Thursday, October 29, 2026
More

    Kesetiaan, Buah dari Cinta Allah

    MajalahDUTA.Com | God did not call us to be successful but to be faithful.” Allah tidak memanggil para suster untuk mengejar kesuksesan duniawi, melainkan untuk hidup dalam kesetiaan.

    Pesan inilah yang menjadi inti sambutan Sr. Yulita Imelda, SFIC, Pemimpin Provinsi Indonesia Kongregasi Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei, dalam Perayaan Syukur Kaul Kekal dan Pesta Hidup Membiara Suster SFIC Provinsi Indonesia di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026.

    Bagi Sr. Yulita, perjalanan hidup membiara selama 25, 40, 50, hingga 60 tahun bukanlah waktu yang singkat.

    Di dalamnya terdapat lika-liku, perjuangan, jatuh bangun, serta pengalaman suka dan duka. Namun, seluruh pengalaman itu dapat membentuk keindahan perjalanan panggilan ketika dijalani dengan ketekunan dan penyerahan diri kepada Allah.

    Dia menegaskan bahwa kemampuan para suster bertahan selama puluhan tahun bukan semata-mata karena kehebatan pribadi. Kesetiaan tersebut merupakan buah dari penyertaan dan penyelenggaraan kasih Allah yang terus bekerja dalam kehidupan mereka.

    “Karena Tuhan tidak memanggil para suster untuk meraih kesuksesan duniawi, melainkan untuk hidup dalam kesetiaan,” tegasnya.

    Perayaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panggilan para suster yang telah mengikrarkan kaul kekal maupun mereka yang memperingati tahun-tahun hidup membiara.

    Sr. Yulita menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, yang memimpin perayaan Ekaristi, bersama para imam konselebran, pimpinan tarekat dan lembaga, kaum religius, keluarga, rekan kerja, sahabat, serta para undangan yang hadir dan mendukung para suster.

    Dia juga menjelaskan bahwa seorang suster tidak dapat hadir secara langsung karena alasan kesehatan dan mengikuti perayaan melalui siaran langsung dari Biara Santo Antonius. Dalam sambutan dan doa syukur hari itu turut merangkul suster yang mengikuti perayaan dari komunitasnya.

    ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

    Warisan Pendiri

    Salah satu bagian penting sambutan Sr. Yulita ialah ajakannya untuk kembali menghayati pesan pendiri kongregasi, Sr. Teresia van Miert.

    Dia mengutip surat pendiri yang mengingatkan para religius bahwa pengorbanan dalam menerima hidup membiara telah dilakukan secara sukarela dan karena itu perlu diperbarui setiap hari.

    Dalam pesan tersebut, Sr. Teresia van Miert mengajak para suster untuk tidak menyesali keputusan yang telah diambil, tetapi terus menghidupi kaul sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah. Hidup religius menuntut kesediaan untuk tidak lagi menjadikan kepentingan diri sebagai pusat kehidupan, melainkan mengarahkan diri pada kasih, pelayanan, dan penyangkalan diri.

    “Dengan mengikrarkan kaul-kaul suci itu, olehnya kamu mengorbankan diri. Kamu bukan lagi milik diri. Kamu harus terus-menerus mengorbankan diri di atas altar kasih dan penyangkalan diri,” demikian kutipan pesan pendiri yang disampaikan Sr. Yulita.

    Dia melanjutkan, pesan tersebut mengandung tuntutan untuk terus memperbarui komitmen dalam kehidupan sehari-hari.

    Menjadi religius bukan sekadar mengenakan identitas sebagai biarawati, melainkan bersedia membiarkan diri dibentuk melalui pengorbanan, ketaatan, pelayanan, dan penyerahan diri yang berkelanjutan.

    Sr. Yulita menghubungkan warisan rohani itu dengan perjalanan para yubilaris. Kesetiaan mereka selama puluhan tahun menjadi tanda bahwa panggilan tidak berhenti pada saat kaul diikrarkan, tetapi terus dihidupi melalui berbagai tugas perutusan dan pengalaman hidup.

    ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

    Kaul Kekal dan ‘Kebebasan’ untuk Mengabdi ‘Seumur Hidup’

    Kepada Sr. Teresia Sumanti, SFIC, dan Sr. Margareta Yeni, SFIC, yang baru mengikrarkan kaul kekal, Sr. Yulita menyampaikan ucapan terima kasih atas keberanian dan kesediaan mereka menyerahkan diri kepada Allah melalui kongregasi.

    Dia sekaligus mengajak seluruh umat untuk terus mendukung keduanya melalui doa agar tetap setia pada janji suci yang telah diucapkan di hadapan Allah dan umat.

