MajalahDUTA.Com | Apa yang sesungguhnya diperoleh seseorang ketika meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan?
Pertanyaan yang pernah muncul dari Rasul Petrus itu menjadi pintu masuk refleksi Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, dalam homili Perayaan Syukur Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC), Sabtu, 24 Oktober 2026.
Perayaan Ekaristi yang berlangsung pukul 09.00 WIB di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan hidup membiara para suster yang merayakan 60, 50, 40, dan 25 tahun hidup religius, sekaligus pengikraran kaul kekal dua suster.
Mengawali homilinya, Uskup Samuel mengangkat pertanyaan Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.”
Menurut dia, pertanyaan tersebut memperlihatkan sisi manusiawi seseorang yang ingin memahami makna dan buah dari keputusan mengikuti Tuhan.
Bagi Uskup Samuel, setiap orang memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda ketika memilih hidup religius. Ada yang tertarik karena teladan seorang imam, ada yang menemukan inspirasi melalui spiritualitas pendiri kongregasi, dan ada pula yang perlahan memahami panggilannya melalui pengalaman hidup.
Dia kemudian membagikan pengalaman pribadinya ketika mulai tertarik menjadi seorang imam Kapusin. Ketertarikan itu berawal dari perjumpaannya dengan seorang imam Kapusin lanjut usia asal Belanda yang dikenal baik, ramah, dekat dengan masyarakat, dan setia dalam pengabdian.
“Saya ingin menjadi seperti dia,” ungkap Uskup Samuel, mengenang awal mula ketertarikannya pada kehidupan imamat.
Seiring perjalanan waktu, dia semakin memahami spiritualitas Fransiskan Kapusin dan menemukan bahwa panggilan tersebut bukan semata-mata tentang kehidupan setelah kematian. Baginya, mengikuti Tuhan juga berarti menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sekarang, sekaligus menaruh harapan pada kehidupan kekal.
Dia menegaskan bahwa kebahagiaan merupakan bagian penting dari penghayatan panggilan. Seseorang tidak seharusnya menjalani hidup membiara hanya sebagai kewajiban atau pengorbanan tanpa menemukan sukacita di dalamnya.
Mengacu pada jawaban Yesus kepada Petrus, Uskup Samuel mengingatkan bahwa mereka yang meninggalkan rumah, saudara, keluarga, dan ladang karena Yesus dan Injil akan menerima berlipat ganda dalam kehidupan sekarang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, serta memperoleh hidup kekal pada zaman yang akan datang.

Namun, kebahagiaan yang dimaksud bukanlah kehidupan tanpa persoalan. Uskup Samuel menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak berarti tertawa sepanjang hari atau tidak pernah mengalami penderitaan. Kebahagiaan justru tampak dari kemampuan seseorang menghadapi kesulitan tanpa kehilangan keberanian untuk bangkit kembali.
“Sukacita sejati kata Santo Fransiskus membuat saya tegar,” tuturnya.
Dalam refleksi tersebut, dia menghubungkan sukacita dengan ketahanan seseorang dalam menghadapi pengalaman hidup.
Tubuh mungkin mengalami kelelahan, sakit, dan penderitaan. Perasaan juga dapat terluka. Akan tetapi, seseorang yang memiliki motivasi kuat untuk mengikuti Yesus tidak membiarkan pengalaman tersebut membuat hidupnya menjadi pahit dan kehilangan kebahagiaan.
Dari pemahaman itu, Uskup Samuel menyampaikan salah satu kalimat utama dalam homilinya, “Kalau kita sudah siap meninggalkan segala-galanya, kita juga siap menghadapi segala-galanya.”
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa panggilan religius menuntut kesiapan untuk menerima seluruh kenyataan kehidupan. Tidak hanya ketika tugas terasa menyenangkan, tetapi juga ketika perutusan menghadirkan tantangan, pengorbanan, dan situasi yang tidak mudah.

