MajalahDUTA.Com | Perayaan Misa Syukur Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat ke-40 yang berlangsung pada Jumat, 15 Mei 2026, menjadi gambaran kuat tentang keberagaman budaya Dayak sekaligus keharmonisan masyarakat Kalimantan Barat. Seluruh rangkaian liturgi dikemas dengan nuansa adat Dayak Ketapang yang kental dan penuh makna budaya.
Salah satu bagian yang paling menyita perhatian umat ialah Doa Umat yang dibawakan menggunakan enam bahasa dari sub-suku Dayak berbeda. Keberagaman bahasa itu menghadirkan suasana liturgi yang kaya akan identitas budaya lokal.
Doa-doa diperdengarkan dalam bahasa Dayak Pesaguan oleh Helen Randi Febriana, S.Ak., M.Ak. Selain itu, turut digunakan bahasa Dayak Taman Kapuas Hulu, Dayak Tinying Sanggau, Dayak Kayaan Kapuas Hulu, Dayak Kanayatn, hingga Dayak Simpang.

Bendahara Panitia PGD 2026, Helena Ali, A.Md., yang juga merupakan Dara Gawai tahun 1998, ikut ambil bagian dengan membawakan doa dalam bahasa Dayak Sanggau.
Misa syukur tersebut juga memperlihatkan kolaborasi lintas generasi melalui keterlibatan para alumni Bujang Dara Gawai dalam pelayanan liturgi. Lektor pertama dibawakan oleh Dr. Stefanus Barlian Soeryamassoeka, S.T., M.T., IPM, yang dikenal sebagai Bujang Gawai pertama tahun 1993. Tugas lektor berikutnya dilanjutkan oleh Valensia Flora, Juara 3 Dara Gawai 2024.
Beberapa alumni lainnya juga mengambil peran penting selama misa berlangsung, di antaranya Kristian (Juara 2 Bujang 2025), Fransiskus Derek (Bujang 2005), Piet Meka (Bujang 2000), dan Kristina Michael Anjioe (Dara 2000).
Setelah misa yang diiringi lantunan koor Gli Angeli Cantano selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.
Ketua Panitia PGD XL 2026, Thomas Aleksander, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya membuka acara menggunakan salam khas Dayak Simpang. Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama PGD tahun ini adalah memperkenalkan budaya Dayak Ketapang kepada masyarakat luas.
Ia juga menyampaikan semangat agar masyarakat Dayak terus berkembang, tidak hanya melalui kegiatan budaya dan festival tradisional, tetapi juga melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang profesional dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Thomas, seminar yang menjadi bagian dari rangkaian PGD nantinya akan membahas keterlibatan masyarakat Dayak Kalimantan dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya kontribusi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan khas Ketapang berupa Kembang Menjolang dan Jurongk kepada Uskup Ketapang serta Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak yang memimpin misa syukur tersebut.
Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Ketua Dewan Pengarah sekaligus Ketua Sekberkesda, E. Yohanes Palaunsoeka, bersama Ketua Panitia PGD XL 2026, Thomas Aleksander.
Dalam sambutannya, Yohanes menegaskan bahwa kerja sama yang terbangun dalam kepanitiaan PGD menjadi bukti bahwa sumber daya manusia Dayak memiliki kemampuan dan kesiapan untuk berkompetisi, termasuk dalam mengambil peran strategis di IKN.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan PGD dan seminar menjadi cerminan bahwa masyarakat Dayak memiliki kapasitas untuk tampil dan berkontribusi dalam berbagai bidang di tingkat nasional.*SJ. Sekberkesda.




