MajalahDuta.com, Jakarta — “Tidak semua lulusan seminari dipanggil menjadi imam. Namun, setiap alumninya dipanggil menjadi saksi Kristus di mana pun mereka diutus.”
Kalimat itu kiranya tepat menggambarkan perjalanan hidup Brigjen TNI (Mar) Yustinus Rudiman SH M.Tr.Hanla, M.Tr.(Han).
Putra Dayak, kelahiran Sambas, Kalimantan Barat, ini pernah menempuh pendidikan di SMA Seminari Menengah Santo Paulus Nyarumkop, Singkawang, sebuah lembaga pendidikan Katolik yang selama puluhan tahun dikenal membentuk karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan para calon pemimpin Gereja maupun masyarakat.
Meski akhirnya tidak melanjutkan panggilan sebagai imam, nilai-nilai yang ditanamkan selama menempuh pendidikan di seminari tetap menjadi fondasi dalam perjalanan hidupnya.
Disiplin, integritas, semangat melayani, kerendahan hati, dan kecintaan kepada sesama menjadi bekal yang kemudian diwujudkan melalui panggilan lain: mengabdi kepada bangsa sebagai seorang prajurit.
Kini, Brigjen Yustinus dipercaya menjabat sebagai Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Laut (Sahli Kasal) Tingkat III Bidang Teknik Pernika dan Siber, sebuah jabatan strategis yang berperan dalam memperkuat kemampuan pertahanan siber TNI Angkatan Laut di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya ancaman digital.
Dibentuk oleh Pendidikan Katolik
Dalam tradisi Gereja Katolik, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk manusia seutuhnya (integral human formation).
Pendidikan Katolik mengajak setiap pribadi bertumbuh dalam iman, akal budi, karakter, dan tanggung jawab sosial.
Nilai-nilai inilah yang sejak lama menjadi ciri khas Seminari Santo Paulus Nyarumkop.
Di lingkungan pendidikan tersebut, para siswa dibina untuk hidup sederhana, menghargai sesama, mencintai kebenaran, serta memiliki keberanian mengambil keputusan yang benar demi kebaikan bersama.
Brigjen Yustinus menjadi salah satu alumni yang kemudian menghidupi nilai-nilai tersebut melalui jalan hidup yang berbeda.
Setelah menyelesaikan pendidikan di seminari, ia memilih melanjutkan studi di Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-44 dan lulus sebagai perwira pada tahun 1998.
Pilihan itu menjadi awal pengabdiannya kepada bangsa melalui Tentara Nasional Indonesia.
Mengabdi dengan Kesetiaan
Perjalanan karier Brigjen Yustinus diwarnai berbagai penugasan yang penuh tantangan.
Ia pernah terlibat dalam sejumlah operasi militer di Aceh, menjalankan tugas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), memimpin Yonmarhanlan I Belawan, menjadi Komandan Lanal Cirebon, menjabat Asisten Intelijen Danlantamal XII Pontianak, hingga dipercaya bertugas di Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Kini, tanggung jawabnya semakin besar.
Ancaman terhadap sebuah negara tidak lagi hanya datang melalui darat, laut, dan udara, tetapi juga melalui ruang digital.
Karena itu, penguatan pertahanan siber menjadi salah satu prioritas penting dalam menjaga kedaulatan Indonesia.
Di balik berbagai jabatan tersebut, tersimpan sebuah panggilan yang sama: melayani bangsa dengan setia.
Talenta yang Terus Dikembangkan
Dalam Injil Matius (25:14–30), Yesus mengajarkan bahwa setiap orang dipanggil mengembangkan talenta yang dipercayakan Tuhan. Semangat itu tampak dalam perjalanan akademik Brigjen Yustinus.
Ia berhasil meraih Collin East Award saat mengikuti pendidikan reguler Seskoal pada 2014. Ia juga menempuh pendidikan di International College of Defence Studies (ICDS), National Defence University (NDU), Beijing, bersama peserta dari berbagai negara.
Berbagai penugasan internasional ke Singapura, Papua Nugini, Australia, dan Amerika Serikat semakin memperkaya pengalaman serta wawasannya dalam bidang pertahanan. Bahkan, ia juga memperoleh penghargaan US Airborne.
Semua pencapaian itu menunjukkan bahwa belajar merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
Talenta yang diterima harus terus diasah agar dapat menghasilkan buah bagi banyak orang.
Keluarga, Tempat Bertumbuhnya Kasih
Di balik kesibukannya sebagai perwira tinggi TNI AL, Brigjen Yustinus adalah seorang suami dan ayah.
Bersama sang istri, Dilly Kansil, ia membangun keluarga yang dikaruniai dua orang anak, Andrea dan Andrew.
Dalam ajaran Gereja Katolik, keluarga merupakan “Gereja kecil” (Ecclesia Domestica), tempat iman, kasih, dan nilai-nilai kehidupan pertama kali diwariskan.
Keluarga menjadi ruang untuk saling menguatkan sekaligus sumber semangat dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab.
Paus Fransiskus berulang kali mengingatkan bahwa umat Katolik dipanggil menjadi murid-murid yang hadir di tengah dunia, membawa harapan, kejujuran, dan semangat pelayanan.
Panggilan itu dapat diwujudkan dalam berbagai profesi: guru, petani, tenaga kesehatan, jurnalis, birokrat, pengusaha, maupun anggota TNI dan Polri.
Perjalanan Brigjen TNI (Mar) Yustinus Rudiman memperlihatkan bahwa iman Katolik tidak membatasi ruang pengabdian.
Sebaliknya, iman menjadi sumber kekuatan untuk bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Dari sebuah seminari sederhana di Nyarumkop hingga ruang-ruang strategis pertahanan negara, perjalanan hidupnya menjadi kesaksian bahwa pendidikan Katolik mampu melahirkan pribadi-pribadi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan semangat melayani.
Bagi generasi muda Katolik, kisah Brigjen Yustinus menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki panggilannya masing-masing.
Ada yang melayani di altar sebagai imam, ada yang berkarya di tengah masyarakat sebagai awam.
Apa pun profesinya, semuanya dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus melalui karya nyata.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan semata-mata tingginya jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan Tuhan. (Stefanus Akim) ***




