Saturday, May 2, 2026
More

    Memaknai Perkembangan Jurnalisme dari Zaman Kuno Hingga Modern

    MajalahDUTA.Com | Jurnalisme sering kali kita pahami sekadar sebagai aktivitas menyampaikan berita.

    Padahal, jika ditarik lebih jauh, perjalanan jurnalisme sesungguhnya mencerminkan cara manusia memahami kebenaran, berhadapan dengan kekuasaan, dan membangun kehidupan bersama.

    Jurnalisme juga bukan hanya soal informasi namun soal siapa yang berbicara, untuk siapa, dan demi kepentingan apa.

    Sejak awal, jurnalisme lahir dari kebutuhan sederhana manusia ingin tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Namun, dalam praktiknya, kebutuhan itu tidak pernah benar-benar netral.

    Pada masa kuno, misalnya, informasi sepenuhnya berada di tangan penguasa. Apa yang disampaikan kepada publik adalah apa yang dianggap penting oleh mereka yang berkuasa.

    Di Romawi, ada Acta Diurna semacam papan pengumuman resmi negara.

    Di Tiongkok kuno, laporan-laporan pemerintahan disusun untuk kepentingan elite. Dalam situasi seperti ini, jurnalisme lebih mirip alat kekuasaan ketimbang ruang pencarian kebenaran.

    Memasuki abad pertengahan, situasinya mulai berubah, meski belum terlalu signifikan. Informasi mulai beredar di kalangan pedagang melalui surat dan kabar dari mulut ke mulut.

    Yang dibicarakan pun lebih praktis harga barang, cuaca, keamanan perjalanan. Jurnalisme, kalau bisa disebut demikian, masih sangat terbatas dan belum menjadi milik semua orang.

    Perubahan besar terjadi ketika mesin cetak ditemukan, tiba-tiba informasi bisa diperbanyak dan disebarkan lebih luas. Surat kabar mulai muncul, dan masyarakat perlahan memiliki akses terhadap informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

    Namun, jangan dibayangkan semuanya langsung bebas. Kekuasaan tetap hadir, kadang secara halus, kadang terang-terangan. Kebebasan pers masih menjadi barang mahal.

    Baru pada abad ke-18 dan ke-19, ketika ide-ide demokrasi mulai berkembang, jurnalisme menemukan momentumnya.

    Pers tidak lagi sekadar menyampaikan kabar, tetapi juga mulai mengawasi kekuasaan.

    Kritik terhadap pemerintah mulai muncul, penyimpangan diungkap, dan suara publik perlahan mendapat tempat. Di sinilah jurnalisme mulai berdiri sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan demokratis.

    Memasuki abad ke-20, teknologi kembali mengubah wajah jurnalisme misalnya, radio dan televisi membuat informasi tidak hanya bisa dibaca, tetapi juga didengar dan dilihat.

    Berita menjadi lebih cepat sampai, lebih luas jangkauannya, dan lebih kuat pengaruhnya. Jurnalisme bukan lagi sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk opini publik. Karena itu, muncul tuntutan baru bahwa jurnalis harus profesional, akurat, dan berimbang.

    Lalu datanglah era internet dan media sosial mungkin perubahan paling drastis sepanjang sejarah jurnalisme. Kini, hampir semua orang bisa menjadi “wartawan”.

    Cukup dengan ponsel, seseorang bisa merekam, menulis, dan menyebarkan informasi ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Jurnalisme tidak lagi dimonopoli oleh media besar sejalan dengan itu justru menjadi ruang terbuka, partisipatif, dan kadang juga kacau.

    Di satu sisi, ini adalah kemajuan besar. Informasi menjadi lebih demokratis. Suara-suara yang dulu tak terdengar kini bisa muncul ke permukaan. Namun di sisi lain, muncul persoalan serius tidak semua informasi benar.

    Hoaks, misinformasi, dan opini yang menyamar sebagai fakta beredar begitu cepat. Dalam situasi seperti ini, peran jurnalis profesional justru semakin penting bukan sekadar menyampaikan berita, dan memastikan kebenaran.

    Masalahnya tidak berhenti di situ, media hari ini juga berada dalam tekanan ekonomi dan politik. Tidak jarang, kepentingan bisnis atau kekuasaan ikut menentukan arah pemberitaan.

    Di titik ini, jurnalisme kembali diuji dengan pertanyaan tentang apakah ia tetap berpihak pada publik, atau justru terseret arus kepentingan?

    Melihat perjalanan panjangnya, jurnalisme jelas bukan sesuatu yang statis dan terus berubah mengikuti zaman.

    Dari alat kekuasaan, menjadi pengawas kekuasaan, hingga kini menjadi ruang partisipasi publik. Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang seharusnya tetap dijaga komitmen pada kebenaran.

    Ke depan, tantangan jurnalisme tidak akan semakin ringan. Justru sebaliknya, semakin kompleks. Di tengah banjir informasi, yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tetapi juga ketepatan. Bukan hanya suara yang lantang, tetapi juga yang dapat dipercaya, sebab pada akhirnya, jurnalisme bukan sekadar soal berita, tetapi tentang kepercayaan.*Dionisius Trisna Goro PJKR 23A.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles