Wednesday, July 22, 2026
More

    MBKM Jembatan dari Bangku Kuliah ke Dunia

    MajalahDUTA.Com | Perkuliahan di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan di dunia nyata.

    Bagi saya sebagai mahasiswa agribisnis, kemampuan mengelola usaha, membaca peluang pasar, dan menghasilkan inovasi menjadi kopetensi yang sangat dibutuhkan.

    Dalam konteks tersebut, Program Merdek Belajar Kampus Merdeka (MBKM), khususnya melalui skema Proyek Kewirausahaan, menjadi salah satu sarana yang mampu menjembatani pembelajaran di ruang kelas dengan pengalaman nyata di lapangan.

    Selama mengikuti MBKM Proyek Kewirausahaan, saya memperoleh kesempatan usaha Keripik Pisang Mantul sebagai bentuk penerapan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan.

    Kulit pisang yang dihasilkan selama proses produksi tidak dibuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai bahan organik di sekitar tanaman. Langkah sederhana ini mencerminkan penerapan prinsip keberlanjutan dalam usaha Agribisnis. Foto: Lili – 2023 FST San Agustin. 

    Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa membangun sebuah usaha tidak hanya berfokus pada menghasilkan produk, tetapi juga menuntut kemampuan dalam merencanakan, mengelola, mengevaluasi, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi usaha yang sebenarnya.

    Dalam proses pelaksanaan usaha, berbagai mata kuliah yang dipelajari di Program Studi Agribisnis tidak hanya dipahami sebagai teori.

    Manajemen Strategi Agribisnis diterapkan saat menyusun konsep usaha, menentukan target pasar, serta merancang strategi pemasaran.

    Manajemen Rantai Pasok diterapkan dalam pengadaan bahan baku pisang yang berkualitas hingga distribusi produk kepada konsumen.

    Sementara itu, Manajemen Digital Agribisnis, Sistem Informasi Agribisnis, dan E-Commerce disujudkan melalui pemanfaatan WhatsApp sebagai media promosi, komunikasi, pemasaran peroduk serta penggunaan pembayaran digital melalui aplikasi DANA.

    Disisi lain konsep Ekonimi Kreatif diterapkan  melalui inovasi kemasar dan pengembangan varian rasa, sedangkan Circular Economy diwujudkan melalui pemanfaatan limbah kulit pisang sehingga usaha berorientasi pada kebutuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjuta lingkungan.

    Pengalaman tersebut menunukan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam mengelola seluruh proses bisnis secara terpadu.

    Mulai dari perencanaan usaha, pengadaan bahan baku, proses produksi, pengemasan pemasaran, hingga evaluasi usaha harus dilakukan secara sistematis agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

    Melalui MBKM, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengalami langsung proses tersebut sehingga mampu memahami tantangan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas.

    Pelaksanaan usaha ‘keripik pisang mantul’ ini juga memberikan gambaran bahwa potensi komoditas lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah apabila dikelola dengan bail.

    Pisang yang sebelumnya hanya dijual sebagai produk segar dapat diolah menjadi keripik dengan kemasan yang lebih menarik, memiliki varian rasa, serta dipasarkan melalui media digital.

    Pendekatan seperti ini tidak anya meningkatkan nilai ekonomi suatu komoditas, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dikembangkan oleh generasi muda di sektor agribisnis.

    Menurut saya, pengalaman mengikuti MBKM Proyek Kewirausahaan membuktikan bahwa proses belajar yang sesungguhnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga ketika mahasiswa dihadapkan langsung pada berbagai tantangan dalam menjalankan usaha.

    Pisang berkualitas menjadi bahan baku utama dalam pembuatan Keripik Pisang Mantul. Pemilihan bahan baku yang tepat merupakan langkah awal untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai tambah. Foto: Lili – Angkatan 2023 FST San Agustin. 

    Mahasiswa belajar mengelola waktu, menyelesaikan permasalahan produksi, memahami kebutuhan konsumen, memanfaatkan teknologi digital, hingga mengambil keputusan yang berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha.

    Pengalaman tersebut menjadi bekal yang sangat berharga dalam membentuk kompetensi profesional sebagai jiwa kewirausahaan.

    Oleh karena itu, MBKM layak dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan bangku kuliah dengan dunia nyata. Program ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman secara langsung sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memiliki kemampuan berinovasi, beradaptasi, dan menciptakan peluang usaha.

    Bagi saya sebagai mahasiswa Agribisnis, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk berkontribusi dalam mengembangkan sektor agribisnis sekaligus mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mampu memanfaatkan potensi lokal secara kreatif, inovatif, dan keberlanjutan.* Lili – Mahasiswi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi, Angkatan 2023. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles