Pontianak, Majalah DUTA – Banyak sekali orang yang berasal dari daerah (pelosok) tidak kuliah, mereka kebanyakan hanya sampai SMA/SMK.
Padahal beberapa anak termasuk cerdas disekolahnya jadi disayang kan sekali jika tidak sampai kejenjang sarjana, akan tetapi ada juga anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan didaerahnya.
Anak-anak ini ingin sekali seperti anak-anak yang berada di kota dimana menurut mereka mudah sekali untuk mendapatkan informasi dibanding kan yang berada didaerah.
Namun, sekarang tidak dapat di pungkiri bahwa zaman semakin berubah, dimana informasi bisa didapatkan dari mana saja dan bagaimana jika tetap tidak ada perubahan bagi anak-anak yang berada didaerah.
Beberapa faktor yang menyebabkan kenapa banyak anak daerah tidak melanjutkan kuliah:
- Kurang mendapatkan informasi
Informasi disini banyak sekali bukan hanya tentang informasi kuliah atau bantuan untuk orang yang kurang mampu.
Kurang nya mendapatkan informasi ini sendiri adalah baik dari segi jaringan yang tidak memadai didaerah, ya masih banyak sekali daerah yang tidak memiliki jaringan bahkan listrik pun tidak ada.
Jika pun ada itu menggunakan tenaga surya jadi sangat tidak memungkinkan untuk mendapat kan informasi dari televisi atau handphone. Bukan hanya itu, kebanyakan anak daerah juga tidak memiliki handphone.
Kalau pun ada beberapa anak daerah yang mampu kuliah, mereka mendapatkan informasi itu dari orang lain seperti ada beberapa anak yang merantau ke kecamatan atau kabupaten untuk melanjutkan pendidikan smp/sma karena di tempat mereka hanya sampai sd.
- Orang tua tidak mampu
Mungkin memang benar adanya kalimat yang mengungkapkan, “jangan menikah dulu jika ekonomi dan emosi belum stabil,”
Tujuannya adalah agar tidak ada lagi kejadian seperti orang tua tidak mampu membiayai sekolah anaknya.
Ini sangat memprihatinkan sekali dimana anak-anak seharusnya bisa mendapatkan hidup yang layak, mendapatkan pendidikan yang bagus, akan tetapi kenyataannya banyak anak daerah yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena orang tua mereka tidak mampu.
Apalagi jika dikampung tersebut hanya ada sekolah dasar (sd), sd pun belum tentu selesai karena anak tidak mendapatkan perhatian orang tua, banyak orang tua dikampung pergi pagi bekerja dipagi hari dan meninggalkan anak mereka sendiri yang harus mengurus diri nya sendiri untuk menyiapkan sekolah.
Bahkan ada yang lebih memprihatinkan lagi, anak ikut orang tua ke ladang dan bermalam disana selama bertani/berkebun, jadi mau tidak mau anak mereka harus pergi sekolah dari sana, tapi bagaimana dengan anak yang tidak mau/merasa takut jika harus pergi sendiri ke sekolah dengan jarak yang lumayan jauh.
Jadi, semoga nikah sebelum ekonomi dan emosi stabil semakin berkurang karena kasian sekali nasib anak-anak yang tidak tau apa-apa harus menjalani hidup dalam kekurangan.
- Tidak mendapatkan pendidikan dasar
Di kampung TK pun kebanyakan tidak ada, jika pun ada tentunya mereka sangat beruntung. Tidak dapat di pungkiri dibeberapa kampung tidak ada SD, ada pun hanya sampai kelas 3 dan 4 dan guru-guru yang mengajari juga biasanya sangat terbatas, ada beberapa guru yang mengajar 4 sampai 5 pelajaran itu pun jika sering masuk karena kebanyakan libur,izin.
Seperti sekarang banyak guru dari kota yang ditugaskan didaerah tapi biasanya tidak bertahan lama karena jalur transportasi yang sangat tidak memungkin kan, seperti jalan rusak, sungai yang dangkal, banyak riam.
Tidak hanya itu terkadang jaringan pun tidak ada, listrik tidak ada, pelayanan kesehatan yang tidak memadai jadi sangat memungkin kan mereka tidak mampu untuk bertahan berbeda dengan orang lokal yang sudah terbiasa dengan hal tersebut.