    Menurut Sr. Yulita, kaul kekal merupakan komitmen untuk melayani dan mengabdi kepada Tuhan serta kongregasi tanpa batas waktu. Komitmen tersebut membutuhkan kesabaran, dedikasi, dan ketekunan, terutama ketika para suster berhadapan dengan tantangan dan kesulitan.

    Dia menjelaskan bahwa ketaatan berarti bersedia tunduk pada kehendak Tuhan dan pimpinan, menerima diri sebagai hamba Tuhan, serta melayani dengan rendah hati. Kesetiaan juga diuji melalui kemampuan untuk tidak mudah menyerah ketika perjalanan panggilan menghadirkan keadaan yang tidak mudah.

    Namun, Sr. Yulita menegaskan bahwa hidup membiara harus menjadi pilihan bebas. Seorang perempuan memilih untuk mengabdikan hidup kepada Tuhan dan kongregasi secara sukarela, tanpa paksaan maupun tekanan, baik dari luar maupun dari dalam dirinya.

    Kebebasan memilih, menurutnya, penting agar hidup religius dapat dijalani secara bermakna, penuh sukacita, dan disertai pengabdian yang sungguh-sungguh. Karena itu, kaul kekal bukan sekadar keputusan formal, melainkan jawaban pribadi yang harus terus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

    ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

    Kesetiaan yang Terlihat dalam Karya Pelayanan

    Dalam sambutannya, Sr. Yulita juga menggambarkan perjalanan dan karya sejumlah suster yubilaris. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan beragam bentuk pelayanan yang telah mereka jalani, mulai dari kesehatan dan pendidikan hingga misi di luar negeri serta tanggung jawab dalam komunitas dan kepemimpinan kongregasi.

    Sr. Angelita Limas, SFIC, yang merayakan 60 tahun hidup membiara, tidak hadir dalam perayaan karena menjalani masa lanjut usia di Komunitas Santo Antonius Pontianak. Semasa muda, dia aktif sebagai perawat dan bidan serta pernah bertugas cukup lama di Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang.

    Sr. Saveria Arpina, SFIC, yang juga merayakan 60 tahun hidup membiara, memiliki pengalaman panjang sebagai guru dan misionaris di Kenya. Saat ini, dia masih membantu mengelola kantin sekolah SD Suster Singkawang.

    Sementara itu, Sr. Yulia Oyen, SFIC, yang merayakan 50 tahun hidup membiara, kini membantu menangani logistik Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang. Dia baru kembali ke Indonesia setelah 28 tahun menjalankan perutusan sebagai misionaris dan bidan di Kenya, Afrika.

    Ketiga suster tersebut telah menuntaskan perjalanan panjang dalam bidang pelayanan masing-masing, tetapi tetap menunjukkan kesediaan untuk menjalankan tanggung jawab sesuai kemampuan dan kepercayaan yang diberikan kepada mereka.

    Pada kelompok yubilaris 40 tahun, Sr. Daria Tumin, SFIC, saat ini menjadi anggota Dewan Pimpinan Jenderal di Marikina, Filipina. Dia datang ke Indonesia untuk merayakan 40 tahun hidup membiara bersama para suster seangkatannya.

    Sr. Hilaria Yavini, SFIC, masih aktif bertugas di SMP Suster Pontianak. Sr. Lucia Sariani, SFIC, setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru dan menjalani 26 tahun misi di Keuskupan Agung Makassar, kini dipercayakan menjadi pemimpin komunitas di Santo Yosef Pusat Damai. Dia kembali ke Kalimantan Barat pada Agustus 2026.

    Adapun Sr. Priska Seli S., SFIC, yang merayakan 25 tahun hidup membiara, menjadi anggota Dewan Pimpinan Provinsi Indonesia sekaligus bendahara Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia (YPSM). Sr. Prisila, SFIC, menjalankan tugas sebagai pembina suster junior dan juga bertugas di Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang.

    Sr. Yulita memandang perjalanan para suster tersebut sebagai kesaksian atas panggilan yang diwujudkan dalam beragam bentuk pelayanan.

    Ada yang mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan, pendidik, misionaris, pemimpin komunitas, maupun pengelola karya. Meskipun tugasnya berbeda-beda, seluruh pelayanan itu diarahkan pada satu semangat yaitu mengabdi demi cinta Allah.

    ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

    Retret, Persaudaraan, dan Dukungan Banyak Pihak

    Sebelum perayaan, para suster yubilaris mengikuti masa keheningan dan penyegaran rohani selama kurang lebih satu minggu di Rumah Retret Kapusin Tirta Ria (Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria). Sr. Yulita menyampaikan terima kasih kepada Pater Stefanus Gatot OFMCap yang mendampingi mereka dalam persiapan rohani tersebut.

