MajalahDUTA.Com | Seminar Humaniora yang dilaksanakan oleh Departemen Lentera San Agustin besok memgambil judul: Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini. Judul ini sebenarnya merupakan refleksi kritis Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terhadap arah perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini.
Di tengah semakin kuatnya kecenderungan kampus pada kebutuhan industri dan kompetisi global, muncul pertanyaan mendasar: apakah Filsafat dan ilmu-ilmu humaniora benar-benar telah kehilangan relevansinya bagi perguruan tinggi?
Ataukah justru keduanya sedang didorong ke pinggir karena dianggap tidak sejalan dengan paradigma pendidikan yang semakin pragmatis dan teknokratis?
Apakah universitas hanya bertugas menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, ataukah juga bertanggung jawab membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, bertindak bijaksana, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat?

Pembicara dalam seminar ini adalah Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP dan Romo A. Setyo Wibowo, SJ. Selain sebagai gembala umat, keduanya merupakan akademisi Filsafat yang sudah puluhan tahun mengajarkan dan mendiseminasikan Filsafat kepada banyak orang di Indonesia.
Mgr. Valent, CP sendiri adalah dosen sekaligus penguji tesis saya saat di STFT Widya Sasana Malang dulu. Sementara buku dan kuliah online Rm. Setyo, SJ sering saya nikmati hingga saat ini.
Menurut saya, sangat penting dan menarik untuk mendengarkan konsep serta argumentasi kedua Pembicara ini terkait judul yang diberikan.
Hal ini menjadi lebih menarik karena hadir para panelis yang akan menanggapi konsep 2 Pembicara tersebut dengan latar belakang keilmuan masing-masing Panelis.
Menurut saya, Seminar Humaniora ini mencerminkan sikap intelektual Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dalam merespons dinamika pendidikan tinggi Indonesia.
Di tengah kecenderungan yang mengukur keberhasilan pendidikan semata-mata melalui indikator ekonomi dan kebutuhan pasar, San Agustin menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh kehilangan dimensi reflektif, etis, dan humanistisnya.*Trio Kurniawan.