- Pernikahan dini
Anak-anak yang merantau ke kecamatan/kabupaten juga jika selesai menamatkan smk/sma kebanyakan memilih untuk bekerja, karena mereka berfikir untuk membantu ekonomi keluarga namun mereka tidak berfikir untuk melanjutkan apa setelah itu, ditanah perantauan mereka menemukan jodoh lalu menikah bahkan sampai keluar dari tempat kerja seolah-olah mereka lupa tujuan utama mereka mencari kerja ditanah rantau.
- Tekanan sosial dan budaya
Dibeberapa daerah, tekanan sosial atau budaya bisa menjadi hambatan. Misalnya, perempuan mungkin tidak didorong untuk melanjutkan pendidikan tinggi karena peran tradisional dalam keluarga, atau anak laki-laki diminta membantu ekonomi keluarga.
- Rendahnya kepercayaan diri
Beberapa anak merasa tidak mampu bersaing dengan anak-anak dari kota besar karena perbedaan kualitas pendidikan disekolah mereka
- Kurangnya peran pemerintah
Dukungan pemerintah yang belum merata dalam bentuk fasilitas pendidikan, beasiswa atau penyebaran informasi juga menjadi faktor utama
Akan tetapi, tidak semua penjelasan di atas terjadi disetiap kampung ada juga kampung yang memang sudah tersedia jaringan internet, lampu pln sudah masuk, transportasi lancar, air pdam sudah mengalir disetiap rumah-rumah meskipun masih agak tertinggal dari kota.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan.
- Mendirikan tempat sekolah disetiap daerah
Seperti TK, SD, SMP,SMA/SMK bahkan jika memang bisa kampus atau universitas juga sebaiknya didirikan.
- Peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah
- Pelatihan guru didaerah : memastikan guru di daerah memiliki kompetensi yang sama dengan guru di kota.
- Fasilitas sekolah : memperbaiki infrastruktur sekolah didaerah agar lebih layak dan mendukung pembelajaran.
- Menyediakan bantuan keuangan
- Beasiswa khusus anak daerah
- Menyediakan beasiswa penuh atau sebagian bagi anak-anak didaerah dengan keterbatasan ekonomi.
- Pinjaman pendidikan
- Mengembangkan program pinjaman pendidikan berbunga rendah yang fleksibel.
- Sosialisasi dan informasi pendidikan tinggi
- Penyuluhan di sekolah-sekolah daerah
- Mengenalkan berbagai peluang kuliah, program beasiswa dan jurusan yang sesuai dengan potensi daerah.
- Platform informasi digital
- Mengembangkan aplikasi atau situs web untuk memberikan informasi lengkap tentang pendidikan tinggi, beasiswa dan bimbingan karir.
- Pendekatan sosial dan budaya
- Edukasi orang tua
Memberikan pemahaman kepada orang tua megenai pentingnya pendidikan tinggi untuk masa depan anak dan keluarga
- Pemberdayaan perempuan
Menghilangkan stigma bahwa perempuan tidak perlu kuliah dengan menunjukkan manfaat pendidikan tinggi bagi perempuan
- Pendampingan dan pengembangan diri
- Bimbingan karier
Membantu siswa didaerah memahami potensi mereka dan memilih jalur pendidikan yang sesuai
- Program mentorship
Menghubungkan siswa daerah dengan mentor dari kalangan profesional untuk memberi motivasi dan panduan
- Meningkatkan infrastruktur daerah
- Transportasi dan akomodasi
Mempermudah akses dari daerah terpencil ke kota-kota dengan fasilitas pendidikan tinggi.
- Pengembangan teknologi
Memastikan daerah memiliki akses internet yang memadai untuk mendukung pembelajaran daring
- Pemerintah sebagai penggerak utama
- Regulasi wajib belajar hingga pendidikan tinggi
- Memperluas kebijakan wajib belajar hingga kuliah, minimal diploma
Jadi, semoga setiap orang memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan itu sangat penting, bukan hanya untuk mendapatkan raport, ijazah tapi juga untuk membentuk setiap karakter anak bangsa.
oleh: Riana Esi
#SKHarian #SKMagazine #SakitKepalaHarian #akubsanagustin