    Masa retret itu menjadi kesempatan untuk kembali menata kehidupan batin, memperdalam penghayatan panggilan, dan mempersiapkan diri untuk memperbarui syukur atas perjalanan hidup membiara. Bagi para suster, perjalanan menuju kekudusan tidak hanya diwujudkan melalui pekerjaan, tetapi juga melalui doa, refleksi, dan pembaruan komitmen.

    Sr. Yulita turut menyampaikan apresiasi kepada panitia, petugas liturgi, tim dekorasi dan akomodasi, pemandu umat, tim dokumentasi, serta paduan suara yang melibatkan para suster medior, suster junior, dan para suster yang bertugas di kantor.

    Dia juga mengapresiasi bantuan para frater Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia, pendamping mereka, para penari, serta anak-anak dari sekolah suster yang ikut memeriahkan perayaan.

    Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para suster di unit pendidikan, para kepala sekolah, guru, karyawan, dan karyawati, baik di Pontianak maupun di luar kota.

    Dukungan rekan kerja di unit kesehatan, para dokter dan karyawan Rumah Sakit Santo Vincensius serta Alverno Singkawang, para donatur, pemerhati kongregasi, kenalan, dan sahabat turut mendapat perhatian khusus.

    Secara khusus, Sr. Yulita menyampaikan penghargaan kepada orang tua dan keluarga para yubilaris. Menurutnya, dukungan keluarga memiliki arti penting dalam perjalanan hidup membiara, terutama ketika seorang anggota keluarga memilih untuk tetap menjalani panggilan selama puluhan tahun.

    Dia juga berterima kasih kepada Pastor Kepala Paroki Katedral, Pastor Yos Nianto, OFMCap, beserta pihak paroki yang telah menyediakan tempat bagi perayaan tersebut. Atas nama persaudaraan SFIC, Dewan Pimpinan Jenderal di Marikina, Filipina, serta anggota kongregasi di berbagai provinsi dan misi Kenya, dia menyampaikan ucapan selamat kepada para suster yubilaris.

    ARSIP SFIC – Dokumentasi suster-suster yang ditampilkan pada Perayaan yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026,

    Menjadi Perpanjangan Tangan Kasih Allah

    Bagi Sr. Yulita, kehadiran para suster yang merayakan kaul kekal dan yubileum merupakan berkat bagi kongregasi, Provinsi Indonesia, dan mereka yang selama ini menerima pelayanan. Kesaksian hidup mereka menunjukkan bahwa kekuatan untuk bertahan tidak hanya berasal dari kemampuan manusia, tetapi juga dari penyertaan Allah.

    “Bukan karena kuat dan hebat kita bisa melangkah dengan mantap menelusuri lorong kehidupan, tetapi karena Tuhan selalu menopang sehingga kuat menjalani hidup ini,” ungkapnya.

    Dia menambahkan bahwa dalam kelemahan manusia, kekuatan Allah justru dapat terlihat. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup para suster tidak pernah terlepas dari campur tangan Tuhan.

    Karena itu, Sr. Yulita mengajak umat untuk terus mendoakan para yubilaris agar tetap setia dan bahagia dalam menapaki jalan panggilan. Dia berharap berkat yang telah dibagikan melalui pelayanan para suster terus berlanjut bagi orang-orang yang sedang maupun pernah mereka layani.

    Menutup sambutannya, Sr. Yulita kembali menegaskan makna kesetiaan sebagai inti hidup membiara. Puluhan tahun pengabdian bukan semata-mata catatan perjalanan, melainkan kesaksian iman yang diwujudkan melalui karya dan kehidupan sehari-hari.

    ARSIP – Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Suster SFIC. Gereja Katedral Pontianak, oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. Arsip ini ditampilkan di Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak.

    Para suster yubilaris, menurutnya, telah berusaha menapaki jalan kekudusan melalui pelayanan dan keseharian mereka. Semangat itu sejalan dengan semboyan pendiri, “Demi cinta Allah.”

    Di tengah perubahan tugas, tantangan, dan keterbatasan manusia, panggilan tersebut terus mengundang para suster untuk memperbarui penyerahan diri.

    Sebab, sebagaimana ditegaskan Sr. Yulita, kesetiaan bukanlah hasil kehebatan pribadi, melainkan buah dari rahmat Allah yang menopang manusia untuk terus melayani.

    “Setia indah menjadi saksi iman sejati,” demikian pesan penutup yang merangkum harapannya bagi para suster yang merayakan perjalanan panggilan. (Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles