MajalahDUTA.Com | Ketika Hati yang Gelisah Menemukan Kerinduannya. Kisah Sr. Angela Sandra, OSA dan Sr. Stephanie, OSA.
“…dan Anda dinyatakan lulus!”
Ruang sidang yang tadinya hening dan tegang seketika mencair oleh tepuk tangan dan ucapan selamat. Pada 4 Februari 2026, Sr. Angela Sandra, OSA resmi menuntaskan sidang tesis Magister Akuntansi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta — sebuah perjalanan panjang yang ia rayakan kembali tiga bulan kemudian, saat wisuda pada 5 Mei 2026, dengan gelar M.Ak di belakang namanya.
Pencapaian ini terasa lebih istimewa karena ia tidak sedang “mengambil jeda” dari karyanya. Selama menempuh studi, ia tetap menjalankan tugas di Rumah Duka OASIS Lestari, Jatake, Tangerang — merawat unit kolumbarium sembari merampungkan lembar demi lembar tesisnya.
Ia menghibur dan menguatkan keluarga yang meletakkan abu jenazah kerabat terkasih, sekaligus menguatkan dirinya sendiri untuk tetap setia dan bertabah menjalani dua tugas perutusan pada waktu bersamaan.
Pengalaman serupa dialami Sr. Stephanie, OSA. Pada 7 Juli 2026, ia menuntaskan studinya di Fakultas Bahasa, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris, Universitas Widya Dharma Pontianak, dan meraih gelar S.Li.
Pada saat yang sama, ia tetap aktif berkarya sebagai Bendahara di TPA/KB Agustin, sekaligus memelihara anak-anak balita di unit daycare yang setia hari dititipkan orang tua mereka yang sedang bekerja.
Dua kisah kelulusan yang terkesan biasa ini menyimpan sesuatu yang mendalam: kesediaan.
Ketika Kongregasi mempercayakan tugas studi sebagai perutusan tambahan — bukan sebagai jeda dari karya — keduanya memilih menerimanya, bukan demi gelar, melainkan demi masa depan Kongregasi dan pelayanan yang lebih luas bagi Kerajaan Allah.

Kesediaan inilah yang menjadi pegangan bagi keduanya, sebuah kesadaran bahwa memilih menjadi biarawati berarti hidup bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan untuk Allah dan sesama.
Tentu bukan tanpa pergulatan. Ketika prinsip ora et labora — menyeimbangkan doa dan kerja yang lazim dihidupi kaum berjubah — ditambah dengan tugas studi, muncul pertanyaan yang jujur: bagaimana doa, hidup komunitas, karya, dan studi, yang sama-sama menuntut perhatian, waktu, energi, dan prioritas, dapat dihidupi bersama tanpa membuat identitas panggilan tergerus dan melemah?
Ketika Ritme Bertambah
Bagi Sr. Angela, tantangan terbesar bukan pada satu titik tertentu, melainkan pada keseluruhan ritme yang harus dijalani sekaligus.
Menjalani studi magister sambil tetap menjalankan tugas di Rumah Duka, akunya, bukan pengalaman yang selalu mudah — tantangan terbesarnya adalah membagi waktu dan energi antara tuntutan kuliah, pekerjaan, serta kehidupan bersama di komunitas.
Ada masa ketika tugas kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab lain datang bersamaan, memaksanya terus-menerus menentukan prioritas.

Namun jawaban yang ia temukan bukan sekadar soal manajemen waktu, melainkan soal makna keseimbangan itu sendiri: bahwa keseimbangan bukan berarti semua hal mendapat porsi waktu yang sama banyak, melainkan kemampuan memberikan perhatian terbaik sesuai kebutuhan dan tanggung jawab pada saat itu.
Ada juga kejujuran yang jarang diucapkan secara terbuka: keraguan. “Ada saat-saat ketika saya merasa lelah dan bertanya apakah saya mampu menyelesaikan semuanya, karena saya menyadari bahwa sudah sekian lama meninggalkan bangku sekolah dan usia yang sudah tidak muda lagi,” ungkapnya.
Namun di titik itu pula ia menemukan kembali arah — melihat studi bukan semata pencapaian akademis, melainkan proses pembentukan diri: bekal untuk melayani lebih baik, baik dalam pekerjaan maupun dalam hidup sebagai seorang Suster.
Pergulatan yang bergema serupa juga dialami Sr. Stephanie, meski dengan wajah berbeda. Tantangan terbesarnya adalah manajemen waktu dan energi — menyeimbangkan ritme kuliah dan kerja di TPA dengan ritme harian komunitas: doa bersama, makan bersama, dan kegiatan rekreasi atau pembinaan komunitas.