Jangan Menjalani Panggilan Setengah Hati
Dalam bagian lain homilinya, Uskup Samuel mengingatkan bahaya menjalani kehidupan beriman dan panggilan secara dangkal. Dia menggunakan istilah suam-suam kuku untuk menggambarkan sikap yang tidak sungguh-sungguh dalam menghidupi pilihan hidup.
Dia mengajak umat dan para religius untuk tidak menjalani kehidupan Katolik, imamat, maupun hidup membiara secara asal-asalan. Menurut dia, kesungguhan diperlukan agar seseorang terus masuk lebih dalam memahami makna panggilannya.
Mengutip gambaran tentang perjalanan ke tempat yang lebih dalam, Uskup Samuel mengajak umat untuk tidak berhenti pada pemahaman iman yang dangkal. Doa, devosi, dan kehadiran dalam perayaan Ekaristi hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh membarui kehidupan.
“Memang tidak gampang menjadi orang yang serius dalam segala hal. Serius tidak berarti lalu kehilangan sukacita sejati,” jelasnya.
Baginya kesungguhan dan sukacita bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya perlu berjalan bersama.
Seseorang dipanggil untuk menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, tetapi tetap memiliki hati yang gembira karena menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Pesan ini juga diarahkan kepada para suster yang merayakan perjalanan panjang hidup membiara. Uskup Samuel juga menyinggung para suster yang telah menjalani 60, 50, 40, dan 25 tahun hidup religius, serta mereka yang baru mengikrarkan kaul kekal.
Dia mengajak untuk melihat kembali perjalanan tersebut yakni apakah kesulitan yang dialami telah membuat hidup semakin pahit, atau justru semakin matang dalam sukacita dan kesetiaan?
Baginya, lamanya seseorang menjalani hidup membiara bukan satu-satunya ukuran keberhasilan panggilan. Hal yang lebih mendasar ialah bagaimana seseorang mampu menghadapi berbagai pengalaman hidup tanpa kehilangan sukacita sejati.
Dia bahkan mengingatkan bahwa kehidupan religius tidak seharusnya menjadi tempat pelarian dari tanggung jawab kehidupan. Menjadi suster, imam, atau bruder harus merupakan pilihan yang sungguh dihidupi, bukan sekadar jalan untuk menghindari persoalan atau tanggung jawab lain.

Kesetiaan yang Terus Diperbarui
Pada bagian akhir homili, Uskup Samuel mengajak seluruh umat untuk menjadikan perayaan tersebut sebagai kesempatan memperbarui kesungguhan dalam menjawab panggilan Allah. Pesan itu tidak hanya berlaku bagi para suster dan kaum religius, tetapi juga bagi setiap orang Katolik dalam menjalani panggilan hidup masing-masing.
Menurut dia, setiap orang perlu serius menghidupi pilihan hidupnya, baik sebagai umat beriman maupun dalam tanggung jawab dan perutusan sehari-hari.
Perayaan syukur keluarga besar SFIC Provinsi Indonesia ini mempertemukan berbagai generasi dalam satu perjalanan panggilan. Dua suster mengikrarkan kaul kekal, sementara para suster lainnya merayakan puluhan tahun kesetiaan dalam hidup membiara.
Setelah Perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah di Aula Persekolahan Suster Pontianak. Perayaan tersebut menjadi ungkapan syukur keluarga besar Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) Provinsi Indonesia, di bawah kepemimpinan Sr. Yulita Imelda, SFIC.
Melalui homilinya, Uskup Samuel mengingatkan bahwa mengikuti Tuhan bukan berarti memilih kehidupan yang bebas dari kesulitan. Sebaliknya, panggilan adalah kesediaan untuk memberikan diri secara utuh, menghadapi kenyataan hidup dengan iman, dan terus menemukan sukacita dalam perjalanan tersebut.
Sebab, kebahagiaan sejati bukan terletak pada mudahnya jalan yang ditempuh, melainkan pada keyakinan bahwa Tuhan berjalan bersama mereka yang setia mengikuti-Nya.(Samuel)






