Thursday, June 25, 2026
More

    Dunia Perbankan Membutuhkan Filsafat untuk Menjaga Integritas dan Kebijaksanaan, kata Stanislaus

    MajalahDUTA.Com | Ketika berbicara tentang dunia perbankan, yang terlintas dalam benak banyak orang biasanya adalah angka, laporan keuangan, kredit, investasi, dan teknologi finansial. Namun bagi Stanislaus, S.E., M.Pd., Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB GAK) Pontianak, ada satu hal yang tidak kalah penting dalam membentuk profesional perbankan masa depan, yakni filsafat.

    Pandangan tersebut akan disampaikannya dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Jumat, 26 Juni 2026.

    Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak ini menghadirkan Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ sebagai pembicara utama. Keduanya dikenal luas sebagai akademisi dan pemikir yang selama bertahun-tahun berkontribusi dalam pengembangan filsafat di Indonesia.

    Sebagai panelis yang berasal dari bidang keuangan dan perbankan, Stanislaus melihat tema yang diangkat memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan yang sedang dihadapi industri jasa keuangan saat ini.

    Menurutnya, transformasi digital telah mengubah wajah perbankan secara fundamental.

    Kehadiran Artificial Intelligence (AI), fintech, cryptocurrency, big data, hingga ancaman keamanan siber membuat dunia perbankan tidak lagi hanya membutuhkan tenaga profesional yang menguasai keterampilan teknis.

    “Perbankan modern membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki integritas moral, dan sanggup mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Di sinilah filsafat memiliki peran yang sangat penting,” ujar Stanislaus alias Andes, (25/06).

    Dia menjelaskan bahwa setiap keputusan dalam dunia perbankan selalu membawa konsekuensi yang luas.

    Sebuah keputusan kredit, misalnya, tidak hanya berdampak pada keuntungan lembaga keuangan, tetapi juga pada kehidupan debitur, keberlanjutan usaha, bahkan kondisi ekonomi masyarakat.

    Karena itu, menurutnya, seorang bankir harus memiliki kemampuan reflektif yang memungkinkan dirinya melihat persoalan secara lebih menyeluruh.

    “Filsafat mengajarkan cara berpikir yang rasional dan bijaksana. Seorang profesional perbankan tidak cukup hanya memahami aturan dan prosedur, tetapi juga harus mampu mempertimbangkan aspek etika dari setiap keputusan yang dibuat,” katanya.

    Andes juga menilai bahwa tantangan terbesar dunia perbankan saat ini justru tidak selalu berkaitan dengan kompetensi teknis. Banyak kasus penyalahgunaan kewenangan dan pelanggaran etika terjadi karena lemahnya karakter dan integritas individu.

    Workshop Humaniora, oleh Dr. Mgr. Valentinus Saeng, CP (Uskup Keuskupan Sanggau) Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ (Imam Yesuit dan Dosen STF Driyarkara Jakarta)

    Dalam konteks itulah pendidikan tinggi memiliki peran strategis. Kampus, menurutnya, tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga membentuk kepribadian serta nilai-nilai moral mahasiswa.

    Dia mengatakan bahwa kepercayaan merupakan aset paling berharga dalam industri perbankan. Tanpa integritas, seluruh sistem keuangan dapat kehilangan legitimasi di mata publik.

    “Kejujuran, tanggung jawab, dan profesionalisme tidak lahir secara instan. Nilai-nilai itu perlu dibangun sejak proses pendidikan. Karena itu, filsafat dan pendidikan karakter tetap relevan bagi mahasiswa perbankan,” ujarnya.

    Lebih jauh, Andes mengingatkan bahwa perguruan tinggi sejatinya tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, melainkan juga calon pemimpin. Dalam dunia perbankan, kepemimpinan yang dibutuhkan bukan semata-mata berorientasi pada target bisnis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesadaran etis.

    Menurutnya, kemampuan mencapai keuntungan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap masyarakat dan keberlanjutan pembangunan ekonomi.

    “Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan nilai-nilai kemanusiaan. Filsafat memberikan dasar yang kuat untuk membangun kepemimpinan semacam itu,” tegasnya.

    Dia mengajak mahasiswa keuangan dan perbankan untuk tidak memandang filsafat sebagai ilmu yang jauh dari dunia profesional. Sebaliknya, filsafat justru dapat membantu mereka memahami dimensi manusiawi dari setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan.

    “Keberhasilan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghitung laba atau membaca laporan keuangan. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan memahami manusia, masyarakat, dan nilai-nilai yang mendasari setiap keputusan ekonomi,” katanya.

    Melalui Workshop Humaniora ini, dialog antara filsafat dan dunia perbankan diharapkan dapat membuka perspektif baru tentang pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

    Baginya, filsafat bukanlah ilmu yang berada di menara gading dan terpisah dari realitas. Justru di tengah kompleksitas ekonomi dan transformasi digital yang semakin cepat, filsafat menjadi salah satu fondasi penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi dan bisnis tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai etika dan kemanusiaan.

    “Pada akhirnya, dunia perbankan membutuhkan profesional yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam mengambil keputusan. Dan filsafat membantu membentuk kualitas itu,” pungkasnya.*Samuel | Sumber: Stanislaus, S.E., M.Pd. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles