Monday, May 11, 2026
More

    Menemukan Makna Hidup dalam Kesederhanaan: Pengalaman Retret Bandol Bersama Santa Theresia Lisieux

    DUTA, Bengkayang – Retret bukan sekadar agenda rohani tahunan. Bagi 51 peserta retret di Bandol, kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Januari 2026 ini menjadi ruang hening untuk belajar kembali tentang hidup—melalui kacamata iman dan ajaran sederhana Santa Theresia dari Lisieux.

    Bertempat di sebuah vila yang dikelilingi alam yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk kota, para peserta yang berasal dari komunitas Katekese dan Komsos diajak berhenti sejenak dari rutinitas, menarik napas panjang, dan menengok kembali makna hidup yang kerap terabaikan. Tema yang diangkat, “Ajaran Santa Theresia Lisieux: Tips Bertahan Hidup”, terasa relevan dengan realitas zaman yang serba cepat dan menuntut.

    Belajar Berserah di Tengah Dunia yang Penuh Tekanan

    Hari pertama retret diawali dengan perjalanan panjang dari Pontianak menuju Bandol, yang kemudian dilanjutkan dengan Misa pembukaan. Pada sesi perdana yang dibawakan oleh Fr. Redemptus, CSE, peserta diajak menyelami ajaran penyerahan total kepada Allah ala Santa Theresia Lisieux.

    Dalam dunia yang sering mengagungkan kemampuan diri dan pencapaian pribadi, Santa Theresia justru mengajarkan sebaliknya: pengharapan sejati tidak bertumpu pada jasa atau kekuatan sendiri, melainkan sepenuhnya pada kasih dan penyelenggaraan Allah. Sebuah ajakan sederhana, namun mendalam—belajar percaya ketika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan.

    Malam hari ditutup dengan adorasi di kapel. Dalam keheningan itu, banyak peserta menemukan ruang untuk berdamai dengan diri sendiri dan menyerahkan kegelisahan yang selama ini dipendam.

    Fr. Redemptus, CSE memberikan materi retret di Bandol (9-11/01/2026)

    Kesucian dalam Perkara Kecil

    Hari kedua menjadi inti pembinaan rohani. Sejak pagi, peserta diajak berdoa, bermeditasi, dan mengikuti sesi demi sesi yang memperkaya batin. Salah satu refleksi penting datang dari ajaran Santa Theresia tentang “sebutir pasir”—simbol kerendahan hati. Sr. Juanita, P. Karm menegaskan bahwa kerendahan hati membebaskan manusia dari kebutuhan akan validasi, menenangkan batin, dan membuka hati pada rahmat Allah.

    Sesi berikutnya, yang dibawakan oleh Fr. Hugo, CSE, mengangkat spiritualitas “emas dalam perkara kecil”. Pesan ini terasa sangat membumi: kekudusan tidak selalu lahir dari tindakan heroik, tetapi dari kesetiaan menjalani tugas-tugas kecil dengan cinta dan ketulusan. Cara kita bekerja, melayani, dan memperlakukan sesama—itulah jalan kekudusan sehari-hari.

    Rangkaian hari itu diperkaya dengan pengakuan dosa, doa Rosario, Lectio Divina dari Injil Matius tentang garam dan terang dunia, hingga persekutuan doa malam. Semua disusun untuk menolong peserta melihat kembali hidupnya dalam terang Sabda Tuhan.

    Sr. Genevieve, P. Karm memberikan materi retret di Bandol (9-11/01/2026)

    Hidup sebagai Anugerah dan Panggilan

    Pada sesi lain, Sr. Genevieve, P. Karm mengajak peserta merefleksikan martabat hidup manusia. Hidup, dalam iman Katolik, adalah anugerah cuma-cuma dari Allah yang harus dihormati sejak awal hingga akhir. Pesan ini menjadi pengingat penting di tengah budaya yang kerap menilai manusia dari produktivitas dan pencitraan semata.

    Hari terakhir ditutup dengan meditasi alam dan sesi tentang panggilan hidup bersama Fr. Derick, CSE. Peserta diajak menyadari bahwa setiap orang dipanggil untuk kudus, apa pun status dan perannya—baik dalam perkawinan, hidup selibat, membiara, profesi, maupun pelayanan sosial. Panggilan itu unik, personal, dan menjadi jalan menuju sukacita sejati.

    Retret Bandol bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga pengalaman batin yang membekas. Banyak peserta merasakan kedamaian baru, keberanian untuk menerima diri apa adanya, dan semangat untuk menjalani hidup dengan lebih sederhana namun bermakna.

    Peserta retret di Bandol mengikuti retret dengan antusias (9-11/01/2026)

    Ajaran Santa Theresia Lisieux terasa sangat relevan: hidup tidak harus besar untuk menjadi bermakna. Kesetiaan dalam hal kecil, kerendahan hati, dan kepercayaan total kepada Allah justru menjadi kunci untuk bertahan dan bertumbuh di tengah dunia yang sering melelahkan.

    Retret ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan, manusia tetap membutuhkan waktu untuk berhenti, hening, dan mendengarkan suara Tuhan—agar pulang dengan hati yang diperbarui.

    *Penulis: Gregorius Marcel Zevito (Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)
    *Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles