DUTA, Pontianak – Kegiatan pramuka tidak hanya dikenal sebagai aktivitas untuk anak-anak di sekolah saja, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam pembentukan karakter para mahasiswa.
Hal ini terlihat dalam kegiatan Pramuka bagi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo angkatan 2023, yang dilaksanakan di area alam Riam Anggan tepatnya di Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak.
Sebanyak 65 mahasiswa dari dua kelas, yaitu PJKR A dan PJKR B, ikut serta dalam kegiatan ini, dibimbing secara langsung oleh dosen pengampu, Mauri Arpin Arus, M. Pd.
Riam Anggan ditentukan sebagai tempat kegiatan karena menawarkan suasana alami yang segar dan indah. Lingkungan terbuka berfungsi sebagai tempat pembelajaran yang baik untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan sikap bertanggung jawab.

Aktivitas seperti camping, eksplorasi alam, dan latihan yang dilakukan secara teratur dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan, kepedulian terhadap masyarakat, serta sikap menghormati lingkungan melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui teori (Karakter et al., n.d.).
Fokus utama dari kegiatan pramuka mahasiswa dalam kesempatan ini adalah membangun persatuan dan kerja sama dalam satu regu. Mahasiswa akan dibagi ke dalam beberapa regu kecil yang harus bekerja sama untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada. Setiap anggota regu memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, sehingga keberhasilan kelompok sangat bergantung pada kerjasama yang baik.
Salah satu hal yang sangat menarik adalah empat pos tempat permainan yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Setiap tempat menawarkan bermacam-macam jenis permainan, mulai dari yang berorientasi pada strategi, keterampilan, hingga interaksi kelompok.
Permainan-permainan ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan bekerja secara regu, konsentrasi, serta keterampilan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Atmosfer di setiap lokasi dipenuhi dengan keceriaan, tawa, dan semangat kebersamaan.
Para mahasiswa saling mendukung dan berkolaborasi supaya regu mereka bisa mengatasi tantangan dengan baik. Keseruan ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga memberikan pengalaman serta pemahaman baru mengenai pentingnya solidaritas dalam sebuah kelompok.

John Dewey berpendapat, “Pengalaman langsung merupakan cara belajar yang paling signifikan. ” (Surono, 2017), menegaskan bahwa aktivitas pramuka berperan penting dalam membentuk karakter karena dapat mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, belajar di alam bersama pramuka menjadi media yang strategis untuk mengembangkan karakter mahasiswa secara menyeluruh. Kegiatan ini memperkuat ikatan antara mahasiswa PJKR A dan PJKR B. Perbedaan dalam tingkat kelas tidak menjadi halangan untuk menjalin keterhubungan.
Mereka mengembangkan kemampuan untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menempatkan kepentingan kelompok di atas segalanya.Menurut (Yusdinar et al., 2023), Melalui pendidikan pramuka, remaja diberi nilai-nilai nasionalisme dan rasa cinta kepada bangsa dan tanah air, yang sangat penting untuk membangun rasa setia dan semangat berdedikasi terhadap negara dan bangsa.
(Yusdinar et al., 2023). Baden Powell, yang merupakan pendiri gerakan pramuka, menyatakan, “Kepramukaan merupakan cara untuk menciptakan ikatan persahabatan yang tulus. ”
Dalam konteks pembelajaran olahraga, kegiatan ini sangat tepat. Mahasiswa PJKR tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat, tetapi juga kemampuan berinteraksi sosial dan ketahanan mental yang baik.
Melalui aktivitas di luar ruangan, para mahasiswa memperoleh pelajaran dalam mengendalikan emosi, bersikap sportif saat berkompetisi, serta memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
(Arfiah & Sumardjoko, 2017), Mengatakan bahwa salah satu materi yang sangat penting dalam kepramukaan adalah tentang karakter, seperti kemandirian dan tanggung jawab. Selain memperkuat persatuan, kegiatan ini juga mengajarkan rasa peduli terhadap lingkungan. Mahasiswa diminta menjaga kebersihan tempat pelaksanaan kegiatan dan tidak mengganggu alam sekitar.
Kesadaran akan pentingnya lingkungan menjadi bagian dari pembentukan karakter. Mahatma Gandhi berkata, “Bumi mampu memberikan cukup untuk kebutuhan manusia, tetapi tidak mencukupi untuk keinginan yang tidak terbatas.”
Peran dosen pengampu, Mauri Arpin Arus, M.Pd., sangat penting dalam mengarahkan pelaksanaan kegiatan. Beliau tidak hanya memberikan arahan teknis, tetapi juga menyampaikan pesan nilai tentang pentingnya kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab. Contoh sikap dan perilaku dosen tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa.
Albert Schweitzer mengatakan, “Memberi contoh adalah bentuk pendidikan terbaik.” Dengan berpartisipasi dalam kegiatan Pramuka, para siswa bisa meningkatkan kemampuan berpikir, perasaan, serta keterampilan fisiknya. Selain itu, tujuan dari Pramuka juga adalah untuk membentuk kepribadian yang baik, memupuk rasa ingin menjadi pemimpin, serta membangun rasa cinta tanah air para siswa (Studi et al., 2025).
Di era digital saat ini, beraktivitas di luar ruangan menjadi semakin relevan. Para mahasiswa dapat bersosialisasi secara langsung tanpa bergantung pada teknologi. Interaksi sosial yang berlangsung secara fisik mendukung terciptanya komunikasi yang lebih baik. Erik Erikson pernah mengatakan, “Interaksi sosial memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang.”
Kegiatan pramuka mahasiswa PJKR Santo Agustinus di Riam Anggan menunjukkan bahwa belajar tentang karakter bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Empat pos permainan yang menarik menjadi sarana efektif untuk memperkuat persatuan dalam regu dan semangat kerja sama.
Selain itu, mahasiswa juga mendapat pengalaman baru serta pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari. Masa depan, kegiatan semacam ini diharapkan bisa terus dilakukan secara rutin dengan program yang lebih menarik.
Penambahan berbagai jenis permainan edukatif dan kegiatan sosial bisa membuat pengalaman para mahasiswa semakin beragam. Dengan demikian, pembinaan karakter mahasiswa bisa terus berjalan secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, kegiatan yang diikuti oleh 65 mahasiswa dan mahasiswi PJKR angkatan 2023 ini menunjukkan bahwa belajar di alam bisa membentuk karakter yang kuat. Fokus pada kerja sama dalam regu, persatuan, serta kesenangan di empat pos permainan memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi para mahasiswa.
Confucius pernah mengatakan, “Saya mendengar, maka saya lupa. Saya melihat, maka saya ingat. Saya melakukan, maka saya memahami.” Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami arti kerja sama, tetapi juga menerapkannya secara langsung.

*Fernando Diansi _ Mahasiswa PJKR_San Agustin Kampus II Pontianak