Ada pula tantangan yang lebih halus: godaan membawa beban kuliah ke dalam doa atau kegiatan komunitas, sehingga sulit hadir secara utuh di kedua tempat.
Jawabannya, ia temukan, terletak pada cara memandang waktu itu sendiri. Waktu doa dan komunitas, katanya, semestinya dipandang sebagai momen perjumpaan dan penyegaran, bukan beban — sebuah pergeseran cara pandang yang sederhana namun mendalam: doa bukan satu lagi agenda yang harus diselesaikan, melainkan ruang untuk kembali segar.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka dengan pimpinan komunitas dan sesama suster, terutama ketika ada tugas atau ujian yang membutuhkan perhatian khusus, supaya komunitas bisa memahami, bukan sekadar menuntut.
Profesionalisme Sebagai Wujud Kasih
Ketika ditanya bagaimana studi mengubah cara mereka memandang karya pelayanan, jawaban kedua suster ini punya kedalaman yang mengejutkan.
Studi Akuntansi, bagi Sr. Angela, bukan sekadar menambah gelar, melainkan mengubah cara pandangnya terhadap pelayanan itu sendiri. “Studi Akuntansi membantu saya melihat bahwa sebuah karya pelayanan juga membutuhkan pengelolaan yang baik, bertanggung jawab, transparan, dan profesional. Pelayanan yang baik tidak hanya berbicara tentang hati yang tulus, tetapi juga bagaimana kita mengelola sumber daya yang dipercayakan kepada kita dengan penuh tanggung jawab,” jelasnya.
Namun angka dan laporan bukan seluruh cerita.
Bekerja di unit kolumbarium mempertemukannya dengan orang-orang yang sedang kehilangan dan berduka — pengalaman yang mengingatkannya bahwa di balik angka, laporan, dan pengelolaan keuangan, selalu ada manusia yang harus dilayani dan dihargai.
Dari situ ia sampai pada satu kalimat yang bisa menjadi motto bagi siapa pun yang bekerja secara profesional sambil menghidupi panggilan: “Profesionalitas dan pelayanan bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, profesionalitas dapat menjadi bentuk nyata dari tanggung jawab dan kasih kita kepada orang lain.”
Pelayanan, baginya, sering kali hadir dalam hal-hal sederhana — mendengarkan, hadir bagi keluarga yang berduka, memberi perhatian, membantu dengan tulus.

“Keberhasilan sebuah karya tidak hanya diukur dari hasil yang tampak, tetapi juga dari seberapa jauh kehadiran kita mampu memberikan penghiburan, ketenangan, dan harapan bagi sesama,” tuturnya.
Pola yang sama ditemukan dari sudut yang berbeda oleh Sr. Stephanie. Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris membuka wawasan intelektual yang lebih luas dan kritis, katanya — ilmu yang diperoleh bukan sekadar teori, melainkan sarana untuk melayani umat atau masyarakat dengan lebih profesional dan berbelas kasih.
Studi juga membuatnya lebih peka membaca pergumulan dan kebutuhan zaman, sehingga karya kerasulannya menjadi lebih relevan, membumi, dan menyentuh kebutuhan konkret sesama.
Ia menutup dengan satu prinsip yang layak digarisbawahi setiap orang yang bekerja sambil belajar: studi memperkuat integritas pelayanan; melayani tidak hanya dengan niat baik, tetapi juga dengan kompetensi dan pengetahuan yang memadai.
Semangat inilah — studi sebagai bentuk lain dari kasih yang bertanggung jawab — yang ia akarkan pada spiritualitas pelindung kongregasinya: menghidupi semangat Santo Augustinus Hippo tentang Satu Hati dan Satu Jiwa menuju Allah, di mana studi dilihat sebagai bagian dari pelayanan bagi komunitas dan Gereja, bukan pencapaian pribadi semata — prinsip yang berakar jauh pada gambaran jemaat perdana, “Kumpulan orang yang telah percaya itu adalah satu hati dan satu jiwa” (Kis 4:32).
Kompas di Tengah Badai
Pertanyaan paling mendasar dari kisah ini barangkali bukan bagaimana mereka mengatur waktu, melainkan bagaimana mereka tetap menemukan Allah di tengah keterbatasan, kelelahan, dan pergulatan harian.
Santo Agustinus, pelindung kongregasi mereka, menulis kalimat yang barangkali paling dikenal dari seluruh karyanya, di lembar pertama Confessiones: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai ia beristirahat di dalam Dikau.” Semangat restless search inilah yang menjiwai hidupnya — pencarian tak kunjung usai akan Allah, yang menemukan bentuknya lewat belajar, membaca, bertanya, merenung.
Semangat itu dihidupi secara sadar oleh Sr. Stephanie. Poros hidupnya terletak pada kehidupan doa dan sakramen — doa pribadi, doa bersama, dan Ekaristi harian sebagai sumber kekuatan utama — serta pada spiritualitas Augustinian yang ia gambarkan sebagai penyerahan diri, persaudaraan, dan pencarian kebenaran bersama Allah.
Kalimat terakhir ini nyaris menjadi gema langsung dari restless search Augustinus sendiri — pencarian yang tidak dijalani sendirian, melainkan bersama komunitas: kehadiran, doa, dan persaudaraan sesama Suster OSA yang saling menguatkan, menerima, dan berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Yang menopang semuanya, tambahnya, adalah kesadaran akan Kasih Kerahiman Allah — mengingat kembali panggilan awal dan kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah, bahkan di saat-saat lelah atau penuh tekanan.
Kekuatan serupa juga digenggam Sr. Angela. “Di tengah kesibukan studi dan pekerjaan, yang menjadi kekuatan bagi saya untuk tetap setia dan bersukacita dalam menjalani panggilan sebagai Suster OSA adalah relasi pribadi dengan Tuhan, kehidupan doa, kebersamaan dalam komunitas, dan selalu mengingat kembali alasan Tuhan memanggil saya,” ungkapnya.

Ia jujur mengakui bahwa kesibukan bisa membuat perhatian lebih mudah terarah pada tugas dan tanggung jawab daripada kepada Tuhan — dan karena itu ia belajar untuk terus kembali. “Doa menjadi tempat saya berhenti sejenak, menata kembali hati, dan menyadari bahwa semua yang saya jalani bukan semata-mata karena kemampuan saya, tetapi karena rahmat dan penyertaan Tuhan.”
Pengalaman berjumpa dengan kematian di Rumah Duka rupanya juga memperdalam panggilannya secara tak terduga.
Berhadapan dengan kematian dan keluarga yang berduka membuatnya semakin menyadari bahwa hidup ini berharga dan singkat, katanya — dan melalui karya sederhana yang ia jalani, ia merasa Tuhan mengajaknya menjadi pribadi yang mampu menghadirkan penghiburan dan harapan bagi orang lain.
Ketika ditanya bagaimana ia bertahan di saat-saat paling lemah, jawabannya berakar pada satu ayat yang ia genggam erat: “Saya percaya bahwa Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia dan juga menyertai (2 Timotius 2:13). Maka, ketika saya merasa lemah, saya berusaha kembali pada Tuhan, pada komunitas, dan pada semangat awal panggilan saya. Di situlah saya menemukan kembali sukacita dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan sebagai seorang Suster OSA.”
Satu Jalan, Tiga Wajah
Pada akhirnya, kedua suster ini sampai pada kesimpulan yang nyaris sama, meski dirumuskan dengan kata-kata mereka sendiri: “Studi, pekerjaan, dan panggilan bukanlah tiga hal yang berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya menjadi bagian dari satu perjalanan hidup yang saling memperkaya — studi membentuk cara berpikir, pekerjaan membentuk cara melayani, dan panggilan memberi arah serta makna bagi semuanya.”
Bagi generasi muda yang tumbuh di tengah arus digital dan tekanan multitasking, kisah ini bisa menjadi cermin yang jujur: bahwa keseimbangan hidup bukan soal membagi waktu secara sempurna, melainkan soal menata prioritas dengan hati yang tetap berakar pada panggilan.
Kedua suster ini membuktikan bahwa hidup bakti bisa berjalan selaras dengan tuntutan zaman — pendidikan tinggi, profesionalisme, tanggung jawab karya — tanpa mengorbankan kesetiaan pada kaul dan komunitas.
Seperti kata Agustinus di ujung pengakuannya, mengenang panjangnya perjalanan mencari Allah: “Terlambat aku mencintai-Mu, Oh Keindahan lama yang selalu baru, terlambat aku mencintai-Mu!” Namun bagi mereka berdua — dan bagi siapa pun yang sedang berlari di tengah tumpukan tugas, deadline, dan kelelahan — tidak pernah terlambat untuk kembali.
Hati yang gelisah itu, cepat atau lambat, akan selalu menemukan jalan pulang: kepada Tuhan yang setia, kepada komunitas yang menopang, dan kepada panggilan yang memberi makna atas segalanya.*Penulis: Sr. Felisitas N.Saptari, O.S.A – Sumber Foto: Dokumen pribadi para suster ybs.




