak Usah Takut

    Stigma yang melekat pada pemilik kepribadian introvert umumnya pemalu dan tak pandai bicara, akan tetapi Pastor Neles tidak menelan itu mentah-mentah. Artinya, ia tidak serta merta menolak sifat dirinya yang introvert, tetapi memaksimalkan hal tersebut. “Saya introvert. Meskipun demikian saya ternyata bisa ekstrovert juga, dengan membuka dialog. Karena saya introvert menyadari hasil itu, maka saya harus mengembangkan sisi ekstrovert.

    Ada saat-saat di mana saya harus berperan sebagai orang ekstrovert,” ungkapnya serius. Ia melanjutkan, “Kekuatan orang ekstrovert ada di luar dirinya. Sementara introvert mengembangkan kekuatan dari dalam dirinya.” Mengetahui hal itu, ia terus mengasah dirinya karena ia percaya dialog adalah jalan yang diberikan Tuhan untuk menyelesaikan konflik.

    Ia pun berpesan kepadaku agar terus memaksimalkan potensi yang ada. Semua kepribadian  adalah baik. Entah itu introvert atau ekstrovert memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang yang berkenan di mata Allah. Tidak ada potensi yang dibuat Allah sia-sia. Semuanya memiliki kekuatan dan andil untuk menyebarkan perdamaian.

    Nama Melekat Misi

    Berkaitan dengan itu, ia menyakini bahwa pada nama seseorang melekat pula misi yang Tuhan berikan. Hal ini berdasarkan pengalaman pribadinya saat ditahbisakan sebagai imam pada 28 Juni 1992. Sebagai putra asli Papua, ia diberikan sebuah upacara adat saat ditahbiskan. Dalam acara itu ada sesi pemberian nama adat. Nama itu diberikan sesuai karakter pribadi seorang imam dan juga mengandung sebuah harapan. “Kebadabi” adalah nama yang ia sandang.

    Nama dari bahasa Mee itu berarti orang yang membuka pintu atau membuka jalan. “Penghayatannya adalah jikalau ada masalah dan pintu komunikasi tertutup, maka itu tugas saya untuk membuka pintu komunikasi,” jelasnya. Kembali ia melirikku dan berkata, “Maka Felicia carilah arti namamu yang berarti kebahagiaan. Temukan kebahagiaan seperti apa yang Tuhan kehendaki untuk kamu bagikan kepada sesama.”

    Andalkan Tuhan

    Kiprah Pastor Neles sebagai aktivis perdamaian Papua seringkali menempatkan ia dalam posisi berbahaya. Ia kerap mendapat tekanan dari berbagai pihak. Ia membeberkan kekuatanya, “Kita punya iman, harapan, dan kasih, jikalau bekerja tanpa ketiga hal tersebut, pasti akan membuat kita lelah dan cepat putus asa.” Ia menekankan bahwa baik pekerjaan atau pelayanan itu memiliki risiko besar atau kecil. Di tiap situasi tetaplah andalkan Tuhan dengan mengembangkan kebajikan teologal, iman, harapan, dan kasih.

    Pastor Neles juga mengisahkan bagaimana pengalamannya selama ini memperlihatkan Penyelenggaraan Tuhan itu. “Ketika kita tulus bekerja dan melayani bagi perdamaian dan kebaikan bersama, Tuhan sendiri yang turun tangan,” ungkapnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan bekerja melalui banyak orang termasuk mereka yang berbeda agama. “Banyak orang yang saya temui itu bukan orang Katolik, tetapi saya tetap melihat Tuhan bekerja melalui orang-orang ini,” jelasnya lagi.

    Ia pun berpesan mengakhiri percakapan kami sore itu, “Rawatlah hubunganmu dengan semua orang terlepas dari mana asal usulnya atau agamanya. Jadilah duta perdamaian Kristus dengan membuka dialog dengan siapa saja.”

    Baca Juga: Memperingati Roh Leluhur Bagi Masyarakat Suku Dayak Dalam Rangka Mendekatkan Diri Kepada Tuhan, Alam dan Lingkungan

    Dari kisah ini aku tersadar bahwa warisan terbaik yang pernah ditinggalkan oleh manusia bukanlah sebuah harta benda. Benda bisa lapuk dan hancur. Harta bisa habis dalam sekejap. Warisan terbaik adalah sebuah pemikiran yang diungkapkan dalam pesan di mana ia timbul dari pengalaman hidup dan iman seseorang.

    Sebuah kebijaksanaan yang telah tertempa dalam tantangan agar dilanjutkan kepada banyak generasi. Tujuannya adalah untuk membangun dunia lebih baik terlebih menemukan Allah Yang Mahaadil dan Maharahim.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles