Monday, May 11, 2026
More

    Banjir Konten Iklan Digital dan Dampaknya Terhadap Kepercayaan Publik

    DUTA, Pontianak – Foto di atas merupakan dokumentasi penulis sebagai mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo  Pontianak yang sedang mengenakan almamater sebagai identitas akademik. Penggunaan foto pribadi dalam penulisan opini ini bertujuaan untuk menunjukan keaslian karya serta tanggung jawab penulis terhadap gagasan yang disampaikan.

    Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah perkembangan pesat teknologi digital penulis secara langsung merasakan dampak banjir konten iklan digital dalam kehidupan sehari-hari khususnya melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.

    Paparan iklan yang muncul secara berulang, tidak relevan, dan terkadang bersifat manipulatif mendorong penulis untuk merefleksikan kembali peran etika dan kepercayaan dalam praktik pemasaran modern.

    Karangan opini ini disusun berdasarkan pengamatan penulis sebagai konsumen  digital sekaligus mahasiswa pemasaran /ekonomi, dengan dukungan data terbaru tahun 2026 dari bebagai sumber terpercaya dengan mencantumkan foto dan identitas diri, penulis menegaskan bahwa opini yang disampaikan bukan sekedar pendapat umum, melainkan refleksi akademik yang bertanggung jawab serta relevan dengan realitas masyarakat saat ini.

    Banjir Konten Iklan Digital dan Dampaknya terhadap kepercayaan Publik

    “Iklan ada untuk membantu konsumen memilih bukan membingungkan mereka.”

    Itulah yang seharusnya menjadi peran iklan di era digital. Namun kenyataan, ledakan volume konten iklan digital. justru sering berujung pada kepercayaan publik yang rusak,kelelahan iklan(ad fatigue) dan hilangnya relevansi pesan. Fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan industri pemasaran, tetapi juga mencermikan tentang etis,piskologis, dan sosial di era informasi digital    

    Banjirnya Iklan Digital: Lebih Banyak Lebih Efektif

    Data terbaru menunjukkan bahwa industri iklan digital terus tumbuh drastis secara global — dengan total belanja mencapai ratusan miliar dolar dan terus meningkat setiap tahun. Menurut statisik terbaru proyeksi belanja iklan digital akan mencapai sekitar $854,9 miliar pada 2026 di seluruh dunia. Ini termasuk iklan pencarian, banner, video, dan beragam format lainnya.

    namun yang sering luput dicermati adalah bahwa konsumsi iklan sangat jauh melampaui kapasitas manusia untuk memprosesnya bahkan dalam satu studi rata-rata penggunaan internet disebut melihat lebih dari 5000 iklan digital per hari angka yang benar-benar menggambarkan banjir

    1. Ada Fatigue-ketika konsumen sudah tidak peduli lagi 

    fenomena ada fatigue atau kelelahan iklan juga nyata dirasakan oleh konsumen di Indonesia termasuk di kota Pontianak masyarakat perkotaan yang aktif menggunakan media sosial.

    Seperti, Instagram Facebook dan Tik tok sering terpaper iklan digital secara berulang dalam waktu singkat iklan yang sama dapat muncul berkali-kali dalam satu hari baik dalam bentuk feed story maupun video singkat sehingga menimbulkan rasa jenuh dan ketidakpedulian terhadap pesan yang disampaikan

    berdasarkan laporan Edelman Trust Barometer 2026 konsumen di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia menunjukkan kecenderungan menurunnya perhatian dan kepercayaan terhadap iklan digital yang bersifat repetitif dan tidak relevan kondisi ini juga diperkuat oleh berbagai pemberitaan digital nasional sepanjang 2025 -2026 yang menyoroti meningkatnya keluhan penggunaan media sosial terkait iklan yang terlalu sering muncul dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka 

    di Pontianak fenomena ini dapat diamati dari perilaku penggunaan media sosial yang cenderung langsung melewati iklan menonaktifkan notifikasi promosi bahkan menggunakan fitur mute atau block ads.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa paparan iklan yang berlebihan tidak lagi efektif dalam menarik perhatian konsumen melainkan justru memicu kelelahan psikologis dan menurunkan minat terhadap merek yang diiklankan 

    dengan demikian ad fatigue bukan hanya fenomena global tetapi juga menjadi realitas lokal yang dialami masyarakat Pontianak sebagai konsumen digital hal ini menegaskan bahwa strategi pemasaran digital perlu lebih mengutamakan relevansi frekuensi yang wajar serta pemahaman perilaku konsumen lokal agar pesan iklan tetap diterima secara positif

    1. kepercayaan publik menurun

    penting untuk membedakan antara trust in advertising kepercayaan terhadap iklan dan trust in online information kepercayaan terhadap informasi digital secara umum meskipun keduanya berbeda dalam praktiknya kedua bentuk kepercayaannya tersebut saling berkaitan terutama di era digital ketika iklan dan informasi sering muncul dalam format yang hampir serupa di media sosial

    di Indonesia tren penurunan kebersihan terhadap iklan digital semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan edelman trust barometer 2026 tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap konten digital.

    Termasuk, iklan di media sosial mengalami penurunan akibat meningkatnya konten informasi yang dianggap berlebihan repetitif dan kurang transparan banyak konsumen menilai iklan digital tidak lagi memberikan informasinya yang jujur melainkan lebih menekankan persuasi yang berlebihan.

    Fenomena ini juga tercermin dari perilaku pengguna media sosial di berbagai daerah termasuk kota Pontianak masyarakat Pontianak yang aktif menggunakan platform, seperti Instagram Facebook dan Tik tok cenderung semakin selektif dalam mempercayai iklan.

    Digital iklan yang muncul secara berulang tanpa kejelasan manfaat seringkali dianggap sebagai gangguan bukan sebagai sumber informasi yang membantu pengambilan keputusan akibatnya konsumen memilih untuk mengabaikan iklan melewati konten promosi atau bahkan melakukan kredibilitas mereka yang terlalu agresif beriklan

    selain itu isu perlindungan data pribadi juga turun mengaruhi tingkat kepercayaan publik di Indonesia laporan indeks kepercayaan digital tahun 2006 menunjukkan bahwa sebagai konsumen Indonesia merasa beban perlindungan data pribadi terlalu besar dibebankan kepada pemerintah memanfaatkan data perilaku konsumen tanpa penjelasan yang jelas kepercayaan terhadap platform dan pesan iklan pun semakin menurun 

    dengan demikian penurunan kebersihan publik terhadap iklan digital bukan hanya fenomena global tetapi juga menjadi realitas yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia termasuk di Pontianak kondisi ini menegaskan bahwa kepercayaan konsumen tidak dapat dibangun hanya melalui frekuensi iklim tinggi melainkan melalui transparansi relevansi serta penghormatan terhadap privasi konsumen

    1. iklan yang tidak relevan mengikis kredibilitas

    masalah utama dari banjir iklan bukan hanya jumlahnya tetapi juga relevansi dan kualitasnya ketika konsumen terus melihat iklan yang sama berulang kali atau iklan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan konteks mereka ini tidak hanya menciptakan kebosanan tetapi juga menurunkan kredibilitas merek 

    bahkan dalam perdebatan tentang kepercayaan terhadap platform iklan tertentu data menunjukkan bahwa iklan tradisional televisi masih dianggap lebih dapat dipercaya dibandingkan iklan di media sosial digital hanya 19% orang dewasa yang mengatakan iklan media sosial dapat dipercaya dibandingkan 46% yang mempercayai iklan tv ini menjadi alarm bahwa digital tidak selalu lebih baik dari media tradisional dalam hal trust

    1. dampak pada keputusan konsumen

    meski demikian hubungan antara iklan digital dan kepercayaan konsumen tetap kompleks penelitian di platform seperti Tik tok di Jakarta misalnya menemukan bahwa iklim promosi yang tepat tetap memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian asalkan iklan tersebut membangun kepercayaan dengan konsumen dengan kata lain kualitas pesan tetap menjadi pendorong penting dalam keputusan konsumen meskipun volume iklan sangat tinggi

    1. tantangan-tantangan etis dan kebutuhan literasi digital banjir konten iklan digital juga membawa masalah etis iklan yang menyesatkan skenario manipulatif dan penugasan ai tanpa transparansi konten digital bisa sangat fleksibel tetapi juga rawan disalahgunakan oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab

    meskipun bukan fokus utama artikel ini laporan dari konferensi komunikasi menunjukkan bahwa kepercayaan publik kini menjadi mata uang utama di era ai dan hanya komunikasi yang transparan serta berbasis kemanusiaan yang dapat memperdalam makna di tengah eksplorasi konten digital

    selain itu selain itu pemerintah dan lembaga terkait ini semakin menekankan literasi digital sebagai bagian penting untuk membantu publik mengelola banjir konten dan membedakan antara konten kredibel dan kampanye pemasaran semata.

    1. solusi iklan yang lebih pintar bukan lebih banyak kesimpulan dari trend dan data di atas cukup jelas
    1. lebih banyak iklan tidak selalu lebih efektif
    2. kepercayaan publik menurun ketika iklan terlalu banyak atau tidak relevan
    3. iklan efektif adalah yang relevan menghormati privasi dan membangun hubungan jangka panjang

    merk harus berpikir ulang strategi mereka bukan sekedar mengejar impresi atau klik tetapi bagaimana menyampaikan pesan yang relevan menghormati prevensi audience dan membangun kepercayaan jangka panjang itu yang akan membuat iklan benar-benar efektif di era digital.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2024). Marketing 6.0: Technology for Humanity. Hoboken: John Wiley & Sons.

    Ryan, D. (2025). Digital Marketing Strategy: An Integrated Approach. London: Kogan Page

    Edelman. (2026). Edelman Trust Barometer 2026. New York: Edelman Global Research.

    *Yosefina Pika _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles