MajalahDUTA.Com | Komoditas cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mengalami lonjakan harga yang signifikan pada pekan ketiga Januari 2026.
Berdasarkan pantauan lapangan di Pasar Rakyat Ngabang dan Pasar Mandor, harga jual di tingkat konsumen saat ini menembus angka Rp100.000 hingga Rp110.000 per kilogram.
Angka ini menunjukkan kenaikan drastis sebesar 100 persen dibandingkan harga normal yang biasanya stabil di kisaran Rp50.000 per kilogram.
Lonjakan harga tersebut terjadi secara serentak di wilayah pusat perdagangan seperti Pasar Rakyat Ngabang, Pasar Mandor, hingga Pasar Karangan.
Kelangkaan stok di tingkat pedagang eceran menjadi pemicu utama yang mengerek harga dalam waktu singkat dalam tujuh hari terakhir.
Detail Tambahan Dinamika Pasar dan Keluhan di Tingkat Pedagang Para pedagang di pasar tradisional mengaku kesulitan mendapatkan stok berkualitas dalam jumlah besar dari para pengepul.
Penurunan volume barang yang masuk ke pasar sudah mulai terasa sejak awal bulan Januari. Hal ini memaksa para pedagang untuk menaikkan harga jual guna menutup biaya modal yang juga merangkak naik di tingkat grosir.
“Stok yang masuk sekarang hanya setengah dari biasanya, kualitasnya banyak yang rusak karena basah,” ujar Maryanto, seorang pedagang sayur di Pasar Ngabang, Kamis (22/1/2026).
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga ini membuat omzet hariannya menurun karena konsumen cenderung mengurangi volume pembelian mereka demi menghemat pengeluaran dapur.

Selain Maryanto, sejumlah pedagang lain juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama terkait daya beli masyarakat.
Banyak konsumen yang sebelumnya membeli dalam hitungan kilogram, kini hanya membeli dalam satuan ons.
Gangguan Produksi Akibat Faktor Cuaca Analisis terhadap kenaikan harga ini menunjukkan bahwa faktor alam memegang peranan paling krusial.
Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Landak dan sekitarnya telah menyebabkan kegagalan panen di tingkat petani.
Tingginya kelembapan udara memicu hama patek yang merusak tanaman cabai sebelum memasuki masa petik. “Hujan turun hampir setiap hari tanpa henti, sehingga bunga cabai rontok dan buah yang ada menjadi busuk di pohon,” ungkap Heri, seorang petani cabai di wilayah Mandor.
Akibat kondisi cuaca ekstrem ini, hasil panen dari lahan milik Heri merosot hingga lebih dari 60 persen.
Petani terpaksa melakukan panen dini untuk menyelamatkan sisa tanaman yang masih layak jual, Kegagalan panen ini tidak hanya terjadi di Landak, tetapi juga melanda daerah-daerah penyangga seperti Kabupaten Mempawah dan Kubu Raya.
Dampak Logistik dan Rantai Distribusi Curah hujan yang tinggi menyebabkan wilayah Kalimantan Barat sejak Desember menjadi penyebab utama kegagalan panen masal di tingkat petani, beberapa ruas jalan utama yang menghubungkan antar-kabupaten mengalami genangan air dan kerusakan.
Hal ini menghambat kelancaran truk pengangkut komoditas pangan yang masuk ke wilayah Ngabang. Data dari dinas terkait menunjukkan bahwa distribusi cabai rawit merah melibatkan setidaknya tiga hingga empat tangan sebelum mencapai konsumen akhir.\
Setiap perpindahan tangan tersebut menambah margin keuntungan dan biaya angkut yang cukup signifikan. Dalam situasi kelangkaan barang, spekulasi di tingkat perantara juga menjadi faktor yang sulit dihindari.
Tekanan pada Sektor Usaha Mikro Sektor usaha mikro (UMKM) menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakstabilan harga ini.
Pemilik warung makan, penjual ayam geprek, dan pedagang gorengan harus memutar otak agar usaha mereka tetap berjalan.
Cabai rawit merah merupakan bahan baku utama yang sulit digantikan dengan bahan lain tanpa mengubah cita rasa masakan.
Beberapa pelaku usaha mulai melakukan substitusi dengan mencampur cabai rawit merah dengan cabai kering atau cabai jenis lain untuk menekan biaya. namun, solusi ini seringkali tidak memuaskan pelanggan yang mengutamakan tingkat kepedasan tertentu.
Rencana Lanjutan Pemerintah Kabupaten Landak melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) mulai menyusun langkah strategis.
Otoritas berwenang berencana melakukan koordinasi dengan distributor besar untuk mendatangkan pasokan tambahan dari luar provinsi jika diperlukan.
Pemerintah mengimbau para distributor dan pengepul untuk tidak mengambil keuntungan berlebih di tengah kesulitan masyarakat.
Dampak kenaiakan haraga cabe, Kenaikan harga ini mulai dikeluhkan oleh masyarakat luas, terutama para pelaku usaha kuliner dan ibu rumah tangga.
Fenomena ini terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Landak. Keterbatasan pasokan menjadi pemicu utama yang mengerek harga di tingkat pedagang eceran dalam waktu singkat
Konteks Tambahan Dari perspektif ekonomi makro daerah, lonjakan harga cabai rawit merah sering menjadi penyumbang inflasi yang cukup signifikan di Kalimantan Barat.
Fluktuasi harga yang tajam menunjukkan bahwa sistem logistik pangan daerah masih sangat rentan terhadap gangguan cuaca. Diperlukan investasi pada teknologi penyimpanan seperti cold storage yang dapat memperpanjang masa simpan cabai saat terjadi kelebihan pasokan di masa panen.
Kesimpulan Lonjakan harga cabai rawit merah di Kabupaten Landak disebabkan oleh gagal panen akibat cuaca ekstrem dan terhambatnya jalur distribusi.
Diperlukan intervensi pemerintah melalui operasi pasar dan penguatan koordinasi distribusi guna menstabilkan harga serta menjaga daya beli masyarakat.*Basilia Anastasia Iris & Dianus | Teknik Logistik | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.




